BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PEMBICARAAN KEJADIAN KEMARIN


__ADS_3

Setelah beberapa saat aku bicara santai dengan Bu Nara, tak lama kemudian tiba - tiba aku tatap ia dengan serius dan mencoba masuk ke topik utama.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan sampai memanggilku ke sini?"


"Baiklah, aku tidak akan panjang lebar, aku akan lansung ke intinnya saja-


-Leon, kau tau sesuatu soal kematian suami Bu Linda kan?"


Awalnya aku terkejut mendengar itu, namun sesaat kemudian aku kembali tenang dan mencoba bertanya balik dulu.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Itu karena selama beberapa hari ini, saat kamu diskors semuanya baik - baik saja, bahkan saat aku telpon ia(Bu Linda), ia sepertinya baik - baik saja.-


-Namun setelah kamu datang ke Sekolah kemarin. Besoknya atau hari ini kami tiba - tiba mendapatkan kabar bahwa suaminya telah meninggal.-


-Apa lagi aku juga dengar kalau kamu kemarin Berkunjung ke rumahnya, itulah kenapa aku mengirah mungkin saja kamu tau sesuatu soal kematian Suami Bu Linda."


"Hmm begitu."


Gumanku. Namun Bu Nara tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan lagi..


"Selain itu, aku tidak bilang ini di kelas, tapi sebetulnya Suami Bu Linda meninggal bukan karena ia mengalami kecelakaan atau semacamnya, melainkan ia meninggal karena di Bunuh."


Aku tidak terkejut ataupun kaget mendengar itu, tetapi aku tetap bersikap biasa - biasa saja seolah sudah mengetauinya.


(Yah itu tentu saja, lagi pula pembunuhnya berada tepat di sampingmu.)


Di saat aku memikirkan itu, Bu Nara buru - buru menatapku dengan serius.


"Jadi Leon tolong beritau aku, apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa Suaminya bisa tiba - tiba meninggal seperti itu?"


"Meskipun kau bertanya padaku aku juga tidak terlalu tau. Namun setidaknya aku bisa beritau alasan Kenapa ia bisa di bunuh."


"Benarkah?"


"Yah. Sebetulnya kemarin.........."


Aku mulai memberitau Bu Nara soal kejadian kemarin, dimana beberapa Pria Besar dari jasa Pinjaman datang ke apartemen Bu Linda buat keributan untuk menagi utang suaminya sebesar 70 jt.


Tentu saja aku tidak beritau ia soal aku yang membunuh suami Bu Linda, karena itu hanya akan menambah masalah bagiku.


Namun dengan begini seharusnya Bu Nara bisa mengerti alasan kenapa Suami Bu Linda bisa di bunuh.


_____________________________________


_________________________________


>Beberapa saat kemudian. Setelah aku betitau Bu Nara.


"Aku mengerti, jadi kamu ingin bilang bahwa pembunuh Suami Bu Linda kemungkinan besar ada hubungannya dengan jasa pinjaman itu?"

__ADS_1


Tanya Bu Nara, dimana aku dengan tegas menjawab..


"Yah."


Namun Bu Nara sepertinya sedikit ragu akan hal itu dan bertanya lagi padaku.


"Tapi Leon, kau bilang kau sudah melakukan sesuatu untuk melunasi semua utang suaminya kan? Kalau begitu kenapa mereka masih mengincar ia(Suami Bu Linda)?"


"Kalau itu mana aku tau. Yang jelas aku sudah memberitaukan semua yang ku tau kemarin." jawabku.


Lalu untuk sementara suasana di tempat itu menjadi hening dan tidak ada yang mengatakan apapun. Namun tak lama kemudian tiba - tiba bel pun berbunyi, dimana menandakan bahwa waktu istirahat sudah berakhir.


"Sudah waktunya masuk. Kalau begitu Bu Nara kita akhiri pembicaraan kita sampai di sini dulu."


"Eh y-yah kau benar,....Leon, makasih sudah memberitauku semuanya."


"Itu tidak masalah, kalau begitu aku permisi dulu."


