BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
DIA AKAN TINGGAL DI RUMAH INI?


__ADS_3

Keesokan paginya, di saat kami semua sedang sarapan di Ruang Makan, tiba - tiba Kak Rangga berhenti makan dan melihat ke arah kami semua.


"Oh iya Ayah, Ibu tadi malam aku bertemu dengan kenalanku. ia bilang ia ingin tinggal di sini apa tidak masalah?"


Tanya Rangga, dimana Ibu yang lansung jawab...


"Yaa Ibu tidak masalah sih, tapi apa mungkin kenalanmu itu tidak punya uang untuk sewa tempat tinggal?"


"Bu, kalau soal uang ia ada banyak kok, hanya saja ia punya Alasan kenapa ingin tinggal di sini."


Mendengar hal itu Ayah merasa Curiga dan bertanya - tanya...


"Memang apa Alasannya?"


"Kalau itu aku tidak bisa beritau, yang jelas aku bisa pastikan ia tidak punya niat Buruk apapun pada kita."


"Hmmm...."


Untuk sementara Ayah tidak mengatakan apapun dan hanya diam memandang kami semua.


Dimana ia memperhatikan Ibu dan Kak Rani yang mengangguk seolah mereka berdua tidak masalah membiarkan kenalan Kak Rangga Tinggal di sini.


Adapun aku dan juga Kak Siska, kami berdua mengabaikan mereka dan asik ngobrol, seolah Tidak tertarik dengan pembicaraan mereka.


Setelah mendapatkan jawaban, Ayah kembali melihat Rangga.


"Baiklah, aku juga tidak masalah membiarkan kenalanmu Tinggal disini, lagi pula kita masih punya kamar Kosong di lantai Dua. Ia bisa gunakan itu."


"Benarkah, Makasih ayah."


"Tidak perlu berterima kasih. Tapi boleh aku tau, kenalanmu itu siapa? Apa ia Dari Angkatan Militer?"


"Tidak, dia bukan dari angkatan Militer, dia hanya Seorang tentara Bayaran."


"Apa! Tentara Bayaran?"


"Yah, Ayah seharusnya tau dia. Dia teman dekat Guruku....Paman Brid-!!"


Sesaat Rangga menyebut nama itu, sentak saja mataku lansung melebar karena terkejut dan tanpa sengaja aku menjatuhkan Sendokku ke lantai. Yang dimana membuat semua orang lansung melihat ke arahku.


"Leon ada apa? Apa kamu sakit?" Tanya ibu


"Tidak, aku tidak apa - apa."


Balasku dengan tenang.


Lalu aku jongkok dan pergi ke bawah meja untuk mengambil Sendokku yang berada di dekat kaki Kak Siska. Kemudian aku berpikir


(Begitu jadi Brid yang datang ke sini ya.-


-Tapi, dari yang ku dengar tadi. Sepertinya Kak Rangga dan Brid baru bertemu malam ini. Kalau begitu Siapa yang mengawasiku saat itu?)


Aku mengingat keadiran seseorang yang mengawasiku di malam saat aku berpisah dengan Bulan. Dimana keadiran itu lansung hilang sesaat aku melihat ke arahnya.


Aku tidak tau siapa dia, yang jelas jika memang ada Kelompok lain yang mencoba mengincarku selain Kelompokku sendiri(KSP) maka jangan pikir aku diam saja.


Karena aku paling tidak suka jika ada Orang lain yang mencoba ikut campur dengan Urusanku.


(Lihat saja, aku pasti akan menemukanmu dan membuatmu menyesal karena sudah mengambil Tugas yang hanya ku persiapkan untuk Kelompokku saja.)


*********


Author: Di sini Leon belum tau kalau Selena sudah bergabung Ke KSP.


*********


Sementara itu, ketika aku tidak kunjung keluar dari bawah meja Kak Siska mencoba mengintip ke bawah sana dan mendapatiku sedang melamun di dekat pahannya.

__ADS_1


Sentak saja mata Kak Siska lansung terlihat tajam dan memandangku seperti Sampah.


"Leon Apa yang kau lakukan di situ?"


"Hah Kak Siska."


aku kembali sadar dan mendapati Kak Siska yang tengah menatapku dengan Sangat marah.


Karena tidak tau alasannya aku pun mencoba melihat Situasi sekitar dan mengetaui aku sedang duduk di dekat paha Kak Siska.


Terlebih lagi pandanganku itu mengarah lansung ke pahanya sehingga membuat orang lain yang melihatnya bisa Salah Paham.


"~Ka-Kak Siska i-ini, kamu salah paham, aku-!!"


Sebelum aku selesai menjelaskan, Kak Siska lansung memotongnya dan menatapku dengan tatapan jijik.


"TIDAK USAH BANYAK ALASAN, CEPAT KELUAR SAJA DARI SITU."


"Ta~Tapikan aku belum menjelaskannya padamu."


"KAU TIDAK PERLU JELASKAN AKU SUDAH TAU. KAU HANYA ADEK MESUM YANG SUKA MELIHAT PAHA KAKAKMU KAN?"


"Hah! Tu~Tunggu...Tunggu dulu sebentar apa yang kau katakan, aku tidak seperti itu, aku-!!"


"TIDAK USAH BANYAK BICARA CEPAT KELUAR SAJA DARI SITU, SEBELUM AKU MEMBUNUHMU."


Ucap Kak Siska dengan tatapan Kosong, seolah ia tidak main - main dengan apa yang ia katakan barusan.


Meskipun aku masih tidak terima karena kesalapahaman ini belum terselesaikan. Tetapi aku juga sedikit takut melihat tatapan ia yang seperti itu, jadi aku pun memutuskan untuk keluar dari situ.


"Ba~Baiklah, aku akan keluar."


