BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
INGATAN


__ADS_3

Di sebuah Hotel megah. Didalamnya terdapat sebuah acara mewah. Yang di isi oleh beberapa tamu paling berpengaruh di negaranya masing - masing, Baik dalam Politik maupun dalam ke militeran.


Dan di dalam Acara tersebut di sana terdapat Aku (Leon), sedang berdiri di tengah - tengah Acara sambil melihat area sekitar.


"I-ini, aku ada di mana? Bukankah tadi aku sedang ngobrol di Ruang makan?"


Ketika aku bertanya - tanya. Aku terus memperhatikan Area sekitar dimana aku seperti pernah melihat Ruangan ini sebelumnya.


"Tapi, dimana aku pernah melihatnya."


Saat Aku membisikkan itu, tiba - tiba aku merasakan sebuah sengatan Listrik yang mengalir di dalam Otatku. Hingga membuat kepalaku terasa sakit.


"~~Ughhh!!"


saat aku merasakan Rasa sakit, Aku melihat beberapa gambaran di dalam pikiranku.


mulai dari Gambaran Acara mewah, Tempat Gelap yang terjadi medan perang, sampai di sebuah Ruang dimana ada anak Kecil yang terus menangis.


meskipun aku sudah tau Gambaran Acara itu. namun kedua gambaran lainnya masih belum ku ketaui.


Setelah Gambaran itu berakhir, perlahan Rasa sakit yang kurasakan pun ikut juga menghilang.


"~Agh, Gambaran tadi, bukankah itu ingatanku?....kalau begitu tempat ini.."


Saat aku melihat sekeliling. Aku akhirnya ingat kalau aku pernah di sewa Oleh seseorang untuk jadi pengawal di Acara ini.


Meskipun aku tidak ingat siapa yang menyewaku saat itu. Namun aku bisa pastikan kalau Acara ini sama dengan waktu itu.


"yang berarti...."


saat aku membisikkan itu, aku mulai mencari sesuatu di Sekeliling Ruangan ini.


Setelah beberapa saat aku mencari. Tak lama kemudian aku menemukan Seorang Pria berjas sedang bersandar di tembok, sambil melipat kedua tangannya.


ia adalah Diriku sendiri di kehidupanku sebelumnya, yang bernama Dirman.


"Heh. Ia benar - benar ada di sini."


Ucapku sambil berjalan ke arahnya. Sesampainya aku di sana, aku melihat kalau ia sedang memperhatikan sesuatu.


Ketika aku mengikuti pandangannya. Di sana terlihat seorang wanita berpakain terbuka, sambil mempunyai Tubuh yang sangat lansing dan juga Sexy.


Melihat hal itu, aku lansung terlihat jengkel dan mencoba melayankan sebuah Pukulan tepat di badannya.


Namun, sesaat Pukulanku mengenainya badannya, tiba - tiba pukulanku itu lansung menembus tubuhnya. Hingga membuat aku terkejut.


"Eh, apa yang terjadi?"


Ketika aku melihat tanganku aku perhatikan kalau tubuhku saat ini sedang tembus pandang atau bisa di bilang sedang Transparan.


Meskipun aku tidak tau kenapa tubuhku bisa begini. Namun aku tetap mencoba untuk menyentuhnya sekali lagi.


dan seperti yang aku duga, tanganku benar - benar Menembus Tubuhnya. Hingga akhirnya aku bisa simpulkan kalau aku saat ini sudah...MATI.


"Tapi, apa benar aku sudah mati?"


saat aku bertanya - tanya, aku mencoba memikirkannya lagi.


sebab, jika aku benar - benar mati bukankah Seharusnya aku ada di Neraka bukannya di sini. Selain itu, aku juga Punya kekuatan PIX yang bisa Membuatku Reinkarnasi.


Itu berarti, aku saat ini tidaklah mati melainkan Aku saat ini hanya sedang...


"TIDAK SADARKAN DIRI."


bisikku lansung.


Ketika aku membisikkan itu, aku merasa kalau Dirman (diriku yang lain) sedang melihat ke arah samping.


Saat aku mengintip ke arah sana. Di situ terlihat seorang Bocah berusia sekitar 13 Tahun.


ia memiliki Rambut panjang berwarna Hitam, hingga satu matanya tidak bisa terlihat, karena di tutupi oleh Poninya.


