
Di depan halaman tempat tinggal Bulan, di sana ada sebuah Motor satria yang sedang terparkir, dan di atas motor itu duduk Seorang Bocah, Ia adalah Leon.
Saat Ini aku(Leon) sedang menunggu Bulan yang berada di dalam Rumahnya untuk memanggilnya Adeknya yang mau di bawah ke Puskesmas untuk berobat.
Lalu tak lama setelah aku menunggu, Akhirnya mereka pun keluar, dimana Aku melihat Bulan sedang menggandeng Tangan Rezvan yang terlihat lesu sambil memakai Masker.
Aku melihat Haira juga mengikuti mereka dari belakang.
"Leon maaf kami Lama."
"Itu tidak apa - apa. Dari pada Itu Nih Loli, kenapa kau Keluar juga?"
Ucapku sambil melihat ke arah Haira, dimana Ia lansung pergi ke hadapanku kemudian ia menatap mataku dengan ekspresi berani, seolah tidak takut sedikitpun padaku.
"Memang kenapa kalau aku keluar juga, apa ada masalah?"
"Tentu saja ada, Aku tidak suka melihat wajahmu."
"APA KAU BILANG."
Aku mengabaikan Haira yang marah dan terus bicara..
"Selain itu, Meskipun hari ini hari libur tapi kamu itu tetap saja harus belajar tau? Bagaimana kalau kamu gagal naik kelas?"
"Fufufu tenang saja aku sudah belajar sepanjang malam, jadi tak usah khawatir."
"Tidak, aku tidak khawatir sama sekali denganmu, aku hanya khawatir pada orang tuamu yang sudah membiayai sekolahmu."
"Ka~Kau...."
Haira terlihat sangat kesal dan ia mencoba mengatakan sesuatu Padaku. Tetapi ia tidak tau harus berkata apa, jadi ia pun terdiam.
Melihat hal itu aku merasa puas karena sudah menjahili dia, sehingga aku pun menghentikan tingkahku.
"Haaa sudahlah. Omong - omong cepat beritaukan saja alasan kenapa kau ikut keluar juga bersama mereka(Bulan, Rezvan)?"
"Bukankah sudah jelas, Tentu saja karena aku ingin i-!!"
'Kut' ingin ucap Haira, namun sebelum ia mengucapkan itu aku lansung memotongnya dan berkata...
"PERGI SANA."
..Yang dimana membuat Haira sedikit marah dan bertanya.
"Kenapa?"
"Kau tanya Kenapa, Bukankah sudah jelas itu karena aku hanya bisa menggonceng dua orang saja, jadi cepat masuk sana dan kembalilah kerumahmu belajar."
Haira lansung cemberut dan ia terlihat Seperti ingin menangis.
Namun bukannya aku merasa kasihan aku malah merasa senang, seolah aku menikmati melihat ia seperti itu.
(Kukuku ini sangat menyenakan.)
Ketika aku memikirkan itu, Bulan berjalan maju ke depan lalu ia memanggil namaku.
"Leon."
"Umm!"
"A-anu sebetulnya aku lupa memberitaumu kalau hari ini adalah hari Jam kerjaku di pagi hari, jadi sebagai gantinya aku Ingin Haira ikut bersamamu untuk menemani Rezvan ke Puskesmas."
"Hah! woy apa kau bercanda. Kau seharusnya tau sendiri tidak mungkin aku bisa menggonceng dua anak kecil di belakangku. Itu bisa - bisa membuat mereka jatuh."
Ucapku Dengan Serius, namun bukan Bulan yang lansung balas perkataanku melainkan Haira yang lansung balas.
"Oh kalau soal itu kau tidak usah khawatir, karena aku punya satu cara yang bagus agar Kami berdua tidak jatuh."
"Ooh memang cara apa?"
"Kalau itu...."
__ADS_1
____________________________________
______________________________
>Di pemberhentian Lampu merah.
"Haira. Tadi kau bilang kau punya cara supaya kalian berdua tidak jatuhkan?"
"Yah"
Balas Haira sambil mengangguk.
"Jadi apa ini cara bagus yang kau sebutkan itu?"
"Benar sekali. dengan cara ini kami berdua 100% pasti tidak akan jatuhkan?"
"Yah itu memang benar sih, tapi.....APA KALIAN BERDUA MEMANG HARUS DI GONCENG DI DEPAN? BUKANKAH DI BELAKANG MASIH ADA?"
Benar saat ini aku menggonceng mereka berdua di depan. yang dimana membuat aku hampir tidak bisa melihat jalan.
Bukan hanya itu saja, Bahkan beberapa pengendara lainnya, yang berhenti di Lampu merah juga melihat ke arah kami.
Dimana mereka semua melihat kami dengan tatapan aneh, yang membuat Aku benar - benar malu.
(Sial ini sangat memalukan.)
Pikirku sambil mengertakkan gigiku. Kemudian aku melihat Haira dan berbisik di dekat telingannya
"Haira, Aku tau kalian tidak akan jatuh jika kalian duduk di depanku tapi tetap saja ini sangat memalukan. Lihat saja orang - orang sekitar mereka semua memperhatikan kita loh.-
-Bagaimana kalau kau duduk di belakang saja?"
