
Seusai pelajaran selesai, tepat di jam istirahat, kami berempat. Aku, Rusli, Lia dan Sara pergi ke kanting untuk beli makanan.
Dimana, ketika aku berjalan masuk ke dalam aku bisa merasakan beberapa tatapan dari Kakak kelas yang sedang mengawasiku.
Seolah mereka semua tidak senang melihat keadiranku di sini.
Namun tanpa pedulikan itu aku lansung pergi duduk di salah satu meja yang ada di kanting. Lalu kami berempat ngobrol di sana.
"Oh iya Leon, aku dengar - dengar kau bertengkar tadi dengan Kakak Kelas yah?"
Tanya Rusli, dimana aku bertanya balik padanya.
"Dari mana kau dengar itu?"
"Semua murid kelas satu sudah tau. Mereka bilang kau Adalah satu - satunya anak kelas satu yang berani melawan para Senior. Bahkan berita soal kau yang buang salah satu Senior keluar jendela dari lantai dua sudah tersebar loh."
"Eh benarkah? Aku baru tau itu."
Ucapku yang terkejut. Namun tidak berhenti sampai di situ Lia menambahkan...
"Bukan hanya itu saja, bahkan beberapa Anak kelas satu yang sering kali di tindas oleh kakak Kelas, memuji tindakanmu loh."
"Eeeeh apa mungkin mereka semua perempuan?"
"Tidak, mereka semua laki - laki."
"😒.....Begitu."
Balasku dengan tatapan datar, Seolah tidak tertarik akan hal itu.
Lalu setelah itu, di saat kami berempat lagi asiknya makan, dari belakang Tiba - tiba seseorang mencengkram Pundakku dengan sangat Erat. dimana Orang itu tidak lain adalah para Senior yang bertengkar denganku tadi di kelas.
"Aku pikir aku salah lihat, tapi ternyata ini benar - benar kamu yah Bocah Sialan."
"Oh Senior ternyata kamu. Bagaimana bokongmu apa baik - baik saja?"
"Ka~Kau...."
Aku ingin membuatnya marah, tetapi ia lansung menenangkan dirinya lalu ia berahli ke arah Sara. Dimana tatapannya merona saat melihat Sara.
"Oh Sara kita bertemu lagi yah?"
"......"
Sara Mengabaikan Anak itu dan terus menikmati makanannya, tetapi bukannya marah Anak itu malah Terlihat senang dan mencoba pergi merangkul bahu Sara.
Melihat hal itu, Lia lansung marah dan berdiri dari tempat duduknya kemudian ia pergi mendekati mereka.
"Senior kami sedang makan, bisa tidak kamu pergi dari sini?"
"Um! Kamu kan....bukankah kamu Gadis yang bersama Sara Waktu itu. Maaf saja aku tidak tertarik denganmu."
Mendengar perkataan itu membuat Urat - Urat di dahi Lia terlihat sangat Kesal lalu ia mencoba melayankan sebuah Pukulan ke anak itu.
Tetapi sebelum ia melakukan itu aku lansung berdiri dan menghentikannya, kemudiam aku mengambil piringku dan tanpa ragu sedikitpun aku lansung memukul Kepala Anak Itu menggunakan Piring yang ku genggam Dimana membuat Piring itu pecah dan kepala anak itu berdarah, sampai akhirnya ia jatuh ke lantai.
Beberapa Murid yang dengar keributan itu lansung melihat ke arah kami.
"Apa yang terjadi?"
"Aku juga tidak tau, tapi di lihat dari situasi di sana Sepertinya ada yang sedang bertengkar."
"Eh Bertengkar? Apa mereka tidak takut di marahi Guru."
"Yaa itu urusan mereka, itu bukan urusan kita."
"Hmm kau benar juga."
Aku dengar beberapa Murid sedang membicarakan kami tetapi aku Mengabaikan mereka semua dan lebih menfokuskan tatapanku ke anak itu.
Dimana saat ini ia terbaring di lantai dengan Wajahnya yang di penuhi oleh darah.
Namun tanpa pedulikan itu, aku lansung berjongkok dan menarik kerah Bajunya, kemudian aku dekatkan bibirku di dekat telinganya untuk membisikkan sesuatu yang orang lain tidak bisa dengar.
"Senior, sepertinya kau lupa peringatan ku tadi yah. Atau mungkin kau anggap aku hanya main - main saja waktu aku membuangmu keluar dari jendela? Apa kau pikir aku tidak punya nyali untuk membunuhmu?"
"~Ti~Tidak aku,...aku tidak berpikir seperti itu. A~Aku mengaku salah maafkan aku."
"AH KAU BILANG APA?"
"A~Aku bilang maafkan aku."
"....."
Jujur saja anak - anak seperti ini seharusnya tidak bisa di maafkan begitu saja, karena bagaimanapun juga di kemudian hari mereka pasti akan balas dendam.
Maka dari itu aku pengen sekali Patahkan salah satu jarinya atau mungkin tangannya supaya itu bisa menanamkan Trauma ketakutan pada dirinya agar tidak berani lagi macam -macam denganku.