Dan ketika aku perhatikan tangan Bocah itu, ia sepertinya sedang megenggam anak kecil, Yang besar kemungkinan itu adalah adeknya. yang berusia 4 tahun.


"Bocah."


Ketika Dirman memanggil Bocah itu. Ia terlihat sangat ketakutan, meski begitu ia tetap mencoba bertanya.


"Pa~Paman, apa anda memanggilku?"


"Yah, kau,...dari tadi kau terus perhatikan gadis di sanakan? Apa kau suka dia?"


Saat Dirman menunjuk ke suatu tempat. Di sana aku melihat seorang Gadis yang usianya hampir sama dengan Bocah itu.


Meskipun gadis itu mempunyai wajah yang sangat imut. Namun ketika aku dan Dirman Melihat dada rata gadis itu, kami berdua lansung terlihat..😦.


setelah itu, Dirman kembali melihat Bocah itu.


"Jadi bagaimana Bocah, apa kau suka dia?"


Saat Dirman bertanya lagi. Dengan wajah yang tersipu malu. bocah itu mulai menjawab.


"Ti- Tidak, aku melihat ia bukan berarti aku menyukainya."


"Eeeh, benarkah? kalau begitu bagaimana dengan yang di sana?"


Saat Dirman Menunjuk Wanita yang ia perhatikan tadi. Bocah itu lansung tersipu malu. Sampai - sampai wajahnya sangat merah seperti strawbery.


"Pa- paman, tidak mungkin aku suka wanita seperti itu."


"Eh, memang kenapa?"


"pakaiannya terlalu terbuka. Dari pada aku memilih ia lebih baik aku memilih gadis itu."


Ucap Bocah itu sambil menunjuk ke Arah Gadis yang ia perhatikan tadi.

__ADS_1


Meskipun Dirman tidak tertarik soal Gadis itu. Namun ia tidak terima Kalau wanita pilihannya di kalahkan oleh Gadis Rata itu.


sehingga ia mencoba melakukan sesuatu, untuk membuat Bocah ini lebih memilih wanita pilihannya di bandingkan Gadis itu.


"Oi Bocah."


"A-ada apa paman?"


"Apa kau pernah dengar kata - kata Crossdressing"


" ti-tidak,..aku tidak pernah dengar."


"Kalau begitu aku akan memberitaumu. Crossdressing adalah sebuah kata di mana ketika Seorang pria berpakain Wanita."


"pakaian wanita?"


"Yah, mereka melakukan itu, agar terlihat mirip dengan wanita."


jawabku, hingga membuat Bocah itu terlihat terkejut.


"Pa-Paman bercandakan? tidak mungkin ada Pria seperti itu?"


"Tidak, di zaman kita sekarang ini, sudah banyak Pria yang sering Crossdressing. baik kaum muda maupun kaum anak - anak. Dan salah satunya...."


Saat Dirman Melirik, ke arah Gadis itu, Bocah itu terlihat marah.


"Paman jangan bercanda. Tidak mungkin gadis seimut itu seorang Pria."


"Benarkah, kalau begitu coba kau bandingkan dada gadis itu dengan dadamu, apa terlihat sama?"


Saat Bocah itu mulai membandingkan dadanya dengan gadis itu. Ia lansung terlihat suram.


"~Ti-tidak mungkin. Ini sama."


"Benarkan, jadi untuk cara mengetaui yang mana wanita asli dan mana Pria yang sedang Crossdressing, Cuma satu..."


"Benarkah, apa itu paman?"


Ketika Bocah itu bertanya, sesaat aku melihat kalau Dirman seperti sedang tersenyum licik.


Meskipun aku tau apa yang ingin ia lakukan. Namun aku tidak bisa berhuat apa - apa karena kondisiku yang seperti ini.


setelah itu, perlahan Dirman Berjongkot sambil mulai membisikkan sesuatu di telinga Bocah itu.


"Bocah, Kalau kau ingin tau caranya lihat saja Dadanya. Jika *********** bergoyang itu berarti ia wanita. Dan jika *********** tidak bergoyang.....kamu taukan artinya...."


