
Setelah beberapa saat kami menempuh perjalanan, tak lama kemudian tepat dimalam hari akhirnya kami sampai di rumah.
Dimana ketika aku berjalan masuk ke dalam Rumah dan pergi ke Ruang tamu, aku melihat Ibu, ayah dan juga Kak Rani sedang duduk di Sofa sambil Ngobrol.
"Kami Pulang."
Saat Kak Rangga menyapa mereka, mereka semua lansung berbalik dan melihat ke arah kami.
"Oh Akhirnya kalian Pulang Juga, Kenapa kalian lama seka-!!"
Sesaat ayah ingin mengatakan sesuatu, tiba - tiba ia berhenti, dimana ia terlihat sangat Kaget saat melihat Kepalaku sedang Di perban.
Bukan hanya ia bahkan Ibu dan Kak Rani pun juga sama, dimana mereka berdua terlihat sangat Shock, Sampai - Sampai Ibu lansung loncat dari sofa dan lari terbirit - birit ke arahku.
"~Le~Leon,..Ke~Kepalamu,..apa yang terjadi dengan kepalamu?"
Tanya ibu, dimana Suaranya sangat Gemetar dan wajahnya terlihat sangat Khawatir.
Bukan hanya ia, Ayah dan Kak Rani lansung berdiri dari tempat duduknya juga dan mendekati kami.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa adekmu bisa terluka seperti itu?"
Ketika Kak Rani menanyakan itu, Kak Rangga mencoba menjawab..
"Sebetulnya tadi,...kami-!!"
Namun, sebelum ia selesai Bicara, tiba - tiba ia di potong oleh suara Ibu yang yang sangat keras, dimana ia berulang kali menarik - narik Bajuku dan berkata...
"LEON ITU PASTI MASIH SAKITKAN, BAGAIMANA KALAU KITA PERGI KE RUMAH SAKIT SEKARANG?"
"Tidak..Ibu, aku tidak apa - apa, aku cuma mau pergi Istirahat di kamar."
"HAH, APA YANG KAMU KATAKAN? APA KAU INGIN MEMBIARKAN LUKAMU BEGITU SAJA?"
"Bukan itu maksudku, hanya saja aku ingin-!!"
"TIDAK USAH BANYAK BICARA.."
Bentak lansung Ibu sebelum aku selesai Bicara, kemudian ia berahli ke arah ayah dan melanjutkan lagi..
"..Sayang, tolong cepat siapkan mobil, kita akan bawah leon ke rumah sakit."
"Yah. Aku mengerti."
Jawab Ayah dengan serius. Di sisi lain, melihat mereka berdua tidak mendengarkan pendapatku membuat aku terlihat sangat Jengkel dan berkata...
(WOY BISA TIDAK DENGERIN GUE DULU SIALAN. APA KALIAN INGIN KU BUNUH.)
Ucapku di dalam pikiran, sambil menatap mereka berdua dengan Kesal.
Lagi pula, Setelah aku istirahat sedikit, ada sesuatu yang ingin ku lakukan juga, jadi, bagaimanapun caranya aku tidak bisa sampai di bawah ke rumah sakit.
"sepertinya, aku tidak punya pilihan lain."
Sesaat membisikkan itu, aku lansung menatap ibu dan memanggilnya...
"IBU."
"Ada apa Le-!!"
'on' ingin ucapnya, namun sebelum mengucapkan itu, ia terlihat sangat ketakutan saat melihat tatapanku.
Dimana Tatapanku terlihat sangat tajam seolah menusuk Hatinya.
"IBU AKU MOHON TOLONG LEPASKAN TANGANMU DARI SITU, AKU BENAR - BENAR INGIN ISTIRAHAT."
"~ta~tapi Leon, Kamu Harus-!!"
Sebelum Ibu selesai Bicara. Aku lansung megenggang kedua pergelangan tangannya dengan kuat, dan secara paksa aku melepaskan tangannya dari bajuku.
Dimana membuat semua Orang terlihat sangat Terkejut. Tanpa Kecuali Ibu sendiri.
"""""EH!"""""
Namun tanpa pedulikan itu, aku lansung menatap mereka semua dan berkata..
