
setelah pertarungan itu selesai. beberapa pasukan bantuan, akhirnya tiba di pangkalan militer.
sebagian dari mereka lansung di tugaskan untuk mengumpulkan, mayat para Monster yang tersebar di seluruh Wilayah itu.
mulai dari Dalam hutan, di tepi pantai sampai di atas Atas pegunungan.
setelah mereka mengambil mayat - para Monster, mereka lansung mengumpulkannya di satu tempat dan memasukkan nya ke dalam Pesawat pengangkut barang, untuk di bawah pergi ke negara terbesar di dunia.
sedangkan, sebagian pasukan lainnya, mereka di tugaskan untuk melakukan evakuasi, mayat para anggota unit 14.
sekaligus menggantikan para unit yang berada di garis depan, untuk melakukan pengawasan Lubang dimensi.
di sisi lain, Rangga, yang sedang berada di salah satu Tenda Militer, saat ini ia sedang bicara dengan Kolonel di dalam.
mereka sedang duduk di ruangan itu sambil saling menghadap satu sama lain.
"Rangga, bagaimana kondisimu??"
"seperti yang anda lihat, aku sudah baik - baik saja."
saat Rangga menjawabnya seolah - olah itu bukanlah masalah sama sekali, Kolonel lansung melihat ke arah, dua belati Keris yang ada di atas meja.
"hmm, apa karena dua keris itu??"
"begitulah."
jawab lansung Rangga, setelah itu ia mencoba bertanya.
"omong - omong, bagaimana situasi unit yang lainnya??"
"apa kau khawatir??"
"tidak, aku ingin tau saja."
"begitu."
setelah sedikit bercanda, Kolonel mulai menjawabnya.
"kau pasti sudah dengarkan, sebagian pasukan bantuan, saat ini sedang mengumpulkan mayat para Monster?"
"yaa, aku sudah dengar itu."
"nah,...karena banyaknya mayat para Monster dan kurangnya pasukan yang datang, sehingga unit 10, 12 dan 13 ikut membantu juga."
"unit 10, 12, 13!,....kalau begitu, gimana dengan unit yang lainnya?"
"seperti unit 10, 12 dan 13. unit 15 dan 17 saat ini sedang membantu evakuasi mayat para pasukan."
"mayat para pasukan?...maksudmu unit 14?"
"ya,...sedangkan unit 11 dan 16, mereka sedang pergi ke warung sate."
"warung sate??"
sesaat Rangga terlihat bingun, namun setelah beberapa detik kemudian, ia mulai menyadari sesuatu.
"..hah, kalau tidak salah, mereka berdua sedang melakukan bertanding kan??"
"ya, katanya siapapun yang kalah, mereka harus Traktir sate sepuasnya. haaa, aku tidak tau lagi, apa yang mereka berdua pikirkan."
"be-begitu ya."
jawab Rangga dengan gugup, saat melihat ekspresi bermasalah kolonel.
setelah itu. untuk sementara mereka berdua tidak memgatakan apapun. namun sesaat Kolonel merasa masih ada satu hal yang belum Rangga katakan. ia mulai bertanya balik.
"......Rangga, apa kau tidak bertanya tentang kondisi Respati??"
"tidak, aku yakin ia baik - baik saja,...selain itu-!!"
sesaat Rangga berhenti dan melihat ke arah kolonel.
"-boleh aku tau, apa alasan anda memanggilku kemari??"
pada saat di tanya seperti itu, perlahan ekspresi kolonel mulai berubah dan terlihat serius. sambil mengambil sebuah benda di kantong celananya dan menyimpannya di atas meja.
setelah ia menaruknya di atas meja, sesaat Rangga lansung terkejut melihat benda itu, sebab apa yang ia lihat di depan matanya bukanlah benda biasa melainkan itu sebuah Kristal Hitam yang berbentuk seperti kelereng.
"Kokonel,...jangan bilang, ini-!!"
"ohh, sepertinya kau sadar. benar, ini Inti dari Ogre King yang kau kalahkan saat itu."
"ternyata benar."
perlahan Rangga mengambil Kristal itu. setelah itu ia memperhatikan ada sebuah Lobang tepat di tengahnya, di ikuti sebuah retakan di sekitarnya.
"Lubang ini,...dari tembakan Respati ya?"
"benar."
"...hmm."
perlahan Rangga menaruk kembali Kristal itu di atas meja. setelah itu ia melihat ke arah Kolonel lagi.
"jadi, kenapa anda memperlihatkan hal ini padaku??"
"...sebetulnya, kami ingin menyerahkan Kristal ini pada mu."
"ke saya?"
__ADS_1
"yaa, awalnya Kristal ini mau di kirimkan ke Jendral alexei untuk melakukan penelitian. namun, karena Jendral alexei mengatakan, serahkan saja Kristal ini pada anak itu,...jadi."
