BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KEBENARAN DAN KEHILANGAN


__ADS_3

Ketika aku tidak menjawab pertanyaan Kak Rangga. Untuk sementara kami berdua saling menatap satu sama lain.


Namun, Setelah beberapa detik kemudian, perlahan Kak Rangga menghela nafasnya sambil melihat ke arahku.


"Haaa, sudahlah kalau kau tidak ingin menjawabnya."


"....."


Saat aku tidak mengatakan apapun, Kak Rangga mencoba bertanya sesuatu lagi ke padaku, namun...


"Leon, aku ingin tanya sesuatu, Saat di ruang makan tadi, kenapa kau berta-!!"


"Leon kau masih lelahkan?"


Sesaat Kak Rangga ingin bertanya, tiba - tiba ia di potong oleh suara ayah dari samping. Sehingga baik Kak Rangga maupun aku lansung terkejut dan melihat ke arahnya.


(Ayah, apa yang kau pikirkan?)


Saat Rangga bertanya - tanya di dalam pikirannya. Di sisi lain aku dengan tenang menatap ayah.


"......."


Meskipun aku tidak tau apa yang ia Rencanakan. Tapi, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari Pertanyaan Kak Rangga terlebih dahulu.


"Yah, ayah benar, aku memang masih lelah."


"Eeeh, Benarkah itu Leon?"


Saat aku mendengar suara ibu aku lansung melihat ke arahnya. Setelah itu dengan tenang aku menjawabnya.


"Tentu saja, bahkan kepalaku masih sakit."


"Ka-Kalau begitu, kau istirahat saja terlebih dahulu."


"Yaa, ibumu benar." sambung ayah.


Meskipun saat ini aku baik - baik saja. Namun karena aku belum menemukan alasan yang pas, untuk jawab pertanyaan Kak Rangga. Sehingga aku tidak punya pilihan lain, selain kabur untuk saat ini.


Setelah memikirkan itu, perlahan aku berbaring lagi di kasurku.


Namun ketika aku berbaring, di sisi lain Kak Rangga terus menatapku sambil menyipitkan matanya dengan tajam.


Ketika Istrinya. Airani melihat itu, ia lansung bertanya.


"Sayang, apa kamu baik - baik saja?"


"Eh, Ah,..umm, aku baik - baik saja."


meskipun Rangga mengatakan itu, tetapi Airani bisa lihat kalau Rangga sedang memikirkan sesuatu, sehingga Airani mencoba bertanya sekali lagi.


Namun ia lansung hentikan itu, karena ia merasa, tidak baik jika ia bertanya lebih jauh lagi.


Sedangkan di sisi lain, ketika ayah melihatku berbaring di kasur. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ibu.


"Baiklah, Bagaimana kalau kita keluar saja, tidak baik menggangu Leon Istirahat."


"Yah, kamu benar."


jawab ibu, setelah itu ia melihat ke arah Airani.


"Kalau bagitu, Rani ayo kita turung, aku ingin main dengan Fira di bawah."


"Umm."


jawab Airani dengan senyuman.


Setelah itu, Airani, Ibu dan Kak Siska mulai berjalan keluar dari kamar.


namun, ketika Airani berjalan tiba - tiba ia berhenti, dan melihat ke arah belakang. Dimana Kak Rangga diam saja di situ dan tidak bergerak sama sekali.


"sayang?" Bisik Rani


Setelah beberapa detik Airani melihat Rangga, perlahan ia melihat ke arah Pintu sambil mulai berjalan, meninggalkan ruangan ini.


Di sisi lain, ketika Ayah merasa kalau Rangga hanya berdiri diam saja di situ. ia menyentuh pundaknya, hingga membuat Rangga sedikit kaget.


"A-Ayah."


"Ayo kita Keluar, semua orang sudah keluar."


Ketika Rangga memperhatikan Sekitar, tinggal mereka saja di Ruangan ini.


Meskipun Rangga masih enggan untuk meninggalkan ruangan ini. Namun karena Ia melihat Leon sudah Tidur di kasur. Akhirnya ia menyerah.


"Aku mengerti."


Sambil mengucapkan itu, perlahan Rangga berjalan keluar.


Ketika Ayah melihat kalau Rangga sudah keluar dari Ruangan ini. Ia lansung melihat ke arahku. Dimana saat ini mataku sudah tertutup.


"umm, Istirahatlah dengan tenang Leon."


Sambil membisikkan itu, ayah mulai berjalan keluar. Namun sesaat ia baru saja mau berjalan. PIX memperhatikan kalau Bibir ayah melengkun seperti bulan sabit.


sehingga membuat PIX sedikit Bingun.


[Orang ini...]


Saat PIX mengatakan itu, ia melihat kalau ayah sudah keluar dari ruangan ini dan hanya menyisahkan aku seorang yang berbaring di kasur.

