
setelah beberapa saat aku berlari, matarahari sudah mulai terlihat seutunya, dan aku sedang terenga - enga karena sangat kelelahan habis berlari.
"haaa...haaa.....haaa....!!"
saat ini aku sedang istirahat di sebuah taman, sambil duduk di kursi taman, di dekat tepi jalan, dimana tempat orang biasanya sering lewat.
"haaa..haaa..., su- sudah kuduga, tubuh bocah ini sangat lemah, a- aku,.. aku baru berlari sebentar saja, tapi, aku sudah selelah ini,...haaa..haaa!!"
ketika aku mengatakan itu, nafasku tidak karuang, sehingga membuat kata - kataku terputus - putus.
setelah itu, suara PIX mulai terdengar di dalam pikiranku.
[master, bisa, tidak jangan terus salahkan tubuh bocah itu, lagi pula, jika master berusaha lebih keras lagi, aku yakin master pasti bisa berlari dengan waktu yang lama..]
(woy, a- apa kau tidak lihat,...aku ini sudah sangat lelah,...da- dan kau mau menyuruhku untuk berlari lagi, haa..haa...haaa??)
kataku, kepada PIX didalam pikiranku dengan sangat kesal.
[yah, kalo perlu, bahkan sampai master pingsan sekalipun, aku yakin master pasti bisa jika berusaha lebih keras lagi!?]
(gila,..apa kau ingin aku mati??)
[itu bagus juga, master!?]
"SIALAN KAU!!"
tampa sadar aku berteriak di udara yang kosong, dan orang - orang yang sedang lewat di depanku, melihatku dengan tatapan aneh.
aku lansung mengalihkan pandanganku ke arah bawah, karena terlalu malu untuk di lihatin terus orang.
(beraninya kau mempermalukanku lagi!!)
kataku, sambil perlahan melirik beberapa orang yang sedang lewat di depanku, ketika mereka masih sedang melihatku dengan aneh.
[master, apa kau bego!..itu jelas - jelas bukan kesalahanku, tapi kesalahan master sendiri!?]
(tapi kaulah yang membuat gue kesal?)
[aku memang membuat master kesal, tapi aku tidak pernah berniat untuk membuat master Berteriak, dan mempermalukan master sendiri di depan umum!?]
(banyak omong kau,..jujur saja dari awal kau emang berniat mempernalukanku kan??)
[tidak.]
(ngaku aja!?)
[aku sudah bilang, aku tidak pernah berniat untuk mempermalukan master.
lagi pula, kenapa master segitunya tidak mau terima kenyataan, kalo master mempermalukan diri sendiri??]
(.....!!)
aku dan PIX terus bertengkar di dalam pikiran ku, namun saat PIX mengatakan itu, aku lansung terkandas dan tidak bisa mengatakan apapun.
namun, setelah hanya beberapa detik, tiba - tiba aku merasakan kalau ada seseorang yang sadang mendekat ke arahku.
"aku pikir aku salah lihat, tapi ternyata itu benar - benar kau Leon!?"
"umm??"
saat aku mendengar suaranya, aku perlahan mengalihkan pandanganku ke arah suara itu.
"se- selamat pagi Leon..."
disana aku melihat ada seorang Bocah laki - laki yang sedang menyapaku, berusia seperti sama denganku,
dia memiliki rambut pirang gonrong kehitaman sedikit, sambil menyisirnya ke arah samping, dan saat ini ia juga sedang memakai celana olahraga.
mungkin dia habis olahraga juga...
__ADS_1
"ya- yah, selamat pagi"
kataku pada Bocah itu sambil gugup.
satelah itu aku mengalihkan pandanganku ke arah samping bocah itu, dan disana, ada seorang perempuan yang berusia hampir sama seperti Kak Siska.
dia memiliki rambut berwarna biru gelap yang panjang dengan pony terbelah, sambil mengikatnya seperti gaya ponytail sampai ke punggungnya.
saat ini ia juga memakai celana olahraga seperti bocah di sampinganya, sambil memakai pakain dengan lengan panjang berwarna hitam, putih.
saat aku memikirkan itu sambil memperhatikan wanita ini, dia sepertinya sadar kalo aku saat ini sedang memperhatikan ia. dan perlahan ia juga menyapaku, seperti yang di lakukan bocah di sampingnya.
"hay, Leon selamat pagi.."
katanya sambil terlihat sangat ceria dan tersenyum di depanku.
"hah,...umm, selamat pagi,"
kataku, sambil melihat ke arahnya dengan gugup.
namun sesaat kemudian, aku menatap wanita itu sambil ingin mengetaui, apa niat mereka ingin mendekatiku.
"anu,..apa kau butuh sesuatu dariku??"
aku mengatakan itu sambil terlihat bertanya - tanya, siapa mereka.
namun, ketika gadis itu melihat wajahku seperti itu, ia terlihat seperti baru menyadari sesuatu.
"hah, benar juga, aku lupa kalau Siska pernah bilang kalo Leon saat ini sedang hilang ingatan...jadi ternyata itu benar!?"
kata wanita itu, sambil aku sedang memikirkan sesuatu ketika ia menyebutkan nama yang aku kenal.
