BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
JALUR DI HALANGI


__ADS_3

Sementara itu. Amaliya yang berada di tempat yang sedikit jauh dari Alexei dan yang lainnya merasa bimbang. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan, apa ia harus lanjut pergi ke ruang bawah tanah menahan Brid atau tidak.


Karena tadi Alexei sendiripun mencoba menghentikan Amaliya.


Selain itu Amaliya juga sadar bahwa Carla tidak akan pernah mencoba membiarkan Amaliya pergi ke sana(Ruang bawah tanah). Dan jika Amaliya memaksa maka sudah pasti ia akan di jadikan target utama.


Karena itulah Amaliya memilih untuk diam dulu sampai ia di biarkan bergerak lagi oleh Jendral Alexei.


(Meski begitu apa aku benar - benar harus Diam saja terus di sini? Bukankah akan berbahaya jika kita membiarkan orang itu(Brid) bergerak bebas di sana?)


Alexei seolah memperhatikan kekhawatiran Amaliya dan lansung memanggilnya..


"Amaliya."


Dengan cepat Amaliya berbalik dan melihat Alexei.


"Yah, ada apa?"


"Aku tau kau khawatir dengan keadaan di sana(Ruang bawah tanah) tapi untuk sekarang aku ingin kau tinggal dulu di sini. Karena aku merasa Valdo tidak akan sanggup mengatasi mereka semua apa lagi setelah pria itu(Gregori) datang ke sini."


"Hmm kalau begitu, bukankah lebih baik jika kita menyuruh mereka berdua(Vincent dan Sherlie) membantu juga?-


-Dengan kekuatan TUPXION mereka, seharusnya kita bisa mengatasi orang - orang itu dengan mudah."


Saran Amaliya tentu sangat bagus. Tapi sayangnya itu lansung di tolak oleh Alexei.


"Tidak, kita belum boleh menggunakan kekuatan mereka."


"Kenapa?" Tanya Amaliya yang kebingungan.


"Itu karena......yang jelas tidak boleh. Selain itu mereka berdua sudah ku beri tugas masing - masing."


Amaliya setidaknya tau tugas Vincent seperti apa. Ia di suruh bersiap - siap membuka portalnya agar bisa melarikan diri ketika sesuatu yang tak di inginkan terjadi.


Tapi bagaimana dengan Sherlie, tugas apa yang di berikan padanya? Sampai saat ini Amaliya belum mengetahui nya sama sekali.


Meski begitu Amaliya tidak ingin terlalu memikirkan hal itu dan memilih untuk diam dan mematuhi perintah Alexei.


"Baiklah aku mengerti, aku akan tetap di sini tapi bagaimana dengan penyusup itu(Brid)? Bukankan akan berbahaya jika kita mengabaikannya?"


"Tenang saja, di sana(Ruang bawah tanah) masih ada satu orang yang kemungkinan besar bisa menahan dia(Brid)."


Amaliya penasaran siapa orang itu dan bertanya...


"Siapa?"


"DIA ADALAH PELAYANKU(GENNADIUS)."


>Sementara itu di ruang fasilitas bawah tanah.


Saat ini Brid bersembunyi di balik dinding tepat di sebuah tikungan. di tikungan itu terdapat seorang pria tua sedang berdiri tegak di tengah lorong sambil memakai kaos tangannya.


Pria itu memiliki kumis yang rapi dan mempunyai rambut putih yang tercampur dengan kemerahan sedikit, serta mengenakan kacamata lingkaran di mata kirinya saja.


Ia adalah pria yang telah mengantar Brid dan yang lainnya ke mansion ini, sekaligus kepala pelayan Jendral Alexei bernama Gennadius.


"Berhentilah bersembunyi, aku tau kau ada di situ, cepat keluarlah."


Mendengar hal itu sontak membuat mata Brid lansung melebar karena terkejut.


(Apa! Bagaimana bisa ia tau aku ada di sini?)

__ADS_1


___________________________________________


_______________________________________


>Beberapa menit yang lalu.


Saat ini Brid berlari menyusuri lorong putih, dimana di setiap lorong terdengar suara dari alarm peringatan.


Sesekali Brid melihat beberapa penjaga yang sedang bersembunyi di balik tikungan lorong. Mereka sepertinya sedang bersiap - siap menyerang Brid tetapi sayangnya di karenakan saat ini Brid menggunakan kekuatan senjata S Gearnya sehingga ia tidak bisa di lihat.


Pada akhirnya Brid pun berhasil menumbangkan mereka semua satu persatu menggunakan Alat setrum nya.


"~Fuuu ini yang ke 27 kali. Berapa banyak penjaga yang di siagakan di sini?"


Sementara Brid menanyakan itu, ia lalu menyalahkan sebuah alat radar yang di pegang di tangan kanannya.


Alat itu memperlihatkan sebuah titik hijau yang menunjukkan bahwa tujuan Brid berada di sana.


"Sepertinya tidak lama lagi aku akan sampai, aku harus cepat."


Brid buru - buru mematikan radarnya, lalu melanjutkan lagi perjalanannya.


