
Di saat aku berjalan mendekati mereka, Bu Nara yang duduk di samping Bu Linda memperhatikan ku dan lansung memanggilku.
"Oh Leon akhirnya kamu datang juga, cepat ke sini."
Aku buru - buru mendekati mereka. Dan setelah aku sampai di tempat mereka, Bu Nara lansung berdiri dari Sofa dan mencubit Pipiku, yang dimana membuat aku sedikit kesakitan.
"~Aghhh!"
"Kamu ini benar - benar deh, kamu ini dari mana aja sih?" Tanya Bu Nara.
"Maaf aku habis lihat - lihat ke sana."
Jawabku sambil menunjuk ke tempat dimana suami Bu Linda yang udah meningsou berada.
"Begitu, jadi kamu habis ke sana ya."
Guman Bu Nara sambil melepaskan pipiku lalu ia kembali duduk di samping Bu Linda.
Aku melihat Bu Linda, dimana matanya agak merah. Kemungkinan besar ia habis menangis.
"Bu Linda, aku turut berduka cita atas kematian suamimu."
Meskipun aku berkata begitu tetapi aku tidak menunjukkan emosiku sama sekali, seperti merasa kasihan padanya atau merasa sedih. Melainkan aku tetap bersikap tenang seolah - olah tidak terlalu mempedulikan hal itu sama sekali.
Melihat hal itu, Bu Linda merasa sedikit curiga padaku.
"Makasih Leon, omong - omong Leon kemarin kamu......."
"Apa?"
"........"
Bu Linda lansung berhenti bicara dan buru - buru menundukkan kepalanya ke bawah sambil memikirkan sesuatu. Lalu tak lama setelah ia berpikir ia menghela nafasnya "~Haaa..!" dan kembali melihatku.
"Tidak, bukan apa - apa, tolong lupakan saja apa yang barusan ku katakan."
Meskipun Bu Linda berkata begitu tetapi aku tau dengan jelas apa yang ingin ia katakan.
Kemungkinan besar ia ingin membicarakan soal kematian suaminya yang kemungkinan ada hubungannya denganku.
Dengan kata lain ia sedang mencurigaiku.
(Sudah kuduga, Lebih baik aku tidak datang ke sini.)
Pikirku. Lalu kemudian aku pergi duduk di sofa yang satunya, dimana semua Gadis duduk di sana. Tanpa kecuali Sara. Lalu aku duduk tepat di sampingnya(Sara).
"Haaa akhirnya aku bisa istirahat juga."
Ucapku sambil menyandarkan Punggungku ke belakang Sofa. Sara yang melihat itu lansung melirikku dan memperhatikan Pipiku yang merah akibat cubitan Bu Nara.
"Leon, Pipimu sangat merah, sepertinya bukan hanya Bu Linda saja yang perhatian padamu tapi Bu Nara juga ya."
"Hah jangan bercanda, Pipiku di cubit begini kau bilang ia perhatian padaku."
Aku mengeluh, namun Sara malah tersenyum.
Sementara itu, tepat di sebelah Sara terlihat para Gadis itu bersemangat sekali, dimana mereka semua merasa Gemas melihat ekspresi Anak Bu Linda yang lagi tidur.
"Astaga, apa itu anak Bu Linda? Ini pertama kali aku melihatnya."
"Sama aku juga."
"Lihat wajahnya, ia imut sekali."
"Um, aku setuju."
Di saat para Gadis itu memperhatikan Kana. Kana perlahan membuka matanya dan ia pun bangun.
"~Unghh di sini sangat panas, Ibu kapan kita akan Pulang?"
__ADS_1
"Tunggulah, tidak lama lagi kita akan pulang kok."
Ucap Bu Linda sambil mengelus Kepala Kana. Dimana Kana sepertinya ngambek, ia kayak tidak suka berada di sini.
Walau ia tau kalau hari ini Ayahnya meninggal tetapi ia tidak kelihatan sedih sama sekali, malahan ia kelihatan bosan berada di sini dan ingin cepat - cepat pulang.
"Haaa aku ingin cepat - cepat pulang."
Guman Kana, dimana Bu Linda yang dengar itu merasa Rumit. Namun di saat Kana melihatku, ekspresinya yang tadinya merasa bosan lansung berubah menjadi terkejut.
"E-Eeeeeh Ka~Kak Leon, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Apa? Tentu saja berkunjung."
Balasku.
Kana kelihatan bersemangat sekali dan Buru - buru berlari ke arahku dan memeluk ku. Dimana membuat semua orang merasa kaget.
Bahkan Sara sampai cemberut melihat Kana memelukku. Namun meski begitu Kana tidak mempedulikannya sama sekali dan ia tetap memelukku.
(Aku tau ia anaknya Bu Linda tapi bisa - bisanya ia peluk Leon di tempat seperti ini, apa ia tidak punya rasa malu?)
Pikir Sara. Sementara itu Kana yang kelihatan senang sekali kembali melihatku dan bertanya....
"Anu Kak Leon, kapan kamu datang ke sini?"
"Mungkin sekitar beberapa menit yang lalu aku sampai di sini."
"Hmm....tunggu dulu, itu berarti Kak Leon memperhatikan aku sepanjang waktu saat aku tidur?"
Aku tidak mencoba menyangkalnya dan mengangguk.
"Um. Omong - omong aku juga melihat air liurmu keluar saat kamu tidur loh."
