
Warnet XXXX
warnet adalah tempat dimana kebanyakan orang bisa mengakses internet, atau sering digunakan oleh para kaum muda untuk bermain game.
ketika aku berjalan masuk ke dalam warnet, bersama Rusli dan Lia. di depanku terdapat banyak sekali Kursi dan meja warnet yang berjejeran. bahkan orang yang bermain disinipun tidak sedikit.
"hmm, ini sangat berbeda dari yang aku harapkan!?"
saat aku membisikkan itu, kami mulai berjalan masuk, untuk mencari tempat duduk yang kosong, sambil aku memperhatikan beberapa anak sekolah yang sedang bermain game di tempat duduknya.
(hmm, ternyata disini banyak juga orang yang main.)
setelah beberapa saat kami mencari tempat duduk, kami akhirnya menemukan, dimana ada 3 kursi yang sedang kosong, dan kami lansung duduk di sana.
"ngomon - ngomon Leon, game apa yang ingin kau mainkan??"
Kata Lia, yang sedang duduk di bagian tengah antara aku dan Rusli.
"yah, aku juga ingin tau?"
kata Rusli yang berada di samping kiri Lia, yang mencoba mengintip ke arahku.
"hmm,..sebetulnya, ada satu game yang aku pikirkan, yang ingin aku mainkan!?"
"heee, game apa itu Leon, beritau aku Dong?"
ketika Lia mengatakan itu, matanya terlihat bersinar dan sangat gembira.
"game itu...."
_________________
________
setelah beberapa menit, kami bertiga saat ini sedang memainkan game yang aku sudah pilih. dan ketika aku sedang bermain, wajahku terlihat sangat serius, menatap komputer yang berada di depanku.
namun, berbeda denganku yang sangat serius memainkan game ini, Rusli dan Lia terlihat sangat bosan saat memainkan game ini.
"Leon, tidak kusangka, ternyata kau suka main game yang seperti ini??"
"sama, aku juga baru tau ini, leon??"
ketika mereka berdua mengatakan itu, mereka melihat ke arah tv komputernya, yang dimana, mereka sedang memainkan sebuah game domino online yang aku pilih.
saat aku perlahan melirik ke arah mereka berdua dari samping kiriku, aku perhatikan, kalo wajah mereka terlihat sangat bosan ketika memainkan game ini.
bukan berarti aku memaksa mereka memainkan game ini atau semacamnya. hanya saja, karena perkataan mereka sendiri, yang ingin bermain denganku, sehingga mereka tetap ngotok dan tetap ingin memainkan game ini denganku, meskipun ia tidak suka.
jujur, itu membuatku merasa bersalah, ketika melihat ekspresi mereka yang sedang di paksakan itu...jadi.
"bagaimana kalo kalian memainkan, game kesukaan kalian saja masing - masing??"
ketika aku mengatakan itu, sambil mengklik All In di game dominoku, mereka berdua lansung melihat ke arahku.
"eh,...tapi,...apa itu tidak masalah??"
kata Rusli dengan wajahnya yang terlihat, sedikit khawatir ketika melihatku.
"tentu saja. lagi pula, aku sudah memberitau kalian (di jalan) tadi, kalo kalian lebih baik memainkan game kesukaan kalian masing - masing kan??"
"itu memang benar sih,...tapi..."
ketika aku memperhatikan Rusli, wajah ia terlihat sangat rumit. mungkin karena dia merasa tidak tega denganku, sehingga ia susah memilih, mau melanjukkan game ini atau tidak.
meski begitu, aku tetap tidak tahan melihat wajah bosan mereka berdua.yang tidak terlalu mengerti soal memainkan game Domino ini.
"jujur, aku tidak merasa enak jika hanya aku yang bersenang - senang bermain game di sini. jadi, aku harap kalo kalian memainkan game kesukaan kalian saja masing - masing, yah?"
ketika aku mengatakan itu, untuk sesaat Rusli terus melihat ke arahku. namun, setelah beberapa detik, ia perlahan mengalihkan pandangannya dariku ke arah komputer di depannya.
"...baiklah, jika kau mengatakan itu, Leon!?"
