
Pada saat Bulan sudah waktunya Pulang sekolah. Saat ini ia sedang berjalan Di gerbang sekolah bersama dengan 2 temannya yaitu Felik dan Erina.
Sesaat mereka bertiga berjalan keluar, tepat di pinggir jalan di sana terlihat seorang Wanita beramput pendek sedang mengenakan Pakaian berjas.
Wanita itu terlihat sedang memperhatikan beberapa Siswa yang keluar dari sekolah. Namun sesaat ia melihat Bulan ia lansung menghampirinya.
"Permisi, boleh kita bicara sebentar?"
Mendengar suara wanita itu. Membuat Bulan, Erina dan Felik lansung melihat ke arahnya.
"Ada apa?"
Saat Erina bertanya, Wanita itu mulai memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan namaku Isty, Boleh aku tau, apa nama anda Bulan?"
Tanya Isty sambil melihat ke arah Bulan. Di sisi lain Bulan Yang di tanya seperti itu merasa Bingun dan menjawab..
"Eh, yah, namaku Bulan."
"Baguslah, kalau begitu boleh anda ikut denganku sebentar?"
"Eh, dimana?"
Saat bulan bertanya, untuk sementar Isty melihat sekeliling. Setelah beberapa detik kemudian ia melihat ke arah Bulan lagi.
"Jujur aku tidak ingin membicaraknnya di sini karena itu bisa merusak reputasimu, jadi..."
Sesaat Isty berhenti ia mengeluarkan sesuatu dari kantong roknya. Setelah itu ia menujukkannya ke Bulan.
Bulan yang melihat itu lansung terkejut, sebab apa yang di Perlihatkan Isty adalah sebuah identitas anggota kepolisian.
Bukan hanya Bulan saja yang terkejut. Bahkan Felik dan Erina ikutan juga terkejut.
"Se~Seorang Polwan, Apa maksudnya ini Bulan?"
Tanya Erina sambil melihat ke arah Bulan. Namun tanpa menjawab Bulan terus melihat ke arah Isty.
Di sisi lain. Isty yang melihat itu merasa kalau Bulan sudah mengerti situasinya sehingga ia lansung menyuruhnya untuk mengikutinya.
"Kalau begitu, ayo kita Pergi."
Saat Isty berjalan Ke arah Mobilnya, Bulan mencoba mengikutinya dari belakang namun..
"Bulan Tunggu dulu, apa maksudnya ini? Kenapa polwan itu mencarimu?"
Saat Erina bertanya, dengan tenang Bulan Menjawab.
"Maaf, aku tidak bisa memberitaumu. Dan tolong beritau Luis kalau hari ini aku tidak bisa datang."
Sambil meninggalkan kata - kata tersebut Bulan lansung berjalan masuk ke dalam Mobil Isty.
Setelah ia masuk, mereka berdua lansung pergi meninggalkan tempat itu.
Di siai lain, ketika Erina dan Felik melihat Bulan Sudah di bawah Oleh si Polwan, mereka berdua hanya bisa menatap dengan kebingunan.
"A~Apa yang sebenarnya sedang terjadi." ucap Erina.
________________________________
___________________________
Sementara itu....
Di tengah perjalanan. Saat ini Bulan sedang duduk di kursi depan tepat di samping Isty, sambil melihat ke arah Luar jendela, Dimana angin segar terus menerbangkan Rambut Hitam panjangnya.
(Seperti yang Leon Katakan, saat ini aku sudah di bawah ke kantor Polisi. Sekarang yang harus aku lakukan adalah....)
Sambil memikirkan itu, Bulan melihat ke arah Luar dengan tatapan Tenang.
Namun di sisi lain, ketika Isty melihat tatapan itu, ia merasa kalau Bulan Seperti sedang memikirkan sesuatu.
Meski Isty tidak tau apa itu, Tetapi untuk saat ini Ia mencoba bertanya terlebih duhulu.
"Omong - omong Bulan. apa kau tau kenapa kami membawamu ke kantor polisi?"
Ketika Isty Bertanya, sesaat Bulan melirik ke arahnya. Namun setelah beberapa detik kemudian, ia melihat ke arah Luar lagi.
"Tidak, aku tidak tau."
Jawabnya.
"Benarkah?"
"Yah" jawab Bulan dengan santai.
Meskipun Bulan tau alasan ia di bawah ke kantor polisi karena Insiden itu. Tetapi, ia tidak mau mengatakannya untuk sekarang.
Sebab ia sudah di perintahkan oleh Leon. untuk tidak menjawab semua Pertanyaan yang di Lontarkan oleh mereka (Polisi), selama mereka tidak menujukkan barang Bukti.
Alasannya itu Karena Leon mengirah kalau saat ini para Polisi, sebetulnya tidak memiliki banyak Barang Bukti, selain dirinya (Bulan).
