BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KE KHAWATIRAN MEREKA AKAN KU HILANGKAN MESKI CARA BURUK SEKALIPUN


__ADS_3

Ketika Rangga sudah sampai di ruangan Leon, ia lansung masuk ke dalam, dimana di dalam sana ia memperhatikan Ibu sedang menangis di Pelukan Ayah.


Rangga kebingungan dan bertanya - tanya...


"Apa yang sedang terjadi?"


Rani yang dengar itu Lansung pergi mendekati Rangga.


"Sayang kamu sudah datang."


"Y-yah. Omong - omong Rani apa yang sedang terjadi di sini?"


"Um, sebetulnya...."


Rani mulai memberitaukan ke Rangga apa yang terjadi setelah ia dan Ayah pergi.


______________________________


___________________________


Beberapa menit yang lalu ketika Rangga Dan Ayah meninggalkan Ruangan ini, Ibu mencoba Mengajukan Dirinya Untuk tinggal Di Sini(rumah sakit) agar bisa menemani Leon, tetapi...


"Tidak, Ibu tidak perlu menemaniku."


"Kenapa?"


"Kau tanya Kenapa, Dari pada Ibu yang menemaniku aku lebih suka jika di temani sama Kak Siska atau Kak Rani."


"Ta-Tapi bukankah kamu dengar Tadi, mereka berdua tidak bisa menemanimu karena mereka punya urusan yang harus mereka lakukan Besok."


"Hmm kalau begitu ya udah, tidak usah ada yang menemaniku, lagi pula aku juga lebih suka sendiri dari pada Ibu yang menemani ku."


Ibu mulai terlihat Kesal dan bertanya - tanya..


"Kenapa,...Kenapa kamu tidak mau sekali Ibu yang temani?"


"Apa Ibu yakin ingin tau itu?"


"Tentu sajalah."


"Baiklah kalau begitu akan ku beritau, Itu karena,..AKU TIDAK SUKA DI TEMANI SAMA LOLI SEPANJANG MALAM, APA LAGI DADA DATAR SEPERTI MU AKU TIDAK SUKA SAMA SEKALI.-


-MAKANYA DARI PADA IBU YANG MENEMANIKU, AKU LEBIH SUKA JIKA DI TEMANI SAMA MEREKA BERDUA KARENA AKU BISA LIHAT DADA JUMBO MEREKA SEPANJANG MALAM.-


-SEKARANG APA IBU SUDAH MENGERTI?"


"I~IBU,...IBU TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI, DASAR LEON BODOOOOOOH!"


Ibu tanpa ampun lansung meninju tanganku yang patah, hingga membuat aku lansung menjerit kesakitan.


"~~ARGHHHHHHHH TANGANKU, TANGANKU DASAR LOLI SIALAAAAAAAN!"


_______________________________


____________________________


Setelah Rani memberitaukan kejadian itu. Rangga lansung melihat ke arah Leon, dimana Senyumannya terlihat menyeramkan.


"~~Anak itu, berani - beraninya ia bilang seperti itu pada ibunya. Sepertinya ia harus di beri pelajaran."

__ADS_1


"Eh sayang, aku rasa kau tidak perlu melakukan itu, lagi pula Ayah juga sudah-!!"


Sebelum Rani selesai bicara, Rangga Lansung pergi menghampiri Leon.


Sedangkan Di sisi lain. ketika aku merasakan keadiran seseorang yang sedang mendekatiku, aku melihat ke arah sana dan mendapati Kak Rangga sedang berjalan ke arahku.


"Oh Kak Rangga Kau sudah da...Eh-!!"


Aku Tiba - tiba berhenti bicara sesaat melihat Tangan Kak Rangga di angkat tinggi - tinggi ke atas. Karena penasaran aku pun bertanya...


"Ka~Kak Rangga, apa yang sedang kau lakukan?"


"Um, aku ingin tau saja, jika aku pukul Kepalamu apa kau akan Berubah jadi anak baik atau tidak."


"Eh, tu~tunggu....tunggu dulu Kak, apa kau tidak lihat aku sedang terluka parah, Jika kau melakukan itu maka aku akan-!!"


Sebelum aku selesai Bicara, Kak Rangga Lansung mengetok kepalaku dengan sangat Keras hingga Membuat aku merintih kesakitan..


"~~Aghhhh,...Sial, Sial, Sial Kalian semua ini kenapa sih? Apa kalian tidak lihat aku sedang terluka parah tapi kalian malah bergantian memukul ku.-


-Pertama Kak Siska memukul kepalaku kemudian Ibu Meninju tanganku yang patah lalu Ayah Menampar Pipiku dan sekarang Kak Rangga mengetok Kepalaku.-


-Apa kalian semua datang kesini hanya ingin membuat aku tambah Sakit?"


"Dasar Bodoh tentu saja tidaklah, kami melakukan itu gara - gara kau Bilang seperti itu ke Ibu." balas Kak Siska


"Kan aku sudah minta maaf, lagi pula aku juga cuma bercanda tadi."


"Bercanda? Aku tidak melihatnya seperti itu, benarkan Kak Rani?"


Tanya Kak Siska sambil melihat ke arah Kak Rani, dimana Kak Rani lansung mengangguk setuju.


"Umm."


"Ka~Kalian berdua...."


Aku ingin membalas perkataan mereka tetapi aku tidak tau mau balas apa.


Aku kesal dan lansung mengertakkan Gigiku.


