BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
DOKTER NARA TERNYATA....


__ADS_3

Setelah Dokter Nara selesai memberitauku soal Bu Linda. Saat ini aku sedang berbaring di kasur.


Dimana terlihat Dokter Nara sedang duduk di sampingku dan wajahnya terlihat malu.


(Ta~Tadi itu apa? Kenapa aku membiarkan Bocah ini memelukku?)


Ucap Dokter Nara di dalam pikirannya.


Setelah itu ia melirik mataku dan melanjutkan lagi..


(Selain itu, apa - apaan Bocah ini, meskipun ia masih anak - anak tetapi tatapannya tadi....)


Ketika Dokter Nara mengingat lagi tatapanku saat itu.


Membuat Wajahnya lansung tersipu malu dan dengan cepat mengambil bantal yang ada di kasur untuk menutupi wajahnya yang merah.


Melihat tingkahnya yang seperti itu, membuat aku lansung tersenyum dan melihat ke arah atas,


Dimana aku mencoba ingat, apa yang Dokter Nara beritaukan tadi.


Dimana ia mengatakan. Bahwa Setiap kali Bu Linda datang kesini. Biasannya ia sering kali mengalami beberapa luka di bagian tubuhnya, mulai dari Punggung, Tangan, kaki hingga sampai wajahnya pun juga pernah.


Terlebih lagi, menurut Dokter Nara, Luka yang Bu Linda miliki itu, bukanlah Luka yang di dapat dari keseleo atau sesuatu yang lain. Melainkan luka itu seperti akibat dari pukulan seseorang.


Meskipun Dokter Nara tidak tau siapa yang memukul Bu Linda, bahkan pernah bertanya soal itu juga, Namun Bu Linda hanya menjawab...


"Ini cuma pertengkaran rumah tangga biasa, tidak usah pedulikan."


Setelah itu, Dokter Nara tidak pernah bertanya lagi. Sebab menurutnya, Bu Linda seperti tidak ingin membicarakan soal itu.


(Yaaa, meski aku tidak tau alasannya, tetapi jika ini persoalan rumah Tangga, itu berarti pihak ke tiga memang tidak punya hak untuk ikut campur, kecuali...)


Pada saat aku memikirkan itu, aku berahli ke arah Dokter Nara dan bertanya.


"Dok, apa hanya ini yang kau tau? Apa tidak ada lagi yang kau tau soal Bu Linda?"


"Y-yah, hanya ini yang aku tau."


Jawab Dokter Nara.


Setelah Mendengar itu aku lansung berkata "Begitu." dan kembali melihat ke atas. Dimana tatapanku terlihat sangat tenang, seolah - olah sedang memikirkan sesuatu.


Di sisi lain, Dokter Nara yang lihat tatapanku, entah kenapa membuat pipinya lansung memerah.


Namun sesaat ia sadar, ia lansung mengelangkan kepalanya dan mencoba memanggilku.


"A-anu, Bocah."


Mendengar aku di panggil Bocah membuat aku lansung menyipitkan mataku dengan tajam ke arahnya. Dimana membuat Dokter Nara lansung menjerit ketakutan.


"~Hiii, maafkan aku."


Melihat dirinya yang seperti itu, membuat aku lansung mendesah "haaa.." dan berkata..


"Sudahlah, yang lebih penting ada apa?"


Tanyaku


"A-Anu Leon, aku ingin tanya, kenapa kau ingin sekali tau, soal Bu Linda?"


"Kenapa? Bukankah sudah jelas karena ia guruku." jawabku dengan Tenang.


"Aku tau kalau ia Gurumu, tapi bukankah aneh jika kau ingin sekali tau tentang Dirinya? Lagi pula kau itu hanya seorang murid."


Mendengar itu aku lansung menyipitkan mataku sambil berkata..


"Memang kenapa kalau aku hanya seorang murid, apa aku tidak boleh tau soal dirinya?" tanyaku dengan serius.


"Bukan itu maksudku."


Jawab lansung Dokter Nara, setelah itu ia lanjutkan lagi..


"maksudku, meskipun kau tau soal Dirinya, tapi memang apa yang bisa kau lakukan? apa kau ingin membantunya?"


"Soal itu,...TENTU SAJA AKU AKAN MEMBANTUNYA."


Jawabku dengan Ekspresi serius. Melihat itu membuat mata Dokter Nara lansung melebar karena terkejut "Eh!"


Sebab, di lihat dari manapun, mana mungkin anak kecil bisa membantu masalah orang dewasa, malahan orang dewasalah yang biasanya membatu masalah anak kecil.


Sehingga Ia mencoba bertanya sekali lagi..


"Le-Leon, kau pasti bercandakan? Tidak mungkin anak kecil sepertimu bisa membantu dia?"


"BISA ATAU TIDAKNYA, ITU TIDAK DI TENTUKAN OLEHMU."


Ucapku sambil menatapnya dengan tajam.


"Selain itu...."


Sesaat aku berhenti, aku mengetuk kepalaku dengan jari telunjuk sambil bersikap Cool dan berkata..


