
Setelah Selena istirahat, dimalam Hari ia keluar dari masion, dan Berjalan di pangkalan.
Dimana, pangkalan tersebut Di terangi oleh cahaya yang terdapat di Benteng dan juga jalan setapat.
Terlebih lagi, ia juga bisa lihat beberapa pasukan sedang berjudi dan bermain Bola.
Namun tanpa pedulikan itu semua, Selena terus berjalan di sana, sambil memikirkan lagi apa yang ia dengar siang tadi.
Dimana, ia di beritaukan semuanya, soal Fenomena Lubang, para Monster, dana yang di miliki kelompok Carla dan Juga alasan kenapa Carla memiliki Alutsista sebanyak itu.
Setelah memikirkan hal itu, Tidak jauh di depannya, Selena melihat Mael berada di depan sebuah Hangar pesawat.
Dimana ia sedang merokok sambil bersandar di sana.
Ketika Mael menyadari keadiran Selena, ia lansung mengangkat tangannya ke atas, sambil menyuruh Selena kesitu.
Selena yang lihat itu lansung berjalan ke arahnya.
TAP!!...TAP!!...TAP!!....
Sesampainya Selena di sana, ia lansung melihat ke arah Mael dan bertanya....
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Seperti yang kau lihat, aku sedang istirahat."
Jawab Mael sambil menghisap rokoknya, setelah itu ia melihat ke arah Selena dan bertanya balik...
"Bagaimana denganmu, apa urusanmu dengan Carla sudah selesai?"
"Yah, itu sudah selesai."
Jawab Selena, mendengar itu, Mael lansung tersenyum dan berkata...
"Begitu."
Setelah itu, Mael mengulurkan pembungkus Rokok ke arah Selena.
Selena yang lihat itu lansung Mengambil satu batang dan membakarnya. Sambil berdiri di samping Mael.
Setelah itu, ia menghisap rokonya "Fuuu.." dan melihat ke arah Bintang - bintang di langit malam.
Melihat hal itu, Mael lansung menghisap Rokoknya juga "~Fuuu.." dan mencoba bertanya.
"Jadi bagaimana, apa kau Bergabung ke kelompok kami?"
Selena yang dengar itu, sesaat menyipitkan matanya ke arah Bintang di atas. setelah itu ia jawab....
"Yah, kami memutuskan untuk bergabung."
"Hmm,..apa kau tidak masalah dengan itu?" tanya Mael.
"Tentu saja masalah lah. Lagi pula kalian sudah menjebat kami seperti ini."
Jawab Selena sambil terlihat kesal. Melihat hal itu, Mael lansung meminta maaf.
"Maafkan aku."
"Tidak perlu meminta maaf. Lagi pula ini bukan salahmu, ini salah Wanita sialan itu."
Ucap Selena yang terlihat kesal. Melihat hal itu Mael lansung tertawa sambil berkata..
"Hahaha Begitu.."
Namun, tanpa pedulikan itu, Selena melanjutkan lagi..
"Selain itu, ada sesuatu yang ingin ku pastikan juga."
"Yang ingin kau pastikan? Apa itu?"
Saat Mael bertanya. Untuk sementara Selena terus melirik Mael.
Namun beberapa detik kemudian ia mengelangkan kepalanya dan berkata..
"Tidak, lupakan saja soal itu, yang lebih penting....."
Sesaat Selena berhenti, ia mengalihkan pandangannya ke arah para pasukan di pangkalan dan bertanya...
"Semua pasukan di sini, apa mereka juga tau soal Lubang, dan para Monster?"
Mael yang dengar itu dengan tenang menjawab..
"Yah, mereka semua tau. Atau lebih tepatnya mereka semua sudah menghadapinya secara lansung."
__ADS_1
"Eh, Benarkah?"
"Yah. Contohnya orang itu.."
Ucap Mael sambil melihat ke suatu tempat. Selena yang lihat itu lansung mengikuti pandangannya, dimana terlihat seorang Pria sedang membongkar sambil mempersihkan Senjata Snipernya.
Ia Adalah orang yang mendekati Mael siang tadi, yang bernama...
"Kalau tidak salah, nama dia Respati kan?"
"Benar, ia adalah Seorang tentara dari negara INDO, dan salah satu Sniper terbaik di negara itu-
-alasan ia bergabung dengan Kelompok kami, itu karena, saat ia dan anggotanya menghadapi Lubang Abnormal, saat itu ia melihat dimana anggotanya di bantai Habis oleh para Monster. Sehingga satu - satunya tujuan ia hidup saat ini hanya.."
"MEMBUNUH PARA MONSTER."