(Sial, Padahal aku yang paling tersiksa, tapi malah aku yang di pojokkan seperti ini.)


Mendengar hal itu PIX lansung membalas....


[Master, Meskipun anda berkata seperti itu, tetapi jauh di dalam hati anda, anda pasti merasa Lega kan?]


(Lega kau bilang? apa kau ngajak berantem. Apa kau tidak lihat aku ini sedang terluka parah tau dan malah di perlakukan seperti ini.)


[Memang benar anda di perlakukan kasar oleh mereka, tapi berkat itu anda berhasil menghilangkan kekawatiran mereka terhadap Kondisi anda.]


Seolah tidak terima apa yang PIX katakan, aku mencoba membalas...


(Heh dasar Bodoh buat apa aku melakukan itu? Lagi pula Meskipun itu benar kalau begitu kenapa juga aku harus membuat Loli itu sampai menangis?)


[Master, dia memang menangis tapi bukan berarti ia menangis karena Kata - kata anda yang kasar, melainkan ia menangis karena anda tak membiarkan ia tinggal di sini dan menemani anda, itulah sebabnya ia menangis.-


-Jika anda minta maaf padanya dan bilang...Baiklah kau bisa tinggal di sini bersamaku, aku yakin ia pasti akan kembali senang. Lagi pula ia hanyalah seorang ibu yang ingin menemani anaknya yang sedang terluka parah.]


(.....)

__ADS_1


Aku terdiam dan tidak bisa membalas apa - apa. Namun tak berhenti sampai di situ PIX melanjutkan lagi.


[Selain itu, aku yakin kedua orang itu(Ayah dan Rangga) juga sadar akan niat anda yang sebenarnya, itulah sebabnya mereka tidak memukul anda dengan Serius.-


-Contohnya saja Orang itu(Ayah.) Meskipun ia menampar Pipi anda tetapi pipi anda tidak terlihat merah sedikitpun.-


-Adapun dia(Rangga), meski ia mengetok kepala anda dengan keras tapi yang ia ketok itu bukanlah kepala anda melainkan hanya Bantal saja. Buktinya di Bantal itu Ada sebuah bekas Lubang tepat di atas kepala anda, Benarkan?] Tanya PIX dengan Serius.


(Yah, semua yang kau katakan itu memang benar. Di bantal ini memang ada sebuah Lubang dan aku sudah menutupinya menggunakan Kepalaku agar mereka tidak bisa melihatnya.-


-Tapi PIX, Bagaimana kau bisa tau itu semua?)


[Hah, itu karena aku bisa mengetaui Perasaan anda yang sebenarnya.]


(Perasaanku?)


[Yah, Meski anda berkata kasar kepadanya(Ibu) tetapi aku tidak merasakan Perasaan negatif sedikitpun di dalam diri anda. Malahan yang aku rasakan itu adalah Perasaan lega dan juga Rasa bersalah.-


-Dan Karena aku penasaran jadi aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam pikiran anda yang lebih dalam untuk mencari tau niat anda yang sebenarnya dan Akhirnya aku pun mengetauinya.]


"Hmm jadi begitu."


Gumanku.


Jujur saja Aku selalu berpikir kalau dia ini sangat pintar dan punya pemikiran yang jauh lebih baik dari pemikiran manusia pada umumnya, tapi tidak ku sangka ia akan sepintar ini.


Tatapanku yang tadinya terlihat tenang tiba - tiba berubah menjadi tajam. PIX yang memperhatikan itu lansung bertanya...


[Master, kenapa kau menatapku seperti itu?]


(Hmm bukan apa - apa, aku hanya Berpikir sepertinya kau lebih berbahaya dari apa yang aku pikirkan.)


[Berbahaya? Master berhentilah bercanda, di bandingkan diriku andalah yang lebih berbahaya.]


(Kalau itu kita belum tau, tapi jika kau benar - benar berbahaya maka...)


Mataku lansung menyipit dengan tajam dan aura membunuh keluar dari tubuhku.


Merasakan hal itu, baik Ayah maupun Kak Rangga lansung kaget dan melihat ke arahku.


(Aura Membunuh barusan, apa itu datang dari Leon? Tidak, itu tidak mungkin. Mana mungkin aura mengerikan tadi berasal dari dia.)


Pikir Kak Rangga. Sementara itu di sisi lain, Ayah hanya diam saja Dan menatapku terus, dimana Tatapannya Seolah sedang mencurigaiku.


Tentu saja aku tidak tinggal diam, aku berusaha untuk tetap terlihat tenang agar mereka tidak mengetauinya.


"......"


Lalu tak berselang Lama akhirnya ayah memalingkan pandangannya dariku dan kembali melihat Ibu. Dimana membuat aku lansung merasa sedikit lega.


"~Fuuuu, Itu hampir saja."


Gumanku. Lalu kemudian aku melirik ke arah PIX dan berkata.....


(Baiklah, untuk sekarang kita hentikan saja pertengkaran kita sampai di sini. Nanti kita lanjutkan lagi.)


[Aku setuju.]


Balas PIX.

__ADS_1


Setelah itu, aku memanggil Ibu dan minta maaf atas apa yang aku lakukan tadi. Tidak lupa aku juga meminta ia untuk tinggal di sini.


Dimana ia Terlihat sangat senang dan wajahnya Kembali Ceria. Hingga akhirnya aku pun di Temani oleh Ibu Sepenjang malam di sini(Rumah sakit.)


__ADS_2