"AYAH, IBU, KAK RANGGA, KAK SISKA DAN JUGA KAK RANI. AKU HARAP KALIAN TIDAK MENGANGGUKU SAAT SEDANG ISTIRAHAT DI KAMAR, JIKA TIDAK...."
Sesaat aku berhenti. Aku lansung menyipitkan mataku dengan tajam ke arah mereka, dimana membuat Ayah dan Kak Rangga yang menyadari itu, lansung terlihat was - was denganku.
Namun tanpa mempedulikannya aku lansung berbalik dan mulai berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
TAP!!...Tap!!....tap!!....
Pada saat aku sudah naik ke lantai dua, untuk sementara suasana di tempat itu menjadi Sunyi.
Namun, sesaat ibu kembali Sadar, ia lansung terlihat Gemetar dan buru - buru melihat ke arah tangga dengan Ekspresi yang sangat Marah.
"LEOOON BERANINYA KAMU BERSIKAP SEPERTI ITU, CEPAT KEMBALI KESINI, JIKA TIDAK AKU AKAN NAIK KE ATAS DAN MENYERETMU TURUNG."
"......."
Disaat tidak ada balasan apapun yang datang dari atas, ibu terlihat sangat jengkel, sampai - sampai ia mengertakkan giginya dengan kuat.
"TCH, ANAK ITU,..BERANI - BERANINYA DIA...."
Sambil mengucapkan itu dengan kesal, Ibu mencoba pergi ke kamarku. namun di saat ia baru saja mau berjalan. Tiba - tiba ia di tahan oleh ayah dari belakang.
"Miki apa yang ingin kamu lakukan?"
"APA? TENTU SAJA MENYERET ANAK ITU TURUNG, APA KAU INGIN MEMBIARKAN LUKANYA BEGITU SAJA?"
"Aku mengerti perasaanmu, tapi untuk saat ini sebaiknya kita turuti saja apa yang ia katakan dan biarkan ia sendirian.-
-Lagi pula, aku yakin ia punya alasan tersendiri, kenapa bertindak seperti itu."
Ucap Ayah dengan sangat serius, dimana Membuat ibu yang lihat itu lansung kembali tenang dan menghela nafas.
"Haaa,..kau benar, maaf aku hilang kendali tadi."
"Itu tidak apa - apa."
Balas Ayah dengan senyuman sambil menepuk - nepuk Kepala ibu. dimana membuat ibu terlihat sedikit senang.
Setelah itu ayah mengalihkan pandangannya ke arah Rangga dan Siska, kemudian ia menatap mereka berdua dengan serius.
"Baiklah..Rangga, Siska, bisa beritau kami sekarang, apa yang sudah terjadi?"
Di saat ayah menanyakan itu, untuk sesaat Rangga melirik ke arah Siska, dimana ia terlihat masih marah.
Melihat itu, Rangga hanya bisa mendengus, dan kembali melihat ayah, kemudian ia menjawab...
"Ayah, Sebetulnya............"
____________________________________
_______________________________
"Haaaa...Akhirnya bisa istirahat juga. Tidak ku sangkah hari ini sangat melelahkan."
[Kau benar.]
Balas lansung PIX, kemudian ia melihat kepalaku yang di perban dan bertanya..
[Omong - omong, apa kepala anda baik - baik saja?]
"Yah, aku baik - baik saja. Lagi pula saat Pipa besi itu hampir mengenai kepalaku, aku lansung menahan dan memperlambat laju serangannya, sehingga luka yang ku terima tidak terlalu parah."
[Hmm begitu,.....Eh tunggu sebentar, barusan anda bilang, MEMPERLAMBAT LAJU SERANGANNYA KAN?]
Ketika PIX menanyakan itu, aku dengan tenang melirik ia dan menjawab...
"Yah, memang kenapa?"
[Tidak, bukan - apa - apa, hanya saja jika Master bilang begitu, itu berarti sejak awal,..ANDA SUDAH BERNIAT DONG MENERIMA PUKULAN ITU.]
Di saat PIX menanyakan itu. Sentak membuat aku lansung tersenyum tipis dan menjawab...
"Hebat juga kau menyadarinya. Memang benar sejak awal aku memang sudah berniat menerima Pukulan itu."
[Kenapa anda melakukan itu?]
"Soal itu kau tidak perlu tau, yang jelas.....SEKARANG SEMUA PEMAIN SUDAH BERGERAK DI TELAPAT TANGANKU....HEH."
