
Setelah aku memberitaukan Brid siapa Orang yang paling mengetaui Lubang Putih itu. Ia terlihat sangat terkejut.
"Apa! Gadis itu!, Leon apa kamu serius?"
"Yah. PIX sendiri yang memberitaukan hal ini padaku. Selain itu ia juga bilang tidak ada satupun manusia Di dunia ini yang bisa mengetaui soal Lubang Putih itu Selain Gadis itu."
Meskipun Brid mengerti hal itu, namun Tetap saja...
(Bukankah hal ini sangat sulit untuk di lakukan? Bagimanapun Juga gadis itu sekarang berada di tangan Jendral Alexei jadi tak mudah untuk bisa mendapatkan informasi darinya. Selain itu Carla juga masih Berseteru dengan Alexei, jadi hampir mustail untuk bisa bertanya ke Gadis itu.)
Seolah tau apa yang Brid pikirkan, Aku lansung menjawab semua pertanyaan nya itu.
"Brid aku mengerti apa yang sedang kamu pikirkan. Namun tak usah khawatir, karena cepat atau lambat kita pasti bisa bertanya ke Gadis itu secara lansung."
"Secara Lansung? Apa maksudmu?"
Tanya Brid yang terlihat kebingungan. Jadi aku pun mencoba menjelaskannya.
"Brid, Menurutmu kenapa aku menyuruh Kalian untuk terus menjalankan Rencana Carla menghadapi Alexei?"
"I-Itu bukankah untuk keselamatan kami?"
"Benar aku sudah memberitaumu hal itu sebelumnya. Namun Sebetulnya masih ada alasan lainnya lagi kenapa Aku melakukan itu. Salah satunya adalah.....AGAR KITA BISA MENGAMBIL GADIS ITU DARI TANGAN ALEXEI."
Mendengar hal itu sontak saja membuat Mata Brid lansung melebar karena terkejut. Sebab ia sudah menyadari niatku.
"Jadi begitu,..dengan kata lain kita akan menculiknya kan."
Ucap Brid dimana membuat Bibirku lansung Seringai.
"Heh benar. Selama kita bisa mendapatkan Gadis itu maka kita bisa sepuasnya bertanya ke dia soal Lubang Putih itu."
(Selain itu, Aku juga ingin menanyakan alasan kenapa ia membawa para TUPXION ke dunia ini.)
Pikirku. Sementara itu PIX yang dengar apa yang barusan aku pikirkan lansung membalas...
[Bukankah alasan ia membawa kami para TUPXION ke dunia ini untuk membantu kalian, para manusia Menghadapi para Monster?]
(Yaa Itu memang benar. Tapi firasatku mengatakan bahwa ia masih punya alasan lain selain itu.)
[Alasan lain? Seperti apa?]
(Kalau itu aku belum tau, tapi cepat atau lambat aku pasti bisa mengetauinya sendiri. Karena itulah kita harus culik Gadis itu dari tangan Alexei.)
Pikirku dengan Sorot mataku melirik ke arah PIX dengan tajam.
Lalu setelah itu kami(Aku dan Brid) pun Mulai menyusun Rencana, cara menculik Gadis itu.
Lalu tak lama setelah Rencana kami selesai Di buat, kami lansung berdiri dari tempat duduk dan meninggalkan tempat itu.
______________________________________
__ADS_1
___________________________________
Setelah kami meninggalkan Kafe, Kami tidak lansung pulang ke rumah melainkan kami pergi dulu ke suatu Tempat untuk makan.
Tak lama setelah kami Makan, tak terasa hari sudah mulai gelap dan kami pun memutuskan untuk kembali kerumah.
Kami tiba di rumah sekitar pukul 18 : 32 malam.
"Kami pulang."
Aku dan Brid berjalan Masuk ke dalam lalu pergi ke ruang tamu, dimana Kami melihat semua Orang berada di sana dan duduk di sofa. Kecuali ayah dan Ibu.
Kemungkinan besar Mereka berdua masih belum pulang kerja.
Aku juga tidak tau sih pekerjaan mereka berdua itu seperti apa, Namun untuk sekarang kita lupakan saja itu dan pergi duduk di sofa.
"~Haaa aku sangat lelah."
Aku duduk di dekat Kak Siska sedangkan Brid duduk di antara Rangga dan juga Selena.
"Hmm!"
