
Tidak jauh di lokasi Boktis terdapat sebuah rumah kayu sederhana. Rumah itu sedang di kelilingi beberapa orang berpakaian jas hitam. Dan salah satu di antara mereka yang bernama Yuan Du mencoba masuk ke dalam namun di halangi oleh dua orang.
Yang satu istri Boktis bernama Elisya berumur 37 Tahun dan yang satunya lagi bernama Adna, putri Boktis berumur 9 tahun.
Elisya adalah wanita lemah, lembut dan memiliki rambut pendek berwarna ungu yang di ikat kebelakang serta terdapat juga bekas luka bakar di wajahnya.
Meski begitu luka itu tidak terlalu terlihat karena di tutupi oleh pony nya yang panjang.
Sedangkan putri Elisya yaitu Adna adalah gadis yang ceria dan imut, Namun ketika ia melihat Ibu dan Ayahnya dalam bahaya ia kadang bisa bersikap berani.
Saat ini pun ia berdiri di depan Elisya(Ibunya) dan membentangkan kedua tangannya seolah mencoba melindungi Elisya dari Yuan Du.
"Paman, kenapa kamu ngotok sekali ingin masuk ke dalam? Apa kamu tidak takut aku teriaki maling?"
"Astaga nona kecil tidak usah agresif begitu, lagi pula siapa juga yang akan datang kemari, di tengah hutan seperti ini?-
-Selain itu kami datang ke sini tidak punya maksud buruk, kami datang ke sini hanya ingin menemui ayahmu saja dan bicara dengannya."
"Cih, Paman apa kamu tidak punya telinga? Ibuku tadi sudah beberapa kali bilang ayahku saat ini tidak ada di rumah, ia sedang keluar."
"Hmm kalau begitu biarkan aku masuk ke dalam dan mengeceknya sendiri, tidak apa kan?"
Yuan Du tidak menyerah ia tetap saja ngotok ingin masuk ke dalam, yang dimana hal itu membuat Adna benar - benar merasa jengkel dan langsung meneriakinya.
"WOY APA KAU TULI, AYAHKU TIDAK ADA DI DALAM. CEPAT PERGI SAJA SANA!"
Kata - kata Adna sangat kasar hingga membuat Yuan Du merasa kesal dan marah.
"DASAR ANAK KECIL, BERANI - BERANINYA KAU BILANG SEPERTI ITU PADAKU."
Meskipun Yuan Du marah tetapi ia juga sadar bahwa Adna hanyalah seorang anak kecil. Tidak ada gunanya memarahinya sehingga Yuan Du pun berusaha menenangkan dirinya.
"Haaa sudahlah tidak ada gunanya bicara dengan kalian. Ini peringatan terakhir dariku, cepat minggirlah dari situ atau aku akan membunuhmu."
Yuan Du mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya dan menodongkan nya ke arah mereka berdua.
Sontak saja hal itu membuat Elisya dan Adna merasa ketakutan. Meski begitu Adna berusaha untuk tetap tegar dan menghadapi Yuan Du.
"Ka~Kamu pikir aku takut, coba saja kalau kau memang berani membunuhku."
Yuan Du merasa terkesan dengan keberanian Adna yang seperti itu. Lalu ia pun memujinya.
__ADS_1
"Sungguh gadis yang sangat menarik, sepertinya kau mewarisi keberanian ayahmu.-
-Memang benar seperti yang kau katakan aku tidak punya keberanian untuk membunuhmu. Lagi pula alasanku datang kemari itu karena kami di perintahkan oleh atasan kami untuk merekrut Ayahmu."
"Merekrut ayahku?"
Karena Adna masih kecil jadi ia tidak mengerti sama sekali apa yang Yuan Du katakan.
Namun berbeda dengan Elisya. Ia sangat mengerti apa yang akan terjadi jika suaminya di rekrut oleh orang - orang ini. Kemungkinan besar suaminya akan di gunakan lagi sebagai alat untuk bertempur di Medan perang.
Setidaknya Elisya ingin menghindari hal itu sebab ia tidak ingin kehidupan damai mereka ini berakhir. Dan yang paling penting ia juga tidak ingin melihat suaminya menderita lagi.
Karena itulah meskipun Elisya saat ini sangat ketakutan namun ia berusaha memberanikan dirinya maju ke depan dan menghadapi Yuan Du.
