
Setelah aku membuat teman - temannya tidak sadarkan diri, aku berjalan ke arah Abel, yang membuat ia lansung terlihat gemetar dan buru - buru mundur ke belakang.
"~Ti-Tidak, jangan mendekat."
Ucapnya sambil ketakutan, namun tetap saja aku terus mendekat ke arahnya.
Hingga akhirnya ketika aku sudah berada di dekatnya, aku berahli ke Arah Lia terlebih dahulu dan berkata...
"Lia, bisa kamu tunggu aku di depan Lorong? Aku ingin bicara dengannya sebentar."
Di saat Lia mendengar itu, ia kembali sadar dan menjawabku dengan linglun.
"Eh,..yah, aku mengerti."
Ucapnya sambil berlari melewatiku dan meninggalkan tempat ini. Kemudian aku melihat ke arah Abel dan berkata...
"Baiklah, bagaimana kalau kita bicara sebentar."
"Bicara?"
"Yah, aku dengar kau mengganggu gadis tadi(Lia) dan teman - temannya kemarin, apa benar?"
"I-itu...."
"Cepat jawab?"
"Yah, itu benar."
Ucap Abel dengan suara lantang, kemudian aku menatap lurus ke arahnya dan bertanya..
"Kenapa kau melakukan itu?"
"I-itu,...sebetulnya awalnya aku hanya ingin mengganggu Sara Saja, tetapi karena gadis itu(Lia) dan temannya yang satunya lagi(Rusli) ikut campur, jadi...."
"Kau mengganggu mereka juga?"
"Y-yah."
Jawab Abel dengan wajahnya di penuhi oleh keringat dingin. Kemudian aku melihat ia sekali lagi dan menatapnya dengan tajam.
"Baiklah, kalau begitu aku ubah pertanyaanku, KENAPA KAU MENGGANGGU SARA?"
Tanyaku dengan suara Tajam, Abel yang dengar itu lansung terlihat gemetar dan buru - buru menjawab...
"~A-anu,..itu karena ia anak yang sering kami Buli waktu SD, jadi.."
"Yang sering kalian Buli? Maksudmu kau membuli Sara?"
"U~Umm."
Jawab Abel dengan anggukkan, melihat itu membuat aku lansung seringai dan menarik rambutnya ke Atas sambil menyipitkan mataku yang tajam ke arahnya.
"Begitu, jadi kau juga anak yang suka membuli orang yah, kalau begitu...AKU TIDAK PERLU MENAHAN DIRI."
Ucapku sambil bersiap untuk memukulnya, Abel yang lihat itu lansung terlihat ketakutan dan Buru - buru ingin mengatakan sesuatu, sayangnya....
"~Tu~Tunggu, apa yang ingin kamu laku-!!"
...Sebelum ia selesai Bicara, aku dengan kuat melancarkan Sebuah pukulan tepat di wajahnya secara terus - menerus, hingga membuat Abel beberapa kali menjerit kesakitan di Lorong Gelap itu.
"~ARGHHHHHHHH!!"
_________________________________
______________________________
Tepat di depan Lorong, di sana terlihat Lia sedang Berjongkok sambil menunggu Leon yang masih berada di dalam.
Di saat ia sedang menunggu, ia mencoba mengingat kejadian tadi, dimana ia melihat Leon, dengan gampangnya mengalahkan anak - anak itu yang lebih tua darinya.
Bahkan, ia pun tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Sebab dari yang ia ingat, Leon tidak terlalu suka perkelaian apa lagi ia tidak jago dalam hal itu, sehingga membuat Lia sangat terkejut.
"Haa, apa - apaan itu tadi."
Ucap Lia dengan Bisikan, sambil menatap ke atas awan.
Dan di saat ia melakukan itu, tanpa ia sadari dari dalam lorong terdengar suara Langkah kaki yang sedang menuju ke arahnya..
__ADS_1
TAP!!...TAP!!...TAP!!..
"Lia, Maaf membuatmu menunggu."
Ketika Lia mendengar suara tersebut, ia lansung berbalik ke arah sana, dimana tepat di dalam Lorong terlihat Leon sedang melambaikan tangannya yang di penuhi oleh darah.
Melihat itu, Lia buru - buru berlari ke Arah Leon dan bertanya..
"Le-Leon tanganmu,...tanganmu berdarah, apa kamu tidak apa - apa?"
Tanya Lia dengan ekspresi khawatir, namun tanpa pedulikan itu, aku(Leon) dengan santai melap darah di tanganku dan menjawab..
"Tenang saja aku tidak apa - apa, lagi pula Darah ini bukanlah milikku."
"Bukan milikmu?"
"Umm."
Jawabku dengan anggukkan. Kemudian setelah aku selesai melap darah di tanganku, aku melihat ke arah Lia dan berkata...
"Kalau begitu. Ayo kita pulang."
"Eh, y-yah,..um."
Jawab Lia dengan Linglun, namun tanpa pedulikan itu aku lansung berjalan dan meninggalkan tempat ini. Di susul oleh Lia yang berjalan di sampingku.
"Oh iyah Leon, tidak ku sangkah kau sangat hebat berkelai yah."
"Bukannya aku hebat, merekanya saja yang lemah."
"Benarkah? Aku tidak melihatnya seperti itu, apa lagi......."
