
Di malam hari. pada saat Ibu dan ayah sedang nonton di ruang tamu, ibu melihat jam di diding sudah menunjukkan jam 8 malam.
Namun, mereka semua belum pulang sama sekali. sehingga membuat ibu merasa khawatir.
"Kenapa mereka lama sekali pulang?"
"Mungkin mereka singgah di suatu tempat." jawab Lansung ayah.
"Aku harap begitu." ucap ibu
Meskipun Ibu mengatakan itu namun ia masih terlihat khawatir. Melihat hal itu, ayah lansung mengelus kepala ibu. Hingga membuat Ibu sedikit kaget.
"Sayang?"
"Miki, tidak usah sekawatir itu. Aku yakin mereka baik - baik saja. Selain itu apa kau lupa Rangga ikut juga. Jadi tidak perlu khawatir."
Melihat Senyuman ayah membuat Ibu lansung tersipu malu. Sambil menunduk ke arah bawah.
"Umm, aku mengerti."
Setelah ayah merasa kalau ibu sudah baikan. Ia kembali Nonton.
Di sisi lain, untuk sementara Ibu nonton juga. Namun setelah beberapa detik kemudian, ia melirik ayah dengan serius.
"Sayang, boleh aku tanya."
"apa?"
"kenapa kau tidak ikut, sama mereka?"
Saat ibu bertanya soal, kenapa Ayah tidak ikut dengan Leon dan yang lainnya berkunjung ke kuburan Istrinya.
Tanpa melihat ke arah ibu, ayah menjawab.
"Bukannya aku tidak ingin ikut. Hanya saja aku sudah berkunjung beberapa hari yang lalu."
"Eh benarkah? Kenapa kamu tidak mengajakku?"
"Saat itu kamu lagi sibut kerja, jadi aku tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri."
"Umm, begitu yah."
Ucap ibu, setelah itu ia lanjutkan lagi.
"Yaa, apapun itu, aku senang kamu sudah berkujung."
Mendengar itu, sesaat ayah melirik ke arah ibu. di mana ia sedang tersenyum. Setelah itu ayah melihat ke arah tv lagi.
"Miki, apa kau tidak marah, karna aku belum melupakan Istriku?"
"Mana mungkin aku marah,...selain itu..."
Sesaat ibu berhenti ia lansung menyandarkan punggungnya di samping ayah. Setelah itu ia lanjutkan lagi.
"..baik aku ataupun dia. Kamu masih mencintai kami berdua kan?"
"Itu, Tentu saja."
"Nah, kalau begitu. Tidak mungkin aku marah. Meskipun kamu belum melupakan dia. Selama kamu mencintaiku. Aku tetap bahagia kok."
**********
Author: 😒😒
**********
Melihat Senyuman indah ibu membuat ayah lansung tersipu malu. Sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ibu yang melihat itu mencoba bertanya,..namun..
"Sayang ada ap-!!"
Sesaat ibu bertanya. Dengan cepat ayah lansung mengangkat ibu dan memangkunya di atas pahanya.
Setelah itu, ayah lansung memeluk ibu dari belakang. Hingga membuat Wajah ibu lansung memerah.
"~~Sa~Sayang, apa yang kau lakukan?"
"Miki, biarkan aku begini sebentar."
Ketika Ayah membisikkan itu di telinga ibu. Ibu lansung terdiam dan membiarkan ayah memeluknya.
Namun, tanpa mereka sadari dari arah Pintu terdengar suara seseorang yang baru saja pulang.
Mereka tidak lain adalah aku (Leon), Kak Siska, Kak Rangga beserta istrinya Airani dan juga anaknya Fira.
Ketika kami berjalan masuk, kami mencoba pergi ke ruang tamu, namun...
"Haaa, akhirnya pulang juga, Aku sangat capek." ucapku
"Kau benar, aku ingin lansung ke kamar dan-!!"
-Tidur, ingin ucap Kak Rangga.
__ADS_1
Namun, Sebelum Kak Rangga mengatakan itu, baik Aku ataupun Kak Rangga lansung membatu.😐😐
Sebab, tepat di depan kami aku melihat Orang tua kami sedang bermesraan di Sofa, sambil berpelukan di sana.
