
pada saat aku sudah meninggalkan Ruang Uks, aku mengintip di Sela Pintu Ruang kelas, dimana aku memperhatikan para Murid sudah mulai Bejalar.
"Sepertinya pelajaran sudah di mulai dari tadi." ucapku dengan suara pelang. PIX yang dengar itu lansung membalas
[Kau benar.]
Ucapnya, kemudian ia melirikku dan bertanya...
[Jadi apa yang akan anda lakukan, apa anda ingin Bolos?]
"Hmm...yaaa, itu mungkin bagus juga, tapi-"
Sebelum aku selesai bicara, Tiba - tiba Pintu Ruang Kelas terbuka lebar dan memperlihatkan sesosok Bu Linda yang lagi melihatku berjongkok tepat di depannya.
"O~Oh Bu Linda, Ma-Maaf aku telat masuk." ucapku sambil berkeringat dingin.
"....."
Namun Tanpa mengucapkan apapun, Bu Linda hanya menatapku saja terus, dimana ia sedang memperhatikan seluruh bagian badanku...
"Anu,..Bu Linda."
...namun, di saat aku memanggil namanya ia lansung kembali sadar dan melihat wajahku.
"O-oh Leon, maaf barusan aku melamun."
"Yaa, itu tidak apa - apa."
Balasku lansung, kemudian Bu Linda yang dengar itu lansung tersenyum dan bertanya..
"Omong - omong bagaimana keadaanmu, apa kau sudah tidak apa - apa?"
"Eh?"
"Aku dengar dari Sara, sepertinya kau di bawah Bu Nara Keruang UKS, untuk di Rawat."
"Oh jadi begitu."
Ucapku lansung ketika udah mengerti apa Yang Bu Linda bicarakan. Setelah itu aku menjawab..
"Seperti yang anda lihat, aku baik - baik saja."
"Begitu Syukurlah."
Ucapnya sambil tersenyum, kemudian ia berahli ke arah bangku ku dan berkata..
"Kalau gitu, Cepat masuk ke dalam."
Di saat aku mendengar itu, membuat aku lansung terkejut dan mencoba bertanya...
"Eh apa tidak masalah? apa anda tidak menghukumku?"
"Oh, apa kamu mau di hukum?"
Tanya Bu Linda sambl tersenyum licik.
Melihat itu aku buru - buru menjawab..
"Te-tentu saja tidaklah."
"Kalau begitu. Cepatlah masuk."
"Baik. Aku mengerti."
Jawabku sambil berjalan masuk ke dalam dan duduk di bangku ku.
Setelah aku duduk, aku mengeluarkan Buku catatanku dan mencoba menulis Pelajaran yang ada di papan Tulis.
Namun di saat aku melakukan itu, Dari samping tiba - tiba terdengar suara bisikan Sara yang lagi memanggilku.
"Leon."
"Umm! Ada apa?"
Tanyaku sambil melihat ke arahnya.
"Anu, tadi aku dengar dari Lia, kemarin kamu..."
Di saat Sara ingin mengatakan sesuatu, tiba - tiba ia berhenti bicara dan melihatku dengan ekspresi malu.
"?"
Merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya sehingga aku mencoba bertanya..
"Sara ada apa?"
"Ti-tidak, bukan apa - apa maafkan aku sudah mengganggumu."
Jawabnya sambil kembali melihat ke arah depan dan menulis pelajaran yang ada di papan tulis.
Yaa, meskipun aku sudah tau apa yang ingin ia katakan Namun untuk saat ini, aku biarkan saja.
Sebab aku yakin ia punya alasan tersendiri, tidak ingin mengucapkan itu untuk sekarang.
Setelah memikirkan itu, aku mulai menulis juga, pelajaran yang ada di papan tulis.
_____________________________________
_________________________________
Pada saat semua murid sudah waktunya pulang sekolah, aku masih berada didalam Ruang kelas. Dimana aku sedang melap jendela yang kotor, karena hari ini adalah hari tugas kebersihanku.
Meskipun aku tidak suka melakukan ini, tetapi aku harus tetap melakukannya, karena ini adalah Tugas dari seorang Murid.
"Haaa, aku sering bertanya - tanya, kenapa aku yang di takuti banyak orang, malah di suruh melakukan hal ini?"