(dia....apa dia kenalan Kak Siska?)
namun, seperti yang aku katakan dulu, untuk saat ini aku akan terus berpura - pura menjadi leon yang sedang hilang ingatan. dan bertingkah seperti layaknya seorang Bocah, agar mereka tidak menyadariku.
"anu...apa kau, kenal Kak Siska??"
dia mengalihkan pandangannya ke arah bocah di sampingnya dan aku pun melihat ke arah bocah itu. dimana Putri sedang meletakan tangannya di atas kepala bocah itu.
"-dia,...dia adalah adek ku, bernama Rusli, satu sekolah denganmu, meskipun kalian tidak satu kelas, namun kalian tetap teman dekat!?"
"begitu,..meskipun aku tidak ingat denganmu. tapi, mulai sekarang mohon bantuannya"
kataku terhadap bocah itu, saat dia melihatku dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
namun, berbeda dengan bocah itu. ketika Putri mendengarkan apa yang aku katakan, dia melebarkan matanya karena terkejut.
"ooh, kata - kata yang bagus Leon, untuk ukuran seorang Bocah!"
"benarkah??"
kataku sambil memiringkan kepalaku.
"umm,..meski kau sudah hilang ingatan, entah kenapa auramu terlihat sangat dewasa!?"
"itu pasti hanya imajinasimu sa-!!"
sebelum aku selesai pembicaraanku, tiba tiba bocah di samping Kak Putri lansung menerjanku sambil megenggang kedua pundakku.
"LE~ LEON APA KAU BENAR - BENAR TIDAK INGAT AKU??"
kata bocah itu sambil berteriak di depan wajahku, dan ketika aku melihat wajah bocah itu, ekspresi dia terlihat sangat sedih, dan seperti ingin menangis.
(uwah, jujur aku sangat benci kalo melihat bocah menangis!!)
ketika aku memikirkan itu, wajahku terlihat sangat kesusahan berurusan dengan bocah ini.
"anu...bisa tidak kau lepaskan aku dulu??"
__ADS_1
"TIDAK MUNGKIN, LAGI PULA JAWAB SAJA AKU, APA LEON MASIH MENGINGATKU??"
"...pertama - tama bisa tidak kau menjauh dariku dulu??"
"SUDAH KU BILANG TIDAK MUNGKIN, JAWAB SAJA AKU!?"
katanya sambil berteriak di dekat wajahku, yang mulutnya terbuka lebar, sehingga air liur dia terus berceceran di wajahku. dan itu membuatku sangat jengkel.
(MENJAUH DARIKU BOCAH SIALAN,..APA KAU INGIN GUE BUNUH!!)
Kataku di dalam pikiranku sambil megenggang erat tanganku yang siap menghajar Bocah ini.
namun, ketika Putri melihat aku yang tidak senang dengan sikap adeknya ini, ia dengan cepat lansung menarik bajunya untuk menjauhkan ku dari dia.
"kau, apa yang kau lakukan? apa kau tidak lihat kau sedang menyusahkan Leon?"
kata Putri, dan perlahan Bocah itu melihat ke arah kakaknya, sambil menunjukkan ekspresinya yang sedang mau menangis.
"Kakak,..ta~ tapi aku,...aku....!?"
saat Putri melihat adeknya seperti itu, ia menaruk tanganya di atas kepalanya.
"aku mengerti kok, tapi, pertama - tama kau tenanglah dulu, apa kau tidak lihat kalo leon dari tadi tidak senang dengan sikapmu yang seperti itu!?"
"ehh!?"
setelah ia di beritau, ia lansung mengalihkan pandangannya ke arahku, yang terlihat sedang jengkel.
"Le- Leon,..aku-"
"umm??"
"aku benar - benar minta maaf Leon,
katanya sambil menundukkan kepalanya di depanku.
"...."
untuk sementara, aku terus menatap ia, namun sesaat kemudian aku mulai tenang kembali.
"haaa,...baiklah aku akan memaafkanmu jadi, angkat kepalamu.!?"
setelah aku mengatakan itu, Rusli mulai mengangkat kepalanya dan melihatku dengan wajah ceria.
"terima kasih Leon!?"
"yah."
jawabku dengan secara singkat. dan sesaat kemudian PIX mulai bicara di pikiranku.
[Bocah, kau tidak perlu meminta maaf kepada master tolol. lagi pula, tadi masterku benar - benar berniat untuk membunuhmu!?]
(DIAMLAH!!)
[tidak. aku tidak akan diam, lagi pula master tadi me-!!]
(aku bilang diam,...apa kau tidak punya telinga!?)
[emang tidak punya master..!?]
(.....)
ketika aku dan PIX sedang bercanda di dalam pikiran, aku tiba - tiba terkandas dan tidak bisa mengatakan apapun, saat PIX mengatakan itu.
(...benar juga, kau emang tidak punya telinga!?)
[umm..]
kata PIX, dengan wajah yang sombong terlihat di kaos tanganku.
__ADS_1
setelah pembicaraanku selesai dengan PIX di dalam pikiranku. aku perlahan melirik ke arah bocah itu. dan dengan tenang mulai bertanya.
"jadi Rusli,..apa yang ingin kau tanyakan padaku??"