(PIX, apa kau lihat air di sekitar sini?)
[Air? Buat apa?]
(AKU INGIN MENYIRAM MEREKA.)
[HENTIKAN ITU MASTER.]
Ketika aku bicara dengan PIX. Kak Siska yang baru masuk di ruang Tamu lansung tersipu malu. Sedangkan Airani ia hanya tercengan melihat mereka berdua.
"Ara, Ara mereka sangat akur yah."
Saat Ibu dengar suara Airani. Ia lansung melihat ke arah kami. Dan memperhatikan kami sedang melihat dirinya.
"Eh, K~K~K~K~Ka Kalian, kapan kalian pulang?"
"Baru saja. Hah tidak usah pedulikan kami, ibu lanjutkan saja!"
Ucapku dengan datar. hingga membuat wajah ibu terus memerah dan tak lama kemudian ia mulai teriak.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
__________________________________
___________________________
Setelah beberapa saat ibu Teriak. Ia saat ini sedang menutupi Wajahnya dengan bantal sambil terus - terusan membisikkan...
"~Aku ingin mati..~Aku ingin mati..~Aku ingin mati..~Aku ingin mati..~Aku ingin mati..~Aku ingin mati.."
Saat Ibu terus membisikkan itu. Di sisi lain ayah terlihat kaku di sana. Sayangnya Ekspresinya tidak bisa aku lihat karena di tutupi oleh bayangan.
Meski begitu, aku bisa tau kalau ia saat ini sangat malu.
adapun kami yang saat ini duduk di Sofa.
untuk sementara kami semua memperhatikan ayah dan ibu. Namun Tak lama kemudian aku mulai bertanya.
"Jadi, apa kalian ingin bergulat tadi?"
"Bergulat?"
Saat Kak Siska bertanya - tanya. Semua orang di ruang ini. Lansung melihat ke arah ku.
tanpa pedulikan tatapan mereka aku mencoba memberitau Kak Siska apa itu bergulat.
BUK!!
"~~Ughhh!"
..hingga membuat aku berjongkot dan terjatuh di lantai.
(~ugh, Loli sialan beraninya ia memukulku.)
[Tidak perlu semarah itu Master, bukankah kau sudah biasa di pukul oleh kakak mu.]
(Aku tidak masalah kalau Kak Siska memukul ku, karena ia Cantik. Tapi, kalau nih Loli yang mukul aku tidak terima sama sekali.)
[Master. Kau terlalu pilih - pilih]
(Emang Masalah!)
[Tidak, lupakan saja.]
Setelah aku bicara sedikit dengan PIX, perlahan aku berdiri dan duduk kembali di Sofa.
Setelah aku duduk, aku mencoba melanjutkan pembicaraan Soal bergulat barusan. Namun sebelum aku bicara. Sih Loli lansung mengubah Topik pembicaraan.
"Oh iyah, Rangga, kenapa kalian lama sekali pulang?"
Saat Ibu bertanya, Kak Siska dan Airani terlihat senang. Namun berbeda dengan mereka berdua Kak Rangga terlihat kelelahan.
"Yaa, sebetulnya kami berniat jalan - jalan sebentar. Tapi, karena terlalu asik sehingga kami tidak sadar kalau waktu sudah malam."
"Umm, begitu yah."
Ketika ibu perhatikan Kalau aku dan juga Kak Rangga terlihat Lelah. Ibu lansung tau kalau yang menikmati jalan - jalan ini, bukanlah kami berdua melainkan hanya para wanita. Yang tidak lain adalah Kak Siska dan juga Istrinya Kak Rangga. Airani.
"Oh iyah, bu."
Saat Airani memanggil ibu, ibu lansung melihat ke arahnya.
"Ada apa Rani?"
"Waktu kami pulang kami Singga beli beberapa kue. Jadi kami membelikan untuk ibu dan ayah juga."
"Eh, benarkah?"
Saat Airani mengoporkan Kantong hitam ke ibu. Ibu mangambil Kantong Tersebut dan melihat kalau terdapat sebuah bingkisan yang isinya Kue yang sangat enak.
__ADS_1
Melihat itu ibu lansung terlihat senang dan lansung memeluk Airani.
