
Setelah kami selesai makan, aku lansung membayar pesananku dan keluar dari Warung itu. Bersama dengan Bulan.
Saat kami sudah di luar aku meregangkan kedua tanganku.
"Uhh, akhirnya kenyang juga."
Ucapku dan di Balas oleh Bulan. Yang terlihat malu.
"A-aku juga, makasih makanannya itu sangat enak."
Melihat wajahnya yang seperti itu, membuat Bibirku lansung tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu suka."
Mendengar ucapanku membuat Bulan sesaat meliritku ke samping. Namun setelah itu ia melihat ke arah depan dan mulai berjalan.
Tanpa menunggu lama aku lansung ikuti ia dari belakang.
_____________________________________
______________________________
Setelah kami meninggalkan Warung itu. Saat ini kami Tengah berjalan di jalan Setapat. Dimana tidak banyak orang Lalui.
Namun, saat kami tengah berjalan, tiba - tiba Bulan berhenti dan lansung melihat ke arahku. Dimana aku sedang mengikutinya dari belakang.
"Omong - Omong Leon, karena aku sudah lakukan apa yang kau suruh. Bukankah sudah saatnya kau hapus pesan itu?"
Tanya Bulan. Namun mendengar hal itu, aku terlihat bingun dan bertanya balik.
"Hapus? Buat apa aku hapus?"
"Buat apa, Bukankah sudah jelas. Aku sudah lakukan apa yang kau suruh. Jadi sekarang Giliranmu yang hapus pesan itu."
Ucapnya sambil menatapku dengan kesal. Namun tanpa pedulikan itu, aku lansung berkata...
"Oi, oi, oi apa kau bercanda, tidak mungkin aku hapus pesan ini. Lagi pula, kapan aku Bilang, kalau kau sudah lakukan apa yang ku suruh, aku akan Hapus pesan ini?"
Saat aku Tanya, Bulan hanya terdiam dan mengerutkan keningnya.
sebab, jika ia ingat lagi pembicaraan kami pagi tadi. Ia memang tidak pernah dengar aku mengatakan itu.
Sehingga ia lansung mendecakkan lidahnya dan terlihat sangat marah.
"JANGAN MAIN - MAIN DENGANKU, APA KAU MASIH MAU GUNAKAN PESAN ITU, UNTUK MENGANCAMKU TERUS?"
Saat Bulan bertanya, aku dengan santai tanya balik ke dia.
"Menurutmu?"
"Menurutku?.....BERHENTILAH MAIN - MAIN, CEPAT JAWAB SAJA?"
Bentak Bulan sambil menatapku dengan marah. Namun tanpa pedulikan itu perlahan aku menghela nafasku. Setelah itu, aku menatap balik ke dia dengan tajam.
"Bulan, aku tidak tau apa yang kau pikirkan tentangku. Tapi jika kau Bilang aku gunakan pesan ini untuk mengancam mu. Aku tidak bisa menyangkal itu."
"Heh, dengan kata lain, jika kau membutukan aku, kau akan gunakan pesan itu lagi."
"Yah."
jawabku dengan santai. Seolah - olah tidak punya sedikitpun keraguan untuk mengatakannya.
Sedangkan Bulan yang dengar itu, lansung meremas tangannya dengan erat. Sambil menatapku dengan Dingin.
"Leon, jangan pikir kau bisa mengancamku terus, menggunakan pesan itu. Suatu hari pasti akan ku hapus pesan itu."
Ucapnya sambil mencoba meninggalkan tempat ini.
Namun, sesaat ia baru saja berjalan beberapa langkah. Tiba - tiba aku membisikkan sesuatu dari belakangnya..
"Bulan, ini peringatan dariku, sebaiknya kau hentikan saja niatmu itu barusan."
Mendengar hal itu, membuat Bulan lansung berhenti berjalan dan melihat ke arah belakang.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Tanya Bulan.
"Maksudku, meskipun kau berhasil menghapus pesan ini, kau pikir bisa lari dari Ancamanku?"
"I-itu, tentu saja kan. Lagi pula kau mengancamku menggunakan itu, jadi-!!"
Sesaat Bulan mengatakan itu, tiba - tiba ia berhenti. Karena ia seperti sudah menyadari sesuatu.
Melihat hal itu, Bibirku lansung seringai jahat.
"Akhirnya kau sadar juga."
Ucapku. Setelah itu aku lanjutkan lagi.
"Benar, meskipun kau menghapus pesan ini, aku masih bisa gunakan ancaman Waktu di Lorong itu. Dimana aku akan melibatkan kedua adikmu ke dalam masalah ini."
Mendengar ucapanku membuat Bulan lansung menatapku dengan tajam, sambil meremas tangannya dengan erat. Seolah olah ia sudah bersiap untuk memukulku.
Namun, tanpa pedulikan itu, aku lanjut Bicara.
"Selain itu, sejak awal Aku memang berniat untuk mengancam mu, menggunakan kedua Adikmu. Tapi karena kau tidak ikut memukul Kak Siska waktu itu. Sehingga aku ubah ancamanku menjadi pesan ini-"
"-namun, jika kau berniat menghapus pesan ini. Maka ingatlah ini baik - baik, akan ku pastikan kedua adikmu itu akan mengalami hal yang sama, yang pernah Kakak ku alami di Lorong i-!"
'TU' ingin ucapku. Namun sebelum aku mengucapkan itu, tiba - tiba Bulan berlari ke arahku dan dengan kuat menampar Pipiku.
PATTT!!
"......."
Aku terdiam, dimana kepalaku menghadap ke samping.