Seusai aku keluar aku kembali duduk di kursiku, dimana Kak Rangga yang melihat aku ketakutan Seolah penasaran apa yang kami berdua bicarakan tadi, sehingga ia pun bertanya..


"Kalian berdua, Apa yang kalian bicarakan Tadi?"


"Hmm! Kami berdua tidak bicara apapun kok KAK-RANG-GA."


Dimana Senyuman itu seolah mengatakan...


(KAU TIDAK USAH IKUT CAMPUR KAKAK SIALAN.)


"Benarkan Adek kecilku, kita tidak bicara apapun tadi?"


Tanya Kak Siska sambil meremas pundakku dengan Erat, Seolah sedang memperingatiku...


(JIKA KAU BERANI MEMBERITAU MEREKA, AKU BENAR - BENAR AKAN MEMBUNUHMU LOH, LEON.-


-AKU TIDAK MAIN - MAIN AKU BENAR - BENAR AKAN MEMBUNUHMU.)


Jujur saja aku sangat ingin beritau mereka kalau Kakak Cantiku ini sudah Gila dan ingin membunuh adeknya sendiri.


Tetapi melihat tatapan ia yang menyeramkan itu, akhirnya aku pun memutuskan menyerah dan mengakhiri pembicaraan kita di sini.


"Y~Yah kau benar, ki~kita tidak bicara apapun tadi."


"Lihatkan."


Ucap Kak Siska sambil melihat Kak Rangga.


Meskipun kami berdua berkata seperti itu, tetapi Kak Rangga masih tidak percaya, ia merasa pasti ada sesuatu yang terjadi di antara aku Dan Kak Siska, Sehingga ia mencoba bertanya lagi.


"Leon apa kau benar - benar ti-!"


Sayangnya, Sebelum Kak Rangga Selesai Bicara. Ayah lansung menghentikannya.


"Rangga, Sudah cukup bicaranya kita sedang makan. Tidak baik Bicara sambil makan."

__ADS_1


"Hmm,....Ayah benar."


Balas Rangga seolah setuju dengan pendapat Ayah. Lalu tak lama kemudian kami semua pun kembali Sarapan.


____________________________


_________________________


Setelah kami Selesai sarapan, ayah lansung Mengantar Aku dan juga Kak Siska pergi Ke Sekolah.


Sementara Ibu, Kak Rani dan juga Kak Rangga beserta anaknya, Fira masih berada di rumah dan mereka sedang berkumpul di Ruang tamu.


"Ughh pagi - pagi begini ibu sudah kenyang, Ibu terlalu banyak makan tadi, ibu tidak bisa gerak."


Ucap Ibu yang sedang malas - malasan di Sofa.


Melihat tingkah ibu yang seperti itu membuat Kak Rani lansung tersenyum. lalu ia ingat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan ke Kak Rangga sehingga ia melihat ke Arahnya.


"Oh iya Sayang, Kapan kenalanmu itu....Siapa lagi?"


"Maksudmu Paman Brid."


"Yah Paman Brid, kapan ia datang ke rumah ini?"


"Hmm niatnya ia ingin datang ke sini jam 10 pagi, tapi karena ada urusan mendadak jadi ia ubah jadwal kedatangannya.-


-Kemungkinan ia datang nanti Sore atau mungkin nanti Malam."


"Hmm Begitu."


Balas Kak Rani.


Sementara itu, tanpa ada yang sadar tepat di bawah Sofa terdapat Sebuah alat penyadap, dimana alat itu terhubung lansung ke Sebuah Headsed yang ada di telingaku. yang saat ini aku berada di dalam mobil dan tengah menuju ke sekolah.


(Begitu, jadi Brid datang hari ini yah.)


Mendengar apa yang aku pikirkan PIX lansung bertanya...


[Jadi, apa yang akan Master lalukan? Apa anda ingin cepat - cepat pulang dan bertemu dengannya?]


(Yaa Itu bagus juga. Tapi tidak perlu bergerak cepat, lagi pula ia juga akan tinggal di Rumah itu jadi aku bisa bertemu dengannya kapan saja.-


-Yang lebih penting aku sedang memikirkan apa yang Kak Rangga katakan Tadi pagi.)


[Maksud anda yang mana?]


(Soal Brid yang tidak punya niat buruk apapun di rumah itu. Jika itu memang benar, itu berarti Brid datang ke sini bukan untuk mengincarku melainkan ia punya tugas lain datang ke sini.)


[Tugas lain? Tugas apa yang anda maksud?]


(Kalau itu aku juga tidak tau. Tapi di lihat dari Brid yang pertama kali mengajukan diri untuk Tinggal Di Rumah itu. Itu berarti ada kemungkinan Tugasnya itu berhubungan lansung dengan alasan ia ingin tinggal Di situ.)


[Setelah di pikir - pikir itu benar juga.]


Ucap PIX dengan Serius seolah sependapat denganku. Lalu PIX melihatku dengan tatapan kagum dan berkata.


[Seperti yang di harapkan dari Master, anda benar - benar bisa menyadari itu yah?]


(tentu sajalah, kau pikir aku ini siapa?)


[Aku pikir kau hanya Bocah Mesum yang suka melihat paha Kakak mu?]


"WOOOOOOOOY!!"


Karena saking marahnya tanpa sengaja aku lansung teriak di dalam Mobil, yang dimana Membuat Kak Siska yang duduk tepat di sampingku lansung terlihat marah.


"LEON KAU SANGAT BERISIK. DIAMLAH."

__ADS_1


"~Ba~Baik Kak, aku akan diam."


Setelah aku lunak karena kemarahan Kak Siska, aku pun terdiam dan tidak mengatakan apapun hingga aku sampai di sekolah.


__ADS_2