BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
SESUATU YANG TIDAK BISA KUMILIKI


__ADS_3

Di malam hari di rumah Leon.


Ketika aku sedang duduk di sofa, aku melihat Kak Siska dan Kak Rangga sedang bermain Game Mobile.


Dimana Game tersebut adalah Game yang sangat Populer di negara ini. Yaitu Game ML.


Meskipun Game ini hanya di haruskan untuk menghancurkan Turret lawan. Namun, melihat kerja sama Team di dalam game ini membuatku sangat tertarik.


"Kak Siska hati - hati ada satu musuh bersembunyi di dalam semak - semak."


"Aku dah tau itu."


Jawab Kak Siska, dan tanpa menunggu lama ia lansung membunuh Musuh tersebut.


Setelah ia membunuh Musuh itu. Di sisi lain Kak Rangga memperhatikan, kalau Turret mereka yang di atas sedang mau di hancurkan.


"Siska, kau pergi Lindungi Turret di atas. Biar aku yang Lindungi Turret di tengah."


"....."


Tanpa menjawab Siska lansung pergi ke atas. sesampainya ia di atas ia lansung mencoba Membunuh Lawannya.


Namun, sesaat Darah Lawannya tinggal sedikit lagi, ia berhasil kabur dan masuk ke dalam Turretnya.


Melihat hal itu, Kak Siska mencoba Mundur dan berhenti mengejar lawannya.


"Kak Siska apa yang kau lakukan. Darah lawanmu tinggal sedikit lagi?"


Ketika aku bertanya, Kak Siska hanya diam saja dan mengabaikanku. Hingga membuat aku sedikit jengkel.


"Kak Siska, apa kau dengar."


"Leon diamlah, kau sangat berisik."


Melihat tingkahnya yang seperti itu, membuatku makin jengkel, dan tanpa menunggu lama aku lansung memencet Hpnya untuk mengendalikan Heronya.


"LEON, APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN TANGANMU DARI SITU."


Tanpa pedulikan ia. Aku terus mengendalikan Heronya untuk pergi ke Turret Musuh.


Sesampainya aku di sana, aku melihat kalau Lawan yang tadi, masih ada di dalam Turretnya dan tanpa menunggu lama aku lansung membunuhnya.


Setelah aku membunuh Musuh itu, aku lansung melihat ke arah Kak Siska.


"Bagaimana. Kak Siska lihatkan. Beginilah caranya orang bemain Game."


Ketika aku Mengucapkan itu dengan nada sombong. Aku perhatikan kalau Hero Kak Siska sudah mati di dalam Turret Musuh.


Melihat hal itu aku menjadi Bingun dan bertanya - tanya, bagaimana Heronya bisa mati padahal tadikan Darahnya masih ada setengah.


"Kak Siska, kenapa Heromu bisa Mati?"


"kenapa?...SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU, KENAPA KAU TINGGAL TERUS, DI DALAM TURRET MUSUH BODOOOH!!"


Sambil meneriakkan itu, dengan kuat Kak Siska lansung melayankan sebuah pukulan Tepat di wajahku Hingga membuat aku terjatuh dari Sofa.


BUK!!


"~~Ughhh!"


"Leon, apa kau baik - baik saja?"


(Apanya yang baik - baik saja, apa kau tidak lihat, aku baru saja di pukul!)


Ucapku di dalam pikiran, sambil menatap tajam Kak Rangga yang bertanya.


Setelah beberapa detik aku menatap Kak Rangga, tak lama kemudian perlahan aku berdiri dan mencoba kembali duduk di sofa.


Namun, saat aku baru saja mau duduk, tiba - tiba Aku mendengar sebuah Berita menarik Di TV.


Dimana berita itu mengatakan bahwa negara Xxxx telah melakukan latihan Militer Besar - besaran Di tengah padang pasir, yang berlokasi xxxx.


Berita itu juga mengatakan kalau dalam Latihan itu. Ia sedang di amati oleh Salah satu Petinggi, dari pasukan Keamanan PBB.


Mendengar hal itu, Rangga yang asik bermain Game lansung berhenti dan melihat ke arah TV.


Dimana layarnya sudah di gantikan dengan Para Wartawan yang sedang di halangi oleh beberapa Tentara. Untuk memasuki Area Latihan.


Meskipun Rangga tau, alasan mereka menghalangi Wartawan itu demi keamanan mereka sendiri.


Namun, melihat Jarak Latihan dan Tempat Mereka menghalangi para Wartawan tersebut sangatlah jauh, sehingga membuat Rangga merasa Curiga.


(Pertama Latihan Besar - besaran dan yang kedua salah satu Petinggi PBB,....jangan bilang, mereka ini sedang.......)


"MENGHADAPI PENYERBUAN MONSTER." bisik Rangga.


Namun, ketika Rangga membisikkan itu. Tanpa ia sadari di sana. Leon sedang melirik ke arahnya dengan tatapan Tajam.