TAP!!...TAP!!...TAP!!....


Di tengah perjalanan Brid melihat alat Fire sprinkler yang terpasang di langit - langit lorong tiba - tiba berfungsi sendiri.


Biasanya alat ini akan berfungsi ketika mendeteksi adanya asap atau kebakaran tapi saat ini tidak ada kebakaran sama sekali di lorong ini.


Brid langsung memiliki firasat tidak enak dan buru - buru lompat kebelakang.


Dan saat itu juga Fire sprinkler menyemburkan sebuah cairan, namun cairan yang di semburkan itu bukanlah air melainkan cairan Slaim berwarna hijau.


"Sial, aku pikir kenapa alat itu tiba - tiba berfungsi sendiri ternyata inilah tujuan kalian."


(Memang benar, jika aku sampai kena cairan itu maka kemampuan dari senjata S Gear ku mungkin saja tidak akan berguna lagi.-


-Bisa di bilang ini adalah salah satu kelemahan dari senjata S Gear yang ku miliki.) Pikir Brid.


Brid sebisa mungkin berusaha menghindari setiap cairan yang meluncur ke arahnya.


Sampai akhirnya ia berhasil menjauh dari tempat itu tanpa di kena cairan sedikitpun di tubuhnya.


"~Fuuu untung aku bergerak cepat jika tidak aku pasti sudah kena."


Guman Brid. Lalu kemudian Brid berdiri dan melihat ke depan dimana lorong itu sudah di penuhi oleh cairan hijau yang tersebar dimana - mana.


"Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi lewat ke sana."


Jika Brid sampai menginjak cairan itu maka sudah pasti jejaknya akan tertinggal di setiap jalan yang ia lalui yang dimana hal itu tentunya membuat musuh bisa langsung mengetahui lokasinya.


"Sepertinya aku harus cari jalan lain."


Brid pun mulai bergerak ke arah yang berbeda. Namun sayangnya semua jalur yang ia temukan sudah di penuhi oleh cairan hijau juga hingga membuat Brid kesulitan untuk melanjutkan perjalanan nya.


"Sial, kenapa semua jalur di penuhi oleh cairan ini."


Brid mengertakkan giginya dan terlihat kesal. Lalu saat itu juga ia mendapatkan panggilan dari Carla.


{Brid, apa kamu dengar?}


Brid dengar suara Carla dari earphone kecil yang terpasang di telinga kanannya.

__ADS_1


"Ya aku dengar, ada apa?"


{Aku hanya ingin tau saja apa kamu sudah sampai ke tempat tujuan?}


"Belum, aku belum sampai. Semua jalur yang menuju ke tempat tujuan ku telah di penuhi oleh cairan hijau sehingga aku tidak bisa ke sana."


{Eh apa maksudmu?}


Meskipun sudah di beritahu namun Carla sepertinya masih belum paham jadi Brid mencoba menjelaskan apa saja yang terjadi di sini.


__________________________________________


______________________________________


>Beberapa saat kemudian.


"Begitulah, karena itulah saat ini aku tidak bisa ke sana."


{Hmm aku mengerti.}


Setelah Carla tau situasi Brid ia langsung terdiam.


{......}


Awalnya Brid sedikit khawatir, namun tak lama kemudian Carla seperti sedang menghela nafasnya dan kembali bicara dengan Brid.


{Brid, aku tau saat ini semua jalur yang ingin kau lalui telah di penuhi oleh cairan hijau. Tapi bukankah saat ini kamu pakai sepatu?}


"Eh Tentu saja aku pakai."


{Nah kalau begitu kau injak saja cairan itu.}


"Ta-tapi bukankah itu akan meninggalkan jejak ku di setiap jalanan yang ku lalui?"


{Kalau begitu kau lepas saja sepatumu setelah melewati cairan itu, dengan begitu jejak mu pasti tidak akan tertinggal di setiap jalan yang kau lalui. Mudahkan.}


"Hah....."


Brid seolah baru sadar dan menjadi malu.


"Astaga kau benar juga, kenapa aku tidak ke pikiran itu."


{Mungkin kau terlalu fokus dengan tugasmu makanya kau sampai lupa untuk berpikir.}


Balas Carla. Lalu kemudian Carla mencoba mengakhiri panggilan nya.


{Baiklah aku rasa sudah cukup bicaranya. Kalau begitu aku tutup dulu.-


-Oh iya, Brid hubungi aku jika kamu sudah sampai di sana, mengerti?}


"Um, aku mengerti."


{Bagus, kalau begitu aku tutup.}


Setelah panggilan mereka berakhir, Brid mulai berjalan melewati cairan hijau itu.


"Sial ini sangat licin aku harus hati - hati."


Di tengah perjalanan Brid merasakan ada semacam debu yang mengenai wajahnya. Meski begitu Brid tidak terlalu mempedulikan itu dan terus melanjutkan jalannya.


Setelah Brid berhasil melewati cairan itu, Brid lalu melepaskan sepatunya dan mulai berlari meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2