Ucapku sambil senyum seringai, dimana membuat PIX yang lihat itu lansung meneteskan keringat dingin dan sedikit ketakutan.
***********
Author: baiklah, sampai di sini saja dulu. Bagi yang masih terus baca karya ini, saya benar - benar berterima kasih.
Meskipun Viewnya sedikit, tapi tak apalah, yang penting aku senang menulis jalan cerita si Leon dan juga para Heroinnya. Hehehe😅
#Salam dari Author🙋
__ADS_1
*****************
>BONUS
Sebetulnya, ini sambungan yang ada di atas, tapi karena beberapa alasan, sehingga aku potong saja dan menjadikannya sebagai Bonus.
Yaa semoga kalian terhibur.
>>>>>>
Pada saat aku(Leon) lagi asik - asiknya baring - baring di kasur, Tiba - tiba kepala terasa sakit.
"~~Aghhh,...Sial, kenapa ini sakit sekali, padahal aku tidak terlalu terluka parah, ~~Ughhh!"
[Bagaimana kalau anda minum obat. Master?]
"~Ughh...kau benar juga, kalau gitu...PIX, tolong pergi ambilkan aku obat di sana."
Di saat aku mengucapkan itu, PIX lansung menatapku dengan datar dan berkata...
[Master, apa gara - gara kepalamu terluka, kau jadi gila? Coba pikirkan baik - baik, mana mungkin aku bisa mengambil obat itu.]
Ucapnya Dengan nada kasar. Meskipun awalnya aku hanya ingin bercanda saja, tetapi, tidak ku sangkah ia berkata seperti itu.
"Cih Baiklah - baiklah aku salah, tidak usah menatapku seperti itu."
ucapku sambil bangkit dari kasur, dan pergi mengambil obat.
"Hah, obat sakit kepalaku sudah habis."
Di saat aku mengucapkan itu. PIX terlihat sangat terkejut.
[Eh, anda bercandakan?]
"Um, aku bercanda."
Jawabku sambil mengangguk dengan santai. Mengetaui kalau aku sedang mempermainkannya membuat PIX lansung terlihat kesal dan berkata...
[Master, apa kau ngajak berantem?]
"Hah, siapa juga yang mau ngajak berantem? Gue cuma membalas apa yang kau lakukan tadi."
[...itu sama saja.]
"Sama apanya bego, Dasar sinting."
[HAH, MASTER BILANG APA BARUSAN? APA ANDA MEMANGGILKU SINTING?]
".....Tidak, bukan - apa - apa, kau hanya salah dengar saja."
Ucapku seolah - olah tidak mau meladeninya lagi.
Karena jika aku meladeni dia terus bisa - bisa ia akan menyerang Otakku seperti waktu itu.
Dan jika ia melakukan itu di saat kepalaku sedang sakit begini, otomatis aku pasti akan pingsan,...Tidak mungkin saja aku bahkan Bisa Mati.
Maka dari itu. Meskipun aku tidak suka, namun Aku harus tetap tahan,.....benar aku akan tetap Tahan dan membalasnya di kemudian hari.
[Master, ada apa?]
"Hmm, aku hanya berpikir. Hari ini sepertinya kau terlihat keren yah PIX."
Di saat aku mengucapkan itu untuk memujinya, bukannya senang PIX malah menatapku dengan jijik dan berkata...
[Master, apa yang kau katakan tiba - tiba begitu, Itu sangat MENJIJIKKAN😧.]
mendengar perkataan tersebut membuat aku lansung Shock. Namun, meski begitu aku harus tetap tersenyum. meskipun aku benar - benar sangat marah di dalam hatiku.
"PIX. Apa yang kamu katakan. Tidak mungkin aku menjijikkan kan?-
-tapi, jika kau bilang begitu, entah kenapa aku merasa sangat senang kok."
Ucapku sambil memberinya kedipan mata, melihat itu membuat PIX lansung kaku dan menatapku dengan ekspresi pucat😨.
[Ma~Master. Sepertinya kau benar - benar sudah jadi Gila😧]
"Heee Benarkah?..Heheheh aku senang."
[Huh?😦]
Sementara itu di sisi lain, jauh di dalam hatiku. Aku berkata...
__ADS_1
SIAL, AKU INGIN MATI.