BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
SIH MBAK KASIR


__ADS_3

Setelah aku berpisah dengan Rusli dan Lia aku singga ke super market dan beli beberapa Cemilan, Es krim dan juga Minuman soda. Tidak lupa aku juga beli Bir dengan takaran kuat.


Tentu saja Bir ini bukan untuk ku tapi ini untuk Brid dan Selena. Bagaimanapun juga mereka sangat suka sekali minum Bir apa lagi dengan takaran kuat sehingga aku membelikan ini agar mereka bisa membawanya pulang ketika mereka sudah kembali ke Markas KSP.


Setelah aku membeli semua yang aku perlukan, aku mencoba berkeliling sebentar dan melihat - lihat barang sekitar.


Dan saat itulah mataku tertujuh pada salah satu barang yang ada di sudut ruangan, Dimana barang itu tidak lain adalah ******.


Tentu saja hal itu membuat PIX merasa jijik padaku dan buru - buru melihatku.


[Master, aku tau kau menginginkan barang itu, tapi ini terlalu cepat bagimu untuk membelinya.-


-Setidaknya anda harus menunggu selama beberapa tahun lagi sampai anda bisa menggunakan barang itu.]


(Diamlah, tanpa kau beritaupun aku sudah tau itu. Aku hanya merasa nostalgia saja melihat barang itu.)


[Nostalgia? Hmm itu berarti anda tetap menginginkannya kan?]


(Yaaa........Sedikit.)


[Fufufu anda memang tidak bisa jujur ya. Tapi itulah yang aku suka darimu Master.]


(Ooh benarkah, sebaliknya aku malah tidak menyukai sifat jahilmu itu.)


[Hehehe Makasih atas pujiaannya.]


(AKU TIDAK MEMUJIMU.)


Aku lansung membentak PIX. Setelah itu aku meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat kasir, dimana aku mencoba melakukan pembayaran.


Tentu saja yang melayaniku kali ini adalah si mbak kasir yang sering ku goda.


Ia adalah wanita yang berumur sekitar 20 Tahun dan memiliki aura dewasa serta badan yang tinggi. Ia juga memiliki tahi lalat di bawah kelopak matanya dan mempunyai Rambut hitam panjang yang di kempang ke belakang.


Sosoknya itu sungguh sangat cantik yang membuat aku ingin memilikinya.


Yaa meskipun sampai saat ini ia masih menganggap aku seperti anak kecil namun aku tidak menyerah, aku akan berusaha agar suatu hari nanti ia melihatku sebagai seorang pria.


"Dek....adek apa kamu mendengarku?"


Mbak kasir terus memanggilku yang dimana membuat aku sadar kembali dan buru - buru melihat ke arahmya.


"Hah ma-maaf, ada apa?"


"Hari ini kamu beli banyak sekali ya, apa semua ini kamu yang habisin?'


"Tidak, aku ingin membagikannya ke keluargaku juga."


"Hmm begitu, itu berarti Bir ini untuk Ayahmu ya?"


"Eh..y-yah."

__ADS_1


Balasku. Meskipun pada kenyataannya orang itu(Ayah) tidak terlalu suka minuman keras.


(Baiklah, sudah cukup basa basinya mari kita mulai goda dia.)


"Oh iya Kak, hari ini kamu kelihatan cantik sekali."


"Benarkah?"


"Um, Aromamu juga sangat harum. aku yakin di luar sana pasti ada banyak pria yang ingin menjadi pacarmu. Salah satunya adalah aku."


Aku menunjuk diriku sendiri menggunkan jari jempol yang dimana membuat Mbak kasir itu tertawa.


"Fufufu makasih dek, Kakak senang kamu bilang begitu. Tapi maaf Kakak tidak bisa membalas perasaanmu.-


-Bukan hanya kamu saja tapi semua pria di luar sana juga sama. Karena di hati kakak, sudah ada yang kakak cintai."


(Hmm jadi begitu, itulah kenapa berapa kalipun aku menggodanya ia tidak pernah tertarik padaku.)


Pikirku, namun PIX lansung menyangkalnya dan berkata...


[Anda salah Master, Ia tidak tertarik padamu bukan karena sudah ada orang yang ia cintai melainkan itu karena anda adalah anak kecil.]