"......"


Setelah aku menatap Kak Rangga selama beberapa detik. Tak Lama kemudian dari Ruang makan. Terdengar suara Ibu memanggil kami.


"Rangga, Leon, Siska. Waktunya makan."


"Yaa, kami akan segera kesana Bu."


Jawab Rangga, sambil berdiri dan melihat ke arahku dan juga Kak Siska.


"Baiklah, Bagaimana kalau kita pergi makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi main gamenya."


Saat Kak Rangga bertanya ke Kak Siska. Kak Siska hanya menganggukkan kepalanya. "Ummm."

__ADS_1


Setelah itu, ia perlahan berdiri dan lansung berjalan ke Ruang makan.


Ketika Rangga melihat Siska sudah masuk ke Ruang Makan. Ia melihat ke arah belakang sambil menatap adeknya, Leon.


Dimana aku saat ini masih duduk di Sofa sambil melihat berita Di TV.


"Leon, apa yang kau lakukan, ayo kita pergi makan."


Saat Kak Rangga memanggilku. perlahan aku berbalik ke arahnya. sambil menatap matanya dengan tatapan Tenang.


"........"


"A-ada apa Leon?"


"Tidak, bukan apa - apa."


Ucapku sambil berdiri dari sofa. Setelah aku berdiri, aku lansung menuju ke Ruang makan.


Sedangkan di sisi lain. Untuk beberapa saat, Kak Rangga terus menatapku dengan kebingungan.


Namun, setelah beberapa detik kemudian ia mulai berjalan sambil mengikutiku dari belakang.


__________________________________


__________________________


Setelah beberapa detik kami berdua berjalan. Tak lama kemudian kami akhirnya sampai di Ruang makan.


Dimana, aku perhatikan kalau ibu dan juga Istrinya Rangga sedang menaruk beberapa makan yang mereka bawah Dari dapur ke atas meja.


"Ibu, kami datang."


Ketika Rangga memanggil ibu. Perlahan Ibu berbalik ke arah Belakang, dan melihat kami berdua.


"Oh Leon, Rangga kalian sudah ada. Kalau gitu cepat pergi duduk."


"Yah."


jawab Rangga. Setelah itu kami berdua lansung pergi ke tempat duduk kami masing - masing.


Di mana. Aku berada di kursi Tengah antara Ibu dan juga Kak Siska. Begitupun dengan Kak Rangga. Ia berada di Kursi Tengah antara Istrinya, Airani dan juga Ayah.


Ketika Rangga duduk di samping Ayah, ia memperhatikan ayah sedang memangku Fira sambil meminumkannya susu.


"Ayah, sini biar aku yang pangku Fira."


"Tidak perlu, biar aku saja."


"Eh tapi, Fira sepertinya ingin pergi ke papanya kan?"


Ucap Rangga sambil melihat Fira yang melihat ke arahnya.


Ketika aku melihat ayahku sangat ngotok dan tidak mau melepaskan Fira.


Untuk sementara Aku menatapnya terus. Namun, ketika Ayah merasakan tatapanku. Ia lansung melihat ke arahku.


"Leon, ada apa melihatku terus."


"Tidak, bukan apa - apa kok."


Ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Ibu.


"Bu, apa kau yang masak semua ini."


"Tidak, aku di bantu sama Rani juga."


Saat aku melihat ke arah Airani, ia hanya membalasnya dengan senyuman. Setelah itu aku melihat ke arah ibu kembali.


"Meski begitu. Tidak biasanya kalian yang masak. Bukankah biasanya para pelayan yang masak?"


"Hehehe, itu karena ini hari Spesial, jadi setidaknya aku ingin memasakkan, masakan buatanku pada Rangga."


"Hmmm, begitu ya." jawabku


Meskipun sangat di sayangkan karena tidak bisa melihat para pelayan wanitaku. Tapi yaaa, mau gimana lagi.


Ketika memikirkan Itu. Aku mulai mengambil beberapa makanan di meja, sambil menaruknya di piringku.


Setelah aku selesai. Ibu melihat kalau semua orang sudah duduk di tempat duduknya masing - masing dan bersiap untuk makan.


"Baiklah, karena semuanya sudah selesai, kalau begitu selamat makan."


""""selamat makan.""""


Ucap Airani, Rangga, ayah dan yang terakhir Siska. Setelah itu di susul oleh bisikanku.


"Selamat Makan."


Setelah aku membisikkan itu, kami semua mulai makan Bersama.


____________________________________


____________________________


Setelah beberapa saat kami selesai Makan. Saat ini kami masih duduk di Ruang makan. Sambil mengobrol satu sama lain.


Dimana Kak Rangga sedang Ngobrol dengan Ibu dan ayah.


"Oh iyah, Rangga aku dengar kalau kau kembali ke sini. Karena di berikan tugas, apa benar?"