"begitu,...baiklah, aku akan menerima ini."
tanpa pikir panjang Rangga lansung mengambil Kristal itu dan menyimpangnya di kantong celana.
setelah itu ia melihat ke arah Kolonel lagi, sambil menatapnya dengan ekspresi serius.
"sekarang, bisa anda memberitau saya, alasan sebenarnya anda memanggilku kemari??"
saat Rangga Menggatakan itu, mata Kolonel terlihat melebar sedikit. namun, setelah beberapa detik kemudian, ia mulai kembali seperti semula.
"...tidak ku sangka kau menyadarinya. memang benar alasan aku memanggilmu kemari, bukan hanya untuk memberikanmu Kristal itu, melainkan ada alasan lainnya."
"ohh, bisa beritau aku?"
saat Rangga mencoba bertanya, perlahan aura Kolonel mulai berubah, setelah itu ia menatap lurus ke arah Rangga.
"Rangga kau masih ingatkan soal lokasi Lubang kedua yang akan terbuka di negara kita??"
"tentu saja. meskipun belum jelas kapan Lubang itu akan terbuka atau tempat ia berada. namun, Jendral Alexei bisa mamastikan, kalau Lubang itu akan terbuka di Kota Sulsel."
"betul,..tapi, karena Informasinya masih belum terlihat jelas, sehingga membuat para atasan menjadi khawatir,....jadi-!"
sesaat Kolonel berhenti bicara dan mulai menghela nafasnya sedikit. setelah beberapa detik kemudian, ia mulai bicara kembali.
"-RANGGA, ATAS PERINTAH PARA ATASAN, KAMU AKAN DI PINDAH TUGASKAN, KE LOKASI KOTA SULSEL, UNTUK BERSIAGA."
"BERSIAGA!!"
"Ya."
"hmm,....jadi, kapan aku akan berangkat??"
"2 hari dari sekarang.""
"2 hari, bukankah itu terlalu cepat?"
"yaa, awalnya aku juga menentangnya tapi karena ini perintah lansung dari petinggi,...jadi.."
"-anda tidak bisa menolaknya ya."
jawab lansung Rangga. sambil menghela nafasnya sedikit, setelah itu ia mulai bertanya lagi.
"boleh aku bertanya."
"apa?"
"aku ingin tau, apa seluruh pasukan unit 9, akan di kirim juga ke sana?"
"tidak, hanya kau saja yang dikirim. tapi, akan ada pasukan lain yang akan membantumu nanti."
saat Rangga mencoba bertanya. sesaat Kolonel tidak mengatakan apapun. namun, setelah beberapa detik kemudian ia mulai menjawabnya sambil menatap serius ke arah Rangga.
"Rangga,...kaulah yang akan jadi pemimpin, pasukan itu nanti."
"an~anda bercanda kan?"
"tidak, aku serius."
"kenapa harus saya?"
"saat kau bertarung dengan Ogre King, sebetulnya banyak para petinggi militer yang memperhatikanmu. bukan hanya itu saja, bahkan Informasi Soal Rencana yang kau berikan padaku Bocor dan mereka mengetauinya,...jadi-!"
"-jadi, aku di pilih sebagai pemimpin, untuk mengatasi Lubang baru kan?"
"ya."
jawab Kolonel secara singkat.
setelah itu, perlahan Rangga melihat ke arah atas, sambil menutup kedua matanya.
"haaa, ini benar - benar sangat merepotkan."
seusai ia mengatakan itu, ia membuka kedua matanya kembali, sambil melihat ke arah Kolonel.
"baiklah, aku mengerti,....jadi sudah tidak ada lagi kan, yang ingin anda bicarakan?"
"ya."
"kalau begitu, aku pergi dulu."
setelah Rangga mengatakan itu, perlahan ia mulai berdiri, sambil berjalan keluar ke arah Tenda.
namun, sesaat ia membuka tenda, tiba - tiba ia berhenti, sebab ia mendengar suara panggilan Kolonel dari belakang.
"hah, Rangga, bisa aku tanya satu hal lagi."
"apa?"
jawab Rangga, sambil melihat Kolonel dari balik pundaknya.
"saat kau bertarung dengan Ogre King, kau sedang menuntung Respati kan?"
"menuntung, apa maksudmu?"
"jangan pura - pura bodoh, Sejak awal kau pasti sudah tau Inti Monster itu ada di tali pusarnya, tapi kau sengaja tidak mengenai titik itu, karena ingin menunjukkannya Ke Respati kan?"
"ohh, buat apa aku melalukan hal itu?"
__ADS_1
"Buat apa, bukankah itu sudah jelas, AGAR MENGHILANKAN RASA TIDAK BERGUNANYA."
mendengar apa yang di katakan Kolonel, membuat bibir Rangga lansung melengkung seperti bulan sabit. sambil terlihat senang.
"Kolonel, bukankah kata - katamu terlalu kasar untuk seorang pemimpin?"
