
Dimalam harinya. Pada saat semua orang sedang makan di ruang makan. Tiba - tiba aku mendapatkan telepon dari seseorang.
Aku lansung berhenti makan dan melihat hpku dimana ternyata yang menelponku adalah pengelolah Pasar Gelap. Yang berarti ia tidak lain adalah Genus.
"Maaf semuanya, aku keluar dulu sebentar, ada orang yang menelponku."
"Siapa?" tanya Ibu.
"Temanku."
Setelah aku mengatakan itu aku lansung berdiri dari tempat duduk ku dan berjalan keluar dari ruangan. Dimana aku pergi ke halaman belakang rumah.
Aku perhatikan sekitar dan tidak merasakan adanya tanda - tanda keadiran seseorang. Aku pun mengangkat telepon tersebut.
"Genus, ada apa?"
Meskipun aku tau tujuan Genus menelponku itu apa, tapi aku tetap bertanya padanya.
Dan tak butuh waktu lama terdengar suara Genus dari Hpku.
{Ooh Nak akhirnya kamu angkat juga. Dengar aku baru saja mendapatkan balasan dari wanita itu. Sepertinya ia tidak masalah membawamu ke sana(Negara CN) juga.}
"Oh benarkah? Jadi jam berapa aku harus pergi ke tempatmu?"
{Hah kau tidak perlu datang ke tempatku. Kau tunggu saja kami di depan rumahmu pas jam 12 malam, nanti akan ada mobil yang datang menjemputmu.}
"Hmm begitu."
{Oh dan satu hal lagi, karena kau tidak jadi menggunakan jasa kami jadi aku sudah mengembalikan pembayaran awal yang kau kirimkan padaku kemarin. Kau bisa mengeceknya nanti.}
"Um, aku mengerti."
Balasku sambil mengangguk.
Lalu karena aku rasa sudah tidak ada lagi yang ingin di bicarakan jadi aku mencoba untuk mengakhiri panggilan kami.
"Hanya itu yang ingin kau bicarakan kan? Kalau begitu aku tutup dulu.-
-Lagi pula aku harus cepat kembali ke dalam dan menghabiskan makananku yang ku tinggalkan."
{Be-Begitu, ya udah kalau begitu kita akhiri panggilan kita sampai di sini saja. Nanti Kita akan bicara lagi.}
Usai Genus mengatakan itu ia lansung menutup panggilannya.
Sementara itu, aku kembali ke ruang makan dan lansung menghabiskan makananku.
_____________________________________
_________________________________
Setelah aku selesai makan, aku pergi ke ruang tamu dan duduk di sana. Dimana aku ngobrol bersama dengan keluargaku.
Kadang aku nonton bersama mereka. Dan kadang juga aku mengganggu Kak Siska dan menjahilinya.
__ADS_1
Tentu saja Kak Siska marah dan beberapa kali memukulku. Meski begitu aku tak berhenti dan terus mengganggunya. Karena aku rasa seru saja mempermainkannya.
Sampai akhirnya Kak Siska tidak tahan lagi dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
(Hah kelihatannya ia sangat marah.)
[Itu tentu sajalah, lagi pula mana ada Kakak yang tidak marah saat adeknya memegang dadanya.]
(Woy itu tadi tidak di sengaja, aku tadi terpeleset dan secara kebetulan jatuh tepat di depannya.)
[Apapun alasanya, kenyataan bahwa anda telah memegang dadanya tidaklah berubah.]
(~ARGHHH DIAMLAH SIALAAAN!!)
Aku sangat kesal dan lansung membanting kaos tanganku ke lantai.
Lalu pada pukul 22 : 45, aku kembali ke kamarku dan mulai mempersiapkan semuanya yang ingin ku bawa bersamaku. Mulai dari pakaian pengganti, Kristal Monster yang di berikan Brid padaku beberapa hari yang lalu, hingga Senjata seperti Pistol dan Belati, untuk jaga - jaga jika suatu saat ada orang yang mencoba menyerangku.
Setelah aku mempersiapkan semuanya, aku lansung masukkannya ke dalam Tasku lalu aku pergi baring - baring di kasur dan bermain Game di Hpku sambil menunggu waktu yang sudah di tentukan oleh Genus untuk bertemu denganku.
_____________________________________
________________________________
Setelah beberapa saat aku bermain game, Tak lama kemudian Aku melihat jam di hpku sudah menunjukkan pukul 23 : 42, yang berarti sebentar lagi mereka akan sampai di depan rumahku.
