BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
MELAWAN RED GARDEN


__ADS_3

Lebih dari 20 Anggota RED GARDEN Masuk ke dalam gudang dimana masing - masing di antara mereka membawa Senjata, mulai dari Belati, Pistol, AK47 hingga Senjata Rifels.


Lalu setelah mereka semua masuk ke dalam, mereka melihat ada 4 orang di dalam sana. 3 pria dan 1 Wanita.


"Wanita itu...apa dia target kita?"


"Sepertinya begitu."


Balas temannya. Lalu Kemudian salah satu di antara mereka tiba - tiba tertawa terbahak - bahak, Seolah ia sudah menemukan harta karun yang mereka cari.


"Hahaha Kita akan kaya, sebentar lagi kita akan kaya. Kalau begitu tunggu apa lagi ayo kita serang dia!"


Di saat Orang itu mencoba maju, temannya yang berada di sampingnya lansung menghentikan dia.


"Woy Tunggu dulu sebentar apa kau tidak lihat disana masih ada tiga Orang. kita harus cari tau dulu apa mereka sekutu wanita itu(Selena) atau tidak?"


"Dasar pengecut, buat apa kita cari tau soal itu. Jika ia memang sekutunya maka kita hanya perlu membunuhnya saja, buat apa takut, lagi pula kita lebih banyak di bandingkan mereka."


"Kau benar."


"Yah."


"Aku setuju."


Balas Beberapa anggotanya yang lain.


Lalu di saat mereka mencoba mendekati Selena, Bagas lansung berdiri, kemudian ia berjalan dan berhenti di tengah - tengah antara mereka berdua(Selena dan RED GARDEN).


Melihat hal itu, Pemimpin RED GARDEN terlihat kesal dan lansung menodongkan senjatanya ke arah bagas.


"WOY BAJINGAN, APA YANG KAU LAKUKAN DI SITU, SANA PERGILAH AKU TIDAK PUNYA URUSAN DENGANMU."


"Kau mungkin tidak tapi aku punya. Apa kalian pikir aku tidak tau kalian ini siapa? Kalian ini RED GARDEN Kan, Orang barbar yang sering menyandra Warga kami.-


-Karena itulah sebagai tentara negara ini sudah kewajibanku untuk berurusan dengan kalian."


(Yaa meski aku mantan tentara sih.)


Pikir Bagas. Lalu kemudian ia lanjutkan.


"Selain itu,...KALIAN JUGA YANG TELAH MELUKAI ANAKKU KAN?"


"Eh anakmu? Apa yang kau bicarakan?"


"Tidak usah pura - pura bodoh, kau pikir aku tidak tau apa yang kalian lakukan pada anakku. anakku sudah memberitaukan semuanya. Ia bilang ia di Lempar keluar dari pesawat oleh kalian."


Rangga yang dengar itu lansung melebarkan matanya karena terkejut..


"Eh Ayah apa itu benar?"


"Yah."


Jawab Bagas dengan Tegas. Lalu kemudian ia mencoba menjelaskannya ke Rangga dengan memakai Bahasa Daerah. supaya RED GARDEN dan juga Brid serta Selena tidak tau apa isi pembicaraan mereka.


"Rangga kamu tau, adekmu,....Leon bilang saat ia pulang sekolah ia melihat Orang - orang ini menangkap Wanita yang di sana(Selena), saat itu Leon mencoba mengikuti mereka dan menolongnya, tapi sayangnya Leon malah ketahuan dan ia lansung di bius yang dimana membuat ia lansung kehilangan kesadaran.-


-Lalu di saat Leon sadar, ia melihat bahwa ia sudah berada di dalam Pesawat, terlebih lagi ia mengetaui bahwa Wanita yang ingin ia tolong sepertinya berhasil kabur dari orang - orang ini sehingga Leon yang saat itu di anggap sudah tidak ada gunanya lagi lansung di lempar keluar dari pesawat dengan Ketinggian beberapa ratus meter di atas kota."


Baik RED GARDEN, Brid maupun Selena yang Dengar penjelasan Bagas terlihat kebingungan, sebab mereka tidak mengerti satupun kata yang di Ucapkan Bagas. hanya Rangga seorang yang tau.


Namun meski begitu, Rangga merasa ada yang aneh setelah mendengar cerita barusan, sebab dari yang ia dengar, Leon tidak jatuh di atas kota melainkan ia jatuh di atas laut,


"Ayah kau bilang Leon di lempar tepat Di atas Kota? Tapi bukankah orang - orang itu(Prajurit Bajradaka) bilang, Leon jatuh di laut?"


"Benar Adekmu jatuh di laut. Pertanyaannya Bagaimana Adekmu bisa jatuh ke laut padahal ia di buang di atas kota? Jawabannya gampang itu karena adekmu di pindahkan."