__ADS_1


[Master, kau sudah boleh bangun, mereka semua sudah keluar.]


Saat PIX mengatakan itu, perlahan aku membuka mataku. Setelah itu aku melirik ke arah Pintu dengan tajam.


[Master, anda lihatkan tadi?]


"YAH, AKU MELIHATNYA"


jawabku dengan tajam.


_______________________________


________________________


setelah ayah meninggalkan kamar Leon. ia saat ini Sedang menuruni tangga bersama dengan Rangga.


Namun, ketika mereka berdua menuruni Tangga. tiba - tiba Rangga berhenti berjalan dan melihat ke arah ayah.


"Ayah, boleh kita bicara sebentar?"


"...."


Tanpa menjawab, ayah terus menatap mata Rangga yang terlihat sangat serius.


Namun, Setelah beberapa saat kemudian, ia memperbaiki kacamatanya dan mulai menjawab.


"Tentu,..ayo kita keluar sebentar."


___________________________________


_______________________________


Setelah Ayah dan Rangga keluar dari rumah. mereka saat ini sedang duduk di halaman Rumah. Sambil melihat Bintang - bintang yang bersinar di malam hari.


Setelah beberapa saat mereka melihat bintang tersebut. Tanpa membalikkan badan Rangga mulai bertanya ke ayah.


"Jadi ayah boleh aku tau, kenapa kau menghalangiku saat itu?"


Ketika Rangga membicarakan soal ayah yang memotong pembicaraannya dengan Leon.


Tanpa melihat ke arah Rangga, ayah mulai menjawabnya.


"Yaa, sebetulnya aku tidak punya niat untuk memotongmu, hanya saja aku lihat adekmu lelah, jadi-!!"


"TIDAK USAH BOHONG, TOLONG BERITAU AKU YANG SEBENARNYA AYAH?"


Saat Rangga meneriakkan itu. Perlahan ayah melirik ke arah Rangga, dimana Rangga terlihat tidak senang dengan jawaban yang di berikan.


Setelah Beberapa detik ayah melihat Rangga, perlahan ia kembali melihat Bintang di atas dan mulai menjawab.


"Jujur aku tidak ingin memberitaumu soal ini, tapi jika kau benar - benar ingin tau alasannya,....mungkin-"


"-KARENA AKU INGIN MELIHAT, KELUARGA INI LEBIH LAMA LAGI BAHAGIA."


Melihat hal itu, Rangga bingun dan bertanya - tanya, apa hubungannya ini dengan pertanyaan yang ingin ia ajukan ke Leon.


Sebab, meskipun Rangga bertanya soal kejadiaan Di Ruang makan. Tidak mungkin hanya karena itu, kebahagiaan Keluarga ini akan hancur. Jadi, apa alasannya...??


"Ayah, apa maksudmu mengatakan itu? Apa kau ingin bilang, jika aku bertanya saat itu, maka keluarga ini akan hancur?"


ketika Rangga bertanya, ayah menjawabnya secara ambigu.


"Aku bisa mengatakannya iya, bisa juga tidak."


"Apa maksudmu?"


"Saat ini aku belum bisa mengatakannya dengan pasti, namun aku hanya bisa mengirah, jika kau bertanya saat itu, mungkin saja salah satu anakku di rumah ini akan hilang."


Ucap ayah sambil melihat ke arah Rumah. Sedangkan Rangga yang mendengar itu lansung terlihat shock.


Sebab ia tidak pernah menyangkah bahwa alasan ayah memotong pembicaraan mereka saat itu.


Karena tidak ingin salah satu anaknya meninggalkan Rumah ini.


Meskipun masih ada beberapa hal yang tidak di mengerti Rangga. Namun ia bisa pastikan kalau anak yang di maksud ayah, tidak lain adalah.....


"LEON."


Bisiknya, setelah itu ia menatap ayah dan melanjutkan lagi.


"Ayah kau bercandakan, tidak mungkin Leon pergi dari rumah ini, hanya karena itu."


"Jika kau mengatakan itu, terserah. Yang jelas jika kau benar - benar tidak ingin melihat adekmu hilang dari Rumah ini maka Lupakan saja soal kejadian itu. Kamu mengerti?"


"....."


Ketika Rangga tidak menjawab apapun, perlahan ayah berdiri dan melihat ke arahnya.


"Rangga, untuk saat ini kau tidak perlu menjawabnya, yang jelas aku ingin kau ingat yang ku katakan barusan. Paham?"


"Baik."


"Bagus,...kalau begitu aku masuk duluan."


Sambil mengucapkan itu, ayah mulai berjalan ke arah Rumah. Namun, ketika ia baru saja berjalan beberapa langkah. Tiba - tiba Rangga memanggilnya dari belakang.


"Ayah, boleh aku tanya satu hal lagi."


"Maaf, kalau soal kejadiaan itu aku tidak ingin menjawabnya lagi."