Itulah kenapa, jika Bulan terus menjawab pertanyaan mereka. Tanpa ia sadari Bisa - bisa itu hanya akan memberi mereka sebuah petunjuk, untuk menuju ke Barang Bukti lainnya.
(Yaa, meski aku tidak tau barang bukti apa yang di maksud Leon, namun untuk sekarang aku lakukan saja, apa yang ia suruh.)
__ADS_1
Sambil memikirkan itu, Bulan mulai terdiam di sana.
Di sisi lain, Isty yang melihat itu, merasa ada sesuatu yang aneh dengan Bulan sehingga ia mencoba bertanya lagi.
Namun, saat ia baru saja mau bertanya, tiba - tiba Hpnya berbunyi. Sehingga ia lansung mengangkatnya.
"Halo, ada apa?"
{Isty kau di mana sekarang?}
"Aku, aku sedang di tengah perjalanan, membawa saksi mata."
{Benarkah, kalau begitu cepatlah ke sini, dia sedang menunggumu.}
"Dia? Siapa yang anda maksud?"
{Maksudku Firdaus.}
***************
Author: Nih Kakaknya Sara yah.
***************
___________________________________
_____________________________
Setelah beberapa saat perjalanan. Tak lama kemudian Isty dan Bulan akhirnya sampai di Kantor Polisi.
Sesampainya di sana, Isty lansung membawa Bulan ke tempat Ruang Introgasi dan menyuruhnya menunggu di dalam sana.
"Baiklah, kamu bisa masuk duluan. Nanti akan ada orang yang mengintrogasimu."
"......"
Tanpa Menjawab, Bulan lansung membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam Ruangan itu.
Dimana Ruangan tersebut, terdapat 1 Meja dan 2 Kursi. Di mana 2 kursi tersebut saling berhadapan satu sama lain.
(Hmm, di sini yah aku di Introgasi? Aku sangat Gugup.)
Sambil memikirkan itu, Bulan lansung pergi duduk di salah satu Kursi tersebut. Setelah ia duduk, ia mulai menunggu Orang yang akan Mengintrogasinya nanti.
_______________________________
_________________________
Setelah beberapa saat Bulan menunggu, tak lama kemudian akhirnya dari arah Pintu terlihat seorang Pria sedang memasuki Ruangan ini.
Ia terlihat berumur sekitar 20 tahun ke atas, dan memiliki rambut hitam yang disisir ke arah samping dengan rapi, sambil memiliki kilatan tajam di matanya.
Sebab di pikirannya saat ini, hanya di penuhi cara Untuk Lolos dari Introgasi ini.
"Maaf membuatmu menunggu?"
Saat Pria itu bertanya, dengan Gugup Bulan menjawab...
"Ti-Tidak, itu tidak apa - apa."
Setelah mendengar jawaban Bulan, Pria itu lansung duduk di kursi yang satunya lagi. Sambil menyalahkan Laptopnya di Atas Meja.
Setelah Laptopnya itu di nyalakan. ia melihat ke arah Bulan.
"Baiklah, pertama - tama perkenalkan Namaku Firdaus aku yang akan mengintrogasimu."
Ucapnya, setelah itu ia lanjutkan lagi.
"Alasan kami memanggilmu kemari. Itu karena kami mendapatkan informasi, kalau Kamu melihat Insiden kemarin, jadi..."
"Tu-Tunggu dulu, insiden kemarin? Apa maksudmu?"
Saat Bulan mencoba Pura - pura tidak tau. Firdaus lansung menyipitkan matanya. Sambil menatap Bulan dengan tajam.
"Kau pasti tau kan maksudku. Insiden lebih dari 20 siswa terluka parah kemarin?"
"Tidak, aku tidak tau."
Jawab Bulan dengan santai. Melihat sikap Bulan yang seperti itu, membuat Firdaus lansung menghela nafasnya.
"Haaa Begitu, kau tidak tau yah. Kalau begitu aku ubah pertanyaanku. kemarin, waktu Pukul XX : XX, apa saja yang kau lakukan?"
Saat Firdaus bertanya sesuatu yang lain, dengan tenang Bulan menjawab...
"Kemarin Aku menjemput adik, adekku Pulang sekolah, setelah itu kami Pulang bersama."
"Hmm, kalau begitu, saat kau pulang sama adek, adikmu, apa yang kau lakukan?"
Saat Firdaus bertanya lagi, Bulan lansung terlihat kesal.
"Kenapa anda ingin tau soal itu?"
"Ini sangat penting tolong di jawab?"
Ucap Firdaus sambil menatap Bulan dengan serius. Di sisi lain Meskipun Bulan tidak ingin menjawabnya namun, jika ia terus menghindari pertanyaan orang ini. Bisa - bisa itu hanya membuat ia menjadi tersangkah jadi...
__ADS_1
"baiklah aku akan jawab. saat kami Pulang, kami singga beli pisang naget di jalanan, setelah itu kami lansung pulang ke rumah."
