BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
MENUDUH


__ADS_3

"Papa!"


Adna melambaikan tangannya sambil berlari ke arah kami.


"Adna dan juga Elisya, apa yang kalian lakukan di luar sini?"


Tanya Boktis yang terkejut dengan kehadiran mereka berdua.


"Maaf sayang, aku sedikit khawatir denganmu makanya kami keluar."


Jawab Elisya, sedangkan Adna yang sudah sampai di tempat kami langsung berdiri di dekatku kemudian menatap Boktis dengan wajah yang sedikit marah.


"Papa sendiri apa yang ingin papa lakukan barusan? Kenapa papa ingin memukul anak ini?"


"Adna itu sebetulnya anak ini sangat berbahaya, Papa mengirah ia mungkin adalah salah satu bagian dari orang - orang yang kemarin datang ke sini menyakiti kalian. Itulah kenapa papa menyerangnya."


"Apa anak ini!"


Adna merasa shock mendengar itu dan langsung berbalik melihat ke arahku.


Dimana ia perhatikan tidak ada sama sekali tanda - tanda berbahaya dariku. Malahan yang ia lihat hanya seorang anak kecil lemah dan juga polos.


Jadi Adna pun memutuskan bahwa mungkin saja aku tidak ada hubungannya sama sekali dengan orang - orang itu.


"Papa Berhentilah bercanda mana mungkin anak ini bagian dari orang - orang yang menyerang kita kemarin. Di lihat dari manapun jelas - jelas anak ini sangat lemah."


Mendengar gadis kecil ini memanggilku lemah entah kenapa membuat aku sangat terpukul di tempat.


(Sial, aku di bilang lemah oleh gadis kecil ini, Ini sungguh tidak bisa di terima.)


[Master mohon bersabar, ini adalah ujian.]


(Ujian - ujian..MATA LOE UJIAN.)


Sementara aku sedang ribut dengan PIX di dalam pikiranku. Di sisi lain Boktis terlihat mencoba menjauhkan anaknya(Adna) dariku.


"Adna kamu salah, anak ini tidak lemah, ia cukup kuat, bahkan papa mengirah ia mungkin lebih kuat dari orang - orang yang datang kemarin."


"Apa! Pa-Papa bercanda kan?"


"Tidak, Papa serius. Karena itulah tolong menjauhlah dari sana dan kembalilah ke tempat Ibumu, karena di sini sangat berbahaya."


Awalnya Adna diam saja dan tidak mengatakan apa - apa.


Namun tak berselang lama ia pun memutuskan untuk tetap berada di sini dan melindungi ku.


"Gak mau, aku akan tetap di sini. Kali ini aku akan percaya pada instingku bahwa anak ini tidak berbahaya sama sekali seperti yang Papa pikirkan."

__ADS_1


Aku senang ia mengatakan itu. Tapi entah kenapa aku seperti di remehkan, lagi pula aku ini dulunya orang yang paling di takuti di dunia Lo. Hey gadis kecil apa kamu tau itu?


Aku ingin menanyakan itu tapi aku langsung hentikan dan memilih untuk diam saja.


Sementara itu di sisi lain, Elisya yang setuju juga dengan pendapat Adna langsung berkata...


"Kamu benar, mama juga merasa begitu, mama merasa bahwa anak itu tidak berbahaya sama sekali. Mama yakin ia adalah anak yang baik."


(Ooh ucapan yang bagus, aku suka dirimu wanita cantik.)


Ucapku di dalam pikiran, sambil memberinya jari jempol. Sedangkan Boktis yang dengar itu merasa pening...


"Elisya, bahkan kamu juga...." Ucapnya.


...Boktis tidak menyangka kedua orang yang ia sayangi malah berusaha mencoba melindungiku.


"Astaga, kenapa si kalian begini?"


"Sudah jelas, itu karena ia tidak berbahaya sama sekali."


Jawaban Adna sangat simpel dan sederhana yang dimana membuat Boktis tidak bisa berkata apa - apa. Sampai akhirnya Boktis pun memilih menyerah dan menghilangkan niat permusuhan nya dariku.


