
Keesokan paginya, aku(Leon) keluar dari kamar lalu Berjalan di koridor. Dimana aku bertemu dengan Selena yang baru saja keluar dari kamarnya yang tidak jauh dari kamarku.
"Oh Dir Hah-!!..Maksudku Leon Selamat Pagi."
"Um Selemat Pagi."
Balasku, kemudian kami berdua mulai berjalan bersama sambil menuruni tangga dan mencoba menuju ke Ruang makan.
Namun dalam perjalanan sesekali aku perhatikan Selena melirikku. Karena aku penasaran jadi aku pun memutuskan untuk bertanya...
"Ada apa, dari tadi kau terus saja melirikku."
"Hah tidak bukan apa - apa. Hanya saja aku masih tidak terbiasa melihat Dirimu yang seperti ini."
"Maksudmu aku yang Reinkarnasi jadi Bocah?"
"Um."
Selena menganggukkan kepalanya.
Yaa bukan berarti aku tidak mengerti apa yang di pikirkan Selena. Bagaimanapun juga saat pertama kali aku jadi seperti ini aku juga merasa aneh, bahkan aku sering tidak menerima diriku yang seperti ini. Namun seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa.
Bahkan Akhir - akhir ini aku juga merasakan Pertumbuhan pada tubuhku yang dulunya sangat lemah sekarang sudah mulai sedikit kuat.
Ini semua terjadi berkat latihan yang sering aku lakukan hampir setiap hari, terutama Tengah malam saat semua orang sudah tidur.
(Tentu saja di bandingkam tubuhku di kehidupan sebelumnya, tubuhku ini masih jauh lebih lemah.)
Mendengar Hal itu PIX lansung membalas...
[Master, bukan hanya tubuh anda, tapi barang anda juga masih lemah di bandingkan di kehidupan anda sebelumnya.]
(WOY KAU DIAM SAJA.)
[Maafkan aku, aku hanya ingin memberitau anda, bahwa Barang lemah tidak akan bisa memikat hati wanita.]
(SUDAH KU BILANG KAU DIAM SAJA SIALAAAAAN!)
Saking kesalnya aku tatap PIX dengan tajam, yang dimana membuat Selena kebingungan dan bertanya - tanya...
"Leon, ada apa? kau kelihatan Kesal begitu?"
"Hah, tidak bukan apa - apa."
Balasku.
Walau begitu Selena sepertinya masih penasaran akan hal itu tetapi ia lansung hentikan dan Mencoba berahli ke topik lain.
"Omong - omong Leon tadi malam aku lihat Brid masuk ke dalam kamarmu, Apa yang kalian berdua bicarakan?"
"Bukan sesuatu yang penting kok. Kami hanya sedang membicarkan soal Sampah yang harus di bersihkan."
"Sampah?"
"Yah."
Balasku dengan Singkat.
Lalu di saat kami sudah sampai di Ruang makan, kami melihat Semua orang sudah berkumpul di sana. Kecuali aku dan juga Selena.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Kami berdua lansung pergi ke tempat duduk kami masing - masing, Dimana Selena duduk di antara Brid dan Ayah.
Sedangkan aku, seperti biasa aku duduk di antara Kak Siska dan Juga Kak Rani.
Bagaimanapun juga cara terbaik untuk bisa menikmati Sarapan pagi itu adalah dengan Duduk di antara dua wanita cantik seperti mereka. Apa lagi di tambah Pelayan Cantik Rumah ini(Rina).
(Sungguh pagi yang indah benarkan PIX?)
[Aku tidak mengerti apa yang anda katakan. Tapi aku iyakan saja.]
Jawab PIX.
Sementara itu Selena yang seolah tau apa yang barusan aku pikirkan lansung menatapku dengan jijik.
Tentu saja aku merasakan tatapannya, Walau begitu aku abaikan dan menikmati pagi indahku ini.
____________________________________
_________________________________
Di saat kami sedang sarapan. Tiba - tiba Ayah seolah baru ingat sesuatu dan buru - buru melihatku.
"Oh iya Leon, tadi malam Ayah mendapatkan telepon dari Sekolahmu, mereka bilang lusa nanti kamu sudah bisa masuk sekolah."
Aku terkejut mendengar itu dan lansung melihat ayah.
"Eh sekolah? tapi bukankah hukumanku bahkan masih belum cukup Dua Minggu?"
