
di malam hari ketika Leon masih tiduran di Sofa. Entah kenapa ruangan Tamu sangat berisik, sehingga membuat Leon bangun.
"~umm, kenapa berisik sekali?"
[oh Master, kau sudah bangun?]
saat PIX bertanya, tanpa melihat ke arahnya aku mencoba bertanya balik.
(~~PIX yaa, omong - omong kenapa berisik sekali?)
[itu,....sepertinya akan ada seseorang yang pulang di rumah ini, dan mereka semua jadi heboh.]
(pulang? siapa?)
[itu ka-!]
Sebelum PIX selesai Bicara, tiba - tiba ada seorang gadis yang memanggilku dari samping.
"LEON, KAU SUDAH BANGUN?"
ketika aku melihat ke arah sana, aku melihat sih Loli lari terbirik - birik sambil melompati sofa tempat aku duduk.
"LEOOOOOOON!"
"OI, TU- TU- TU- TUNGGU DULU, AKU BARU SAJA BANG-!!"
sebelum aku selesai bicara, dengan cepat Sih Loli menyundul kepalaku dengan kuat. hingga membuat aku terbaring di Sofa.
BUK!!
(~~Ugh, DASAR LOLI SIALAN!)
[Master, tidak baik bilangi ibumu seperti itu.]
(dia bukan ibuku tapi ibu Bocah ini!)
[itu sama saja.]
setelah bicara sedikit dengan PIX. aku lansung melihat ke arah Sih Loli, atau lebih tepatnya Ibuku sekarang.
dimana ia sedang duduk di atas perutku, sambil melihatku dengan tatapan senang.
(ni Loli, apa ia tidak punya rasa bersalah sedikitpun?)
[sepertinya ia terlalu bahagia, sampai - sampai ia lupa kalau ia sudah melukaimu Master.]
(sepertinya begitu.)
sambil menatap ibuku yang sangat ceria, tak lama kemudian aku mulai menyuruhnya untuk turung dari situ.
"ibu bisa kau turung dari situ, aku tidak bisa bangun?"
"hah, ma-maafkan ibu, ibu akan turung sekarang."
setelah ibuku turung dari situ. aku lansung bangun dan duduk di sofa.
setelah aku duduk, aku menghembuskan nafasku sedikit. untuk menghilankan amarahku.
"fuuu~~..."
"Hei Leon."
saat Sih Loli- maksudku ibuku memanggilku. aku lansung melihat ke arahnya.
"ada apa bu?"
"apa kau tau, besok kakak mu akan pulang loh."
(Kakak? bukankah Kak Siska ada di sana. hah jangan bilang!)
seolah - olah aku menyadari sesuatu, aku lansung melihat ke arah sih Loli, sambil menatap matanya dengan serius.
"Ibu, apa kau punya anak di luar nikah?"
saat aku mengatakan itu, baik ibu, ayah dan juga para pelayan lansung membatu dan tidak bisa mengatakan apapun.
sebab mereka tidak pernah menyangkah bahwa aku mengatakan itu..
namun berbeda dengan mereka semua. tanpa aku sadari dengan cepat Kak Siska berlari ke arahku sambil menendang wajahku.
"APA YANG KAU KATAKAN. DASAR ADEK BODOOOH!!"
BUK!!
"~~UGH!"
ketika aku Terlempar dari Sofa dan jatuh ke lantai. mereka semua lansung sadar kembali dan melihat ke arah Siska yang sedang berdiri di sofa.
"Eh,..Si-Siska kau kena-!"
sebelum ibu menyelesaikan kata - katanya, dengan cepat aku berdiri dan lansung melihat ke arah Kak Siska dengan marah.
"WOI, APA YANG KAU LAKUKAN?"
"SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU. APA YANG KAU K-K-K-K-K-K-KA-KATAKAN PADA IBUMU SENDIRI!"
Meskipun Kak Siska marah, namun, ia terlihat tersipu malu.
"HAH, BUKANKAH ITU SUDAH JELAS, IBU BILANG KAKAK KU AKAN PULANG BESOK. PADAHAL KAN KAK SISKA ADA DI SINI, ITU BERARTI SIAPA LAGI KAKAK KU, KALAU BUKAN KAKAK DI LUAR NIKAH."
ketika aku mengatakan itu, baik ibu, ayah dan para pelayan menjadi diam. sebeb mereka semua terheran - heran. bisa - bisanya aku mengatakan itu dengan entengnya.
tetapi, berbeda dengan mereka semua, Kak Siska sepertinya terlihat sangat marah dan mencoba pergi memukulku lagi.
namun, melihat hal itu, ibuku tidak tinggal diam. ia Lansung mencoba menghentikan Kak Siska dengan menarik bajunya.
"ibu."
"sudah cukup Siska, aku tidak apa - apa."
"ta- tapi..."
__ADS_1
"aku tau kok. tapi, coba ingat lagi. Leon saat ini hilang ingatan. dan ini salah kita sendiri karena tidak pernah memberitaukan ia Soal Rangga kan?"
