
"Anu, Kak Rangga boleh aku tanya"
"Apa"
"Apa kau suka wanita payudara besar?"
BUFFFFF!!
Saat Kak Rangga menyemburkan air ke wajah Ayah. Ia lansung meminta maaf dan melihat ke arahku.
"Le-Leon, kenapa kau bertanya soal itu?"
"Yaa, aku hanya ingin tau saja, apa Kak Rangga suka atau tidak?"
Ucapku. Meskipun aku tau kalau aku mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan di hadapan Istrinya.
Namun jauh di dalam pikiranku, Aku merasa seperti harus mengatakan ini.
Sebab setiap kali aku mendengar ucapan payudara besar dari Kak Rangga. Aku merasa seperti ada sebuah hubungan spesial antara aku dan Orang ini.
meskipun aku belum tau hubungan apa itu.
setelah memikirkan itu, di sisi lain Airani seperti tidak mempedulikan apa yang aku katakan barusan. Melainkan ia hanya melihat Rangga terus.
Dimana, Rangga saat ini terlihat sedang mengingat sesuatu sambil ekspresinya terlihat sedih.
"Sayang."
Ketika Airani memanggil Rangga, Rangga lansung melihat ke arahnya di mana Airani sedang tersenyum saat menatap mata Rangga.
Setelah beberapa detik Rangga melihat senyumannya itu, perlahan ia menghela nafasnya sambil melihat ke arahku.
"Haaa,...baiklah, aku akan memberitaumu."
Ucap Rangga sambil menatap lurus ke arahku. Begitupun denganku, aku menatap lurus ke arahnya.
Setelah kami berdua saling menatap satu sama lain. Kak Rangga mulai bicara.
"Leon, Seperti yang kamu katakan, memang benar aku menyukai wanita payudara besar, tapi itu dulu...."
"Dulu? Kalau sekarang?"
"Sekarang tidak lagi. Setelah aku menikahi Airani 2 tahun yang lalu."
Ucapnya sambil melihat ke arah Airani yang terlihat senang.
Meskipun aku merasa tidak enak jika bertanya lagi. Namun jauh di dalam pikiranku aku merasa seperti ingin mengajukan pertanyaan lagi.
Sebab, setiap kali aku mengajukan pertanyaan. Aku merasakan sebuah detakan. Baik di dalam pikiran maupun di dalam hatiku.
Jujur saja aku tidak tau kenapa aku bisa merasakan perasaan aneh seperti ini.
Namun yang jelas aku bisa pastikan kalau perasaan aneh ini, besar kemungkinan berhubungan lansung dengan Orang di depanku. Yaitu RANGGA.
Ketika aku mencoba mengajukan pertanyaan, soal kapan ia Suka Payudara besar.
tiba - tiba aku lansung di hentikan Oleh PIX, di dalam pikiranku.
[Master, aku rasa sebaiknya anda hentikan saja pertanyaan itu.]
(Hah, apa maksudmu?)
[Aku tau anda sedang ingin mencari tau, soal yang anda rasakan saat ini ke anak itu. Tapi, sebaiknya anda hentikan saja itu.]
Mendengar hal itu. Aku merasa curiga dan lansung menatap ke arah kaos tanganku. Di mana PIX berada.
Setelah beberapa saat menatap PIX, tak lama kemudian aku mencoba bertanya.
(PIX,....jangan bilang kau tau sesuatu tentang ini?)
[Memang benar aku tau. Tapi, untuk saat ini aku tidak bisa memberitau anda Master.]
(Kenapa.)
[Aku tidak bisa memberitau alasannya. Yang jelas, aku bisa pastikan kalau ini demi kebaikan anda Sendiri.]
Mendengar jawaban yang seperti itu membuatku sangat kesal.
Sebab meskipun ia bilang kalau ini demi kebaikanku sendiri. Namun, jika aku tidak mengetaui alasannya itu percuma saja.
Sehingga tanpa mempedulikannya aku mencoba mengajukan pertanyaan ke Rangga.
"Kak Rangga."
[MASTER, TOLONG BERHENTI!]
Tanpa pedulikan teriakan PIX, aku terus menatap ke arah Kak Rangga dimana ia sedang berbalik melihat ke arahku.
"Leon, ada apa?"
"Aku ingin tau Sebelum Kak Rangga menikah. Kapan Kak Rangga menyukai wanita payudara besar??"
Saat aku mengatakan itu. Semua Orang sekali lagi terlihat terkejut dan lansung melihat ke arahku. Namun, tanpa pedulikan hal itu, aku mencoba mendengar Kak Rangga.
"Leon, kenapa kau bertanya hal ini terus?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tau saja."
