BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BULAN YANG MERASA CEMAS


__ADS_3

Kafe, tempat dimana Bulan Kerja. Saat ini di dalam Sana terlihat Bulan sedang membawa sebuah Minuman yang di Pesan oleh pelanggangnya.


Namun Tiba - tiba Pintu Kafe terbuka dan ia mencoba melihat ke arah sana untuk menyambut pelanggangnya yang baru saja datang.


"Selama da-!!"


Sayangnya Sebelum Bulan selesai menyambut Pelanggang itu ia lansung kaget. Sebab Pelanggang yang datang ke kafenya itu ternyata adalah Leon.


Bukan hanya Leon saja tapi Satu Orang dewasa juga masuk ke dalam dan mengikuti Leon dari belakang.


Tanpa menunggu lama Bulan lansung berlari dan mendekati Leon.


"Leon, kamu datang."


"Yo Bulan, tolong bisa kamu siapkan Tempat duduk untuk kami berdua."


Untuk sesaat Bulan tidak menjawab dan malah melihat Brid. Setelah itu ia kembali melihat ku dan menjawab.


"Aku mengerti, tolong ikuti aku."


Bulan Berjalan di depan sambil mulai menuntung Aku(Leon) dan Brid ke Ruangan paling ujung. Dimana Kurang orang.


"Silahkan, duduklah."


Aku lansung duduk, begitupun Dengan Brid yang duduk di kursi yang berlawanan denganku.


"Apa yang ingin kamu pesan?"


Tanya Bulan.


"Dua Minuman Seperti Biasa."


Jawabku.


"Aku mengerti."


Balas Bulan. Lalu ia Mulai menulis pesanan yang sering ku pesan ketika datang ke sini.


Dan ketika ia sedang menulis Pesananku tiba - tiba alis ia terangkat seolah ia ingat ada sesuatu yang ingin ia katakan padaku, sehingga ia melihatku.


"Oh iya Le-Leon, bagaimana dengan kondisi Adekku, apa kamu sudah membawanya ke Puskesmas?"


"Tenang saja, aku sudah membawanya. Aku rasa ia sudah istirahat di Rumahmu."


"Begitu,...terima kasih banyak Leon."


"Tidak usah di pikirkan. Lagi pula aku melakukan itu atas keinginanku sendiri."


Meskipun aku berkata begitu tetapi Bulan tetap Menundukkan kepalanya Di depanku. Yang dimana membuat aku merasa tidak enak karena beberapa orang memperhatikan kami. Sehingga aku mencoba untuk mencari topik lain.


"Dari pada itu Bulan. Bisa tidak aku minta sesuatu padamu."


"Apa?"


"Aku ingin kamu kosongkan kursi yang berada di sekitar kami? Tentu saja aku akan membayarnya juga"


"Yah aku tidak masalah sih, tapi buat apa kamu melakukan itu."


"Yaa sebetulnya Aku hanya ingin bicara saja dengannya(Brid), Hanya saja aku tidak ingin ada seseorang yang dengar pembicaraan kami, jadi...."


"Hmm Begitu,..aku mengerti, kalau begitu tolong tunggu sebentar, aku akan beritaukan hal ini dulu pada Manajer."


Setelah mengatakan itu Bulan pun pergi ke tempat Manajer. Namun tak berselang lama Ia kembali lagi dan melihatku.


"Leon, Manajer bilang ia tidak masalah."


"Benarkah, makasih."


Ucapku dimana Bulan membalas dengan Senyuman. Lalu kemudian ia berbalik dan berkata...


"Yaa udah, karena tidak ada lagi yang ingin kamu pesan, kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah meninggalkan Kata - kata itu Bulan pun pergi dari tempat ini dan kembali ke pekerjaannya.


Dimana Sekarang hanya tersisa aku dan Brid saja.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan sampai - sampai menyuruhku untuk mengosongkon Tempat duduk di sekitar kita?"

__ADS_1


Tanyaku. awalanya Brid tidak menjawab apa - apa dan hanya diam saja.


"....."


Namun Beberapa detik kemudian ia menatap mataku dengan Serius dan menjawab.