"KAMU TIDAK USAH MENGATAKAN ITU."
"~Aduh!!"
Tentu saja itu hanya pura - pura saja. Namun entah kenapa Sara malah menganggap aku sakit beneran dan ia khawatir padaku.
"Leon, apa kamu tidak apa - apa?"
"Eh y-yah aku tidak apa - apa, ini tidak terlalu sakit kok, tidak usah di pikirkan."
Meskipun aku berkata begitu tetapi Sara masih tetap khawatir padaku. Melihat hal itu Kana sedikit penasaran dan bertanya.
"Anu kamu ini sepertinya sangat khawatir dengan Kak Leon, apa mungkin kamu ini pacaranya?"
Sontak saja itu membuat Sara lansung tersipun malu. Namun aku dengan cepat membantah hal itu dan berkata.
"Dasar bodoh, dia ini bukan pacarku, dia ini hanya teman satu kelasku."
"Begitu, itu berarti dia ini juga murid Ibuku?"
Tanya Kana, namun sebelum aku menjawabnya Sara yang lansung jawab...
"Itu benar. Bukan hanya aku saja, tapi ke empat gadis di sebelahku juga Murid ibumu."
Para Gadis itu dengan ceria melambaikan tangannya ke Kana, yang dimana membuat Kana merasa sangat senang.
Namun sesaat kemudian tiba - tiba Kana ingat ada satu hal yang lupa ia lakukan, sehingga ia buru - buru pergi ke depan kami semua dan mulai memperkenalkan dirinya.
"Maaf aku lupa memperkenalkan diriku. Perkenalkan namaku Kana, aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian. Dan juga makasih sudah menjaga ibuku di sekolah."
Para Gadis itu terlihat sangat senang, namun aku mencoba meledek mereka dan berkata.
"Kana Kau salah, mereka ini tidak pernah menjaga Ibumu di sekolah, mereka ini hanya anak - anak pembuat onar yang sering menyusahkan ibumu di sekolah."
Mendengar hal itu, para Gadis itu lansung memberikan aku tatapan tajam, tanpa kecuali Sara.
__ADS_1
"Leon, sebelum kamu bilang begitu sebaiknya kamu cermin dulu."
Ucap Sara. Lalu gadis di sebelahnya mencoba ikutan juga.
"Benar, di bandingkan kita semua, kamu lah yang paling sering menyusahkan Bu Linda."
"Itu benar."
Seolah tidak bisa melawan tatapan tajam mereka. aku buru - buru memalingkan pandanganku ke arah lain, yang dimana membuat Kana lansung menertawaiku.
"Pfffth ternyata Kak Leon takut juga ya dengan para Gadis."
"Diamlah."
Balasku lansung.
Sementara itu, di sisi lain, melihat Kana yang kembali ceria, membuat Bu Linda merasa sangat senang dan tersenyum.
"Syukurlah, seperti ia sudah kembali ceria."
"Um."
Balas Bu Nara dengan angukkan.
Lalu setelah Kana memperkenalkan dirinya ia lansung pergi duduk di samping kananku sedangkan Sara duduk di samping kiriku.
"Kak Leon."
"Um!"
"Aku senang sekali kamu datang ke sini."
"Oi, kamu taukan, aku datang ke sini bukan untuk bermain denganmu."
"Tentu saja aku tau, Namun tetap saja aku senang, karena adanya kamu di sini aku tidak merasa bosan lagi."
"Jadi kamu ingin bilang kalau aku hanya alat saja untuk menghilangkan kebosananmu?"
"Hmm.....Mungkin😋"
"Kamu ini, Dasar Gadis Nakal."
Aku lansung mencubit pipinya, dimana membuat ekspresi Kana kelihatan sangat imut.
"~Kak Leon Hentikan, aku tau aku salah. Maafkan aku."
"Baguslah kalau kamu sudah mengakui kesalahanmu."
Ucapku sambil melepaskan pipinya. Lalu sesaat kemudiam tiba - tiba aku merasakan ada beberapa tatapan yang tidak enak, dimana tatapan itu tidak mengarah padaku melainkan mengarah ke Kana.
Aku tidak tinggal diam, aku lansung mencoba mencari sumber tatapan itu. Dan tak butuh waktu lama akhirnya aku menemukannya.
Di sana aku melihat beberapa Anggota Keluarga dari Suami Bu Linda sedang menatap Sinis Kana. Di antara mereka ada juga yang menatap tajam Bu Linda.
"Lihat anak itu, bisa - bisanya ia bersenang senang di situasi seperti ini."
"Benar, padahal Ayahnya meninggal tapi ia tidak kelihatan sedih sama sekali."
"Anak dan ibunya sama saja. Mungkin Lebih baik kalau mereka tidak ada di sini."
"Woy kecilkan suaramu, nanti mereka bisa dengar tau."
"Biarkan saja, malahan itu lebih bagus."
Sementara mereka semua sedang melontarkan kata - kata kasar pada Bu Linda dan juga anaknya. Aku mencoba melihat Bu Linda, dimana ia biasa - biasa saja. Begitupun dengan Bu Nara.
(Sepertinya mereka berdua tidak dengar.)
Walau begitu tetap saja aku tidak senang mendengar perkataan mereka(Keluarga Suami Bu Linda), dan tanpa mereka sadari, aku secara diam - diam menatap mereka dengan tajam.
__ADS_1