Ucapku lansung.
meskipun awalnya Kak Rangga tidak terima dengan apa yang aku katakan. namun sesaat ia melihat tatapanku yang Serius. Ia lansung menyerah dan mulai menjawabnya.
"Haaa Baiklah,.....kalau kau segitu inginnya tau, kapan aku suka Wanita payudara besar, aku akan memberitaumu."
ucap Kak Rangga Setelah itu ia lanjut lagi.
"hmm, jujur aku sudah tidak terlalu ingat. tapi, kalau tidak salah mungkin saat pertama kali aku bertemu dengan guruku."
"guru Kak Rangga?"
"Yah, saat itu Guruku Pernah mengatakan kalau. PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMA-!!"
Nya, ingin ucap Rangga. Namun sebelum ia mengucapkan itu dengan cepat ibu lansung menghantamkan sebuah pukulan tepat di perutnya. Hingga membuat ia terjatuh dari kursi.
BUK!!
"~~Ughhh"
"RANGGA APA MAKSUDMU MENGATAKAN ITU?"
"Eh?"
"APA KAU INGIN BILANG KALAU IBUMU INI TIDAK PUNYA PAYUDARA?"
Ketika Rangga melihat Tatapan tajam ibu, ia mencoba menyakalnya.
"Ti-Ti-Tidak, ibu salah pahan. Aku tidak bermak-!!"
Sebelum Rangga selesai bicara ia lansung berhenti ketika merasakan Pundaknya sedang di pegang Oleh ayah.
"RANGGA, AKU TAU DULU KAU PUNYA GURU, TAPI TIDAK KUSANGKAH IA BERANI - BERANINYA BILANGI ISTRIKU SEPERTI ITU."
"Tu-Tu-Tu-Tunggu,..Tunggu dulu ayah. Ini salah paham..."
meskipun Rangga mencoba menjelaskan ke Ayah dan ibunya. namun, mereka berdua tidak mendengarkan dan hanya menatap Rangga Terus.
Di sisi lain ketika istrinya sedang duduk dan memangku Fira, ia hanya tersenyum saat melihat suaminya di ujani beberapa pertanyaan.
adapun Kak Siska, ia saat ini terus meremas kepalanya, karena pusing melihat mereka bertiga.
"Haa, apa yang mereka laku-!!"
"PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA."
Ketika Siska baru ingin mengatakan sesuatu, tiba - tiba terdengar suara bisikan Keras di ruangan ini.
Mendengar hal itu, Baik ibu, ayah, Dan juga Kak Siska lansung melihat ke arah Kak Rangga.
"Eh, kalau begitu sia-!!"
"PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA."
Ketika Mereka semua mendengar bisiskan itu sekali lagi. Mereka semua lansung Melihat ke arah sana.
Di mana, disana terdapat Leon sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. hingga wajahnya tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.
"Leon, apa kau yang mengatakan itu ta-!!"
Sebelum Ibu menyelesaikan kata - katanya. Sekali lagi Bisikan itu terdengar.
"PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA."
mendengar hal itu, Ibu lansung terlihat marah dan mencoba pergi ke tempat Leon.
namun sebelum ia berjalan, tiba - tiba ia lansung di Hentikan oleh suaminya. yang sedang mengenggam pundaknya, dari belakang.
"Sayang?"
ketika Ibu memanggil suaminya, ia tidak mengatakan apapun dan hanya memperhatikan Leon terus.
meskipun ibu tidak mengerti kenapa Suaminya bisa begitu. namun, ia mencoba untuk tenang di sana.
sedangkan di sisi lain. ketika Siska mendengar bisikan itu sekali lagi, ia lansung melayankan sebuah pukulan tepat di kepala Leon.
"Leon, hentikan itu."
BUK!!
Ketika kepala Leon di pukul, ia tidak merespon sama sekali. Melainkan hanya membisikkan itu, secara terus - menerus.
Merasa dirinya sedang di abaikan. Siska mencoba mencubit telinga Leon.
Namun, sebelum ia mencubitnya. Tanpa ada yang sadar, ayah sudah berdiri di samping kanan Leon dan lansung menahan tangan Siska.
"Ayah?"
"Siska, hentikan itu."
"ta-tapi ayah...."
Siska yang melihat tatapan Ayahnya, secara perlahan mulai melemaskan tangannya.
__ADS_1
mengetaui hal itu, ayah lansung melepaskan tangan Siska dan mencoba menunduk untuk melihat ke Wajah Leon.
namun, ketika ia melihat wajah Leon, tiba - tiba matanya lansung melebar karena terkejut.
sebab ekspresi Leon saat ini terlihat sangat Pucat bahkan tatapannya sangat Kosong, seolah - olah ia tidak sadarkan diri.
"Hei Leon, apa kau baik - baik saja?"