"Leon, aku sudah dengar dari Rangga, sepertinya sebelum kamu mengambil ahli tubuh anak itu, anak itu Sering di Buli ya?"


"Eh Yah itu benar, memang kenapa?"


"Bukan apa - apa kok. Aku hanya ingin tau saja.-


-Karena Siang tadi aku dan Rangga pergi ke Hutan, tempat dimana Anak Berandalan Yang pernah membuli Anak itu(Leon) menghilang."


Mendengar hal itu Mataku sontak lansung menyipit dengan tajam.


Melihat hal itu membuat Brid merasa yakin dan percaya Bahwa Hilangnya anak - anak Berandalan itu ada hubungannya denganku.


"Sudah Kuduga Leon,...Tidak, maksudku Ketua kau membunuh anak - anak itukan?"


Biasanya orang akan lansung Terkejut atau shock saat mendengar itu, namun karena aku sudah memperkirahkan hal ini sehingga aku masih bisa mempertahankan Sikap tenangku.


"Yah, seperti yang kau katakan Brid, akulah yang-!!"


'Membunuh anak - anak itu' ingin ucapku. Namun sebelum aku mengucapkan itu tiba - tiba aku dan Brid dengar suara pecahan kaca yang dimana membuat kami kaget dan lansung melihat ke arah sana.


"Bulan."


Di situ Aku melihat Bulan berdiri kaku dengan tubuhnya gemetar.


Aku juga melihat Minuman yang ku Pesan jatuh ke lantai dan pecahan Gelasnya tersebar dimana - mana.


Di tambah lagi aku juga memperhatikan Ekspresi Bulan seperti sedang ketakutan. Karena aku merasa khawatir dengannya, jadi aku pun berdiri dari tempat duduk dan pergi mendekatinya.


"Bulan, ada apa, wajahmu pucat begitu?"


"Le~Leon Orang itu barusan dia..."


Seolah tau apa yang ingin Bulan katakan, aku lansung mendesah kemudian berkata..


"Begitu jadi kamu dengar pembicaraan kami barusan ya?"


Angguk Bulan.


Jadi Inilah alasan kenapa ia bisa ketakutan begitu, kemungkinan besar ia pasti berpikir Brid akan melaporkanku ke polisi. Dan jika itu terjadi maka ia akan kena juga.


"Bulan, kamu tenang saja, Sebetulnya dia itu-!!"


Sebelum aku menjelaskannya pada Bulan. Tiba - tiba seorang wanita tua mendekati kami dan Melihat Bulan.


"Bulan, apa kamu tidak apa - apa?"


"Ma-Manajer maafkan aku..."


"Tidak usah di pikirkan. Dari pada itu kamu kelihatannya kurang enak badan, bagaimana kalau kamu Pergi istirahat sebentar? Biar kami yang urus di sini."


"A~Aku mengerti."


Dengan wajah Yang masih takut Bulan meninggalkan Tempat itu.


___________________________________


_______________________________


Di belakang Kafe, di sana Bulan sedang menyadarkan Punggungnya ke Tembok sambil memandang Ke atas langit biru untuk menenangkan Pikirannya.


"~haaaa Sudah satu tahun lebih aku kerja di sini. Tapi baru kali ini aku buat kesalahan. Apa lagi...."


Bulan mengingat kejadian barusan, dimana ia dengar dengan sangat Jelas, orang itu mengetaui siapa dalang di balik pembunuh Luis dan Felik.


Ia juga mengetaui beberapa hal yang dimana membuat Bulan merasa cemas.


Sebab jika orang itu(Brid) sampai melaporkan semua yang ia ketaui ke kantor polisi maka Leon dan juga dirinya pasti akan di tangkap.


Karena Bagaimanapun juga ia secara tidak lansung ikut terlibat dalam pembunuhan itu.


(Sial, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak boleh sampai membiarkan diriku di tangkap. Jika tidak....Siapa yang akan membantu Ibuku untuk membiayai kebutuhan kedua Adikku sehari - hari.)

__ADS_1


Bulan mengertakkan giginya dan terlihat sangat Kesal.