Namun karena saat ini aku ada di sekolah di tambah lagi tujuan ku sudah tercapai, jadi mau tidak mau aku pun hentikan niatku dan memilih untuk melepaskan ia kali ini.
Lalu setelah aku lepaskan, tak berselang lama beberapa Orang dewasa mulai berdatangan dan lansung melerai aku dan anak - anak itu agar tidak bertengkar lagi.
_____________________________
___________________________
__ADS_1
>Beberapa saat kemudian.
Di Ruang kepala Sekolah. saat ini
Tepat di depanku terdapat Seorang Pria dengan wibawa yang kuat dan mempunyai tatapan Lembut. Ia adalah Kepala Sekolah yang saat ini mencoba mengintrogasiku.
Bukan hanya dia saja tetapi ada satu orang lagi di ruangan ini. Ia adalah Wali kelasku Bu Linda dan saat ini ia duduk di salah satu sofa.
"Baiklah Leon, apa kamu mengerti apa yang sudah kamu lakukan?"
Pak kepala sekolah mencoba menanyakan tindakan kekerasan yang aku lakukan di Kanting tadi. Dimana tanpa takut sedikitpun aku menjawab.
"Yah, aku mengerti pak."
"Kalau kamu mengerti, kenapa kamu melakukan itu?"
"Karena aku kesal Pak. Aku lagi asik menikmati makananku tiba - tiba ia datang entah dari mana dan lansung mengganggu kami, jadi...."
"-Kamu lansung memukulnya?"
"Benar sekali pak. Tidak ku sangkah ternyata Bapak ini Pintar juga ya?"
"Leon Apa kamu sedang mengejek bapak?"
"Tentu saja tidak Pak, aku memujimu."
"Eh! Be-Benarkah?,...tapi sayang sekali, meskipun kau memujiku aku tetap akan Menghukum mu"
"Begitu ya,...Cih."
Aku lansung mendecatkan Lidahku setelah Niatku diketaui. Lalu beberapa detik kemudian Pak Kepala Sekolah terbatuk dan menatapku dengan serius.
"Baiklah sudah cukup main - mainnya. Leon Seperti yang kamu tau saat ini Anak yang kamu lukai sudah di bawah ke rumah sakit dan beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan Kabar dari pihak rumah sakit bahwa ia sudah baik - baik saja."
"Hmm syukurlah kalau begitu, tapi aku lebih senang jika ia mati saja."
Seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, Pak Kepala Sekolah lansung bertanya padaku.
"Eh, Leon kau bilang apa barusan?"
"Aku tidak bilang apapun pak."
"Tidak, kau barusan bilang kalau kau ingin anak itu mati kan?"
"Aku tidak bilang seperti itu Pak, Mungkin Bapak yang salah dengar."
"Benarkah?"
"Yah."
Guman Kepala Sekolah, lalu ia mulai menjelaskan...
"Aku yakin kamu seharusnya sudah tau. Sekolah ini punya peraturan, siapapun yang melakukan tindakan kekerasan biasanya ia akan diskors selama 3 hari atau paling lama 1 minggu.-
-Namun karena yang kamu lakukan kali ini sudah kelewatan jadi kami memutuskan, mulai besok kamu akan diskors dan di larang datang kesekolah ini selama 2 Minggu mengerti."
"2 minggu ya."
Bagi Para siswa biasanya melewatkan pelajaran selama 2 minggu itu sudah sangat menyulitkan bagi mereka.
Karena melewatkan pelajaran selama 2 sampai 4 hari saja itu sudah sangat mempengaruhi nilai ujian mereka.
Tetapi karena sejak awal aku ini sudah pintar di tambah lagi aku ini sangat cerdas jadi mau aku diskors selama 2 Minggu atau mungkin selama 1 Bulan bagiku tidak ada masalah sama sekali.
"Baiklah aku mengerti. Tapi sebelum itu bisa tidak kita buat kesepakatan Pak."
"Kesepakatan?"
"Yah, aku ingin Bapak Menskors aku selama 1 minggu saja sebagai gantinya malam minggu nanti, aku akan ajak Bapak pergi ke Klub malam dan akan ku traktir Sepuasnya di sana, bagaimana?"
Tanyaku dimana membuat pak Kepala Sekolah lansung tersipu malu.
Sedangkan Bu Linda yang dengar itu merasa Jengkel dan lansung berlari ke arahku lalu ia Mengetuk kepala dengan sangat keras.
BAKK!!
"~Aduh!!..Apa yang kau lakukan?"
"Seharusnya aku yang tanya apa yang kamu lakukan bilang seperti itu di depan Pak Kepala Sekolah. Bisa - Bisanya kamu bercanda di situasi seperti ini."
"Aku tidak bercanda sama sekali Bu, aku serius."
Ucapku dengan tatapan yang sangat serius. Lalu aku kembali melihat Pak Kepala sekolah dan bertanya lagi padanya.
"Jadi bagaimana Pak, apa Bapak mau terima kesepakatan ini? Omong - omong main di sana sangat Nikmat Loh pak."