"Sudah waktunya kita pergi."
Aku turung dari kasur dan mengambil tasku, kemudian aku tinggalkan sebuah surat di atas laci. Setelah itu aku keluar dari kamar dan turung ke lantai bawah, dimana aku melihat semua lampu sudah di matikan.
Aku pikir begitu, tetapi ketika aku baru saja mau keluar dari rumah, tiba - tiba dari belakang ada orang yang menghentikan ku.
"Leon, kau mau pergi kemana malam - malam begini?"
Sontak saja hal itu membuat aku kaget dan lansung berbalik ke belakang, dimana aku melihat Ayah di sana.
"A-Ayah!"
Ayah berjalan mendekatiku kemudian ia berhenti tepat di depanku.
"Jadi, kamu mau pergi kemana malam - malam begini? Apa kau mau kabur dari rumah?"
"Hah tentu saja tidaklah, aku hanya mau pergi menemui seseorang."
"Siapa?"
"Itu......"
Aku tidak bisa memberitaunya, kalau aku ingin pergi menemui Boktis karena aku ingin mencegah dunia ini dalam kekacauan yang di sebabkan oleh Carla.
Oleh karena itulah aku memilih untuk diam saja dan tidak menjawab apa - apa.
"......"
__ADS_1
Di sisi lain ayah seolah sudah tau hal itu dan tidak melanjutkan lagi pertanyaannya.
"Haaa sudahlah, jika kau tidak mau memberitauku tidak usah. Lagi pula aku yakin kau pasti punya alasan tersendiri kenapa tidak ingin memberitauku."
"....Makasih ayah."
Ayah membalas perkataanku dengan senyuman, lalu setelah itu ia memperhatikan Tas yang ku gendong di belakang punggungku.
"Oh iya Aku lihat sepertinya kau tidak banyak membawa barang, berapa lama kamu akan pergi?"
"Hmm mungkin sekitar 4 sampai 5 hari."
"Begitu, ya udah kalau begitu hati - hatilah saat kau berada di luar sana."
"Eh!"
Aku merasa sangat terkejut, sebab aku pikir ia akan menghetikanku untuk pergi tapi ternyata tidak.
"A-ayah apa kau yakin?"
"Apanya?"
"Maksudku apa kau tidak masalah membiarkan aku pergi?"
"Tentu sajalah, lagi pula sejak awal aku juga tidak mempunyai hak untuk menghentikanmu. Selain itu kamu itu bukanlah anakku."
Jujur aku tidak tau harus bersikap seperti apa setelah mendengar itu. Namun Ayah sepertinya tak berhenti dan terus melanjutkan bicara nya...
"Tapi Leon meskipun kamu itu bukanlah anakku bukan berarti aku tidak mengkhawatikan mu, bahkan saat ini pun aku sudah menganggap mu seperti anakku sendiri. Karena itulah saat kau berada di luar sana tolong berhati - hatilah dan pulanglah dengan selamat, mengerti?"
Jujur aku tidak tau apa sebenarnya yang ia pikirkan. Namun dari ekspresi wajahnya aku bisa tau kalau ia(Ayah) benar - benar sangat khawatir denganku.
Meskipun aku tidak terlalu peduli soal itu tetapi jauh di dalam hatiku aku merasakan perasaan bahagia dan juga senang.
Kemungkinan besar perasaan ini tidak berasal dariku melainkan ini berasal lansung dari anak itu(Leon asli)
"Haa baiklah aku mengerti, aku akan berhati - hati saat berada di luar."
"Bagus, kalau begitu cepat pergi sana. Orang itu sepertinya sudah menunggumu dari tadi."
Ayah mengalihkan pandangannya ke arah depan rumah. Dimana di situ kami melihat sebuah mobil hitam mewah serta seorang pria botak dengan setelan jas hitam berdiri di sampingnya.
Pria itu tidak lain adalah Guntur, bawahan lansung Genus.
(Jadi ia sudah datang.)
"Yaa udah Ayah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Um, hati - hatilah di jalan."
Aku melambaikan tanganku dan mulai meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, Ayah terus menatap punggungku yang makin menjauh darinya.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa yang ingin kamu lakukan tapi aku harap kamu berhasil."
Setelah Ayah mengumankan itu dengan senyuman, ia lansung berbalik ke belakang dan masuk kembali ke dalam rumah.