BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KE RUMAH KANA


__ADS_3

"Baiklah, 4 Temanmu sudah tumbang, sekarang sisa kalian bertiga,....MAJULAH!"


aku suruh ketiga anak Berandalan itu untuk maju dan menyerangku. Tetapi Mereka bertiga tidak bergerak sedikitpun.


Bahkan mereka terlihat Ragu - ragu seolah mereka udah mulai waspada denganku.


Mungkin karena Gara - gara aku mengalahkan 4 temannya semudah itu, Sehingga mereka jadi seperti itu.


"Woy kenapa kalian diam saja di situ Cepat majulah. atau mungkin kalian mulai takut denganku?"


Ketika aku menanyakan itu, Mereka bertiga lansung mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal.


"Kau bilang apa...takut! SIAPA JUGA YANG TAKUT DENGANMU."


"Benar, jika kami ingin, kami bisa membunuhmu dengan mudah tau."


"Oh kalau begitu lakukanlah."


Aku menyuruh mereka melakukan itu, tetapi mereka tetap saja tidak mau maju. Bahkan aku bisa perhatikan tatapan mereka, Seolah mereka terkejut setelah mendengar ucapanku barusan.


Namun tanpa pedulikan itu, aku sekali lagi mengulangi perkataanku.


"Ada apa, Apa kalian tidak dengar, aku bilang lakukanlah jika kalian memang bisa membunuhku.-


-jangan hanya bisa bicara saja di situ."


"Ka-Kau....BERANINYA KAU BICARA SEPERTI ITU.-


-KALIAN BERDUA CEPAT SERANG ANAK ITU, HANCURKAN WAJAH SOMBONGNYA BIAR DIA TAU RASA."


"Baik."


"Yah aku mengerti."


Setelah Kedua temannya itu menjawab, mereka berdua pun lansung berlari ke arahku. Lalu salah satu di antara mereka mencoba menerjangku agar bisa menahanku.


Sayangnya aku dengan tenang menghindari terjangannya itu dengan Melompat ke arah samping dimana membuat anak itu sangat terkejut.


"Apa!"


Namun tidak berhenti sampai di situ, tanganku yang bergerak layaknya ular lansung menangkap kepala anak itu, kemudian aku putar tubuhku kebelakang lalu ku benturkan kepalanya itu ke tembok hingga tembok itu sedikit retak dan kepala anak itu Berdarah.


"~Aghhhhh!!"


"Yosh Sekarang sisa dua la-!!"


'Gi' ingin ucapku, namun sebelum mengucapkan tiba - tiba aku merasakan Niat membunuh yang datang dari arah belakangku.


Saat aku melihat ke sana dari balik pundak, aku melihat anak berandalan yang satunya lagi mencoba memukul wajahku menggunakan Gitar yang ia bawah.


"RASAKAN INIIIIII!!"

__ADS_1


Sayangnya sebelum Guitar itu mencapai wajahku, aku lansung menangkisnya menggunakan wajah Temannya(yang kepalanya ku benturkan tadi ke tembok).


Kemudian Aku menyalip di antara mereka dan pergi ke belakang anak itu, lalu aku melayangkan sebuah tendangan berputar yang mengarah lansung ke lehernya, hingga anak itu terlempar jauh dan terpapar di tanah.


"~Aghhhh....~Cough!!..Si~Sial Leherku....Leherku. ~Cough!!""


Di saat anak itu terus terbatuk dan terlihat kesusahan untuk bernafas.


Aku mengabaikannya dan lansung berahli ke arah satu anak berandalan yang tersisa.


Dimana anak itu terlihat sedang mengeluarkan Sebuah Pisau kecil dari dalam sakunya lalu ia berlari ke arahku dan mencoba Menebasku.


"DASAR BOCAH SIALAN MATILAAAAAAAH!!"


Tentu saja jika aku ingin, aku bisa hindari Tebasan itu dengan mudah. Namun karena ada suatu alasan Sehingga aku membiarkan tebasan itu mengenai telapat tanganku, Hingga membuat telapat tanganku robet dan berdarah.


Di waktu bersamaan, melihat telapat tanganku yang berdarah membuat Rezvan, Haira dan Kana merasa khawatir sekaligus menggigil.


Namun tanpa pedulikan itu, aku tetap terlihat santai dan memperhatikan Tebasan kedua yang ingin di lancarkan anak itu.