Setelah Dirman membisikkan itu, Bocah itu lansung melihat di sekitar ruangan dan memperhatikan kalau ada beberapa wanita dan gadis yang *********** tidak bergoyang.


Melihat hal itu, Bocah itu lansung terlihat senang sambil melihat ke arah Dirman.


"Paman benar,...makasih paman, aku mengerti sekarang."


"Baguslah kalau kau mengerti."


Namun, di sisi lain. Ketika aku melihat Dirman Mengelus kepala bocah itu. Sesaat Aku melihat kalau ia saat itu sedang menyeringai.


Meskipun aku tau kalau ia diriku di kehidupan sebelumnya. Namun tetap saja aku harus Minta maaf, pada semua Wanita yang *********** kecil, karena diriku yang kurang ajar ini.


Ketika aku memikirkan itu, di sisi lain Dirman sedang bertanya lagi ke bocah itu.


"Omong - omong Bocah, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Apa kau sendiri?"


Saat Dirman bertanya, Bocah itu terlihat senang dan lansung menjawabnya.


"Tidak, aku di sini sama ayahku."


"Dimana ayahmu sekarang?"


"ia sedang pergi sama temannya."


"Hmmm."


Untuk sementara Dirman terus melihat Bocah itu. Namun beberapa detik kemudian. Ia merasakan kalau ada yang sedang menarik - narik lengan bajunya.


Ketika ia melihat ke arah sana. Di situ terlihat Adek sih bocah sedang bersenang - senang menarik Lengan Baju sih Dirman.


Melihat hal itu, bocah itu lansung terlihat ketakutan dan mencoba meminta maaf.


"~~ma- maafkan adekku paman."


"Tidak, kau tidak perlu minta maaf."


Meskipun Dirman mengatakan itu, ia melihat kalau Bocah itu masih terlihat ketakutan. Sehingga ia mencoba mengganti Topik pembicaraan.


"Omong - omong Boleh aku tau siapa namamu?"


saat Dirman Bertanya, dengan tatapan Serius Bocah itu mulai menjawabnya.


"Aku,...Namaku Rangga Paman."


sesaat Mendengar nama Bocah itu, membuatku lansung melebarkan mata Karena terkejut.


Sebab jika benar itu adalah Kak Rangga, itu berarti Anak kecil yang ia gandeng saat ini, tidak lain Adalah...


"LEON."


Sesaat aku membisikkan itu. Tiba - tiba Seluruh ruangan tempat ini lansung berubah. Dimana yang tadinya acara mewah, sekarang sudah berubah Menjadi Medan perang.


Meskipun aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tetapi dengan tenang aku mencoba memperhatikan situasi Sekitar.


Dimana ruangan ini sangat gelap. Mungkin karena Listriknya di matikan.


Namun, meski begitu aku masih bisa melihat Setiap Lintasan tembakan dari kedua belah pihak.


Bukan hanya Lintasan tembakan saja. Bahkan aku bisa melihat beberapa Tamu yang sudah mati dan tergeletak di lantai.

__ADS_1


Meskipun aku tidak peduli soal para tamu itu. Tapi berkat mereka aku bisa tau kalau aku masih berada di tempat yang sama namun di waktu yang berbeda.


"Kalau tidak salah, situasi ini terjadi setelah acara itu selesai kan?...itu berarti..."


Setelah aku mengerti situasinya. Tanpa menunggu lama aku lansung keluar dari Ruangan ini dan berlari di Lorong Hotel.


Setelah beberapa saat aku berlari, tak lama kemudian aku sampai di sebuah Lorong. di mana terdapat 3 orang sedang mengenakan pakaian Hitam.


Mereka juga membawa sebuah sanjata, sambil Menobrak setiap Pintu yang ada di Lorong ini.


"Aku ingat situasi ini. Kalau tidak salah, saat orang itu menobrak pintu yang di sana,...maka!"


Saat aku memibisikkan itu, orang itu benar - benar Menobrak Pintu yang ku maksud.


Dan sesaat ia menobrak Pintu tersebut. Dari dalam sana terdengar suara tembakan dan lansung membunuh orang itu tepat di kepalannya.


Kedua temannya yang melihat itu lansung bersembunyi di balik tembok dan mengintip ke dalam Ruangan.