Setelah Rusli mengatakan itu, ia mulai keluar dari game Dominonya dan masuk, bermain ke game kesukaan dia, yaitu game Perang.
__ADS_1
tak lama setelah itu, ketika aku memperhatikan Rusli, ia sepertinya mulai terlihat bersenang - senang memainkan game itu.
namun, berbeda dengan Rusli, Lia sepertinya dari tadi, ia tidak mengatakan apapun dan hanya terus memperhatikan Tv komputerku dari samping.
"Lia, apa yang kau lakukan??"
ketika aku memanggil namanya, ia akhirnya sadar dan melihat ke arahku.
"ah maaf, aku hanya terkejut, ternyata kau sangat hebat bermain game seperti ini Leon?!"
"benarkah?"
ketika aku melirik ke arah tv komputerku. di sana terlihat kalo aku sekali lagi mengetaui, bahwa aku baru saja menang lagi dengan kartu 9 : 8. sehingga aku mendapatkan banyak sekali chip.
"yah, lagi pula, bukan berarti aku sangat suka main game yang seperti ini sih!?"
"eh, benarkah??"
"yah,!?"
alasan aku memilih game ini, bukan berarti aku menyukainya. itu karena, dari awal, aku sebetulnya menyukai game yang sama seperti Rusli, yaitu game perang. namun, jika aku memilih game itu, maka aku rasa itu tidak adil bagi Lia jadi.
aku mencoba untuk memili, memainkan game yang sering aku mainkan di kehidupanku sebelumnya, yaitu domino.
yang dimana setiap kali aku pergi ke dalam casino, aku sering sekali memainkan permainan Domino ini dan bukan hanya itu saja, aku bahkan sering juga memainkan, permainan yang lainnya.
sehingga tidak bisa di pungkiri jika aku hebat dalam permainan game seperti ini, karena aku sudah berpengalaman memainkan game ini di kehidupanku sebelumnya.
(yah, meskipun gue sudah berhenti sih berjudi di tempat itu, karena bandarnya sering sekali curang. makanya aku sudah tidak terlalu suka, bermain game yang seperti ini.)
ketika aku memikirkan itu, tiba - tiba aku mendengar Suara Lia memanggilku dari samping, sehingga itu membuatku sadar kembali.
"kalau begitu Leon, tidak masalahkan jika aku bermain game Fantasi juga??"
"Tentu saja!?" jawabku secara cepat.
setelah itu, Lia lansung melihat ke arah tv komputernya, dan lansung keluar dari game Dominonya dan masuk ke game kesukaan ia juga, yaitu game Fantasi.
tidak jauh dari belakang kami, ada tiga orang anak muda Yang sedang mengenakan pakaian SMA sedang menatap ke arah kami.
dia sering bergantian melihat ke arah hpnya, dengan arah kami. dan tak lama setelah itu, ia kemudian mulai memperhatikan, salah satu bocah yang berada di situ.
yaitu aku, yang sedang memainkan game domino. sambil melihatku dengan senyum menyeringai.
"tidak salah lagi, sepertinya dia orang yang sama, yang ada di foto ini!?"
ketika ia mengatakan itu, ia melihat ke arah hpnya, yang dimana fotoku terlihat di dalam sebuah pesan. sambil menuliskan kata - kata, seperti sebuah tugas.
"jadi, apa kau ingin terima permintaan ini bro??"
"buat apa bertanya lagi, tentu saja kita akan terima permintaan orang ini, lagi pula, kita bisa mendapatkan uang yang banyak hanya karena, mematakan beberapa tulang bocah itu, kan??"
"i- itu emang benar sih,...tapi..."
ketika ia melirik ke arah temannya yang masih ragu - ragu, ia menatap temannya dengan tatapan tajam, sambil bibirnya berbentuk seperti bulan sabit.
"kau tenang, saja,...lagi pula, kita hanya akan menghajar Bocah itu di tempat yang sepi!?"
katanya sambil menyeringai ketika menatap temannya, dengan tatapan seperti sedang ingin memburu seekor mangsa.
