BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
ALASAN INGATANKU HILANG


__ADS_3

Keesokan paginya, pada saat Rangga sedang nonton di Ruang tamu, ia dengar suaraku dari arah Pintu.


"Aku pulang."


ketika Rangga mengintip dari sofa dan melihat aku mencoba naik ke lantai atas. ia lansung memanggilku


"Leon, kau dari mana?"


"Oh Kak Rangga. Aku,...aku habis lari pagi."


"Lari pagi? Apa sendiri?"


"Umm."


angguk ku. Setelah itu aku mencoba pergi ke dekat Kak Rangga.


Sesampainya aku di sana, aku melihat Kak Rangga sedang memangku Fira yang lagi main Boneka.


Meskipun aku tidak peduli soal anaknya, namun ada satu hal yang ingin ku pastikan terlebih dahulu, yaitu. Pembicaraan mereka berdua tadi malam.


"Oh iyah Kak Rangga,...tadi malam kau ingin tanya sesuatu kan?"


"Tanya?"


"Ingat saat ayah memotong pembicaraan kita."


"Oh, saat itu yah?"


"Umm."


Angguk ku, sambil menunggu jawaban Kak Rangga.


Meskipun aku tau kalau ini bukan waktu yang pas untuk bertanya, namun, aku ingin pastikan secepat mungkin, apa ia masih memikirkan kejadiaan itu atau tidak.


Sebab jika ia masih memikirkan itu, aku tidak punya pilihan lain selain menunda Rencanaku ke para Pembuli itu dan menggantinya ke Kak Rangga.


alasannya itu karena di bandingkan Para pembuli itu. ia lebih merepotkan lagi, jika tidak ku atasi secepat mungkin.


(Yaa, meski itu tergantung dari jawaban dia sih..) ucapku di dalam pikiran.


"Leon."


Saat Kak Rangga memanggilku, dengan tenang aku melihat ke arahnya.


"Ada apa?"


"Bisa tidak kau lupakan saja soal itu."


"Lupakan? Memang kenapa?"


"Yaa, ayah sudah memberitauku kalau kau kadang mengalami hal itu,...jadi..."


(-jadi kau ingin aku lupakan kah.)


Sambung aku di dalam pikiran.


Meski aku belum sepenuhnya percaya dengan kata - katanya. Namun, jika itu memang benar maka, dengan begini setidaknya aku bisa mengurusi para Pembuli itu sebelum mengurusi Orang ini.


Ketika aku memikirkan itu, Rina. Salah satu pelayan rumah ini keluar dari ruang makan dan lansung pergi di dekat Kak Rangga.


Sesampainya ia di sana, ia melihatku


"Eh Tuan muda, anda sudah pulang?"


"Yah, aku baru saja pulang."


"Begitu, kalau begitu Tolong bersiaplah, semuanya sudah menunggu di Ruang makan dan anda juga."


Ucap Rina sambil melihat ke arah Rangga.


"Aku mengerti."


jawab Rangga. Setelah itu ia berdiri dari Sofa dan lansung pergi ke Ruang Makan bersama dengan Fira yang ia gendong.


Setelah Kak Rangga masuk ke Ruang makan, Rina melihat ke arahku lagi.


"Kalau begitu, aku permisi dulu."


Sambil mengucapkan itu, Rina lansung berjalan masuk ke ruang makan.


Di sisi lain, ketika Rina masuk kedalam. Untuk sementara aku melihat ke arah sana. Namun setelah beberapa saat kemudian aku mulai berjalan naik ke Tangga, untuk bersiap.


___________________________________


________________________


Di ruang makan


Setelah aku selesai bersiap - siap. Aku saat ini sedang sarapan, Bersama dengan semuanya.


Namun ketika kami sedang Sarapan, tiba - tapi aku ingat sesuatu dan lansung melihat ke arah Kak Siska.


"Oiyah Kak Siska, Hari itu kita tidak jadi berkunjung ke kuburankan,...bagaimana kalau pulang sekolah, kita pergi?"


Saat aku mengatakan itu, semua orang yang ada di sini Lansung berhenti makan dan melihat ke arahku.


Kecuali Kak Rangga ia sedang melihat ke arah Kak Siska.


"Siska apa kau belum berkunjung?"


saat Kak Rangga bertanya, Kak Siska dengan tenang menjawabnya


"Belum."


setelah itu ia lanjutkan lagi


"sebetulnya hari itu kami ingin pergi, tapi karena aku lihat Leon Sedang ketiduran jadi.."


"..Kau tidak ingin mengganggunya kah."


"Umm." angguk Siska.


untuk sementara Kak Rangga terus memperhatikan kami berdua. Namun setelah beberapa saat kemudian. Ia mulai bicara.


"Baiklah, karena kalian belum berkujung, bagaimana kalau kita pergi sama - sama."


"Eh, Kak Rangga ingin ikut juga?"


saat aku bertanya, Kak Rangga lansung menjawabnya.

__ADS_1


"Tentu sajalah, lagi pula, sudah lama juga aku tidak berkunjung."


