
di Ruang kelas Leon.
pada saat sudah waktunya Istirahat. seluruh murid di kelas ini hanya diam saja di bangku. dan tidak keluar membeli Makanan atau bermain di halaman sekolah.
alasannya. itu karena guru kelas ini yaitu Bu Linda saat ini sedang tidur di mejanya. sehingga membuat para Murid masih tinggal di kelas.
sebab mereka semua mungkin Takut jika mereka lansung keluar tanpa izin dari Bu Linda, mereka bisa - bisa mendapatkan hukuman. sehingga mereka hanya diam saja di situ tanpa melakukan apapun.
jujur saja. aku sama sekali tidak peduli dengan para Murid di kelas ini. tapi jika ini di biarkan terus bisa - bisa aku juga tidak bisa makan.
berbeda dengan gadis di sebelahku yaitu Sara.
ia saat ini sedang makan, itu karena ia membawa bekal dari Rumahnya.
(haaa, sepertinya aku tidak punya pilihan lain.)
[oh, apa Master mau membangunkan wanita itu.]
(tentu saja. apa kau menyuruhku belajar, dengan perut kosong. tentu saja tidak kan?)
[tidak, aku pikir itu bagus.]
(mati saja kau.)
jawabku dengan kesal. setelah itu perlahan aku berdiri dari Kursiku. sambil mengambil kerupuk Sara dan memakannya saat berjalan ke depan.
Sara, Yang melihat itu, hanya menatapku dengan tatapan tertekun.
namun, tanpa pedulikan hal itu aku terus berjalan ke depan dan menuju ke meja Bu Linda.
para Murid yang tau niatku lansung terlihat senang. sambil mulai membisikkan sesuatu.
"oh lihat, Sepertinya Leon mau membangunkan Bu Linda."
"eh, benarkah."
"woooh, seperti yang di harapkan, dari orang yang tidak takut sama tatapan Dingin Sara. ia juga tidak takut sama guru."
"kau betul juga."
mendengar Bisikan mereka membuatku tambah kesal. sebab, sejak dulu aku sangat benci jika di puji hanya dalam situasi seperti ini.
(sial, berhentilah Bisik - bisik pengecut. selain itu, apa kalian tidak lihat. Sara sedang menatap kalian Loh, di belakang.)
ucapku di dalam Pikiran, saat merasakan tatapan Sara, yang mengarah ke dua Bocah yang membisikkan dirinya.
setelah itu. ketika aku sudah sampai di meja Bu Linda, untuk sementara aku melihat wajah tidurnya yang sangat kecapean.
namun, setelah beberapa detik melihat nya. perlahan aku megenggam pundaknya dan mulai membangunkan ia.
"anu, Bu Linda ini sudah waktunya Istirahat."
".........."
saat ia tidak merespon sama sekali, aku mencoba membangunkan ia sekali lagi.
tetapi, tetap saja ia tidak bisa di bangunkan. hingga akhirnya aku mulai mengelitik, bagian belakang lehernya.
setelah beberapa detik aku mengelitiknya. tak lama kemudian ia lansung kaget dan berdiri dari kursinya.
"~A~APA,...APA DI LEHERKU TADI!"
saat Bu Linda bertanya - tanya, apa yang memyentuh Lehernya. aku mencoba mengelitiknya sekali lagi di bagian pinggang.
"~~HIII,...A~APA SIH ITU."
Saat Bu Linda mencoba melihat ke arah Pinggangnya. ia akhirnya melihatku sedang berdiri di sampingnya.
"Le~Leon, apa yang kau lakukan di situ."
"umm,.....aku melakukan ini!"
saat aku sekali lagi mengelitik Pinggangnya. Bu Linda lansung menjerit dan terlihat marah.
"~HIII,...LE~LEON APA YANG KAU LAKUKAN."
Ucapnya sambil menampar tanganku.
"seharusnya aku yang bilang begitu. apa yang kau lakukan tiduran di kelas. apa Bu Linda tidak dengar bel, ini sudah waktunya jam Istirahat."