Saat ibu bertanya. Dengan tenang Rangga menjawabnya.

__ADS_1


"Ya, itu benar."


Mendengar jawaban Rangga membuat Ibu terlihat sedikit sedih. Sebab ia mungkin berpikir, jika Tugas Rangga selesai di sini itu berarti ia akan kembali lagi di luar Kota.


Namun, ketika Ayah memperhatikan itu. Ia lansung mengalihkan pandangannya ke Arah Rangga dan mencoba bertanya


"Rangga boleh aku tau. Kapan Tugasmu akan selesai?"


"Umm, aku juga tidak terlalu tau. Tapi menurutku ini adalah Tugas jangka panjang."


"Jangka panjang, seberapa lama itu?"


"Mungkin beberapa bulan atau bisa juga beberapa tahun."


Mendengar jawaban Rangga. Membuat Ibu kembali terlihat senang. Bahkan ayah yang melihat itu, lansung terlihat tersenyum.


"Begitu, jadi kamu akan lama tinggal di sini ya."


"Begitulah."


Jawab Rangga dengan Santai.


Di sisi lain. Ketika aku memperhatikan pembicaraan mereka, aku melihat ke arah Samping, dimana Kak Siska sedang Chattingan dengan Putri.


Setelah beberapa detik aku melihat Kak Siska. Perlahan aku mengalihkan pandanganku ke arah Airani.


Dimana ia saat ini sedang memangku Fira sambil meminunkannya susu.


"Omong - omong Kak Rani, aku ingin tau, kenapa Kak Rani Suka Kak Rangga?"


Ketika aku bertanya, Kak Siska yang sedang asik main Hp lansung berhenti dan melihat ke arah Airani.


"Benar, Aku juga tertarik soal itu Kak Rani."


Melihat Ketertarikan Siska soal ini, membuat Airani lansung tersipu malu sambil melirik ke arah samping. Dimana Rangga berada.


"Jujur saja kalau soal aku menyukai Kakak kalian. Mungkin karena ia sangat baik dan suka membantu Orang."


"Eeeh, jadi Kak Rangga suka bantu Orang yah?"


Ketika aku bertanya. Airani lansung menjawabnya.


"Benar,....selain itu, alasan aku sangat menyukai Kakak kalian, itu karena ia sangat kuat dan sudah beberapa kali melindungiku dari Orang - orang jahat."


"Ooh. Seperti yang ada di film yah."


Saat aku mencoba bercanda, Airani hanya menjawabnya dengan senyuman indah di bibirnya.


Melihat hal itu, aku lansung melirik ke arah sampingnya, Dimana Kak Rangga terlihat sangat bahagia.


(PIX kau lihat wajahnya.)


[Yah, ia terlihat sangat bahagia.]


(Apa aku nanti bisa begitu?)


[Menyerah saja, meskipun Master berhasil menikah, itu pasti tidak akan bertahan lama.]


Mendengar apa yang di katakan PIX membuat aku bingun dan mencoba bertanya.


(Apa maksudmu?)


[Maksudku, jika Master berhasil menikah. Itu berarti Master harus berhenti menggoda wanita lain. Apa Master Mau begitu.]


(Itu tidak mungkin. Lagi pula menggoda wanita adalah jalan hidupku.)


[Nah, kalau begitu sebaiknya Master menyerah saja menikah. Kalau tidak, bisa - bisa kau mati di tangan Istrimu sendiri.]


(....)


Mendengar apa yang di katakan PIX membuat aku tidak mengatakan apapun. Sebab aku bisa membanyakan ketika aku kedapatan menggoda wanita lain. Istriku akan lansung membunuhku.


Memikirkannya saja membuat aku merasa merinding sambil meneteskan keringat dingin di dahiku.


(Haa, kau benar juga,....meski begitu...)


Sesaat aku berhenti aku menatap ke arah Kak Rangga dan ayah. Setelah itu aku lanjutkan lagi.


(...Meskipun mereka berdua ini sangat mirip, namun, kesukaan mereka terhadap wanita sangat berbeda yah.)


[Maksudmu, yang satu menyukai wanita Loli sedangkan yang satunya lagi menyukai wanita Payudara besar.]


(Yah.)


Jawabku secara singkat. Setelah itu ketika Kak Rangga dan juga ayah merasakan Tatapanku, mereka berdua lansung melihat ke arahku.


"Leon, ada apa? Kau menatap kami berdua terus?"


Ketika Kak Rangga bertanya - tanya. Aku mencoba mengatakan apa yang aku pikirkan Tadi.


"Anu, Kak Rangga boleh aku tanya"


"Apa"


"Apa kau suka wanita payudara besar?"


Ketika aku mengatakan itu, mereka semua lansung terlihat terkejut.


Bahkan Kak Rangga yang saat itu sedang minum, lansung menyemburkannya ke wajah Ayah.


BUFFFFF!!

__ADS_1


__ADS_2