"i-itu benar sih,...tapi..."
saat Ibu melihat Siska belum menyerah, perlahan ibu melihat ke arahku, dimana Pipiku sangat merah akibat tendangan Kak Siska.
setelah itu, ia melanjut kan lagi.
"selain itu, Adekmu baru saja bangun. apa kamu tidak merasa bersalah, menendangnya secara tiba - tiba."
(LIHAT SIAPA YANG BILANG.)
Ucapku lansung di dalam pikiran sambil menatap datar sih Loli.
di sisi lain, Kak Siska hanya terdiam saja. namun setelah beberapa detik kemudian ia mulai melihat ke arahku. sambil menundukkan kepalanya ke arah bawah.
"Ma- Maafkan aku karena menendangmu tadi."
"......"
ketika Kak Siska meminta maaf. untuk sementara aku tidak menjawab apapun. namun, setelah beberapa detik kemudian. aku mulai bicara.
"Baiklah, aku akan memaafkan Kak Siska, jika kakak menurunkan kepala sedikit lagi."
"eh. buat apa?"
"lakukan saja."
saat aku memaksanya, Kak Siska mulai menurunkan kepalanya Sedikit demi sedikit.
"apa ini sudah cukup."
"tidak, sedikit lagi."
"bagaimana, dengan begini."
"sediiiikit lagi."
sesaat Kak Siska menurukan lagi kepalanya, sebuah belahan dada terlihat di sela bajunya.
PIX yang mengetaui itu, lansung melihatku dengan tatapan jijik.
[Master jangan bilang..kau]
(hee, ini balasan dari ku.)
[Haa, Kau Benar - Benar Brengseet Master!]
(apa yang kau katakan, ini tu-!!)
sebelum aku selesai bicara, tiba - tiba aku merasakan Niat membunuh datang dari arah depan.
ketika aku melihat ke arah sana, aku melihat Kak Siska sedang menatapku dengan sangat marah sambil Tersipu Malu.
"~Oh, K- Kak Siska, aku bisa jeleskan ini."
"APA YANG HARUS DI JELASKAN LAGI DASAR ADEK MESIUM!!"
"TIDAK USAH BANYAK BICARA!"
sambil mengatakan itu, dengan kuat Kak Siska menghantamkan pukulannya tepat di depan wajahku.
hingga akhirnya aku terlempar dan kembali jatuh ke lantai.
BUK!!
melihat hal itu, Ibu lansung kaget dan lansung melihat ke arah Siska.
"Siska, apa yang kamu lakukan. bukankah barusan kamu sudah minta maaf."
"maaf bu, sepertinya Otak Leon sedang Rusak."
"Eh, itu tidak mungkin, Leon baik - baik saja tadi."
"tidak, Otak leon sedang rusak bu, aku harus memperbaikinya!?"
ketika Kak Siska berjalan ke arahku, dengan cepat Ibuku Berusaha menghentikannya, dengan menarik tangannya ke arah belakang.
"Siska tolong tenanglah dulu."
"tidak, aku harus memperbaikinya sekarang bu. jika tidak bisa - bisa Leon jadi Kriminal besar nanti."
"eh Kriminal, itu tidak mungkin."
"tidak, itu pasti bu."
ketika ibuku berusaha menahan Kak Siska, di sisi lain ayahku hanya melihat saja sambil meremas kepalanya karena pusing.
"haaa, sudah kuduga akan jadi seperti ini."
________________________________
___________________
setelah beberapa saat Kak Siska tenang kembali. aku saat ini sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Ibu, ayah dan juga Kak Siska.
ketika aku sedang duduk, aku terus mengelus pipiku yang merah, sambil melihat ke arah mereka.
"baiklah, bisa beritau aku sekarang, siapa yang akan pulang besok?"
ketika aku menanyakan itu, baik Ibu dan juga Kak Siska lansung terlihat ceria.
bahkan Ayahku yang jarang menunjukkan ekspresinya, saat ini terlihat senang.
"......"
setelah beberapa detik aku melihat mereka. tak lama kemudian Kak Siska akhirnya mulai bicara.
"Leon, apa kau masih ingat. saat aku bilang, aku anak kedua dari Tiga bersaudara."
"tentu saja, kalau tidak salah itu saat di Rumah sakit kan?"
__ADS_1
"benar."
"jadi, apa hubungannya ini dengan orang yang akan pulang bes-!"
ketika aku mencoba bertanya, tiba - tiba aku lansung berhenti. sebab aku lansung menyadari sesuatu.
"-tu- tunggu dulu, jangan bilang yang akan pulang besok itu...."
"benar, itu Kakak Pertama kita, bernama Rangga."
jawab lansung Kak Siska sambil terlihat senang.
namun, berbeda dengan Kak Siska yang terlihat senang. ketika aku mendengar nama Kakak Pertama Bocah ini. entah kenapa sebuah sengatan listrik lansung mengalir di dalam otak ku, hingga membuat kepalaku terasa sangat sakit.