Seolah baru menyadari keadiranku Kak Siska Lansung berhenti main Hp dan melihat ke arahku.
"Oh Leon, ternyata kamu sudah Pulang?"
"Yah, ada apa, apa Kak Siska rindu denganku?"
"Dasar Bodoh, tentu saja tidaklah."
"Jadi, kamu habis kemana?"
"Yaa aku habis Di ajak jalan - jalan sama Paman Brid. Benarkan paman Brid?"
Tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Brid, dimana aku melihat ia dengan eksresi Polos.
Tentu saja itu membuat Brid merasa Rumit sekaligus gugup dan menjawab..
"Eh y-yah kau benar."
"Lihatkan."
Ucapku sambil kembali melihat Kak Siska. Dimana Kak Siska sepertinya tidak terlalu mempedulikan hal itu dan kembali memainkan Hpnya.
Melihat hal itu membuat aku sedikit kesal dan mencoba menggodanya dengan membuang diriku di sofa lalu Baring - baring sambil Menggunakan paha Kak Siska sebagai Bantal.
Yang dimana itu membuat Kak Siska kaget dan Lansung melihat ku dengan wajahnya yang sedikit malu.
"Le~Leon apa yang kau lakukan? Cepat sana Bangun."
"Maaf Kak Siska, aku sangat lelah hari ini. Tolong biarkan aku begini sebentar."
__ADS_1
Meskipun Kak Siska merasa tidak senang namun di saat bersamaan ia juga merasa tidak enak mengusirku. Jadi ia pun menyerah dan mencoba mengabaikanku.
"Haaa sudahlah."
Guman Kak Siska yang kembali bermain Hp.
"....."
Namun Di saat ia sedang asik main Hp, tiba - tiba Ia merasa ada sesuatu yang sedang mengelus Pahanya, yang dimana membuat Ia geli sekaligus malu.
"~~....."
Walau begitu Kak Siska masih berusaha untuk tetap tenang dan mengabaikanku.
Seolah tak membiarkan hal itu terjadi, aku mulai mencoba untuk terus mengelus pahanya, yang dimana membuat Kak Siska sampai - sampai tidak bisa lagi menahannya dan mulai marah, lalu ia menarik telingaku ke atas.
"Leoooon berhenti mengelus pahaku itu geli tau."
"~Aduh..~Duh Kak Siska itu sakit."
"Itu salahmu sendiri karena mencoba membuat Kakakmu ini marahkan?"
"~Aduh,..Siapa yang mencoba membuatmu marah. Lagi pula sejak awal aku itu tidak pernah mengelus pahamu tau."
"Tidak usah bohong begitu. Sana menjauh dariku."
Ucap Kak Siska sambil mendorong aku menjauh dari pangkuannya, dimana membuat aku lansung Jatuh dari Sofa dan kepalaku terbentur ke lantai.
BUK!!
"~Aduh...ini lebih sakit dari pada telingaku yang di tarik."
"Bodoh amat, sana jauh - jauh dariku."
"Tidak mau, aku mau duduk di situ."
Aku mencoba untuk naik lagi ke atas Sofa tetapi Kak Siska menahanku menggunakan Kakinya.
"Leon, Apa kau tidak dengar, aku bilang menjauh dariku."
"Tidak mau aku mau Duduk di situ."
Kami berdua sama - sama ngotok dan tidak ada yang mau menyerah, sampai akhirnya terjadilah pertengkaran kecil di antara kami berdua.
Sementara itu, di sisi lain Brid dan juga Selena yang melihat Perilaku aku yang seperti anak kecil merasa sangat terkejut dan juga terkesan.
Sebab di lihat dari manapun aku ini tidak terlihat seperti orang yang mereka ketaui, dimana aku orang yang sangat berbahaya dan paling di takuti di dunia.
Melainkan aku seperti anak kecil yang sedang bertengkar dengan kakaknya. Karena itulah mereka berdua merasa terkesan denganku.
(Tidak ku sangka, ia bisa berakting sampai seperti itu. Kalau itu aku, aku pasti akan mati karena malu.)
__ADS_1
Pikir Selena, Kemudian di ikuti oleh Brid yang tersenyum hangat padaku.
(Awalnya aku khawatir dengan kehidupan dia di sini, tapi setelah aku melihat ini, aku merasa ia juga sepertinya menikmati kehidupan barunya di sini.)