"Apa hanya itu saja? Apa kau tidak pergi ke tempat lain lagi?"
Saat Firdaus bertanya sekali lagi, dengan cepat Bulan lansung menjawab...
"Tidak."
"Benarkah, kalau begitu, bisa beritau aku, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"
Sambil mengucapkan itu, Firdaus lansung menunjukkan Laptopnya ke Arah Bulan.
Dimana memperlihatkan Sebuah Rekaman CCTV, ketika Bulan Sedang mencoba mengejar Leon Waktu itu.
Melihat hal itu, membuat mata Bulan sedikit melebar karena Terkejut.
"I~ini kan...."
Saat Bulan masih dalam Kondisi terkejut. Tanpa pedulikan itu Firdaus mencoba bertanya lagi.
"Sekarang bisa beritau aku, apa yang kau lakukan di tempat seperti itu?"
"~a-aku,...."
Ketika Bulan Terlihat kesusahan untuk menjawab. Firdaus lansung melanjutkan lagi.
"Kau,...jujur saja kau melihat insiden itu kan?"
Mendengar ucapan Tersebut membuat mata Bulan melebar sedikit.
Namun hanya dalan waktu singkat mata itu kembali Tenang. Seolah - olah ia sudah tau akan di tanyakan seperti ini.
"Yah, anda benar, aku melihat Insiden itu?"
"Kau tidak menyangkalnya lagi yah"
"Tidak ada gunanya menyangkal, Jika anda memperlihatkan itu."
Jawab Bulan sambil menunjuk rekaman di Laptop.
"Kau benar juga."
Ucap Firdaus yang terlihat senang, setelah itu ia lanjutkan lagi.
"Baiklah, aku tanya lagi, kau lihatkan Insiden kemarin?"
"Yah, aku Lihat."
"Kalau begitu, apa kau Lihat siapa yang membuat para siswa menjadi seperti itu?"
"...."
Ketika Firdaus menanyakan itu, Bulan Tidak mengatakan apapun. Sebab menurut yang di katakan Leon. Selama mereka tidak menunjukkan barang bukti. Maka Jangan jawab apapun. Itu berarti...
"Maaf, kalau soal itu aku tidak tau."
Mendengar jawaban Bulan, membuat Firdaus yang tadinya terlihat senang. Tiba - tiba menjadi serius kembali.
"tidak tau, bukankah kau lihat insiden itu?"
"Memang benar aku lihat Insiden itu. Tapi yang aku lihat hanya saat para siswa sudah tidak sadar, sedangkan yang membuat mereka menjadi seperti itu. Sayangnya aku tidak lihat."
Mendengar hal itu membuat Firdaus lansung mengerutkan dahinya. Sambil menyipitkan matanya dengan tajam ke arah Bulan.
"Kau, apa kau benar - benar tidak tau?"
"Yah, aku tidak tau."
Jawab Bulan dengan tenang.
Jujur saja di dalam hati, Bulan sangat ingin memberitaukan, kalau Pelaku dari Insiden tersebut adalah Leon.
Namun, ketika mengingat lagi, apa yang Leon perlihatkan di Hpnya saat itu, Bulan lansung menghilankan Niatnya tersebut.
Sebab jika tidak, Bukannya Leon yang mendapatkan masalah Jika Bulan memberitau soal ini pada Polisi. Malahan dia yang mendapatkan masalah.
Di tambah lagi, Keluarganya pun mungkin saja bisa terseret juga, jika memberitaukan Pelaku dari insiden ini.
Itulah kenapa, untuk menghindari hal itu, satu - satunya jalan yang ia punya saat ini adalah Mengikuti perintah Leon.
(Benar, meskipun ini sangat menyebalkan, tapi aku harus tetap sabar. Jika tidak Bisa - Bisa Rezvan, Haira akan...)
Sambil memikirkan apa yang akan terjadi dengan adek, adiknya. Bulan terus menghadapi Firdaus dengan tenang, sambil menatapnya dengan Serius.
Di sisi lain, Ketika Firdaus melihat tatapan Bulan yang seperti itu, ia lansung menyandarkan Punggunya di belakang Kursi. Sambil memikirkan sesuatu.
Setelah beberapa saat ia berpikir, perlahan ia menghela nafasnya, "haaa" setelah itu ia melihat ke arah Bulan lagi.
"yah sudahlah kalau kau memang tidak tau, aku tidak akan bertanya lagi."
Mendengar hal itu, membuat Bulan lansung merasa lega.....(Haaa, Syukurlah.)...Sambil melihat ke arah Firdaus.
"Baiklah, karena aku sudah memberitaukan semua yang ku tau, aku bisa pulang sekarang kan?"
Saat Bulan Bertanya, dengan santai Firdaus menjawab..
__ADS_1
"Yah, aku akan mengantarmu sampai di luar."
Sambil mengucapkan Itu, mereka berdua lansung berjalan keluar dari ruangan Itu.