"Haaa baiklah, jika itu yang kalian inginkan, maka aku tidak akan mengatakan apa - apa lagi.-


-Tapi kau(Leon), aku peringatkan, jika aku sampai melihatmu berada di sekitar sini lagi maka aku tidak akan segan menghabisi mu, meskipun kau itu hanya anak kecil.-


-Sekarang pergilah dari sini. Sebelum aku berubah pikiran(dan membunuhmu.)."


"Boktis tunggu dulu."


Boktis langsung berhenti jalan dan melihat ke arahku.


"Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?"


"Yah, seperti yang aku katakan tadi, alasanku datang kemari itu karena ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu?"


"Hmm begitu, Maaf saja tapi aku tidak punya niat bicara denganmu sekarang. Cepat pergi saja dari sini sekarang juga atau aku benar - benar akan...."


MENGHABISI MU. Aku yakin itu pasti yang ingin Boktis katakan.


Meski begitu aku tidak menyerah, aku tetap tinggal di tempat itu sambil mencoba menahannya agar ia mau bicara denganku.


Yaa sebetulnya masih ada opsi lain sih agar ia mau bicara denganku yaitu....memberitahukan siapa identitas ku yang sesungguhnya pada dia.


Dengan memberitahukan identitas ku maka aku yakin ia pasti akan mau langsung bicara denganku.


Tapi untuk sekarang aku tahan saja itu dulu dan menggunakan cara lain saja. Ini supaya rencanaku bisa berjalan dengan sempurna.

__ADS_1


"Maaf saja tapi aku tidak bisa pergi begitu saja lagi pula Aku sudah jauh - jauh datang ke sini hanya untuk bicara denganmu."


"Ooh itu sungguh di sayangkan, kalau begitu kau tinggal saja terus di situ. Lagi pula berapa lama pun kau menunggu aku tidak akan pernah mau bicara denganmu."


Setelah meninggalkan kata - kata itu Boktis berjalan kembali ke rumahnya. Sementara Adna yang sejak tadi memperhatikan kami dari dekat melihatku dengan tatapan sedih.


(Kasihan sekali, Aku tidak boleh diam saja, aku harus membantunya.)


Adna menguatkan dirinya dan berlari mengejar ayahnya.


"Papa."


"Oh Adna, ada apa?"


"Bukankah Papa terlalu kasar padanya? Lagi pula dia itu sudah jauh - jauh datang kemari hanya untuk bicara denganmu. Setidaknya biarkanlah ia masuk ke dalam rumah. Apa Papa tidak merasa kasihan padanya?"


Tanpa pikir panjang Boktis langsung menjawab...


"Tidak."


"Kenapa?" Tanya lagi Adna.


"Itu karena di dunia ini ada banyak sekali orang yang menggunakan cara seperti itu hanya untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Salah satunya mengirim anak kecil ke tempat seperti ini, supaya apa?.....yaa supaya mereka bisa mendapatkan rasa kasihan dariku.-


-Dengan begitu mereka lebih mudah untuk membujukku masuk ke tempat mereka."


"~Unggh Papa, aku tidak mengerti sama sekali apa yang papa bicarakan."


Melihat anaknya(Adna) yang berusaha memahami perkataan Boktis membuat Boktis langsung tertawa.


"Hahaha begitu jadi kamu tidak mengerti ya, yaa udah tidak usah terlalu di pikirkan, lagi pula ini mungkin masih terlalu cepat bagimu untuk bisa memahaminya."


"Hmph Papa, apa kamu meledek ku?"


"Ah tentu saja tidak, mana mungkin papa meledek anak kesayangan papa.-


-Baiklah sudah cukup bicaranya, ayo kita masuk."


"Eh tapi anak itu(Leon)...."


"Sudahlah kita abaikan saja, mari kita masuk."


Boktis mendorong Adna masuk ke dalam, begitupun Elisya yang lansung mengikuti mereka dari belakang.


Sementara itu aku masih saja berlutut di sana.


Aku sadar jika aku diam saja terus di sini, aku tidak akan pernah bisa bicara dengannya jadi sepertinya sudah saatnya aku memberitahukan identitas ku yang sesungguhnya pada dia.

__ADS_1


Yaa meskipun ini terlalu cepat dari apa yang ku perkirakan tetapi tidak apa, karena prioritas utamaku saat ini adalah menghentikan rencana Carla dalam mengacaukan dunia ini.


(Yosh, Mari kita lakukan.)


__ADS_2