Tentu saja aku juga tau itu, namun mendengarnya secara lansung dari PIX entah kenapa membuatku kesal.


(Kau sangat berisik.)


[Maafkan aku.]


Sementara itu mbak kasir memperhatikan wajahku sedang kelihatan kesal. Ia penasaran apa yang terjadi denganku dan bertanya...


"Hah tidak, bukan apa - apa."


Jawabku lansung. lalu aku buru - buru mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Oh iya omong - omong, berapa semua total barang yang ku ambil?"


"Astaga aku lupa, kita keasikan bicara, tunggu dulu sebentar ya aku hitung."


Mbak kasir kembali menghitung semua barangku. Dan tak butuh waktu lama akhirnya selesai juga. Dimana aku lansung membayarnya.


"Ini Kak."


"Makasih, ini silahkan."


Mbak kasir menyerahkan 7 kantong kepadaku yang isinya barang - barangku. Aku lansung ambil 7 kantong tersebut dan membawanya di kedua tanganku.


"Yaa udah, kalau begitu aku pergi dulu Kak."


Di saat aku baru saja mau jalan, tiba - tiba mbak kasir menghentikanku, alasannya itu karena ia sedikit khawatir melihat aku membawa barang sebanyak itu.


"Tunggu dulu dek, bukankah barangmu itu sangat berat? Bagaimana kalau Kakak menyuruh teman Kakak untuk membantumu membawa barang - barang itu sampai ke rumahmu?"

__ADS_1


"Tidak perlu Kak aku baik - baik saja."


Jawabku lansung, kemudian aku lanjutkan lagi...


"Selain itu aku tidak akan lansung pulang kerumah, ada tempat yang ingin ku kunjungi terlebih dahulu."


"Oh Be-begitu ya."


Guman Mbak kasir.


"Yaa udah, kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah aku mengatakan itu, aku menundukkan kepalaku sedikit untuk berpamitan, lalu aku berjalan keluar dan meninggalkan tempat itu.


Sementara itu Mbak kasir terlihat masih khawatir padaku, meski begitu ia tidak berusaha menghentikanku.


"Aku harap anak itu baik - baik saja."


_____________________________________


_________________________________


Di saat aku sedang menuju ke tempat Bu Linda, di tengah perjalanan ada banyak sekali orang yang memperhatikanku.


Mereka semua mungkin merasa cemas melihat aku membawa barang sebangnyak ini, makanya di antara mereka ada yang mencoba menawarkan dirinya untuk membantuku namun aku tolak, sebab bagiku ini tidak berat sama sekali.


Bahkan aku merasa ini sangat ringan sehingga membuat aku tidak merasa kesulitan sedikitpun.


Ini semua berkat latihan yang sering ku lakukan sehingga membuat tubuh ini yang dulunya sangat lemah sekarang sudah mulai menjadi kuat.


Meski begitu ini belum cukup bagiku. Karena untuk mempersiapkan diriku masuk ke dalam pertempuran, aku harus menjadi kuat agar tubuhku bisa mengikuti setiap pergerakan dari kemampuanku di kehidupan sebelumnya.


Oleh karena itulah, meskipun aku sangat tidak suka di perhatikan oleh orang - orang sekitar, namun aku tetap memilih untuk jalan menuju ke tempat Bu Linda dari pada naik Taxi. Karena bagiku yang paling ku butuhkan saat ini adalah memperkuat tenagaku agar tidak mudah lelah di saat aku masuk ke dalam pertempuran.


____________________________________


_________________________________


Tak lama setelah aku berjalan akhirnya aku sampai juga di tempat Bu Linda, dimana saat ini aku sedang berdiri tepat di depan pintu apartemennya dan sedang mencoba mengetok pintunya.


TOK!!..TOK!!...TOK!!


Lalu dari dalam terdengar suara Bu Linda.


"Siapa?"


"Ini aku."


"Ooh ternyata kamu Leon, tunggu dulu sebentar, aku akan datang."


Dari dalam terdengar suara langkah kaki Bu Linda, dan tak lama kemudiam pintu di depanku pun terbuka dan terlihat sosok Bu Linda yang hanya mengenakan handut saja serta rambutnya yang masih terlihat basah.

__ADS_1


(Sepertinya ia baru selesai mandi. Ini sungguh pemandangan yang indah.)


Pikirku.


__ADS_2