Ucapnya sambil ekspresinya kelihatan sedih. setelah itu di lanjutkan lagi oleh Istrinya.


"kau benar,...Siska tidak apa - apakan jika aku ikut juga?"


"Umm. tentu saja aku tidak masalah."


jawab Kak Siska, setelah itu Kak Rangga melihat ke arah kami.


"baiklah, karena kita sudah tentukan. kalau begitu kita akan pergi setelah kalian pulang Sekolah"


baik aku dan juga Kak Siska lansung menjawabnya dengan anggukkan. setelah itu kami semua melanjutkan sarapan kami.


meskipun aku masih ingin menanyakan soal kuburan siapa yang ingin kita kunjungi. namun aku hentikan itu.


Sebab aku merasa kalau ini bukan waktu yang pas untuk mengatakannya.


___________________________________


______________________________


Di Ruang kelas.


pada saat aku membuka pintu kelas aku lansung berjalan masuk ke dalam dan duduk di bangku ku.


Setelah aku duduk, aku melihat Sara sedang bermain Hp di sebelahku.


meskipun aku tidak tau apa yang ia mainkan. namun aku mencoba menyapanya.


"Sara, selamat pagi."


"Oh, selamat pagi."


jawab Sara tanpa melihat ke arahku


Setelah itu, untuk sementara aku menatapnya, namun, setelah beberapa detik kemudian aku mulai mengingat kejadiaan kemarin.


Dimana saat aku bicara dengan kakaknya (Firdaus), soal tentang dirinyan.


Ia mendengar pembicaraan kami. sehingga semua orang yang ada di sana saat itu lansung kaget. kecuali aku. sih biang kerok.


meski begitu Aku perhatikan Sara saat itu terlihat tenang saja. mungkin karena ia sudah terbiasa menghadapi orang - orang yang menggosip dirinya.


sehingga ia bersikap seperti itu kemarin.


(Kalau itu aku, sudah ku hancurkan muka mereka.)


Ketika aku memikirkan itu, Sara memperhatikan kalau aku menatap dirinya, sehingga ia bertanya.


"Leon, ada apa?"


"Tidak, bukan apa - apa."


"Benarkah...?"


Ucapnya, setelah itu ia lanjutkan lagi.


"Omong - omong Leon, pulang sekolah nanti, apa kau punya waktu?"


"Waktu? memang kenapa?"


"Hmm, begitu.."


"Jadi bagaimana Leon, apa kau mau ikut?"


Ketika Sara bertanya sekali lagi, aku perhatikan kalau ia menantikan jawabanku.


Meskipun aku senang karena di ajak oleh gadis ini. Namun, karena aku mempunyai urusan saat pulang sekolah jadi....


"Maaf, sepertinya aku tidak bisa pergi."


"Begitu yah."


Ucapnya sambil kembali memainkan hpnya.


Di sisi lain, untuk sementara aku melihat Sara. Namun setelah beberapa saat kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah luar jendela.


[Master, kenapa kau Tolak ajakan Gadis itu. Seharusnya kau taukan, kalau gadis itu baru kali ini mengajak seseorang?]


Saat PIX bertanya, perlahan aku melirik ke arah kaos tanganku. Setelah itu aku menjawabnya.


(Tentu saja aku tau. Hanya saja kau tau sendiri, hari ini aku ingin pergi ke mana?)


[Berkunjung ke kuburankan?]


jawab PIX


(Benar, meskipun aku merasa bersalah karena menolak ajakannya. Namun ini lebih penting dari pada itu.)


Ucapku sambil menatap jauh di luar jendela.


Setelah beberapa saat aku menatap di luar sana, tak lama kemudian, aku melirik ke arah Kaos tanganku dan mencoba bertanya ke PIX.


(PIX, karena kejadiaan tadi malam, aku lupa mengatakan ini..)


[Apa itu Master?]


(Bisa kau beritau aku, kenapa aku bisa lupa ingatanku?)


Sambil mengucapkan itu, aku terus menatap PIX. Setelah beberapa saat aku menatapnya tak lama kemudian PIX mulai bicara.


[Master, apa anda masih ingat bagaimana anda Mati?]


(I-itu, tentu saja.)


Ucapku sambil mengingat apa yang di beritaukan PIX saat di rumah sakit.


Dimana ia mengatakan kalau aku mati bukan karena seseorang, melainkan aku mati karena gara - gara seekor Kucing yang jatuh dari Atas ruang Operasi.


sehingga Bor yang saat itu mencoba operasi kepalaku lansung di injak dan masuk ke dalam, hingga akhirnya menghacurkan beberapa bagian otak ku.


Mengingatnya saja, aku masih merasa sangat pucat dan merinding.


Sebab aku tidak pernah menyangkah kalau aku bakalan mati di tangan seekor kucing, dengan sangat mengenaskan.


Setelah mengingat hal itu semua, perlahan aku melihat ke arah PIX lagi.


(Jadi PIX apa hubungannya ini dengan ingatanku yang hilang?)