__ADS_1


"Ini bukan soal kejadian itu. Tetapi ini soal Teknik bertarung Leon."


Mendengar hal itu, ayah lansung berhenti dan melihat ke arah belakang dari balik pundak.


Setelah Rangga perhatikan kalau Ayah sedang melihat dirinya ia mulai bicara.


"Waktu Leon pulang sekolah, ayah masih ingatkan saat ia memukulku?"


"Tentu saja."


"Nah, saat itu aku merasa kalau pukulan Leon tidak seperti pukulan yang biasa di lakukan orang. Melainkan pukulannya itu seperti sudah di latih dengan baik."


"Di Latih? Kenapa kau pikir begitu?"


Saat Ayah bertanya. sambil mengingat kejadiaan itu Rangga mulai menjawabnya.


"alasannya, itu karena baik dalam kekuatan, kecepatan maupun teknik sangatlah sempurna. Sehingga aku hanya bisa mengira, kalau Ayah sudah melatih Leon."


Setelah Mendengar apa yang di katakan Rangga, untuk Sementara ayah hanya terdiam.


Namun, setelah beberapa detik kemudian ia mulai menjawabnya.


"RANGGA KAU BENAR, AKU MEMANG MELATIH ADEKMU CARA BERTARUNG."


Sesaat Ayah mengatakan itu, tiba - tiba mereka berdua merasakan keadiran seseorang dari atap Rumah.


Namun, ketika mereka berdua melihat ke arah sana, keadiran itu lansung hilang. Layaknya sebuah asap.


"Apa hanya perasaanku saja?"


Ketika Rangga menanyakan dirinya. Untuk sementara ayah terus melihat ke arah sana. Namun, setelah beberapa detik kemudian ia mulai berjalan masuk ke dalam Rumah.


"Kalau begitu, aku masuk dulu."


"Eh, Ayah, Tunggu aku."


Sambil mengucapkan itu, Rangga lansung mengikuti ayahnya dari belakang.


________________________________


_____________________


Ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam Rumah. Di sisi lain aku (Leon) saat ini sedang berbaring di atap Rumah, sambil menatap bulan yang menerangi bumi di malam hari.


[Master, melihat bulan di malam hari sangat indah yah?]


(Yah.) jawabku


[Apa anda tidak senang?]


(Tidak. Aku senang.)


Ketika aku mengatakan itu, PIX perhatikan kalau aku seperti sedang memikirkan sesuatu.


Meskipun PIX tau apa yang aku pikirkan sekarang, namun ia tetap mencoba bertanya.


[Master, apa anda masih memikirkan, pembicaraan mereka yang tadi?]


saat PIX bertanya soal pembicaraan antara Ayah Dan Kak Rangga, untuk sementara aku tidak menjawab apapun.


"......."


namun setelah beberapa saat kemudian aku mulai menjawabnya.


"Yah, aku tidak tau, apa yang di pikirkan orang itu?"


[Maksudmu ayahmu?]


"Yah." jawabku lansung.


jujur saja, aku masih tidak mengerti kenapa ia melakukan itu.


sebab, Pertama ia menghalangi Rangga untuk bertanya soal kejadian itu, dan yang kedua ia mengaku - ngaku sudah mengajariku cara bertarung padahal tidak. jadi apa tujuaannya...?


meskipun aku bisa mengirah alasan ia menghalangi Rangga. namun aku tidak mengerti, kenapa ia harus mengaku juga, kalau ia sudah mengajariku cara bertarung.


ini benar - benar membuatku sangat pusing.


setelah memikirkan itu, perlahan aku menghela nafasku. setelah itu aku mulai membisikkan sesuatu.


"haa, aku tidak tau lagi, apa yang ayah pikirkan?"


[Kau benar, apa mungkin ia sudah tau kalau kau bukanlah anaknya?]


Saat PIX bertanya, sesaat aku melirik ke arahnya, setelah beberapa detik kemudian, aku melihat Ke arah bulan lagi.


"Mungkin saja. Tapi, seperti yang di katakan ayah, saat ini ia hanya percaya kalau aku adalah anaknya 50 banding 50."


"50 banding 50?"


"Yah, dengan kata lain, ia belum sepenuhnya percaya, kalau aku bukanlah anaknya. di tambah lagi, ia masih membiarkanku tinggal di rumah ini karena....."


[..Dia masih ingin mengawasi Master?]


Jawab lansung PIX, setelah itu aku lanjutkan lagi.


"Benar, mungkin inilah alasannya ia menghalangi Rangga, supaya bisa mengawasiku. Sebab jika Rangga tidak di halangi saat itu.....Maka.."


[Maka....?]

__ADS_1


"Maka, besar kemungkinan, AKU AKAN PERGI DARI RUMAH INI."


Ucapku, sambil menyipitkan mataku saat melihat bulan di malam hari.


__ADS_2