"kasar atau tidak. itu adalah kenyataan,...lagi pula dari pandangan Respati, ia pasti mengirah, bahwa dirinya tidak berguna saat pertarungan itu."
"ohh, boleh aku tau alasanya."
"alasanya, sebab meskipun ia ingin balas dendam, yang ia bisa lakukan hanyalah menghempaskan Pukulan Ogre King, tidak ada yang lain, jadi-!"
sebelum Kolonel selesai bicara, Rangga lansung memotongnya.
"-jadi yang ingin anda katakan, aku membiarkan Kapten Respati memberitaukan ku, Lokasi Inti Monsternya berada, agar mengurangi Rasa tidak bergunanya. itu kan yang ingin anda katakan?"
"ya,..selain itu, sejak awal jika kau memang berniat membantu Respati untuk membunuh Ogre King, kau pasti bisa melakukannya dengan cepat, tapi kau tidak melakukan hal itu,...sebab-!"
saat Kolonel berhenti bicara, Rangga melihat ke arah belakang dan melihat tatapan Kolonel seperti memancarkan sebuah Cahaya, saat ia melihatnya.
"-SEBAB, SEBELUM RESPATI BERHASIL MEMBUNUHNYA, KAU BERNIAT MEMBUATNYA PUAS, SAAT - SAAT MEMPERLIHATKAN EKSPRESI KESAL OGRE KING KAN."
mendengar nada tajam Kolonel, bukannya takut Rangga malah tersenyum menyeringai, sambil mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Saa, aku tidak tau, apa yang anda katakan."
sambil meninggalkan kata - kata itu, Rangga lansung keluar dari Tenda.
melihat hal itu, Kolonel Lansung tersenyum, sambil mulai membisikkan sesuatu. yang tak seorangpun bisa dengar.
"Sampai terakhir pun, Kau masih saja pura - pura Bodoh kah."
_____________________________
________________
setelah Rangga keluar dari tenda, ia melihat lampu - lampu sudah menerangi pangkalan di malam hari.
dan saat ia berjalan, ia melihat beberapa pasukan sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing - masing.
mulai dari mengangkut Rombongan mayat Monster sampai menurunkan persediaan makanan dan peluru di dalam pesawat.
meski begitu, Rangga tidak pedulikan hal itu sama sekali, sebab ia hanya terus berjalan ke depan sambil mengingat, pembicaraannya dengan Kolonel barusan.
namun, saat Rangga mengingat hal itu semua, tiba - tiba ia merasakan tatapan seseorang dari depan.
dengan Cepat Rangga melihat ke arah sana, dan melihat Respati sedang bersandar di salah satu tenda, sambil menyilankan Tangannya.
"hmm!"
melihat Rangga sedang melihat dirinya, Respati lansung melambaikan tangannya dan mencoba Mendekati Rangga.
"Kapten Rangga, sepertinya pembincaraan anda sudah selesai."
"begitulah,..omong - omong apa yang sedang kau lakukan di sini, Bukankah kau sedang istirahat?"
"tenang saja, aku sudah baik - baik saja. selain itu, aku sedang menunggu anda."
"menungguku?"
"ya,....sebetulnya, aku dengar anda sedang ingin di pindah tugaskan, jadi, aku buru - buru ke sini untuk berterima kasih."
"terima kasih?"
"ya, seandainya bukan karena bantuan anda, Aku tidak tau lagi, apa aku bisa membalaskan dendam anggotaku atau tidak,...jadi-!"
sesaat Respati berhenti sambil berdiri tegak di depan Rangga, setelah itu ia menundukkan kepalanya sedikit.
"-Kapten Rangga, Terima kasih banyak, Sudah membantu saya."
"tidak, kau tidak perlu melakukan hal itu. lagi pula jika bukan karena kau, aku yakin kita bisa bakalan kalah."
"eh, benarkah?"
"tentu saja. selain itu, bukankah anda yang berhasil membunuh, baik Goblin Shaman ataupun Ogre King."
"setelah anda katakan,...benar juga."
"nah, makanya kau tidak perlu berterima kasih. sebaliknya kamilah yang harusnya berterima kasih ke anda, sebab sudah membantu kami membunuh Goblin Shaman maupun Ogre King."
mendengar apa yang di katakan Rangga, untuk sementara Respati tidak mengatakan apapun.
namun, setelah beberapa detik kemudian, ia mulai menjawabnya.
"baiklah, jika anda mengatakan itu."
"bagus,...omong - omong, apa anda saat ini sedang senggang?"
"eh, I- ya, memang ada apa?"
"baiklah, mau tidak ikut denganku keluar pergi makan, biar aku yang traktir."
"eh, apa tidak apa - apa?"
"tentu saja,..kalau begitu, ayo kita pergi sekarang."
"ba- baik."
setelah itu Rangga mulai berjalan keluar Dari pangkalan untuk pergi ke warung makan sambil diikuti Respati di belakangnya.
__ADS_1