"Itu memang benar. Namun menurut Pihak Sekolah hukumanmu akan di tarik kembali setelah Anak yang kamu lukai itu mengakui kesalahannya."
"Hmm begitu."
Karena Pihak sekolah menelpon Ayahku di malam Hari, itu berarti besok aku sudah bisa masuk sekolah.
-Namun ya sudahlah. Lagi pula, aku juga tidak sabar melihat dia.)
Seolah tau dia yang ku maksud itu siapa, PIX lansung berkata...
[Master, Apa Maksud anda Bu Linda?]
(Yah.)
Jawabku dengan tegas sambil tersenyum. Namun ayah yang melihat itu Sepertinya salah paham dan berkata...
"Leon, Sepertinya kamu senang ya bisa kembali ke sekolah?"
"Eh y-yah."
Balasku. Namun berbeda dengan Ayah. Brid dan Selena sepertinya menyadari tujuan asliku ingin datang ke Sekolah dan mereka berdua lansung menatapku dengan datar.
"Kau lihat Wajahnya itu. Di lihat dari manapun jelas - jelas ia ingin pergi ke sekolah hanya untuk bisa bertemu dengan Guru yang ia sebutkan di malam itu."
Bisik Selena di telinga Brid, dimana Brid mengangguk kuat.
"Um, aku setuju."
Ucapnya.
Aku abaikan Mereka saja dan melanjutkan sarapanku.
__ADS_1
______________________________________
__________________________________
Setelah kami sarapan aku keluar Rumah lalu pergi ke belakang Gudang tempat aku biasanya latihan. Dimana aku mencoba menunggu seseorang di sana.
Tak sama setelah aku menunggu akhirnya orang itupun datang. Dimana ia tidak lain adalah Brid.
"Kau sudah datang. Jadi bagimana tadi malam?" tanyaku.
"Tenang saja aku sudah membunuhnya."
Jawab lansung Brid.
"Begitu."
Gumanku.
Setelah Brid sampai di tempatku ia lansung berdiri di sampingku kemudian memandang langit bersamaku.
Lalu tak lama kemudian ia pun mulai bicara.
"Leon."
"Hmm?"
Aku berbalik melihat Brid, dan di situ aku melihat ia sedang menyerahkan beberapa Lembaran kertas ke arahku.
Kemungkinan besar Kertas itu adalah surat Perjanjian antara Bagas dengan Ganesh(Ayah Luis).
"Oh jadi inilah surat perjanjian mereka berdua. Tidak ku sangka kau benar - benar bisa mendapatkannya, Brid."
"Yaa itu karena anda sendiri yang menyuruhku. Selain itu aku bisa mendapatkan Surat ini karena orang itu terlalu mudah untuk di ancam."
(Yaa itu tidak bisa di pungkiri sih lagi pula, orang - orang seperti mereka hanya berpikir bahwa semua masalah bisa di selesaikan dengan Uang.-
-Jadi jika ada saat dimana Ancaman itu tidak bisa di beli dengan uang, maka mereka hanya bisa pasrah saja dan mengitu semua yang di perintahkan.)
Pikirku. Lalu karena tidak ada lagi yang ingin ku bicarakan dengan Brid. Jadi aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, Aku sudah mendapatkan apa yang ku mau, kalau begitu aku pergi dulu."
Namun di saat aku baru saja mau jalan tiba - tiba Brid menghentikan ku.
"Leon, tunggu dulu."
"Apa?"
"Sebetulnya aku sudah baca sedikit isi Surat itu, dan dari yang aku lihat sepertinya surat itu tidak ada untungnya sama sekali denganmu. Jadi kenapa kamu menginginkannya?"
"Ada dua Alasan kenapa aku menginginkan Surat ini. Yang pertama itu karena rasa ingin tauku pada Perjanjian yang mereka buat. Dan yang kedua aku ingin mengubah Pola pikir Pionku."
"Pionmu? Apa mungkin yang kamu maksud Gadis di kafe itu?"
Aku lansung menyangkal apa yang di katakan Brid, dengan mengelangkan kepala ku sedikit.
"Tidak. Bukan dia Tapi pionku yang satunya lagi."
"Satunya? Siapa?"
__ADS_1
"Dia adalah......BAGAS ATAU AYAHKU SENDIRI."
Tentu saja itu membuat Brid sangat Shock dan terkejut. Namun tanpa pedulikan itu aku lansung melambaikan tanganku kemudian aku pergi dan meninggalkannya Di situ.