Saat ayah mencoba menyadarkan Leon. Leon tidak merespon sama sekali. Dan hanya mengulangi kata - kata yang tadi ia ucapkan terus yaitu..
"PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA."
Merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya, Ayah mulai menepuk - nepuk pundak Leon untuk membangunkannya.
Namun, tetap saja ia tidak merespon sama sekali, sehingga membuat ayah merasa Khawatir.
"Oi Leon, apa kau dengar?.....apa kau dengar ayah Leon?"
Ketika ayah terus mencoba membangunkan Leon.
di sisi lain Airani dan Juga Rangga yang memperhatikan itu. Mulai sadar kalau ada sesuatu yang aneh dengan Leon.
Sehingga membuat Airani merasa khawatir dan bertanya ke ayah.
"Ayah, apa yang terjadi?"
"Aku tidak tau, tapi.......Oi Leon apa kau dengar ayah?"
"PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA."
Saat Leon mengucapkan itu sekali lagi. Baik ibu dan juga Kak Siska lansung sadar kalau ada sesuatu yang aneh dengan Leon.
"Ayah, Leon kenapa?"
Saat Siska bertanya. Ayah tidak menjawab apapun dan hanya fokus untuk membangunkan Leon.
Rangga yang melihat itu merasa khawatir dan lansung pergi ke samping kiri Leon.
Sesampainya ia di sana, ia lansung menunduk dan melihat wajah Leon.
Dimana ia terlihat sangat Pucat dan tatapannya sangat Kosong, bahkan ia sering membisikkan sesuatu yang tidak bisa Rangga dengar.
Merasa khawatir dengan keadaan adeknya. Rangga mencoba ikutan membangunkan Leon. Namun....
"Oi Leon apa kau dengar,...ini kakak,...Leon!!"
...tetap saja Leon tidak merespon sama sekali, sehingga membuat semua orang di ruangan ini menjadi khawatir.
Di sisi lain, ketika aku membisikkan-!!
"PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA."
-aku sering kali melihat sebuah gambaran di dalam pikiranku.
Dimana gambaran tersebut berada di berbagai macam tempat. Mulai dari sebuah Acara mewah, Di Rumah sakit sampai Di dalam hutan.
Di tambah lagi, di setiap Gambaran tersebut aku sering melihat seorang Anak Kecil yang berumur sekitar 13 Tahun.
Meski aku belum tau siapa anak itu, namun, aku bisa pastikan kalau setiap Gambaran tersebut, besar kemungkinan kalau itu adalah Ingatanku yang aku Lupakan, setelah Reinkarnasi di Tubuh ini.
Meskipun aku tidak tau kenapa aku bisa melupakan semua ingatan ini. Namun setiap kali aku melihat gambaran tersebut.
Aku merasakan sebuah kesakitan di dalam Pikiranku. Seolah olah otatku sedang di remas oleh sesuatu.
[MASTER TOLONG KOSONGKAN PIKIRAN ANDA, JIKA TIDAK BISA - BISA PIKIRAN ANDA AKAN RUSAK.]
Meskipun PIX mengatakan itu, namun aku tidak bisa menghilankan Gambaran ini.
Sebab setiap kali aku menghilankan Gambaran tersebut. Gambaran itu tetap saja muncul di dalam pikiranku dan membuat Otatku secara terus - menerus merasakan rasa sakit.
"~Ughhhh....apa - apaan ini!!"
Saat aku membisikkan itu, sambil meremas kepalaku.
Mereka semua lansung terlihat khawatir. Meski begitu aku tidak bisa memperhatikan mereka. Sebab aku hanya melihat Gambaran itu terus berganti - ganti di dalam pikiranku.
"~~Aghhhh..."
[MASTER, TOLONG TENANGKAN DIRI ANDA!]
Jujur Aku ingin melakukan itu. Tapi Gambaran ini terus saja menyakiti kepalaku, hingga aku tidak bisa menenangkan diriku.
meskipun aku tau kalau ini sangat berbahaya. namun aku tidak bisa menghentikan Gambaran ini.
(~Ugh,..sial ini sakit sekali.)
saat aku terus menahan Rasa sakit di kepalaku. tiba - tiba PIX berteriak di dalam pikiranku.
[GAWAT! MASTER TOLONG BERTAHANLAH!!]
Sesaat PIX meneriakkan itu, Gambaran itu makin Cepat berganti di dalam, Hingga aku tidak bisa lagi melihat, gambar apa itu.
"~Ughhhhhhhh...."
Ketika aku terus menahan, rasa sakit di dalam otatku. Beberapa detik kemudian sebuah sengatan Listrik sedang bertabrakan di dalam pikiranku.
__ADS_1
Hingga akhirnya aku lansung Terjatuh dan Pingsan di lantai.
"LEOOOOON!" teriakan sih loli.😋