Ucapku sambil terlihat lemas, PIX yang lihat itu lansung membalas..
[Kau benar, meskipun aku tidak ingin mengakuinya, tetapi saat ini Master benar - benar terlihat sangat menyedihkan.]
"Diamlah, apa kau senang mengejek Mastermu terus?"
[Oh itu tentu saja, lagi pula mengejek Master adalah jalan baru hidupku.]
"Cih Mati saja kau."
[Sayangnya aku tidak bisa mati Master.]
"Aku sudah tau itu sialan, Tidak usah banyak bacot."
[Aku tidak banyak Bacot Master, aku hanya mengatakan kebenarannya saja, Tidak sepertimu yang suka bohong hanya untuk bisa merebut hati wanita.]
__ADS_1
"....."
Jujur saja aku ingin sekali membalas apa yang ia Ucapkan. Namun aku hentikan saja, sebab aku merasa tidak ada gunanya meladeni dia.
sehingga aku mulai melap Jendela dengan tenang tanpa mempedulikannya.....aku pikir begitu, sayangnya...
[Master, kenapa kau diam saja, lihat di luar sana ada banyak Cewek Cantik.]
".....😐"
[Huh, Master lihat ada dua Bocah yang lagi berciuman.]
"......😓"
[Master, apa kau dengar?]
"......😐"
[Woy Master, apa kau tuli?]
"......😓"
[Master, Master, Master, Master, Master, Master, Master, Master, Master,[Master, Master, Master, Master, Master, Master,[Master, Master, Master,]
"😬..DIAMLAAAAH BRENGSEEEEET!"
____________________________________
_______________________________
Di saat aku berjalan Keluar dari sekolah, tepat di pintu Gerbang terlihat Rusli, Lia dan Sara sedang berlari menghampiriku.
TAP!!..TAP!!...TAP!!..
"Leon, akhirnya kau keluar juga."
Ucap Rusli. Kemudiam aku melihat mereka bertiga dan bertanya.
"Kalian, apa yang kalian lakukan di sini?"
"Kami sedang menunggumu."
Jawab lansung Sara.
"Menungguku?"
"Yah, kami ingin pergi ke Warnet, kamu mau ikut kan?" Tanya Lia.
"Yaa aku tidak masalah tapi,..."
Sesaat aku berhenti aku berahli ke arah Sara, kemudian aku bertanya..
"Sara, apa kau ikut juga?"
"Yah, memang kenapa?"
"Bukan apa - apa hanya saja, Bukankah tadi kamu bilang tidak bisa ikut."
"Itu tadi, berbeda dengan sekarang, aku sudah berubah pikiran."
"Be-begitu yah."
Sesaat aku mengucapkan itu, Sara melanjutkan lagi.
"Hmmm jadi kau sudah tau?"
Di saat aku menanyakan itu. Sara lansung menjawab dengan anggukkan "umm." kemudian berkata...
"Sebetulnya waktu di kelas, aku ingin memberitaumu soal ini, tetapi karena pelajaran sudah di mulai jadi aku hentikan.-
-Namun, meski begitu aku tetap berterima kasih karena kau sudah memberi pelajaran ke anak - anak itu Leon."
Ucap Sara sambil tersenyum. Melihat senyumannya itu membuat bibirku lansung melengkun dan berkata...
"Yaa, tidak usah berterima kasih, lagi pula aku juga tidak suka dengan anak - anak seperti mereka."
"Benarkah?"
Tanya Sara.
"Umm."
Jawab aku dengan anggukkan. Setelah itu aku menatap mereka bertiga dan berkata...
"Yosh,...kalau begitu bagaimana kalau kita pergi sekarang."
""ayo.""
Jawab Lia dan Rusli secara bersamaan sambil mengangkat tangannya tinggi - tinggi ke atas.
Setelah itu mereka berdua mulai berjalan di depan, sambil aku dan Sara mengikutinya dari belakang.
TAP!!...TAP!!...TAP!!...
Di saat kami berjalan, tepat di sampingku Tiba - tiba Sara memanggilku.
"Anu Leon Boleh aku tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kemarin,...saat kau menghajar anak - anak itu, apa kau dengar sesuatu dari mereka?"
"Maksudmu?"