Yang dimana tebasan itu dengan tenang aku tepis ke arah samping kemudian aku ambil balik pisau itu dari tangannya dan Ku arahkan ke leher anak itu.


Dimana anak itu sentak kaget sekaligus gemetar karena ketakutan..


"~Hiiii..."


"Dengar ini baik - baik, jika aku ingin aku bisa membunuhmu dengan mudah, namun karena aku tidak ingin berurusan dengan para polisi itu lagi jadi aku akan melepaskanmu kali ini.-


-tapi, jika aku lihat kau mencoba menindas mereka lagi(Rezvan, Haira dan Kana)....MAKA JANGAN PIKIR KAU BISA LOLOS BEGITU SAJA. MENGERTI?"


"Bagus, kalau gitu sekarang pergilah."


"Ba~Baik...."


Ucap anak itu yang lansung lari terbirik - birik meninggalkan tempat ini.


"Fuuu akhirnya selesai juga...sekarang!"


aku berjalan pergi mengambil Hp Kana yang Di pegang oleh salah satu anak berandalah yang sudah tidak sadarkan diri di tanah, lalu aku kembalikan hp itu ke Kana.


"Nih Hpmu, coba kamu cek apa masih baik - baik saja atau tidak."


Kana mengambil Hp itu, lalu ia mencoba menyalahkan Hpnya dengan wajah yang khawatir.


Namun Di saat Hpnya itu menyalah Ekspresi khawatirnya itu lansung hilang dan berubah menjadi lega bercampur dengan rasa senang..


"Li-Lihat...Lihat Hpku baik - baik saja Kak."


"Oh Benarkah, Syukurlah kalau begitu."


Balasku sambil tersenyum. Kemudian Kana yang udah mendapatkan Hpnya Kembali lansung berdiri dan menatapku dengan ceria.

__ADS_1


"A~Anu Makasih sudah menolongku. Omong - omong Boleh aku tau nama kakak siapa?"


"Namaku....Namaku Leon."


"Leon?...Hah! Jangan bilang kamulah anak yang sedang mencariku?"


"Eh Y-yah, itu benar."


Jawabku.


Kana yang dengar itu entah kenapa lansung terlihat was - was denganku.


Mungkin ia khawatir mengingat diriku yang dengan mudahnya mengalahkan Ke 6 anak berandalan itu, sehingga ia jadi seperti ini.


Namun berbeda dengan apa yang aku pikirkan, Di sisi lain Kana berpikir....


(Haira bilang kalau orang ini adalah Orang yang suka mempermainkan wanita. Tapi ia sudah menolong kami terlebih lagi tangannya sampai berdarah begitu.)


Pikir Kana yang khawatir ketika memperhatikan telapat tanganku yang ku kepal dan terus mengeluarkan darah.


"A~anu tanganmu,....apa tanganmu baik - baik saja?"


Ketika Kana menanyakan itu, aku lansung pergi melap darah di tanganku ke sebuah tembok. Lalu aku jawab..


"Yah. Tanganku baik - baik saja."


Meskipun aku berkata seperti itu tetapi Kana masih tetap terlihat khawatir. sehingga ia pun mencoba mengajuhkan sesuatu padaku.


"Anu Leon, bagaimana kalau kamu pergi ke rumahku, Rumahku dekat dari sini. kita bisa obati lukamu di sana."


"Eh apa tidak apa - apa."


"Tentu saja, lagi pula kamu sudah menolongku."


Balas Kana yang tersenyum indah padaku. Lalu Kana berahli ke arah Rezvan dan Haira dimana Ia mencoba mengajak mereka juga.


"Bagaimana dengan kalian, apa kalian mau ikut?"


"Tentu saja aku ikut. Lagi pula Aku tidak bisa membiarkanmu Berduaan dengannya." Jawab Haira.


"Um? Haira jangan bilang kamu cemburu?"


"TENTU SAJA TIDAKLAH."


Bentak lansung Haira yang tersipu malu, dimana membuat Kana tertawa.


"Hahaha begitu, aku pikir kamu Cemburu,....yah sudah, Kalau kamu, bagiamana dengamu?"


"Sama aku juga ikut."


Jawab Rezvan.

__ADS_1


"Baiklah, karena semuanya setuju Kalau begitu ayo kita pergi."


Setelah Kana mengatakan itu kami berempat pun mulai berjalan dan pergi meninggalkan Lorong ini. Dimana hanya menyisahakan Ke 6 anak berandalan yang tidak sadarkan diri di dalam sana.


__ADS_2