"Jam istirahat?"
"benar, lihat para Bocah itu. mereka sedang menunggu izinmu untuk keluar."
__ADS_1
ketika Bu Linda melihat ke arah para Murid, tidak ada satupun dari mereka yang keluar dari kelas ini.
melihat hal itu, Bu Linda lansung merasa bersalah dan mencoba meminta maaf.
"Se-Semuanya maafkan ib-!!"
saat aku melihat Bu Linda meminta Maaf dan mencoba menundukkan kepalanya.
dengan cepat aku mengelitik ia sekali lagi, hingga membuatnya sangat kaget dan menjerit.
"~~HIII,....LEOOON, HE~HENTIKAN ITU SE~SEKARANG.."
"......"
melihat Bu Linda yang tidak jadi menundukkan kepalanya. perlahan aku berhenti mengelitik ia, setelah aku berhenti. Bu Linda lansung melihat ke arahku dengan tatapan marah.
"LEON, DARI TADI KAU KENAPA SIH?"
"seharusnya aku yang bertanya. kenapa Bu Linda ingin menundukkan kepala, ke para Murid?"
"Bu-Bukankah sudah jelas, karena aku salah."
"mau salah atau apa. yang penting menundukkan kepala ke para murid, itu adalah tindakan yang tidak benar bagi seorang Guru."
ucapku, sambil menatap mata Bu Linda dengan tatapan tenang. setelah itu aku melanjutkan lagi.
"Selain itu, Bu Linda tidak salah sepenuhnya. jika Mereka benar - benar harus mendapatkan Izin darimu untuk istirahat, kenapa tidak lansung membangunkanmu?"
"i-itu, mungkin para Murid tidak tega membangunkan ku jadi-!!"
"tidak tega? jangan bercanda mereka cuma pengecut saja. yang takut kena hukuman"
saat aku mengatakan itu, semua murid di kelas ini lansung terlihat marah. kecuali Sara, ia sedang asik makan di bangkunya.
namun, tanpa pedulikan mereka, perlahan aku menghela nafasku "haaa..". setelah itu aku melihat ke arah Bu Linda lagi.
"sudahlah, tidak ada gunanya bicara panjang lebar di sini. selain itu Bu Linda."
"Apa?"
"cepat Suruh para Bocah ini keluar. sebelum waktu istirahat berakhir."
"eh, keluar?.....hah, kau benar juga."
"baiklah, semuanya kalian boleh Istrahat sekarang."
setelah Bu Linda mengatakan itu, mereka semua lansung berlari keluar Kelas.
beberapa dari mereka memberiku jari tengah sebelum mereka keluar. dan selebihnya lagi melihatku dengan tatapan marah.
"haaa, dasar anak - anak."
"bukankah kamu juga sama."
jawab lansung Bu Linda, sambil menunjukkan senyuman yang aku benci, yaitu senyuman liciknya.
setelah itu, aku lanjut bicara.
"jangan samakan aku dengan mereka, aku ini sudah dewasa."
"Ara, Ara, benarkah, kalau begitu, kenapa Tubuhmu sekecil ini."
ucap Bu Linda sambil menepuk - nepuk kepalaku.
meskipun aku tau kalau tubuh ku masih kecil. tapi melihat wanita ini memperlakukanku seperti seorang Bocah, entah kenapa itu membuatku sangat kesal.
namun, karena ia seorang guru sekaligus guru kelas ini, sehingga aku menurunkan niatku untuk menyerangnya.
PIX yang mengetaui hal itu, lansung mencoba bertanya.
[Master, apa anda tidak masalah di perlakukan seperti itu?]
(yaa, untuk saat ini aku biarkan saja. lagi pula nanti aku akan membalasnya berkali kali lipat.)
[berkali kali lipat, entah kenapa aku mempunyai perasaan buruk. soal ini]
(berhentilah bercanda, mana mungkin kau punya Perasaan Sialan.)
[......yaa, kau benar juga.]