__ADS_1


[Nah, sebetulnya alasan ingatan anda hilang saat itu, itu karena otak anda sudah hancur sehingga beberapa Ingatan anda jadi Rusak.]


(Jadi Rusak?)


[Benar, ingatan yang Rusak, Itu bisa menyebatkan efek samping yang sangat parah, sehingga aku tidak punya pilihan lain selain menguncinnya saat itu,...namun-]


Sesaat PIX berhenti ia lansung melihatku dengan tatapan jijik.


[-Namun, aku tidak pernah mengirah kalau anda membuka Ingatan itu hanya karena sebuah kata, PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG, BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA. Sehingga aku sekalipun tidak bisa berkata apapun.]


(.......)


Saat aku tidak mengatakan apapun, PIX melanjutkan lagi.


[Master aku ingin tanya, APA OTAKMU MASIH WARAS?]


Sesaat Mendengar itu, aku lansung menatap PIX dengan Tajam.


(KAU,..BARUSAN KAU BILANG APA HAH!)


PIX yang melihat tatapanku lansung menjerit ketakutan.


[~~HII, MAAFKAN AKU.]


Meskipun aku sangat marah dengan apa yang di katakannya. Namun aku tidak bisa menyangkal apa yang ia katakan adalah benar.


Sehingga aku hanya bisa menyerah dan mengalihkan pandanganku ke Luar jendela. Untuk menyudai pembicaraan ini.


(Sudahlah, aku masih pusing memikirkan semua ini.)


[Terima kasih Master.]


Setelah beberapa saat aku melihat di luar jendela, tak lama kemudian waktu pelajaranpun di mulai.


___________________________________


___________________________


Pada saat waktunya pulang sekolah.


Aku masukkan semua buku pelajaranku ke dalam tas dan mencoba meninggalkan Kelas.


Namun ketika baru saja berjalan, aku perhatikan kalau Bu Linda sedang melamum di mejanya sehingga aku mencoba menghampirinya.


"Anu Bu Linda, apa kau baik - baik saja?"


"Eh Leon,..ah yah, aku baik - baik saja."


"Benarkah?"


"Umm." angguk Bu Linda


Meskipun ia mengatakan itu, namun aku bisa lihat kalau ia terlihat sangat pucat bahkan aku bisa lihat kalau sekujur tubuhnya sedang di penuhi oleh keringat.


Meski aku tidak tau apa ia sakit atau tidak, tetapi aku mencoba untuk membantunya sedikit.


"Omong - omong Bu Linda. Kau ingin membawa semua ini ke Ruang gurukan?"


Saat aku menunjuk beberapa buku pelajaran yang di kumpulkan di atas meja, Bu Linda melihat ke arah sana, dan menjawabnya.


"yah, ini memang mau di bawah ke Ruang Guru."


"Bagus, kalau begitu biar aku yang bawah."


Mendengar apa yang aku katakan membuat Bu Linda sedikit terkejut.


"Eh, tidak usah, kau pulang saja Leon."


"Tidak mungkin aku pulang. Lagi pula sudah tugas pria untuk membantu wanita yang sedang kesulitan."


"Seorang Pria? Siapa?"


"Tentu saja aku."


Jawabku sambil menunjuk diriku sendiri. Di sisi lain Bu Linda yang melihat itu lansung terlihat tertawa.


"Pffff,..Fufufufu.!"


"Oi apa yang lucu?"


"Tidak, bukan apa - apa kok."


Ucap Bu Linda sambil tersenyum. Setelah itu ia lanjutkan lagi.


"Baiklah, karena kau meminta, kalau begitu bisa kau bawah ini keruang Guru?"


"Oh tentu saja."


Setelah itu aku lansung mengangkat semua buku pelajaran, yang ada di atas meja dan membawanya ke ruang Guru, bersama dengan Bu Linda.


Sesampainya kami di sana. Kami lansung masuk ke dalam.


"Leon, kau bisa taruk semuanya di meja sana."


"Aku mengerti."


Setelah aku menaruk, semua buku yang aku bawah di meja Bu Linda.


Di meja Bu Linda aku menemukan sebuah kertas yang bertuliskan daftar nama setiap Murid di kelasku.


Meskipun aku tidak peduli soal Para murid di kelas ini. Namun ada satu hal yang membuatku tertarik di kertas ini yaitu. tanggal lahir Sara.


"Hmm, jadi begitu yaa."


Saat aku membisikkan itu, dari belakang Bu Linda memanggilku.


"Leon, apa yang kau lihat?"


"Hah, tidak ada kok."


Ucapku sambil menyimpan kembali kertas itu di meja. setelah itu aku berjalan ke arah Pintu.


namun, sebelum meninggalkan ruangan ini, aku melihat ke arah Bu Linda.


"Baiklah, karena sudah tidak ada lagi yang harus ku lakukan. kalau begitu, aku permisi dulu."


"Eh yah, terima kasih sudah membantu Leon."


"Umm." angguk ku.

__ADS_1


Setelah itu aku lansung keluar dari ruang Guru dan meninggalkan tempat itu.


__ADS_2