BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KEPUTUSAN YANG DI BUAT ALEXEI


__ADS_3

Pada dini hari jam 4 pagi. Aku merasakan ada seseorang yang sedang mengguncang - guncang tubuhku.


"Tuan muda, tolong bangunlah."


"~unghh!!"


Perlahan aku mulai membuka mataku dan bangun. Lalu aku melihat Rani, pelayan rumah ini sedang berdiri di depanku.


"Syukurlah anda sudah bangun. Kenapa anda tidur di ruang tamu? Bukankah di sini sangat dingin. Sebaiknya anda kembali ke kamar anda dan tidur."


"Ungh kau benar."


Balasku, kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela dan melihat hari masih gelap.


"Omong - omong Rani, ini sudah jam berapa?"


"Jam 4 tuan muda."


"Jam 4 ya..."


Karena tidak lama lagi akan pagi jadi aku rasa sebaiknya aku rebahan saja di dalam kamarku sambil menunggu beberapa menit, setelah itu aku mulai melakukan latihan pagiku yang sering ku lakukan.


(Baiklah aku sudah memutuskan apa yang harus ku lakukan.-


-Oh iya, Yang lebih penting mana Kak Siska?)


Sebelum aku tertidur, aku ingat aku nonton di sini bersama dengan Kak Siska, tapi setelah aku bangun aku sudah tidak melihat ia dimanapun.


(Apa Kak Siska sudah kembali ke kamarnya?)


Sementara aku memikirkan itu. Di sisi lain Rani terus - terusan melambaikan tangannya di depan wajahku seolah mencoba ingin menyadarkan aku kembali.


"Tuan muda,..Hey tuan muda apa anda mendengarku?"


"Hah! Maaf, ada apa?"


"Bukan apa - apa, hanya saja anda kelihatan melamun terus, sehingga membuat aku sedikit khawatir."


"Hmm begitu, makasih sudah menkhawatirkan ku."


"Tidak perlu berterima kasih begitu, lagi pula itu sudah kewajibanku sebagai pelayanmu."


-Yang lebih penting sudah saatnya ada kembali ke kamar. Jika anda berlama - lama di sini bisa - bisa anda masuk angin."


"Kau benar, ya udah kalau begitu aku kembali dulu ke kamarku."


Setelah aku berpisah dengan Rina, aku lansung menuju ke kamarku yang di lantai dua. Dimana setelah aku masuk ke dalam aku lansung membuat diriku di kasur dan baring - baring di sana.


[Master, apa anda tidak tidur?]


"Tidak perlu, lagi pula sebentar lagi aku juga akan melakukan latihan pagi.-


-Selain itu masih ada satu hal yang lupa ku lakukan juga tadi malam."


[Apa?]


Aku tidak lansung menjawabnya melainkan pergi mengambil Hpku yang berada di atas laci kemudian aku nyalakan dan mengirimkan sebuah email pada seseorang.


PIX penasaran siapa yang ku kirimkan itu dan bertanya.


[Master, email barusan untuk siapa itu?]


"Oh ini hanya untuk temanku. Sudah lama aku tidak bermain dengannya."


Aku berkata begitu sambil menunjukkan senyuman seringaiku.

__ADS_1


___________________________________


________________________________


Sementara itu, Di ruang kerja Jendral Alexei, di sana Jendral Alexei sedang melihat beberapa laporan dari Laptopnya, Lalu tak lama kemudian tiba - tiba ia mendapatkan sebuah email dari seseorang.


(Un! siapa ini?)


Tidak ada nama dari si pengirim email tersebut. Tetapi karena Alexei penasaran jadi ia pun membukanya dan melihat isinya.


"Tu-Tunggu ini..."


Alexei kaget setelah melihat isi email itu. Sebab itu berisikan sebuah pesan peringatan.


"......."


Untuk sementara Alexei melamun sambil memikirkan sesuatu.


Dan tak butuh waktu lama akhirnya Alexei menemukan apa yang harus ia lakukan.


"Baiklah, dalam situasi ini sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain minta bantuannya."


Tanpa menunggu lama Alexei lansung mengambil Hpnya yang di taruk di atas meja dan menelpon seseorang.


"Halo ini aku Alexei."


Setelah Alexei mengatakan itu, Dari balik telepon terdengar suara seorang gadis kecil.


{Ooh Ternyata Jendral Alexei, ada apa menelponku di jam segini?}


"Aku ingin minta bantuanmu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya lewat telepon. Kalau bisa aku ingin bertemu denganmu dan membicarakannya di suatu tempat."