"sebagai Contoh,......anak - anak itu Bilang AKU ADALAH GADIS YANG PERNAH MEREKA BULI atau semacamnya."
Ucap Sara sambil melirikku dengan sangat serius.
Jujur saja, untuk membuat ia tidak merasakan rasa sakit di sini, Biasanya aku akan menjawab TIDAK. Sebab itu pasti akan membuat ia merasa lega karena aku tidak mengetaui masa kelamnya waktu SD.
Tepati jika aku melakukan itu sudah pasti ia akan merasa bersalah, karena tidak memberitauku hal itu dan diam saja.
Meskipun aku tidak masalah soal itu, tetapi baginya itu pasti sesuatu yang tidak bisa di maafkan, karena bagaimanapun juga di saat ia bersenang - senang atau melakukan banyak hal bersamaku dan yang lainnya, sudah pasti ia kadang mengingat Trauma dia di masa lalu, dan berpikir....
Sehingga membuat ia tambah menyalahkan dirinya sendiri. bahkan mungkin saja ia akan membawa itu sampai ia dewasa.
Itulah sebabnya ia sering menjauhi orang - orang dan punya sikap yang seperti itu.
Karena jika ia tidak melakukan itu, aku yakin ia pasti hanya tambah menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
Maka dari itu, satu - satunya jawaban untuk menghilangkan rasa bersalahnya di sini adalah dengan mengatakan yang sebenarnya.
Meskipun ini akan melukai dirinya untuk sesaat, tetapi itu lebih baik di bandingkan ia membawa Rasa bersalah itu terus sampai ia besar nanti.
Setelah aku memikirkan itu perlahan aku melirik Sara dari samping, dimana tatapanku terlihat sangat tenang namun tajam, kemudian aku menjawab...
"Sara, seperti yang kamu Bilang, anak - anak itu memang mengatakan bahwa kau Sebetulnya gadis yang pernah mereka Buli waktu SD."
"Begitu, jadi kau sudah dengar yah."
"Yah."
Jawabku secara singkat, sambil mencoba memperhatikan wajah Sara yang sedang menunduk, dimana ekspresinya tidak bisa aku lihat karena di tutupi oleh bayangan.
karena aku khawatir dengannya sehingga aku lansung megenggam pundaknya dengan kuat dan bertanya..
"Sara apa kau tidak apa - apa?"
Di saat Sara merasakan bahwa aku sedang megenggam pundaknya, ia melihat ke arahku dimana membuat aku lansung terlihat terkejut.
Alasannya, Itu karena ekspresi Sara saat ini benar - benar sangat berbeda di bandingkan sebelumnya, dimana ekspresinya sangat tenang namun tatapannya dingin bagaikan Es, seolah - olah ia menusuk dan menanamkan rasa takut dari tubuh seseorang.
TANPA KECUALI DIRIKU SENDIRI.
Melihatnya saja, aku lansung tau bahwa ini adalah ekspresi dan tatapan yang pernah aku lihat saat pertama kali bertemu dengannya. Dimana ia melihat orang - orang di sekitarnya dengan sangat dingin.
Meskipun aku tidak menyangkah ia akan berubah sampai seperti ini, tetapi aku tidak akan diam saja, karena aku sudah memutuskan akan mengubah dirinya mulai dari sekarang...
"Sara, Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?"
Di saat aku menanyakan itu Sara mencoba memperhatikan tatapanku, dimana tidak ada rasa takut atau keinginan untuk menjauhinya sedikitpun.
Sehingga membuat bibirnya lansung melengkun dan kembali melihat ke arah depan.
"Maaf, aku hanya tidak menyangkah kau masih bersikap tenang seperti biasanya, padahal aku pikir kau akan menatapku dengan aneh karena sudah mengetaui masa laluku."
Mendengar jawabannya itu, membuat aku lansung melirik ia dengan tenang dan berkata....
"Huh, buat apa aku melakukan itu? Lagi pula, jika kau berkata seperti itu seharunya aku juga bilang,...KENAPA KAU TIDAK MENATAPKU DENGAN ANEH, PADAHALKAN AKU INI ANAK YANG DI BULI JUGA?"
Di saat aku menanyakan itu, sentak membuat mata Sara lansung melebar karena terkejut "Eh!" sebab ia tidak pernah menyangkah aku bertanya balik padanya.