"~Ughh!"
"Le-Leon, kau kenapa?"
ketika Ibu bertanya dengan ekspresi khawatir. aku meremas kepalaku dengan erat sambil melihat ke arahnya.
"~Ti~Tidak, bukan apa - apa kok."
"ta-tapi, kau terlihat pucat."
"~sudah ku bilang aku tidak apa - apa. yang lebih penting bisa kalian ceritakan soal Kakak ku,...siapa lagi namanya?"
"Kak Rangga." ucap Kak Siska
"yaa itu dia, Kak Rangga..."
setelah aku mengatakan itu, mereka bertiga mulai menceritakan Soal Kakak pertama Leon, yaitu Rangga.
dimana ia adalah seorang Tentara yang sangat tangguh dan sering di tugaskan ke medan perang.
bahkan kemampuannya sangat di akui oleh negara. sehingga ia di masukkan ke dalam Kesatuan Kusus.
dan saat ini, ia juga di pilih sebagai Salah satu pasukan Keamanan PBB, untuk memberantas terrorisme di dunia ini.
mendengar dari ceritanya saja kita sudah tau kalau Kakak Bocah ini bukanlah Tentara sembarangan. melainkan ia seorang Tentara yang sudah mengalami hidup dan mati di medan perang. bahkan di umurnya yang masih muda.
memikirkannya saja, aku menjadi penasaran, Bagaimana sosok Kakak Bocah ini.
setelah mendengar cerita mereka, perlahan aku menghela nafasku, sambil melihat ke arah mereka.
"tidak ku sangkah ternyata Kakak ku Tentara sehebat itu yah."
"tentu saja, bahkan Kak Rangga sudah banyak mengalahkan penjahat di dunia ini loh, Leon."
"Be-Begitu ya."
ucapku dengan gugup, saat melihat Ekspresi Kak Siska yang sangat mengagumi Kak Rangga.
namun, tanpa pedulikan hal itu, aku lansung melihat ke arah Ibu. dan mencoba bertanya sesuatu.
"omong - omong bu, Kapan Kak Rangga meninggalkan Rumah ini?"
"kenapa kau menanyakan itu?"
"yaa, aku cuma penasaran saja."
jawabku dengan santai. setelah itu ibu mulai bicara.
"hmm, kalau tidak salah itu dua tahun yang lalu. setelah Rangga menikah, ia lansung pergi di luar kota dan tinggal bersama Istrinya."
"eeeh, jadi Kak Rangga sudah punya istri ya?"
"benar, bahkan ia juga sudah punya anak loh."
mendengar apa yang di katakan ibu. membuatku lansung melebarkan mata Karena terkejut.
"eh, Kak Rangga juga sudah punya anak. itu berarti aku jadi pamannya dong. sedangkan Kak Siska jadi Tantenya."
ketika aku menyebut Kak Siska Tante. Kak Siska lansung terlihat marah dan mulai melempariku bantal yang ada di sofa.
"LEON, JANGAN SEBUT AKU TANTE, AKU MASIH MUDA BODOH!"
"~aduh,...ma-maaf, maafkan aku Kak, aku salah."
setelah Kak Siska berhenti melempariku bantal. aku melihat ke arah Ibuku lagi.
"kalau di pikir - pikir, jika Kak Rangga punya anak, itu berarti, ibu adalah neneknya dong."
saat aku menanyakan itu, perlahan ibu Berdiri di atas Sofa, setelah itu ia menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari jempol.
"kau benar sekali Leon, AKU ADALAH NENEKNYA."
melihat sosoknya yang sangat kecil mengatakan itu, membuatku lansung membatu.
sebab ketika aku membayankan si Loli ini menggendong anaknya Rangga. apa kalian pikir itu mirip seperti Nenek yang menggendong Cucunya,.. jawabannya.....
TENTU SAJA TIDAK. sebab jika kalian pikir baik - baik. mana ada Nenek ukuran tubuh sekecil ini. bahkan ia terlihat seperti anak SD yang berumur 8 sampai 9 tahun.
memikirkannya saja membuatku sangat pusing.
(haa, PIX apa aku sedang bermimpi?)
[Tidak, ini adalah kenyataan Master.]
(tapi kalau ini kenyataan, memang ada yaa nenek sekecil itu?)
[umm...........Mungkin.]
(....Mungkin yah.)
setelah bicara sedikit dengan PIX, aku melihat ke arah ibuku lagi, dimana ia saat ini loncat - loncat di atas Sofa seperti anak kecil sambil terlihat Gembira.
"yeah, yeah, Rangga akan pulang Besok, aku tidak sabar bertemu cucuku. Yeaaaaah!"
melihat hal itu, aku sekali lagi lansung membatu. dan jauh di dalam hatiku aku berkata.
(OI, AKU BENAR - BENAR SEDANG BERMIMPI SIALAN.)
__ADS_1