{Yaa udah kalau begitu anda bisa datang ke tempat kami dan kita bisa membicarakannya di sini.}


{Besok Sore, karena saat itu kami luang dan tidak memiliki perkerjaan apapun.}


"Oh begitu, Yaa udah kalau begitu aku akan kesana besok."


{Um kami tunggu.}


Setelah pembicaraan mereka selesai. Alexei meresa tidak ada lagi yang ingin di bicarakan jadi ia mencoba mengakhiri panggilan tersebut.


"Baiklah, hanya itu yang ingin ku bicarakan. Sekali lagi maaf karena telah mengganggumu."


{Hahaha tidak perlu begitu, Lagi pula kita ini juga sudah bersekutu.-


-Selain itu selama anda masih mau bekerja sama denganku membuat orang - orang itu(KSP) memaafkanku karena telah membunuh ketua mereka maka aku tidak masalah jika di ganggu terus.}


Alexei tidak merespon sedikitpun perkataan dia dan lansung menutup teleponnya.


BIP.....!!


Setelah itu Alexei mencoba menyandarkan punggungnya di kursi sambil melihat langit - langit di ruangannya.


"Haaa sungguh gadis nakal. Tapi meski begitu aku harap keputusanku ini tidak salah."


Setelah mengumankan itu Alexei kembali melihat laptopnya dan menatap email itu dengan serius.


____________________________________


_________________________________


Di pagi hari yang cerah, sebuah pesawat putih terbang di atas langit dan mencoba mendarat di sebuah tempat yang tidak lain adalah Markas KSP.


Setelah pesawat itu mendarat, dari dalam pesawat keluar Brid dan juga Selena yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"~Unghh akhirnya kita sampai juga, kepalaku masih terasa pusing, aku ingin muntah."


Selena kelihatan sangat pucat. ia buru - buru berlari turung dari pesawat dan pergi ke suatu tempat.


Kemungkinan besar ia sedang mencari tempat untuk muntah.


Brid hanya bisa diam sambil menghela nafasnya melihat kondisi Selena yang seperti itu.


Lalu tanpa mencoba mempedulikan Selena. Brid mulai menghampiri Mael dan Dux yang telah menunggunya tidak jauh dari pesawat.


"Selamat datang kembali Brid."


Ucap Mael.


"Yah."


Balas Brid. Lalu setelah itu Dux mendekati Brid dan bertanya...


"Omong - omong Brid, tuh Selena kenapa? Aku lihat tadi ia lari terbirik - birik meninggalkan pesawat?"


"Oh ia hanya habis mendapatkan hukuman dari orang yang seharusnya tidak di buat marah."


"Orang yang seharusnya tidak di buat marah? Siapa?"


Dux terlihat penasaran siapa itu, Namun Brid tidak mau memberitaunya dan malah memilih berahli ke topik lain.


"Sudahlah tidak usah di pedulikan, yang lebih penting dimana Carla?"


"Oh dia sedang menunggumu di Ruang Rahasia." jawab Mael.


"Ruang Rahasia ya?....Baiklah, ayo kita ke sana."


Di saat Brid dan Mael baru saja mau pergi, tiba - tiba Dux menghentikan mereka.


"Kalian berdua tunggu dulu, bagaimana dengan Selena? Bukankah kita di suruh membawanya juga ke sana?"


"Kau benar, yaa udah kalau begitu Dux kau carilah dia dan bawa ia ke sana."


Jawab Mael, Dux seolah tidak terima dan dengan tegas menolaknya.


"Apa! aku..Tidak, aku tidak mau, aku masih capek karena habis begadang semalaman merakit Bom. Kau saja yang pergi."


"~Kau ini..."


Mael kelihatan kesal, namun meski begitu ia tidak mau buat keributan dengan Dux di sini jadi ia memilih menyerah.


"Haa baiklah aku akan pergi cari Selena. Tapi sebagai gantinya kau antar Brid ke tempat Carla."


"Yah aku tau."


Balas Dux.


Setelah Mael pergi, Brid dan Dux mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Dimana mereka masuk ke dalam hutan dan berhenti tepat di belakang pegunungan.


"Tunggulah di sini, aku buka dulu pintunya."


"Tunggu Dux, biar aku saja."


Brid menghentikan Dux dan mencoba menggantikannya.


Brid memasukkan jari jempolnya ke dalam lubang kecil di bebatuan. Dimana sidik jari Brid sedang di Scan di dalam sana.


Setelah sidik jari Brid selesai di scan, tiba - tiba batu di depannya terbelah menjadi dua dan di dalam sana terlihat sebuah pintu lift.


Tanpa menunggu lama mereka berdua lansung masuk ke dalam Lift tersebut dan mulai turung ke lantai bawah.

__ADS_1


__ADS_2