"Bisa tidak kau ambilkan aku Obat, sepertinya kepalaku mulai terasa sakit."


Melihat tatapanku yang Cool membuat Dokter Nara lansung tersipu malu dan dengan gugup ia menjawab.


"Ba~Baik, akan ku ambilkan sekarang."

__ADS_1


Ucapnya sambil meninggalkan tempatku yang di tutupi oleh Tirai.


Saat aku melihat ia pergi mengambilkan ku obat, aku lansung mendesah "haaa.." dan membuang diriku di kasur.


Setelah itu aku bicara dengan PIX di dalam pikiranku.


(PIX, bagaimana menurutmu?)


[Apanya?]


(Maksudku, sikap Cool ku tadi, apa wanita itu akan jatuh cinta?)


[..........]


[Jujur aku tidak ingin mengakuinya, tapi Di lihat dari ekspresinya, sepertinya begitu.]


(Benarkan.)


Ucapku, setelah itu, aku terlihat senang dan berkata..


(Seperti yang di harapkan dariku, meskipun tubuhku sudah jadi Bocah, tapi aku masih bisa membuat Wanita dewasa jatuh cinta padaku.)


Ucapku dengan nada sombong. Namun...


[Yah anda benar. Tapi, itu tidak bisa di pungkiri, lagi pula Wanita yang kau goda itu Pecinta Shota.]


Ucap PIX sambil seringai jahat.


************


Note: Shota artinya punya ketertarikan anak laki - laki di bawah umur. Sedangkan Loli sebaliknya.


************


mendengar itu, sentak menbuat aku lansung membeku. Sebab jika itu memang benar itu berarti, sejak awal ia tidak pernah jatuh cinta padaku, melainkan....


(Tidak,...aku tidak akan percaya ini, tidak mungkin Wanita secantik dirinya, pecinta Shota.)


[Kalau master masih tidak percaya, kalau begitu tolong lihat ke lantai. Saharusnya di sana ada Buku Komik.]


(Buku komik?)


[Benar, saat anda menyeret Wanita itu ke kasur, aku lihat ia menjatuhkan komiknya di situ.]


Setelah mendengar itu, aku lansung melihat ke bawah lantai, dimana tepat di bawah kasurku, terlihat sebuah Buka komik yang PIX katakan.


Tanpa menunggu lama aku lansung turung dari kasur dan mengambil komik tersebut.


Setelah aku ambil, aku naik kembali ke kasur dan melihat sampul komik itu.


Dimana, di sampulnya terdapat 2 anak laki - laki yang sedang berpakaian renang. Terlebih lagi mereka berdua saling berpelukan satu sama lain.


(PI~PIX, ini hanya perkirahanku. Jangan bilang wanita ini bukan hanya pecinta Shota, tapi....)


[Oh, sepertinya Master sudah sadar, kalau begitu Tolong cepat baca.]


"SIAPA JUGA YANG MAU BACA SIALAN!"


Bentak aku lansung, sambil melempar komik itu di samping kasurku.


Mendengar teriakanku membuat Dokter Nara yang berada di balik tirai lansung bertanya.


"Leon, apa kamu baik - baik saja?"


"Eh, y-yah, aku baik - baik saja."


Jawabku sambil kembali berbaring di kasur. Setelah itu aku mendesah "haaa.." dan mencoba ingat saat pertama kali aku melihat Dokter Nara.


Dimana saat itu ia mempunyai sikap keren dan juga tenang terlebih lagi ia mengeluarkan aura seperti Wanita dewasa.


Tetapi setelah aku menyeratnya ke kasur dan memeluknya. Di situlah aku perhatikan kalau sikapnya mulai berubah.


di mana ia mulai terlihat malu - malu. Terlebih lagi ia sering kali melirik ku dan menjadi wanita penurut.


Jujur saat itu aku kira ia sedang jatuh Cinta padaku, karena di lihat dari manapun sikapnya benar - benar seperti wanita yang lagi jatuh Cinta, tapi....


(TIDAK KUSANGKAH DIA PECINTA SHOTA, SIALAN.)


Ucapku di pikirkan, dimana wajahku terlihat murung. PIX yang lihat itu lansung seringai jahat sambil berkata.


[Master, tidak perlu murung begitu, lagi pula bukankah anda senang karena sudah dapat wanita secantik dia.]


(CANTIK APANYA, IA HANYA WANITA ANEH.)


[Aneh? Master tolong pergi cermin sana, dan lihat dirimu sendiri?]


(APA KAU BILANG!)


Ketika aku mengatakan itu dan menatap tajam PIX, dari balik Tirai terlihat Dokter Nara masuk ke dalam dan melihat ke arah ku dengan malu.


"Ma-maaf, membuatmu menunggu."


"I-itu tidak apa - apa."


Jawabku dengan Gugup.


Setelah itu Dokter Nara mendekat ke arahku dan duduk di kasurku.

__ADS_1


Jujur setelah aku tau kalau ia pecinta shota aku merasa merinding berdekatan dengannya.