"I-itu,....itu karena kau berbeda denganku."
Jawab Sara yang kebingungan.
"Beda apanya? Selain jenis kelamin, kita sama - sama anak yang di Buli."
"Itu memang benar, tapi...."
Pada saat aku merasa Sara tidak bisa lagi mengatakan apapun, aku kembali melihat ke arah depan dan berkata...
"Sara jujur saja, aku tidak tau apa yang kamu rasakan saat ini, tetapi jika kau terus seperti ini (membuat penghalan/menjauhi orang"), aku yakin kau akan menyesalinya nanti."
Sesaat Sara mendengar itu, ia lansung menyipitkan matanya yang tajam ke arahku dan berkata.
"Leon, kau tidak perlu menceramaiku, lagi pula aku tau apa yang aku lakukan sekarang."
"Tidak,...kau tidak tau apapun, meskipun memang benar, kau merasa baik - baik saja untuk sekarang, tetapi jika kau terus seperti ini sampai dewasa, aku yakin kau pasti akan menyesalinya."
ucapku dengan tatapan Serius. Melihat itu Sara lansung berahli ke arah lain dan bertanya...
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu, dengan yakin?"
"Soalnya, itu karena,.....AKU SUDAH MERASAKANNYA SENDIRI."
Jawabku sambil menyipitkan mataku dengan tenang, di tambah hembusan angin menerbankan rambutku.
di sisi lain, ketika Sara mendengar jawabanku, membuat matanya lansung melebar karena terkejut. Sebab jika apa yang aku katakan benar, itu berarti....
"Le-Leon, kau bilang kau sudah pernah merasakannya sendirikan? Itu berarti,..apa kau sudah pernah dewasa?"
Di saat Sara menanyakan itu, untuk sementara aku tidak menjawab apapun dan hanya melirik ia terus.
"......"
Namun beberapa detik kemudian, tiba - tiba biriku melengkun seperti Bulan sabit dan berkata..
"Sara, apa maksudmu bilang, aku sudah pernah dewasa? Apa kau ingin bilang,...aku sudah melakukan ini dan itu?"
Seolah - olah mengerti apa yang aku katakan, Sara lansung tersipu malu dan buru - buru melihat ke arah depan.
"Le~Leon apa yang kamu katakan, aku tidak pernah berkata seperti itu."
Ucapnya, kemudian ia melirikku dan melanjutian lagi..
"Lagi pula, aku hanya bertanya apa kau sudah pernah dewasa atau belum? Aku tidak punya maksud apapun."
"Hmm, begitu yah."
Ucapku dengan santai sambil melihat kearah depan.
"Jadi bagaimana Leon, apa kau benar - benar sudah pernah dewasa atau belum?"
Di saat Sara menanyakan itu lagi, aku lansung melirik ia dan bertanya balik.
"Kenapa kau bertanya seperti itu lagi?"
"So-soalnya. Itu karena kau tiba - tiba mengatakan Sesuatu yang aneh tadi, ja-jadi.....aku sangat penasaran soal itu."
Jawab Sara sambil menatapku dengan sangat serius.
Di sisi lain untuk sementara aku hanya melirik ia terus dan tidak mengatakan apapun.
"......"
Namun, Setelah beberapa detik kemudian aku kembali melihat ke arah depan dan berkata...
"Aku mengerti apa yang kamu katakan, tapi maafkan aku, untuk saat ini aku tidak bisa memberitaumu."
"Kenapa?"
"Soal itu, kau tidak perlu tau, yang jelas aku ingin kau ingat saja kata - kataku yang tadi, mengerti?"
Tanyaku sambil melihat Sara dengan tatapan Serius. Melihat tatapanku itu membuat Sara sesaat tercengan. Namun setelah ia kembali normal ia lansung melihat ke arah lain dan menjawab..
"Ba-Baiklah, aku mengerti."
Setelah Sara mengucapkan itu aku lansung mendengus dan berkata..
"Bagus, kalau begitu ayo kita susul mereka(Rusli, Lia), seperti kita sudah ketinggalan."
__ADS_1
"....Kau benar."
Jawab Sara sambil tersenyum. Kemudian aku membalas juga dengan senyuman. Setelah itu kami berdua mulai berlari dan meninggalkan tempat itu.