"Yaa aku tidak masalah sih, tapi bukankah kamu sendiri yang bilang tadi jika aku duduk di belakang aku bisa saja jatuh, jadi bukankah lebih baik jika aku duduk saja di sini?"
Tanya Haira dengan seringai, dimana aku lansung mengerutkan dahiku dan terlihat sangat kesal.
(Nih Loli, aku benar - benar ingin menghancurkannya.)
Di saat aku memikirkan itu, Rezvan tiba - tiba mengangkat tangannya lalu ia mencoba mengajukan dirinya sendiri...
"Tidak, Aku tidak akan membiarkanmu duduk sendirian di belakang karena itu sangat berbahaya. Kau bisa saja pingsan, karena itulah kau duduk saja di sini."
Ucapku dengan Serius, kemudian aku kembali melihat Haira dan mencoba membujuknya lagi.
"Haira, sebentara lagi lampu Hijau jadi cepat pindahlah kebelakang. Jika aku menggonceng kalian seperti ini terus bisa - bisa kita semua akan mengalami kecelakaan, karena itulah..."
Aku tatap Haira dengan tajam yang dimana membuat Haira untuk sesaat sedikit ketakutan. Namun setelah aku menatap Ia dengan Normal ia kembali tenang dan menjawab..
"Aaaah baiklah - baiklah aku mengerti aku akan pindah ke belakang. Jadi tak usah menatapku begitu."
"Baguslah kalau kau mengerti."
Ucapku. Lalu Haira pun turung dari motor kemudian ia duduk di belakangku.
"Baiklah peganganlah yang kuat jangan sampai jatuh."
"Aku tau."
Balas Haira.
Lalu, di saat Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi Hijau, aku lansung tancap Gas dan pergi meninggalkan tempat itu.
_____________________________________
_________________________________
Tak berselang lama setelah kami menempuh perjalanan akhirnya kami sampai di puskesmas.
Dimana aku lansung membawa mereka Masuk kedalam. Namun di karenakan Banyak Pasien yang ingin berobat juga jadi kami harus menunggu sampai nama kami di panggil.
"Omong - omong Rezvan, bagaimana Kondisimu? Apa kau merasa sakit?"
__ADS_1
Tanyaku, dimana Rezvan lansung mengelangkan kepalanya kemudian menjawab.
"Tidak, A~aku baik - baik saja, hanya saja aku merasa sedikit mual."
"Eh Apa karena gara - gara aku bgbuk?"
"Mungkin."
"Begitu,....Apa kau mau aku bawa ke toilet."
"Eh y-yah, tapi apa itu tidak merepotkanmu?"
"Tentu saja tidak. Ayo kita pergi."
Balasku. Setelah itu aku bantu ia berdiri kemudian aku melihat ke arah Haira dan berkata...
"Kau, jangan kemana - mana ya, tunggulah kami di sini mengerti?"
"Aku mengerti kok, cepat pergi sana."
Balas Haira yang terlihat tidak senang.
Namun aku mengabaikannya dan lansung membawa Rezvan ke Toilet.
____________________________________
_________________________________
Sesampainya kami Di sana, Rezvan lansung masuk ke dalam Toilet. Sementara aku menunggu ia di luar.
Lalu di saat aku lagi menunggu, tiba - tiba PIX memanggilku...
[Master.]
Aku lansung melirik PIX yang berada di kaos tanganku, kemudian bertanya...
"Ada apa?"
[Anu Bukankah anda pernah Bilang, bahwa anda tidak suka anak kecil? Tapi kenapa anda baik sekali ke dia hari ini.]
"Maksudmu Rezvan?"
[Yah.]
Balas PIX dengan Serius.
Memang benar aku tidak suka anak Kecil. Namun bukan berarti aku harus meninggalkan mereka yang lagi kesusahan apa lagi kalau mereka sedang sakit.
Di kehidupanku sebelumnya, waktu aku banyak melakukan operasi di Negara - negara Bagian afrika, di sana aku banyak sekali melihat Anak kecil yang sakit - sakitan dan juga kesulitan.
Bahkan di antara mereka ada yang meninggal, di karenakan kurangnya Rumah sakit di sana. di tambah lagi perang antara dua suku sering juga terjadi di sana, yang membuat anak kecil seperti Rezvan sering kali Mati.
karena itulah setiap kali aku melihat ada anak Kecil yang kesulitan atau kesakitan aku tidak bisa meninggalkan mereka, walau mereka anak kecil yang tidak ku suka sekalipun. Contohnya saja Rezvan...
"PIX soal itu, aku rasa kau tidak perlu ku beritau, karena Kau seharusnya juga sudah tau sendiri alasan aku baik Ke dia(Rezvan) kan?"
[....Um, Sedikit.]
Jawab PIX sambil mengangguk.
Lalu tak lama kemudian. Rezvan pun keluar dari Toilet dan melihat ke arahku.
"Maaf membuatmu menunggu."
Ucapnya.
"Itu tidak masalah. Apa kamu sudah baikan?" Tanyaku.
"Yah, aku sudah baikan."
"Begitu. Ya udah Kalau begitu ayo kita kembali ke tempat adikmu?"
__ADS_1
"Um."
Balas Rezvan dengan anggukkan. Setelah itu kami berdua pun meninggalkan tempat itu..