"Maaf kalau aku berkata begini, tapi aku rasa suamiku tidak ingin bergabung dengan kalian. Karena itulah tolong pergilah dari sini."
"Apa kau bilang."
Mata Yuan Du langsung menyipit dengan tajam ke arah Elisya. Sontak saja hal itu membuat sekujur tubuh Elisya langsung gemetar karena ketakutan, meski begitu Elisya tidak menyerah ia berusaha melawan rasa takutnya dan tetap menghadapi Yuan Du.
"APA KAU TIDAK DENGAR, AKU BILANG CEPAT PERGI DARI RUMAHKU SEKARANG JUGA DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KE SINI."
Elisya meneriaki Yuan Du yang dimana membuat Yuan Du langsung mengertakkan giginya dan terlihat sangat marah.
Yuan Du mencoba memukul Elisya menggunakan genggaman pistolnya.
"Mama!!"
Adna berlari dan mencoba melindungi Elisya.
Namun sebelum Yuan Du berhasil memukul Elisya tiba - tiba ada batu besar yang meluncur keluar dari dalam hutan dan lansung mengenai kepala Yuan Du hingga membuat Yuan Du terhempas dari sana dan menabrak pembatas rumah.
"~ARGHHHHHHHH!!"
Yuan Du langsung terbaring pingsan dan wajahnya di lumuri oleh darah.
Teman - temannya yang lain merasa khawatir dan langsung menghampiri Yuan Du. Dimana salah satu dari mereka langsung mencoba mengecek kondisi Yuan Du.
"Bagaimana keadaan dia?"
"......Syukurlah, sepertinya ia hanya kehilangan kesadaran."
__ADS_1
Teman - temannya yang lain langsung merasa lega. Lalu dua di antara mereka langsung berdiri dan melihat sekitar hutan dimana mereka mencoba mencari sosok si pelempar batu itu.
"Woy kau jangan sembunyi saja keluarlah."
"Benar, berani - beraninya kau menyerang teman kami."
Tak lama setelah mereka mengatakan itu, dari dalam hutan terdengar suara langkah kaki yang sangat keras hingga membuat tanahnya bergetar.
Lalu beberapa detik kemudian keluarlah seorang pria besar, tinggi dan kekar dari dalam hutan, dimana pria itu tidak lain adalah Boktis.
"O-Oi orang itu jangan bilang....."
"Yah, dialah orang yang kita cari. Dia adalah manusia yang di juluki sebagai PERISAI KEMATIAN dari timur."
Para pria jas hitam itu langsung menjadi waspada dan mengeluarkan Pistol mereka masing - masing.
Sementara itu Elisya dan Adna yang melihat Boktis sudah datang merasa sangat lega sekaligus senang hingga membuat Elisya meneteskan air mata.
"Sa~Sayang."
"Maaf aku datang terlambat, kamu pasti ketakutan kan?"
Ketika Boktis menanyakan itu Elisya langsung mengelankan kepalanya sambil berkata...
"Tidak, aku senang kamu melindungi ku tepat waktu."
Boktis yang dengar itu merasa senang dan langsung membalas perkataan Elisya dengan senyuman.
"Papa!"
Adna meninggalkan Elisya dan berlari mendekati Boktis, dimana Boktis langsung berlutut dan mengelus - ngelus kepala Adna yang terlihat bahagia.
"Ooh inilah anak papa yang paling pemberani, sepertinya kamu telah berusaha melindungi mama mu saat papa tidak ada ya?"
"Benar - benar, Aku menghadapi mereka semua seorang diri loh, aku hebat kan papa?"
"Um, kamu sangat hebat."
Adna merasa sangat senang di puji oleh Boktis(Ayahnya).
Sementara Boktis, sorot matanya melirik ke arah para pria jas hitam itu, dimana tatapannya terlihat sangat tajam bagaikan seekor beruang yang sedang bersiap mengincar mangsanya.
__ADS_1
"Baiklah Adna, untuk sekarang kamu kembalilah ke tempat mama mu, papa ingin mengurus mereka dulu."
Adna dengan kuat langsung menganggukkan kepalanya..."Um."....lalu setelah itu Adna berlari meninggalkan Boktis dan kembali ke tempat Elisya. Dimana Elisya langsung membawa Adna masuk ke dalam rumah.