Sehingga aku mencoba menjauh sedikit darinya. Namun Dokter Nara yang lihat itu lansung bertanya..


"Leon, kenapa kamu menjauh, sini duduk di dekatku?"


"Ti~Tidak, aku di sini saja. Yang lebih penting bisa berikan obat ku sekarang, aku ingin cepat - cepat pergi ke kelasku."


Mendengar apa yang aku katakan membuat Dokter Nara lansung menatapku seperti seorang pemburu sambil menjilat bibirnya yang merah.


"Hmm Jadi kau sudah mau pergi ke kelasmu yah. Kalau begitu tolong buka bajumu sebentar.💗"


Mendengar hal itu sentak membuat aku lansung membeku dan wajahku terlihat suram.


"~~A~Anu,..a-apa maksudmu buka baju?"


Saat aku bertanya dengan ekspresi pucat, Dokter Nara melihatku dengan senyuman menggoda sambil menjawab..


"Seperti yang aku katakan. Untuk bisa menyembukan kepalamu, aku harus mengoleskan salep ini di badanmu, jadi-


-LEON TOLONG BUKA BAJUMU💖."


"Tidak, tidak, tidak,...apa yang kau katakan, aku hanya perlu obat itu, untuk menyembuhkan kepalaku."


"Leon, kamu masih anak kecil, makanya kamu belum tau, untuk bisa membuat obat ini berkerja, aku harus mengoleskan salep ini di badanmu. Jadi tolong lepas bajumu"


(LEPAS PALA KAU, MENTANG - MENTANG AKU BOCAH KAMU PIKIR BISA MENIPUKU.)


Ucapku dengan geram di dalam pikirkan. PIX yang lihat itu lansung menyeringai dan berkata..


[Master, buka saja bajumu, bukankah situasi ini yang dari dulu kamu inginkan?]


(DIAM SAJA KAU BRENGSEET!)


Saat aku memikirkan itu, tanpa aku sadari Dokter Nara mencoba melepas bajuku hingga membuat aku lansung kaget.


"Uwaaa, a~apa,...apa yang kau lakukan."


"Um? Bukankan sudah jelas aku akan membantumu membuka bajumu."


Ucapnya Dimana aku bisa lihat wajahnya sangat merah dan Nafasnya tidak teratur.


Merasakan hal buruk, aku lansung mencoba pergi dari tempat ini.


"Dok, sepertinya aku sudah lebih baik, aku akan kembali kelasku dulu."


Ucapku sambil mencoba turung dari kasur. Namun saat aku baru saja mau turung tiba - tiba Dokter Nara memeluk ku dari belakang dan membuatku kembali berbaring di kasur.


Dimana ia sedang duduk di atasku.


"Baiklah, kalau begitu aku lepas bajumu sekarang Leon."


"~~ti-tidak,....menjauh dariku!"


Ucapku dimana wajahku sangat pucat.


Namun, tanpa pedulikan Dokter Nara terus memcoba melepas bajuku dimana aku sedang menahannya sekuat tenaga.


"Leon, jauhkan tanganmu dari situ, aku tidak bisa lepas bajumu."


"~~ti-tidak mau, kau pasti akan memakanku!"


"Tenang saja, aku tidak memakanmu kok💗"


Ucapnya dimana aku bisa lihat matanya berbentuk love dan aku bisa juga rasakan nafasnya berada di depan wajahku.


"Tidaaaaaaak,...aku mohon Lepaskan aku!"


Ucapku sambil menahan terus bajuku. Namun tetap saja ia tidak berhenti, sehingga aku mencoba meminta bantuan PIX. Sayangnya...


(PIX, TOLONG LAKUKAN SESUATU!)


[Maaf Master, meskipun kau minta bantuanku aku tidak bisa melakukan apapun, soalnya aku ini cuma kaos tangan, jadi-


-BERSENANG - SENANGLAH MASTER.]


(MATI SAJA KAU.)


Ucapku dengan marah. Namun, sesaat itu juga bajuku berhasil di lepas oleh Dokter Nara. Hingga memperlihatkan badanku yang kurus namun berotot dan terbentuk dengan baik.


Dokter Nara yang melihat bentuk tubuhku, membuat ia tersipu malu dan mendesah dengan kuat.


"Haaa...haaa..haaa, Leon, tidak ku sangkah kau punya tubuh sebagus ini💖."


"~~ti-tidak jangan sentuh aku."


Ucapku sambil mencoba memberontak, namun tetap saja aku tidak bisa lepas dari genggamannya.


(Sial, kenapa genggamannya kuat sekali?)


Ucapku di pikiran, hingga membuat aku makin merinding.


Dokter Nara yang lihat itu lansung menatapku dengan senyuman menggoda sambil berkata...


"Fufufu, Leon kau benar - benar sangat imut, kalau begitu ayo kita mulai💖."


Sesaat ia menyentuh tubuhku, saat itu juga aku lansung menggigil dan teriak dengan sangat keras..

__ADS_1


"TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!"


__ADS_2