Namun bukan hanya itu saja. Sebetulnya masih ada satu hal yang ia pikirkan, itu adalah Wajah orang itu(Brid) Bulan merasa pernah melihat wajah orang itu sebelumnya...


(Tapi dimana?)


Di saat Bulan berusaha mencoba mengingatnya, dari jauh Tiba - tiba ia dengar suara Leon yang memanggilnya.


"Bulan, Ternyata kau di sini."


Bulan buru - buru melihat ke arah sana. Di situ ia melihat aku(Leon) sedang mencoba mendekatinya.


"Le~Leon, apa yang kau lakukan di sini?"


"Apa? tentu saja melihat kondisimu. Bagaimanapun juga aku khawatir padamu."


"Khawatir? Orang jahat sepertimu mana mungkin bisa khawatir."


"Sejahat apapun orang pasti di hatinya masih Ada kebaikan, apa aku salah?"


Tanyaku, dimana membuat Bulan terdiam dan tidak bisa menjawab apa - apa.


Sebab ia juga tau apa yang ku katakan itu memang benar.


Sama halnya dengan orang baik. Sebaik apapun orang itu di dalam hatinya pasti masih ada kejahatan.


Dengan kata lain di dunia ini Tidak ada yang namanya kesempurnaan. Baik itu sempurna dalam menjalankan kebaikan ataupun kejahatan.


Semuanya pasti masih ada positifnya dan juga negatifnya.


Aku melihat Bulan dan mencoba menanyakan Kondisinya...


"Bagaimana kondisimu, Apa tidak apa - apa?"


Bulan tidak menjawab apapun dan malah memalingkan pandangannya ke arah lain, seolah ia tidak mau bicara denganku.


Walau begitu aku tidak pergi. Aku berdiri di sampingnya dan tetap mencoba untuk mengajaknya bicara.


"Bulan aku tau, saat ini kau pasti takut karena ada seseorang yang tau Soal kejadian itu. Namun kau tidak usah khawatir karena Dia itu adalah Sahabatku."


"Sahabat? Meski begitu tetap saja aku tidak bisa percaya. Bisa saja ia melaporkanmu ke kantor polisi?"


"Tenang saja itu tidak akan pernah terjadi."


"Bagaimana kalau itu terjadi? Apa yang akan kau lakukan?"


"Yaaa jika itu memang terjadi, maka....AKU HANYA HARUS MEMBUNUHNYA SAJA, MESKI DIA SAHABATKU SEKALIPUN."


Bulan kaget mendengar itu. Sebab ia melihat tidak ada keraguan sedikitpun dari kata - kataku. Bahkan tatapanku terlihat sangat tajam, Seolah aku benar - benar akan melakukan itu jika memang terjadi.


"Le~Leon aku....Um-?"


Bulan terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia lansung berhenti saat melihat aku mencoba pergi dari tempat itu.


"Leon kamu mau kemana?"


"Kembali ke Kafe, lagi pula urusanku di sini juga sudah selesai. Aku juga tidak ingin membuat dia(Brid) menunggu di sana. Jadi aku pergi dulu."


Ketika aku baru saja mau pergi, tiba - tiba aku ingat masih ada satu hal yang ingin ku beritaukan Ke Bulan.


Sehingga aku lansung berhenti bergerak dan berbalik melihat Bulan.


"Oh iya Bulan masih ada satu hal lagi yang ingin ku beritaukan padamu."


Bulan merasa penasaran dan bertanya...


"A-apa!"


"Kau mungkin tidak percaya, tapi meskipun aku di tangkap oleh pihak kepolisian kamu akan tetap aman kok.-


-Karena aku sudah buat beberapa persiapan, ketika aku di tangkap kamu tidak akan ikut terseret juga ke dalamnya."


Bulan terkejut mendengar hal itu, sekaligus ia kebingungan dan bertanya....


"Eh a-apa maksudmu?"


"Sudah cukup bicaranya, aku pergi dulu."

__ADS_1


Seolah menghindari pertanyaannya. Aku lansung melambaikan tanganku Lalu pergi dari tempat itu.


Yang Dimana sekarang hanya menyisahkan Bulan Seorang di sana.


__ADS_2