___________________________________
_______________________________
__ADS_1
pada saat sudah waktunya pulang sekolah, aku saat ini sedang berjalan ke arah Gerbang sekolah.
ketika aku sedang berjalan, aku melihat Rusli dan Lia sedang berdiri di Dekat Gerbang, sehingga aku memanggil mereka.
"Rusli, Lia apa yang kalian lakukan di situ?"
"oh, Leon akhirnya kau datang juga."
ucap Rusli, sambil berlari ke arahku bersama dengan Lia. setelah ia sampai, ia mencoba bertanya.
"Leon, apa kau ingin pergi ke warnet?"
"warnet? maaf. sepertinya hari ini tidak bisa. aku harus cepat pulang."
"begitu ya, aku pikir kau bisa membantuku?"
"bantu, memang kenapa?"
saat aku bingun dan mencoba bertanya, Lia yang lansung menjawabnya.
"yaa kau tau, kemarin saat Leon tidak ikut main Ke Warnet. Rusli kalah terus main Game. sehingga Ranknya merosot Turung!"
"hmm, dengan kata lain. kau meminta bantuanku lagi, untuk naikin Rank mu?"
ucapku sambil melihat ke arah Rusli. setelah itu Rusli lansung menjawabnya.
"be-benar."
melihat tatapan serius Rusli, membuatku lansung meremas kepala, sambil memikirkan sesuatu.
(haaa, dasar para Bocah, kalau soal game mereka jadi serius tapi kalau soal belajar mereka jadi malas, haaa benar - benar deh.)
[kau pun juga sama Master, kalau soal goda wanita kau jadi serius, tapi kalau soal pelajaran kau malah tiduran di kelas.]
(Woi, kau tidak usah ikut campur sialan. lagi pula aku sudah tidak tidur tadi di kelas. bahkan aku tidak pernah lagi menggoda wanita.)
[tidak pernah, jadi apa itu Istrinya Fadli, adapun Kakakmu, di tambah lagi, kau mengincar Gurumu sendiri. jangan - jangan Master ini suka cinta terlarang ya?]
(BERHENTILAH OMONG KOSONG. SELAIN ITU, KAPAN AKU MENGGODA MEREKA BERTI-!!)
"Leon..."
ketika aku sedang marah pada PIX, tiba - tiba aku berhenti. sebab aku mendengar Suara Rusli memanggilku.
"umm, ada apa Rusli?"
"aku tanya, apa Leon bisa membantuku. kali iniiii saja."
"eh, tapi aku harus cepat pulang."
"kumohon. kali ini saja...yah"
jujur saja, aku ingin cepat - cepat pulang dan bertemu kakaknya Leon. tapi, ketika melihat Ekspresi Rusli yang terus memohon. jadi aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
"haaa, baiklah, aku akan membantumu kali ini saja."
"ooh, benarkah. asiiiiiik!"
Ketika Lia melihat Rusli terlihat senang, perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Leon, apa kau tidak apa - apa menerimanya. bukankah kamu ingin cepat Pulang?"
"yaa, itu tentu saja. tapi, apa kau ingin aku meninggalkan Rusli seperti itu?"
Saat Lia melihat Rusli yang terlihat sangat Senang di bandingkan tadi. ia lansung menghela nafasnya. sambil melihat ke arahku.
"haaa, kau benar juga."
jawab Lia, setelah itu, aku melanjutkan lagi.
"selain itu, meskipun aku terlambat pulang, aku pasti tetap bisa melihatnya."
"melihatnya? kalau di pikir - pikir, kenapa kamu ingin cepat pulang Leon? apa kamu punya urusan?"
ketika Lia bertanya, dengan santai aku menjawabnya.
"yaa, sebetulnya hari ini Kakak ku akan pulang."
"Kakakmu, maksudmu Kak Siska?"
"hah, bukan dia tapi Kak Rangga."
mendengar apa yang aku katakan membuat Lia lansung terkejut. bahkan Rusli yang dari tadi terlihat senang ikutan juga Terkejut.
__ADS_1