Namun saat mereka baru saja mau mengitip, sebuah Granat sedang melayang tepat di depan wajah mereka.


Hingga membuat mereka tidak sempat menghindari Ledakan itu.


BOOM!!


Setelah ledakan itu selesai, dengan santai aku berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Sesampainya aku di dalam aku melihat Rangga kecil sedang menangis di depan adeknya yang terluka parah dan tidak sadarkan diri.


"~Hikss....Leon Kakak minta maaf, Kakak tidak bisa melindungimu...Hikss"


Melihat hal itu, Dirman yang saat ini mencoba menutup Luka Leon, perlahan menyentuh Kepala Rangga.


Hingga membuat Rangga sedikit Kaget dan melihat ke arah Dirman.


"Paman?"


"Bocah, kau tidak perlu takut, aku akan menyelamatkan Adekmu. Jadi berhentilah menangis, Mengerti."


"U-umm, aku mengerti."


"Bagus,...kalau begitu."


Sambil mengucapkan itu Dirman Mulai merobet kain Putih yang ada di ruangan.


Setelah itu ia mengikat kain itu di perut Leon Kecil untuk menutupinya lukannya agar ia tidak kehilangan banyak darah.


Tetapi. Meskipun Dirman sudah menutup lukannya itu. namun Darah Leon kecil tetap saja masih keluar, hingga membuat ia sedikit panik.


(Sial ini tidak mau berhenti, jika begini terus bisa - bisa....)


Seolah - olah aku bisa dengar apa yang di pikirkan Dirman. Sesaat kemudian Dirman lansung menghubungi Anggotanya yaitu Brid.


Meskipun aku tidak bisa mendengar percakapan mereka. Namun aku Ingat apa yang mereka bicarakan saat itu....yaitu.


"Brid, apa kau dengar? Cepat jawab"


{Y-yah aku dengar, memang ada apa ketua?}


"bukan apa - apa, hanya masalah kecil. Yang lebih penting, dimana kau sekarang?"


{Aku,...Aku sedang melindungi Klain kita.}


"Bagus, kalau begitu, untuk sementara aku ingin kau mengambil alih tempatku."


{Eh, kenapa tiba - tiba?}


"Aku tidak punya waktu menjelaskannya, Yang penting aku ingin pergi ke suatu tempat dulu, Kamu mengertikan?"


{Tunggu, aku belum menger-!!}


Sebelum Brid selesai bicara, Dirman lansung memutuskan Komunikasinya dengan Brid. setelah itu ia melihat ke arah Rangga kecil.


"Baiklah Bocah, ayo kita pergi sekarang."


"Pe-pergi? Kemana paman?"


"Tempat untuk merawat adekmu."


Meskipun Dirman tidak mengatakannya dengan pasti tempat mana itu. Namun Rangga kecil lansung tau kalau tempat itu adalah Rumah sakit.


"Ta-Tapi paman, jika kita keluar dari hotel ini, bukankah kita akan bertemu Orang jahat itu lagi,....aku....."


Ketika Dirman perhatikan kalau Rangga kecil terlihat sedang ketakutan, ia sekali lagi mengelus kepalannya.


"Bocah, kau tidak perlu takut, selama aku masih ada, tidak ada satupun Orang jahat itu yang bisa melukaimu."


Ucap Dirman, setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah Leon Kecil dan melanjutkan lagi.


"Selain itu,...jika kita tinggal terus disini, bisa - bisa luka adekmu makin parah, apa kamu mau itu?"


"Te-tentu saja tidak."


"Nah, kalau begitu ayo cepat kita pergi."


Sambil mengusap air matanya Rangga kecil lansung berdiri.


Melihat hal itu, Bibir Dirman lansung melengkun seperti bulan sabit, sambil mulai menggendong Leon Kecil.


Setelah ia menggendongnya, ia lansung berlari keluar Ruangan sambil diikuti Rangga kecil di belakangnya.


ketika mereka bertiga sudah meninggalkan Ruangan tersebut. di tengah Ruangan itu. di sana terdapat aku sedang berdiri diam, sambil menatap ke arah mereka pergi.


"Yosh, ayo kita ikuti mereka."


setelah aku membisikkan itu, aku lansung berjalan dan meninggalkan Ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2