Aku mencoba meninggalkan ruangan ini. Namun tiba - tiba aku ingat ada satu hal lagi yang ingin ku beritaukan bu Nara sehingga aku kembali melihat ke arahnya.


"Oh iya omong - omong, tolong jangan beritau soal yang ku beritaukan tadi pada Bu Linda, karna bisa - bisa ia memarahiku."


"Pffft tenang saja, aku tidak akan beritau ia kok."


"Yah udah kalau begitu aku pergi dulu."


Setelah berpamitan aku lansung meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kelasku.


_____________________________________


________________________________


Namun di tengah perjalanan kami malah bertemu dengan Rusli dan Lia, dimana mereka berdua mencoba mengajak kami pergi ke warnet.


Tentu saja kami lansung tolak, sebab habis ini kami ingin pergi ke tempat Bu Linda.


Namun, karena aku juga merasa tidak enak karena sudah dua kali menolak ajakan mereka, jadi aku menawarkan diriku untuk mabar dengan mereka nanti malam, yang dimana membuat mereka berdua menjadi senang.


Lalu setelah itu kami pun meninggalkan mereka dan pergi ke depan Gerbang sekolah, dimana kami melihat teman kelas kami yang lainnya sudah ada di sana.


"Sepertinya mereka semua sudah datang, ayo kita ke sana."


"Um."


Balas Sara dengan angukkan.


Lalu setelah kami sampai di tempat itu, aku mencoba melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Bu Nara namun aku tidak menemukan ia di manapun, sehingga aku mencoba bertanya ke salah satu teman kelasku yang sedang berdiri di sampingku.


"Woy."


"~Hiii...O-Oh Leon, ada apa?"

__ADS_1


"Apa kau tau, kemana Bu Nara?"


"Ah D~Dia sedang pergi mengambil Mobilnya."


"Kapan?"


"Be~Beberapa menit yang lalu."


"Hmm begitu, makasih sudah memberitauku."


Ucapku sambil menjauh darinya, karena aku lihat sepertinya ia agak gugup berada di dekatku.


Namun entah kenapa Sara juga malah ikut menjauh darinya dan berdiri di dekatku.


"Kenapa kau tidak di sana saja?"


Tanyaku.


"Suasana nya pasti akan canggung jika aku ada di sana. Selain itu aku juga tidak terlalu dekat dengan mereka jadi aku rasa lebih baik aku berdiri di sini saja."


"Hmm....."


Setelah beberapa menit kami menunggu, tak lana kemudian akhirnya Bu Nara datang, dimana ia menaiku sebuah Mobil hitam yang berukuran besar.


"Semuanya maaf aku lama, sekarang masuklah."


Di saat para Gadis itu mulai masuk ke dalam Mobil satu persatu, aku juga mencoba ikutan masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang, namun tiba - tiba Bu Nara menarik telingaku yang dimana membuat aku kesakitan.


"~Aduh, woy lepaskan itu sakit!"


"Bodoh amat, kau pikir apa yang ingin kau lakukan?"


"Apa? Tentu saja aku ingin duduk."


"Kalau begitu kenapa kau ingin duduk ditempat para Gadis? Bukankah kau bisa duduk di kursi depan? Atau mungkin kau memang ingin dekat - dekat dengan mereka?"


"Hah, itu mana mungkin."


Balasku lansung.


"Ya udah, kalau begitu cepat duduk di kursi depan."


"~Aduh...a-aku mengerti_ aku akan duduk di kursi depan, karena itulah tolong lepaskan telingaku, itu sakit tau."


Setelah Bu Nara melepaskan telingaku aku lansung mengelusnya untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah itu aku pergi duduk di kursi depan tepat di samping Bu Nara.


"Baiklah, anak - anak sebelum kita berangkat tolong pasang sabut pengaman kalian."


Aku lansung memasang sabut pengamanku, begitupun dengan para gadis yang duduk di belakangku.


Setelah kami memasang sabut pengaman kami masing - masing, kami mulai mencoba meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


"Baiklah. Waktunya kita berangkat."


Para gadis yang duduk di kursi bagian belakang kelihatan sangat senang, kecuali satu orang yaitu Sara. Ia hanya diam saja sambil memandang keluar jendela.


__ADS_2