"Di pindahkan? Tunggu Apa mungkin..."


"Sepertinya kau sudah mulai menyadarinya.-


-Benar, Wanita itu(Selena) lah yang memindahkan Adekmu ke atas Laut. Kemungkinan besar dia juga yang mengirimkan Sinyal ke pasukan Bajradaka untuk menolong adekmu. Karena tidak mungkin adekmu bisa mengirimkan sinyal Minta pertolongan ke mereka, apa lagi sampai menggunakan Kode Mourse, itu tidak mungkin."


"Setelah di pikir - pikir itu benar juga."


Guman Rangga dimana ia mulai setuju dengan pendapat Ayahnya. Lalu kemudian Rangga melihat ayahnya dan bertanya..


"Tapi Ayah, meskipun apa yang kamu katakan itu benar, kalau begitu kenapa mereka(Prajurit Bajradaka) Tidak melihat Selena waktu ia jatuh dan mengirimkan sinyal? Bukankah itu aneh."


"Kalau soal itu, ada dua kemungkinan yang aku pikirkan, yang pertama ia menggunakan kekuatan Teleportasinya untuk pindah Tempat sebelum ia berhasil di Lihat oleh Prajurit Bajradaka.-


-Sedangkan yang kedua, Itu karena ia memakai pakaian serba hitam waktu itu, di tambah lagi saat itu sedang malam, sehingga tak bisa di pungkiri jika para Prajurit itu tak bisa melihatnya dan hanya melihat Leon saja."


"Kalau di pikir, Itu benar juga."


Guman Rangga yang sangat setujuh dengan pendapat Bagas. Namun Tak berhenti sampai di situ Bagas menambahkan..


"Selain itu, kau perhatikan saja kondisi dia(Selena) apa kau pikir Leon bisa membuat ia terluka parah seperti itu? Tentu saja tidak.-

__ADS_1


-Bagaimanapun juga dia itu adalah Buronan internasional yang kekuatannya sudah di akui oleh dunia. Jadi tak mungkin Leon bisa melukai dia Separah itu."


"Apa yang ayah katakan memang benar. Kalau begitu satu - satunya orang yang bisa melukai Selena separah itu...."


"BENAR HANYA MEREKA SAJA."


Sambung Lansung Bagas sambil mengarahkan pandangannya ke arah Anggota RED GARDEN, dimana tatapannya terlihat tajam.


Tentu saja semua Yang Bagas katakan itu hanya kebohongan saja atau Skema yang ia buat bersama dengan Leon, Agar bisa membuat Rangga percaya bahwa Yang Menyerang Leon itu bukanlah Selena melainkan Orang - orang ini.


Dan seperti apa yang ia pikirkan, Rangga benar - benar percaya. Ia lansung melihat ke arah seluruh anggota RED GARDEN, dimana tatapannya terlihat sangat tenang namun tajam.


(Anggota RED GARDEN Yah. Jujur sebetulmya sebagian dari diriku masih meragukan apa yang Ayah katakan itu benar atau tidak. Namun di lihat dari semua peristiwa yang di alami Leon Serta informasi yang aku dapatkan dari Pak Bajradaka. Kemungkinan besar apa yang ayah katakan itu benar.-


-Selain itu, Lihat saja kaki dia, tidak mungkin Leon bisa melukai kaki Selena separah itu.)


Pikir Rangga sambil Sorot matanya melirik ke arah kaki Selena yang terlihat sedang bengkat dan di penuhi oleh luka memar serta darah yang mengalir keluar di balik perbannya, di karenakan ia terlalu banyak gerak.


Melihatnya saja sudah jelas bukan Leon yang melakukan itu padanya.


Sementara itu di sisi lain, ketika Brid memperhatikan pembicaraan mereka(Bagas dan Rangga) sudah selesai, ia lansung memanggil Bagas dan mencoba bertanya.


"Bagas, apa yang kalian bicarakan Tadi?"


"Hmm, itu bukan sesuatu yang perlu kau tau. Yang jelas aku bisa pastikan kalau Dia(Rangga) sudah tidak berniat lagi menyerang kalian."


"Eh apa itu benar?"


"Yah."


Jawab Bagas secara singkat, lalu kemudian ia melihat ke arah belakang dari balik Pundak, dimana ia menatap Selena.


"Kau..namamu Selena kan? Jujur saja Sama seperti dia(Rangga) aku ingin sekali membunuhmu, tapi sayangnya anakku(Leon) meminta ku untuk menyelamatkan mu, jika bukan karena dia, aku pasti sudah membunuhmu sekarang.-


-Karena itulah, setelah semua ini selesai aku ingin kau berterima kasih padanya."


"U-um aku mengerti."


Jawab Selena sambil mengangguk, lalu setelah itu Bagas kembali melihat Brid dan bertanya..


"Omong - omong apa kau masih bisa bergerak."