"be- begitu..."
setelah temannya menjawabnya dengan gugup, mereka bertiga lansung mengarahkan pandangannya ke arahku.
saat aku merasakan tatapan mereka, aku perlahan menghentikan jariku yang berada di keyboard.
kemudia, sesaat aku mencoba untuk melirik mereka bertiga dari samping bahuku, dengan tatapan yang sangat tajam, sambil melengkungkan bibir ku sedikit.
setelah beberapa detik, aku perlahan melihat ke arah depan lagi, dan mulai melanjukan permainan Dominoku.
___________________________
_________________
__ADS_1
jam 4 Sore hari.
tak lama kemudian, setelah kami selesai bermain game di warnet. aku saat ini sedang berjalan di dekat perumahan, untuk pulang. bersama dengan Rusli, dan Lia.
namun, ketika kami sedang berjalan, aku merasakan ada seseorang yang sedang mengikuti kita dari belakang.
hingga aku tiba - tiba berhenti berjalan, sambil melihat mereka berdua, yang berada di depanku,terlihat kebingungan.
"Leon, ada apa? kenapa kau tiba - tiba berhenti berjalan??" Kata Rusli
"bukan apa - apa kok,..hanya saja, aku ingat, ada sesuatu yang lupa aku beli, jadi..."
"Lupa kamu beli,...kalo begitu biarkan kami menemanimu juga,..tidak masalahkan Lia??"
kata Rusli, ketika mengalihkan pandanganya ke arah Lia.
"umm."
jawab Lia secara singkat, dengan menganggukkan kepalanya, beberapa kali.
meskipun mereka berdua ingin ikut, namun aku tidak bisa melakukan itu, karena aku tidak ingin mereka berdua terlibat dengan orang, yang dari tadi mengikuti kita dari belakang,..jadi
"tidak, aku pergi sendiri saja, kalian bisa pulang duluan??"
"tapi,..apa kau tidak apa - apa pergi sendiri??"
kata Rusli, sambil terlihat khawatir ketika melihatku.
mungkin karena ia merasa, kalo aku masih tidak ingat jalan sekitar sini, jadi di melihatku seperti itu.
"yah, kalian tenang saja, aku masih ingat kok jalan di sekitar sini!?"
"benarkah??"
"Yah."
jawabku dengan nada tenang, saat Lia bertanya.
meski begitu, aku tidak bisa berlama - lama lagi berada disini, karena dari tadi aku merasakan, kalo orang yang mengikuti kami dari belakang mencoba untuk mendekati kami, jadi aku harus cepat pergi dari mereka berdua.
lagi pula, aku sudah tau, kalo target mereka itu, adalah aku.
"kalo begitu, aku pergi duluan, sampai jumpa besok!?"
"yah, sampai jumpa!?"
kata Rusli, dengan wajahnya yang terlihat masih khawatir sedikit, dan disusul oleh Lia yang melambaikan tangannya ke arahku, dari samping Rusli.
"hati - hati di jalan Leon!?"
"yah."
setelah aku menjawabnya secara singkat, aku lansung berbalik ke arah jalur lain, dan dengan cepat aku berjalan meninggalkan mereka berdua.
___________________
____________
setelah beberapa saat aku meninggalkan mereka berdua, aku saat ini sedang berjalan di lorong sempik, dimana, tidak banyak orang yang lalui.
tak lama kemudian, aku tiba - tiba berhenti berjalan, dan melihat ke arah belakang, dari balik pundakku dengan tatapan Tenang namun Tajam.
"cepat keluar kalian semua, berhentilah mengikutiku terus?!"
ketika aku mengatakan itu, tak lama kemudian, aku merasakan ada beberapa orang yang sedang berjalan mendekatiku.
tap...Tap...TAP...
setelah beberapa detik mereka sampai di dekatku, aku perlahan menghadap ke arah mereka, dan melihat ada 3 sosok anak muda yang sedang mengenakan pakaian SMA, sambil menyeringai ketika menatapku.
"tidak kusangka, kau sadar kalo kami sedang mengikutimu,...BOCAH!!"
Ketika orang yang di tengah mengatakan itu, aku dengan tenang melihat mereka semua, dengan tatapan tajam, dibalik bayangan mataku.
__ADS_1