"Ni-Nikmat💕"
Guman Si Kepala Sekolah yang wajahnya tambah tersipu malu.
Sementara di sisi lain, Bu Linda yang sudah tidak tahan dengan tindakanku itu lansung menarik telingaku ke atas dan membuatku kesakitan.
"~aghhh Telingaku, Bu Linda lepaskan telingaku itu sangat sakit."
"Tidak usah banyak Bicara, cepat ikut denganku."
__ADS_1
Ucap Bu Linda dengan Tajam sambil menatapku dengan Geram yang membuat aku merinding dan lansung terdiam.
Setelah itu, Bu Linda mengalihkan pandangannya ke Pak Kepala Sekolah dan mencoba berpamitan.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu pak."
Setelah Bu Linda berpamitan, ia lansung menarik telingaku dan menyeretku keluar dari Ruangan itu.
Dimana ia membawaku ke sebuah Ruangan lain dan aku di marahi habis - habisan di sana.
Hingga aku tidak bisa berkata apa - apa lagi dan hanya bisa diam dengan pasrah.
_____________________________
__________________________
Seusai aku di marahi, saat ini aku berjalan di Koridor dimana aku sedang mencoba menuju ke ruang kelasku.
TAP!!...TAP!!...TAP!!
Di saat aku berjalan, beberapa Murid yang melihat keadiranku lansung kaget dan buru - buru menghindar ke arah samping untuk memberi aku Jalan.
Sementara sebagian lagi sedang membicarakan diriku soal apa yang aku lakukan waktu di kanting tadi.
"Woy Lihat. Bukankah anak itu..."
"Yah, itu anak yang berkelai tadi di kanting dengan Senior."
"Kau benar, aku dengar - dengar ia juga sampai membuat Senior itu masuk ke rumah sakit."
"Eh apa kau serius?"
"Yah. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja ke anak yang ada di kanting saat itu.-
-Ia melihat dengan sangat jelas Senior itu mengalami luka parah di bagian kepalanya."
Meskipun aku bisa dengar percakapan mereka tetapi aku lebih memilih mengabaikan mereka dan terus berjalan menuju ke ruang Kelasku.
Sesampaiku di sana, aku lansung membuka Pintu Ruang kelasku dan masuk ke dalam dimana Semua murid lansung terdiam sesaat melihat keadiranku.
Namun tanpa pedulikan itu aku lansung pergi duduk di tempat duduk ku. Lalu aku bersandar di belakang Kursi sambil menghela nafas.
"Haaa...Benar - benar hari yang sangat merepotkan."
Gumanku. Dan saat itu juga dari samping tiba - tiba Sara memanggilku.
"Leon."
"Um! Ada apa?"
"A-anu itu,...apa kau tidak apa - apa?"
"Apanya?"
"Yaa kamu tau, aku dengar kamu di bawah ke ruang Kepala Sekolah, jadi..."
Seolah tau apa yang ingin Sara katakan, aku lansung jawab...
"Tenang saja, aku baik - baik saja kok. Aku hanya diskors selama 2 Minggu."
"Du-dua minggu? Bukankah itu terlalu lama?"
"Yaa mau gimana lagi, lagi pula aku juga salah karena sudah terlalu berlebihan saat itu."
Merasa bahwa semua ini adalah kesalahannya, Sara buru - buru mencoba minta maaf padaku.
"Aku minta maaf, Seandainya saja saat itu aku dengan tegas menolak dia. Kamu pasti tidak akan bertindak seperti itu."
Mendengar hal itu, aku lansung membantahnya.
"Tidak, kau salah Sara, mau kau bertindak Tegas atau tidak aku tetap akan melakukannya. Lagi pula memang itulah tujuanku."
"Tujuan? apa maksudmu?"
"Kalau itu Kau tidak usah tau. Yang jelas kau tidak usah menyalahkan dirimu Sendiri mengerti?"
".....Baik aku mengerti."
Setelah pembicaraan kami selesai, aku mengalihkan pandanganku ke arah Luar jendela, dimana hembusan Angin menerbangkan rambutku dan membuat aku merasa Segar kembali.
Lalu Saat itu juga tiba - tiba PIX yang dari tadi hanya diam saja lansung bertanya di dalam pikiranku.
[Meski begitu Master, tidak biasanya anda melakukan tindakan Mencolok seperti itu. Memang apa Tujuan anda?]
(Tujuan? Yaa kalau bisa di bilang, aku hanya menginginkan waktu luang yang banyak.)
[Waktu luang?]
(Yah, kamu seharusnya tau sendiri, saat ini aku sedang mencoba mencari keberadaan Kelompok lain yang mencoba mengincarku. Namun karena Waktu aktifitas yang ku punya sangat terbatas jadi....)
[Anda Sengaja melakukan tindakan Kekerasan di depan Umum, supaya anda bisa diskors selama beberapa hari, agar bisa mencari keberadaan orang itu(Selena)?]
"Begitulah."
Balasku dengan santai sambil memperlihatkan bibirku yang berbentuk seperti Bulan sabit.
__ADS_1
Lalu tak lama kemudian Pelajaran kedua pun di Mulai.