"Eh yah aku masih bisa. Meski salah satu kakiku sedang terluka tapi tidak ada masalah."


"Bagus, kalau begitu Bawa dia(Selena) ke Ruangan sana dan berlindunglah di situ. Aku ingin mengurus mereka sebentar."


Tanpa banyak tanya, Brid lansung menggendong Selena di belakang Punggungnya, lalu ia mencoba berjalan Pergi menuju ke Ruangan Yang Bagas tunjuk tadi. Dimana Ruangan itu tidak lain adalah Ruangan tempat Selena Tinggali.


"DASAR SIALAN, KAU SANGAT PENGGANGU, MINGGIR SANA ATAU KAMI AKAN MEMBUNUHMU."


"Ooh coba saja kalau kalian memang bisa."


Merasa kesal dengan perkataan Bagas, salah satu di antara mereka lansung menembakkan Senjatanya ke arah Bagas..


DORR!!


Namun Bagas dengan cepat berjongkok untuk menghindari tembakan itu. Lalu ia meraba - raba tanah di sekitarnya dan mengambil beberapa Batu kecil.


Setelah itu ia berdiri dan lansung berlari menuju ke arah RED GARDEN dimana seluruh Anggota RED GARDEN sontak kaget sekaligus terkejut. Dan dua di antara mereka buru - buru mencoba menembakkan Senjata Pistolnya ke arah Bagas.


Namun, Bagas dengan Cepat melempar 4 batu kecil yang ada di tangannya, dimana Keempat batu itu lansung mengenai kedua mata mereka dan membuat mereka tidak bisa melihat.


"~Aghhhh..~mataku,...mataku!!"


"~Ughh..Sialan aku tidak bisa melihat!"


Setelah Bagas sampai di dekat mereka, Bagas Lansung mencengkram wajah mereka masing - masing, kemudian ia pegang dengan erat dan dengan kuat ia membenturkan kepala Mereka ke tanah, Dimana membuat Tanah itu lansung retak Dan Wajah mereka di penuhi Oleh Darah.


Tak berhenti sampai di situ, Bagas lansung mengambil dua Pistol yang di miliki kedua orang yang barusan ia tumbangkan. Lalu ia mulai menembak Beberapa anggota RED GARDEN.


Setidaknya Ada sekitar 13 orang yang kena, Dan 9 di antara mereka meninggal di karenakan tembakan Bagas mengenai kepala mereka.


"~~Woy kau pasti bercandakan."


"~~Apa - apaan ini!"


"Sial kita tidak boleh diam saja...SEMUANYA CEPAT BERPENCAR DAN KELILINGI DIA. SEHARUSNYA PELURU IA TINGGAL SEDIKIT LAGI."


Seluruh Anggota RED GARDEN lansung mendengarkan perintah dari pemimpinnya, dimana mereka semua mulai berpencar dan mengelilingi Bagas.


Tetapi Bagas tetap terlihat tenang, Ia terus mengawasi setiap gerak gerik mereka.


Lalu ketika salah satu di antara mereka mulai mencoba menembakkan Senjatanya, tiba - tiba Sebuah Belati meluncur di belakangnya, dimana Belati itu lansung menusuk lehernya hingga menembus ke depan.


~~ARGHHHHHHHH...


"~~argpa..~yargh..~tergradi(Apa yang terjadi.)"

__ADS_1


Seluruh Anggota RED GARDEN kaget dan Shock melihat sebuah belati yang tertancap di Leher temannya, lalu mereka semua buru - buru melihat ke arah Belakang, dimana Di situ terlihat Rangga sedang berjalan mendekati mereka, sambil membawa salah Satu belatinya, dimana Belati itu tidak lain adalah Senjata S Gearnya.


"Kalian semua, berani sekali kalian keroyok Ayahku, apa kalian lupa aku masih ada di sini Sialan."


"KA~KAU..DASAR BAJINGAN, MATILAH!"


Salah satu Anggota RED GARDEN mencoba menembakkan Senjata Riflesnya ke arah Rangga, namun dalam sekejap Rangga lansung Hilang dari tempatnya dan muncul tepat di belakang orang itu.


Dimana tanpa ampun ia lansung mengiris leher orang itu, hingga Leher orang itu terus mengeluarkan darah dan bertebaran dimana - mana.


Bahkan darahnya sampai mengenai Wajah Rangga.


Namun tanpa pedulikan itu Rangga terus menahan orang itu. hingga orang itu meninggal dan Rangga pun melepaskannya.


"~Fuuu kira - kira sudah berapa tahun yah aku tidak membunuh orang."


Guman Rangga, lalu kemudian ia pergi ke tempat Orang yang pertama kali ia Bunuh, dimana ia lansung mencabut satu belatinya lagi yang tertancap di Leher orang itu.


"Astaga, darah dia Kotor sekali."