"Rani, makasih sudah membelikanku Kue. Aku sangat senang."
"Tidak, ibu tidak perlu terima kasih. Selain itu yang beli Kue ini bukan aku tapi Suamiku."
Mendengar hal itu, ibu lansung melihat ke Arah Kak Rangga dan lansung memeluknya.
"Rangga Makasih, Ibu sangat senang."
"Syukurlah kalau ibu suka itu."
Ketika aku perhatikan suasana Keluarga ini, aku mengingat suasana saat bersama kelompokku di kehidupan sebelumnya.
dimana, Mulai bersama Mael, Dux, Brid dan Trio Bodoh yaitu Greg, Mavra, dan Betris Hingga yang terakhir adalah Carla. Wanita yang sering menyeretku main Game di Kamarnya.
Meskipun aku tidak tau begaimana keadaan mereka sekarang. Namun mengingat hari - hariku bersama mereka membuat bibirku lansung melengkun seperti bulan Sabit.
Kak Rangga yang memperhatikan itu, lansung bertanya.
"Leon, ada apa kau senyum sendiri?"
"Tidak, bukan apa - apa kok."
Ucapku sambil berdiri, setelah itu aku melihat ke arah mereka semua.
"Kalau begitu, aku pergi tidur dulu, aku sangat capek hari ini."
"Hah, kalau gitu aku ikut juga."
Ucap Kak Siska, setelah ia lansung berdiri dan mulai mengikutiku dari belakang.
Di sisi lain, Ketika aku berjalan naik di tangga. tanpa aku sadari, di sana Kak Rangga sedang melirikku dengan Tajam.
Namun, ketika ayah Perhatikan itu. Ia lansung memanggilnya.
"Rangga."
"Eh yah, ada apa ayah?"
"Bukankah kamu lelah, bagaimana kalau kamu pergi tidur juga."
"Tidak, aku masih belum ingin tidur. Selain itu..."
Sesaat Rangga berhenti ia melihat ke arah ibu yang masih memeluknya.
"~ibu, bisa lepaskan aku sekarang, aku susah bernafas."
"Hah, Maafkan aku."
__________________________________
_________________________
Di sisi lain.
Ketika aku dah naik di lantai 2, aku saat ini sedang berjalan di Lorong bersama dengan Kak Siska.
sesaat kami berjalan aku melirik ke arah Kak Siska, setelah itu aku melihat ke arah depan lagi.
"Omong - omong Kak Siska, kuburan yang kita kunjungi tadi. Itu Kuburan Ibu kandung Kak Siska yah?"
"Leon, aku pikir kau tidak ingat itu?"
"Aku memang tidak ingat. Kak Rangga yang memberitauku pagi tadi."
ucapku. namun Ketika Kak Siska mendengar itu, ia lansung melihatku dengan serius.
"Hmm begitu,......itu berarti, kau juga tau kalau kita ini..."
"Yaa, aku tau." jawabku lansung
Meskipun Kak Siska tidak mengatakannya dengan pasti. Namun aku tau kalau ia sedang bicarakan soal hubungan persaudaraan kami.
"Leon."
"Umm!"
Saat aku melirik ke arah Kak Siska, aku perhatikan kalau ia sedang memikirkan sesuatu. Namun, setelah beberapa saat ia berpikir, ia mulai Bicara.
"Leon, setelah kau tau semua itu, apa yang kau pikirkan Tentangku?"
"Tentang Kak Siska kah...."
Sambil berpikir aku mengingat peringatan Kak Rangga saat itu. Dimana ia mengatakan kalau aku tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu.
Meskipun awalnya aku menolak namun, melihat ekspresi sedih Kak Siska saat ini. Aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
(namun, aku akan menerimanya untuk saat ini saja...)
sambil memikirkan itu, aku melihat ke arah Kak Siska lagi. setelah itu aku menatapnya dengan serius.
"Kak Siska, kau tenang saja. Meskipun kita beda ibu. Namun tidak ada yang berubah, kau tetaplah Kakak kandungku."
__ADS_1
Mendengar hal itu, sesaat mata Kak Siska melebar. Setelah itu ia lansung tersenyum.
"hmm. SYUKURLAH KALAU BEGITU."