___________________________________
________________________________
>Di Rumah Leon.
di saat aku berjalan masuk ke dalam, aku mendengar dua orang yang lagi Ngobrol di ruang tamu, dimana salah satu dari mereka adalah Kak Siska, sedangkan yang satunya lagi adalah...
Ucapku di dalam pikiran.
Mengetaui itu aku buru - buru bersembunyi di balik tembok dan mengintip ke Ruang tamu, dimana di sana terlihat Putri dan Kak Siska sedang duduk di Sofa sambil membicarakan Soal....
"Oh iya Siska, kapan Leon Pulang?"
Tanya Putri.
"Biasanya jam segini ia sudah pulang, memang kenapa?"
"Tidak, bukan apa - apa, hanya saja ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya, jadi..."
"Bicara? Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Soal itu...."
Seolah - olah Putri kesusahan untuk menjawabnya, ia mencoba mengganti Topik pembicaraan.
"Dari pada itu, Siska boleh aku tanya sesuatu?"
"a-apa?"
"Akhir - akhir ini apa kamu merasa kalau adekmu,...Leon punya pacar."
Mendengar apa yang di katakan Putri, membuat mata Kak Siska lansung melebar karena tekejut.
"Eh Ba-bagaimana bisa kamu tau itu?"
"Oh apa itu benar?"
Di saat Putri menanyakan itu, Kak Siska lansung sadar kalau ia baru saja kecoplosan sehingga ia buru - buru menutup mulutnya.
Melihat tingkahnya yang seperti itu, membuat Putri lansung tersenyum dan mendekati Kak Siska..
"Jadi Siska, boleh kamu membicarakan Soal itu?"
Tanya Putri dengan senang, melihat itu membuat Kak Siska lansung memiliki Ekspresi Rumit di wajahnya, dimana ia menjawab..
__ADS_1
"Anu,..sebetulnya aku tidak terlalu banyak tau soal itu. Terlebih aku bahkan belum bisa pastikan apa ia benar - benar pacaran atau tidak."
"Eh Apa maksudmu?"
Tanya Putri yang terlihat kebingungan.
"Seperti yang aku katakan, baru - baru ini aku juga baru tau kalau ia(Leon) punya pacar, tapi ketika kami menanyakan soal itu, ia terus saja menyangkalnya, jadi..."
Seolah - olah tau apa yang ingin Kak Siska katakan, Putri lansung berkata..
"Begitu, aku mengerti."
Ucapnya dengan santai.
(Yaa tentu saja Leon tidak memberitau hal itu, lagi pula mana mungkin ia mau memberitau mereka, kalau pacarnya itu ternyata adalah pelayannya sendiri.)
Ucap Putri di dalam pikiran sambil manatap Kak Siska Dengan Ekspresi kasihan.
Sedangkan di sisi lain, ketika aku mendengarkan pembicaraan mereka di balik tembok.
Tanpa aku sadari tiba - tiba Ada seseorang yang megenggam pundakku dari belakang, hingga membuat aku lansung kaget "Uwaa!!" dan melihat ke arahnya.
Dimana tepat di belakangku, terlihat Rina sedang melihatku dengan ekspresi khawatir.
"Hah, maaf apa aku mengagetkanmu?"
Tanya Rina.
"Tidak, itu tidak apa - apa."
"Begitu, omong - omong apa yang tuan muda lakukan di sini?"
"Yaa kau tau aku sedang-!!"
Sebelum aku selesai menjawab, tiba - tiba terdengar suara Kak Siska yang memanggilku dari ruang tamu.
"LEON APA KAU SUDAH PULANG, CEPAT KESINI!"
"......."
Di Saat aku di panggil, aku lansung mendesah "haaa.." kemudian aku keluar dari balik tembok dan berjalan ke Ruang tamu. Di susul oleh Rina yang mengikutiku dari belakang.
TAP!!...TAP!!...TAP!!...
Setelah beberapa saat aku berjalan, tak lama kemudian akhirnya kami sampai,
dimana ketika putri melihat Rina mengikutiku, ia mulai menatap aku dan Rina secara bergantian dan berkata...
"Kalian berdua benar - benar sangat dekat yah."
Ucap Putri sambil tersenyum Licik, melihat itu aku lansung menyipitkan mataku ke arahnya.
Namun berbeda denganku, Kak Siska yang dengar itu terlihat kebingungan dan bertanya...
"Putri, apa yang kau bicarakan?"
"bukan apa - apa."
Jawab Putri dengan santai. Kemudian ia kembali melihat ke arahku dan berkata...
"Dari pada itu,...Leon, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan yang tadi pagi?"
Di saat Putri menanyakan itu, aku lansung mengerutkan dahiku dan menatap ia dengan tajam. Kemudian aku megenggam tangannya dengan erat dan berkata..
"Ayo ikut aku."
Ucapku sambil menarik tangannya dan menyeret ia menuju ke arah tangga, dimana ia terlihat sangat kebingungan dan bertanya - tanya...
"Leon, kau mau membawaku ke mana?"
"Ke kamarku, kita akan bicara di dalam sana." jawabku dengan tenang.
Setelah itu, kami berdua pun mulai berjalan naik ke tangga dan menunju ke Kamarku.
Di sisi lain, ketika aku sudah naik ke lantai dua, tepat di sofa, terlihat Kak Siska masih menatap lurus ke arah tangga, dimana ekrspresinya terlihat sangat kebingungan dan bertanya - tanya...
"Apa yang anak itu(Leon) lakukan?"
__ADS_1