Meski begitu, mataku masih melirik ke arahnya, dimana tatapanku terlihat sangat tenang, namun tajam.
di sisi lain, Bulan yang baru saja menamparku lansung menundukkan kepalanya.
Dimana tubuhnya terlihat agak gemetar. Dan berusaha menahan amarahnya.
"~~Ba-Baiklah, aku tidak akan melakukan apapun untuk melawanmu. Tapi berjanjilah, kau tidak akan pernah melibatkan kedua adikku lagi?"
"Haaa aku mengerti, aku tidak akan melibatkan Kedua adikmu. Tapi, jika aku tau kau melakukan pergerakan yang aneh, INGATLAH PERINGATANKU BARUSAN." ucapku dengan dingin
Setelah itu aku lansung berjalan melewatinya dan meninggalakan tempat itu.
Di sisi lain, Bulan yang melihatku sudah pergi, Hanya bisa menahan amarahnya, dimana Wajahnya bahkan tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.
"Cih."
_______________________________________
____________________________________
Setelah beberapa saat meninggalkan tempat itu, saat ini aku tengah duduk di kursi taman untuk istirahat. Sambil melihat beberapa anak Muda sedang membuat Video di iringi dengan music.
"Apa yang mereka lakukan?"
Saat aku bertanya PIX menjawab...
[Oh, mereka,...mereka sedang buat Video, di Apk Tik tok.]
"Apk Tik Tok?"
tanyaku dengan kebingungan.
[Benar, Apk itu sangat trending di negara ini. Bukan hanya negara ini saja. bahkan hampir seluruh dunia memakai Apk tersebut.]
"Hmmm."
Meski aku tidak mengerti, apa bagusnya Apk tersebut. Namun untuk saat ini aku lupakan saja soal itu.
Yang lebih penting, aku harus pikirkan lagi, apa rencanaku selanjutnya.
Pada saat aku sedang berpikir, tiba - tiba PIX bertanya di dalam pikiranku.
[Omong - omong Master, dari tadi aku ingin mengatakan sesuatu.]
__ADS_1
"Apa?"
[Bukankah kamu terlalu kasar pada gadis itu tadi?]
"Gadis itu? Maksudmu Bulan?"
Tanyaku balik dengan kebingungan.
[Yah.]
Jawab PIX dengan singkat.
Memang benar apa yang ku lakukan pada Bulan tadi itu terlalu kasar.
Meskipun ia salah satu dari para pembuli. Namun setiap kali aku lihat Ekspresinya, ketika aku mengancam adik, adeknya. Entah kenapa itu membuatku agak merasa kasihan juga padanya.
(Yaa, meski itu harus aku lakukan untuk buat ia tunduk si.)
Sebab jika aku tidak melakukan itu, suatu hari Bulan pasti akan mencari cara agar Lolos dari genggamamku. Dan jika itu terjadi Bisa - bisa ia bahkan membahayakan kehidupan damaiku saat ini.
[Jadi Master, kenapa kau melakukan itu?]
Saat PIX bertanya lagi, dengan datar aku menjawab.
"Kenapa? Bukankah sudah jelas, karena ia PION ku."
[Aku tau kalau ia PIONmu. Tapi, setidaknya kan Master bisa sedikit lebih baik ke dia.]
"Baik? Buat apa aku baik sama Pembuliku."
ucapku sambil menatap tajam PIX. Namun PIX bukannya takut, ia terus memperhatikan tatapanku.
Seolah - olah ia seperti sedang mencari sesuatu.
Merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sehingga aku mencoba bertanya.
"Ada apa?"
[Tidak, aku hanya ingin memberitau Master, kalau sebaiknya Master Tidak terlalu kasar pada gadis itu. Sebab jika tidak. Bisa - bisa anda hanya menyalahkan diri sendiri nanti.]
Mendengar ucapannya membuatku terlihat Bingun dan tidak mengerti sama sekali.
Sebab, meskipun aku menyakiti Bulan aku yakin tidak merasa bersalah sedikitpun. Baik sekarang maupun nanti.
(Jadi kenapa PIX mengatakan itu?)
Sambil terus bertanya - tanya, aku mencoba memikirkan apa alasan PIX mengatakan itu.
Namun tetap saja aku tidak menemukan alasannya sehingga aku menyerah, dan mencoba bertanya padanya.
"PIX, apa maksudmu mengatakan itu?"
Saat aku bertanya, untuk sementara PIX tidak mengatakan apapun...
[......]
Namun, setelah beberapa detik kemudian ia menjawab...
[Untuk saat ini, sebaiknya Master cari tau sendiri jawabannya. Yang jelas aku hanya peringatkan Master, untuk tidak terlalu menyakiti gadis itu.]
Ucapnya sambil menatapku dengan Serius. Melihat tatapannya membuatku berpikir...
(Apa seburuk itukah, jika aku menyakiti Bulan.)
Sebab Di lihat dari manapun, yang ku sakiti ini hanya pembuli. Bukan orang baik atau semacamnya.
Jadi kenapa bisa seburuk itu jika aku menyakitinya.
Sambil memikirkan itu. Di sisi lain PIX yang terus melihat mataku, merasa seolah - olah tau apa yang aku pikirkan. Sehingga ia berkata.
[Master, anda tidak usah memikirkannya sekeras itu. Yang jelas anda perlu ingat saja, apa yang aku katakan barusan.]
Meskipun aku tidak ingin dengarkan, apa yang di katakan PIX. Namun karena aku tetap tidak bisa menemukan alasan ia mengatakan itu.
Sehingga mau tidak mau, untuk saat ini aku turuti saja apa permintaannya.
__ADS_1
"BAIKLAH, AKAN KU INGAT PERKATAANMU ITU."