Setelah Rangga mengatakan itu ia pergi menghampiri Ayahnya dan bertanya..


"Ayah apa kau tidak apa - apa."


"Yah, aku tidak apa - apa. Lagi pula Orang - orang ini juga tidak terlalu kuat untuk bisa melukaiku."


"Itu benar juga."


Balas Rangga. Lalu setelah itu Bagas melirik ke arah dua anggota RED GARDEN yang barusan Rangga Bunuh, dimana tatapanmya terlihat tajam.


"Omong - omong Rangga, Apa kau memang perlu membunuh mereka berdua? Bukankah lebih baik jika kau tangkap saja mereka dan menggali informasi Soal Kelompok mereka."


"Tidak, itu tidak perlu, lagi pula dari yang aku lihat sepertinya Hampir Seluruh Anggota RED GARDEN berada di sini, jadi jika kita membantai mereka semua maka Kelompok mereka pasti akan musnah juga."


"Aku mengerti apa yang kau katakan, tapi sebagai tentara sudah kewajibanmu untuk Menangkap mereka terlebih dahulu sebelum menghakiminya."


Di saat Rangga dengar itu, ia lansung melirik Ayahnya dengan tajam dan berkata...


"Ayah, aku sudah mengatakan ini sebelumnya, memang benar aku ini tentara tapi jangan lupa Aku ini dulunya adalah Murid dari orang yang paling berbahaya serta di takuti di seluruh dunia.-


-Dia pernah bilang begini padaku jika kau ingin melindungi keluargamu maka Jangan beri ampun pada musuhmu dan bunuh saja mereka semua. karena jika kau sampai membiarkan mereka hidup maka suatu hari mereka pasti akan datang padamu untuk balas Dendam, dan jika itu terjadi maka besar kemungkinan keluargamu akan dalam bahaya juga. Karena itulah kau harus bunuh mereka semua hingga tak tersisa."


"Ra-Rangga."


Bisik Bagas, namun Rangga tak mendengarkannya dan lansung melanjutkan lagi...


"Jujur saja Ayah, Sampai saat ini pun aku masih mengikuti ajaran yang Guruku katakan. Karena aku tidak ingin lagi melihat keluargaku terutama Leon dalam bahaya, seperti kejadian waktu itu."


Ucap Rangga sambil mengingat kejadian waktu terjadi penyerangan di sebuah pesta di Hotel mewah. Dimana Saat itu Leon yang masih berumur 4 mengalami pendarahan yang hebat di bagian kepala di karenakan sebuah benturan akibat ledakan.


Bahkan sampai saat ini pun Rangga masih ingat jelas Saat itu ia tidak bisa melakukan apapun. Ia juga tidak tau apa yang harus ia lakukan, ia hanya bisa menangis di dalam Ruangan sambil Memeluk erat Adeknya yang berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.


Sampai akhirnya ia pun di tolong oleh Gurunya dan Leon berhasil selamat.


Jika bukan karena Gurunya yang Selamatkan mereka waktu itu, Rangga yakin Leon pasti sudah meninggal.


Karena itulah demi melindungi Keluargannya Rangga tidak akan segang membunuh orang meski ia harus membantai mereka sekalipun.


Setelah mengingat kejadian Itu Rangga kembali melihat ke arah Seluruh Anggota RED GARDEN yang mengelilinginya, dimana Tatapannya di penuhi oleh aura Niat membunuh.


Sementara itu Bagas, yang tadinya mencoba menghentikan Rangga lansung terdiam, Sebab ia tau betul dan mengerti apa yang di rasakan Rangga sekarang.


Karena itulah ia tidak bisa menghentikannya.


Selain itu, meskipun orang - orang ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan luka yang di alami Leon. tetapi tetap saja mereka adalah ******* yang sering menyandra serta Membunuh warga negara ini, jadi mau tidak mau Bagas pun pasti punya keinginan juga untuk membunuh mereka.


"Rangga."


"Um?"


"Jika kau ingin bunuh mereka maka lakukanlah, aku akan membantumu."


"Eh!"


"Ada apa?"


"Tidak, bukan apa - apa."


Balas Rangga yang terkejut, namun sesaat kemudian sebuah Senyuman Terpancar di bibirnya.


Lalu setelah itu mereka berdua lansung Saling membelakangi satu sama lain, dimana Bagas memegang dua Pistol sedangkan Rangga memegang kedua belatinya.


"BAIKLAH, KALAU BEGITU MARI KITA MULAI MEMBASMI MEREKA SEMUA."


"SIAP AYAH."


"OH IYA, INGAT JANGAN SAMPAI TERLUKA, NANTI IBUMU SEDIH."

__ADS_1


"AKU MENGERTI KOK."


Balas Rangga dengan seringai. Lalu setelah itu Pertempuran mereka pun dimulai.


__ADS_2