Sambung lansung Selena. Mendengar itu Mael menjawab..
"Benar, bukan hanya dia, semua orang di sini juga mengalami hal yang sama, dimana mereka kehilangan teman seperjuangan mereka saat menghadapi para Monster."
"Hmm,..Dengan kata lain, KALIAN MEMANFAATKAN TUJUAN MEREKA, UNTUK BERGABUNG DI KELOMPOK INI KAN?"
Tanya Selena sambil melirik ke arah Mael, dimana tatapannya terlihat sangat tajam. Namun bukannya takut Mael dengan tenang menjawab.
"Yaa Aku tidak bisa menyangkal itu, tapi..."
Sesaat Mael Berhenti ia melirik balik Selena dan berkata...
"Selena, kau seharusnya juga sudah tau, untuk mencapai tujuan mereka, satu - satunya tempat yang pas untuk mereka saat ini, hanyalah di sini."
Mendengar hal itu, Selena lansung berpikir..
(Memang benar, untuk bisa membunuh para Monster, satu - satunya tempat yang pas bagi mereka tidak lain adalah di sini.-
-Sebab menurut apa yang di katakan Carla, Kelompok mereka saat ini sudah seperti Kelompok yang di bayar hanya untuk menghadapi Para Monster.-
-Terlebih lagi, ia sering menerima permintaan dari beberapa negara, untuk mengatasi Fenomena Lubang.-
-sehingga tidak ada tempat yang lebih baik lagi bagi mereka, untuk terus menghadapi monster selain di sini.)
Setelah Selena memikirkan itu, ia lansung mendesah "haa.." dan menjawab..
"Kau benar juga."
"Meski begitu, aku masih tidak percaya, Carla bisa memperbesar kelompok Kalian sampai seperti ini."
Ucapnya, setelah itu ia melirik ke arah Mael dan mencoba bertanya...
"Mael, apa ini alasannya, kenapa kalian menjadikan Carla sebagai Ketua?"
"Yaa, bisa di bilang begitu. Tapi, aku rasa Brid punya alasan Lain."
Jawab Mael, dimana tatapannya terlihat sangat tenang namun tajam. Melihat itu, Selena merasa Bingun dan mencoba bertanya.
"Alasan Lain? Apa Maksudmu?"
"Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti, yang jelas Brid punya alasan lain, dimana ia lebih memilih menjadikan Carla sebagai Ketua, di bandingkan dirinya."
Jawab Mael sambil memandang lurus ke depan.
"Hmmm..."
Untuk sementara Suasana di tempat itu menjadi sunyi. Namun setelah beberapa detik kemudian, Selena meregangkan kedua tangannya sambil berkata....
"yah apapun itu, aku senang kelompok kalian bisa berkembang sebesar ini.."
Ucapnya, Setelah itu Selena melihat ke arah atas, dimana Sinar bulan menerangi Langit di malam hari, dan berbisik...
"AKU YAKIN, KETUA KALIAN JUGA MERASAKAN HAL YANG SAMA."
Mael yang dengar bisikan tersebut. Lansung tersenyum dan menjawab..
"Yaa Aku harap begitu."
_________________________________
_____________________________
Di waktu bersamaan di Rumah Leon di malam hari.
Tepat di atap rumah, di sana terlihat aku (Leon) sedang berbaring sambil melihat Bintang - Bintang di malam hari...
Ketika aku sedang asik melihat bintang tersebut, tiba - tiba aku Bersin "~ACHOOO!!" PIX yang lihat itu lansung bertanya..
__ADS_1
[Ada apa Master, apa kau masuk angin?]
"Tidak, sepertinya ada seseorang yang sedang membicarakanku."
Jawabku dengan Serius.
[Oh benarkah? Apa mungkin ia seorang Wanita?] tanya lagi PIX
"Mungkin saja, lagi pula aku ini punya banyak kenalan Wanita (di kehidupanku sebelumnya) jadi tidak bisa di pungkiri jika ada satu atau dua Wanita yang sedang membicarakan ku saat ini."
Jawabku dengan nada sombong. PIX yang dengar itu lansung menatapku dengan jijik sambil berkata..
[Master, tidak usah terlalu pedeh sialan.]
"HAH, KAU BILANG APA BARUSAN?"
[Tidak bukan apa - apa, yang lebih penting...]
PIX mencoba buru - buru mengganti topik dan bertanya...
[Master, apa yang akan kau lakukan kepada Gadis itu?]
"Gadis itu? Maksudmu Bulan?"
[Yah, beberapa hari ini, anda tidak melakukan apapun kepada gadis itu.]
Ucap PIX.
Memang benar, Beberapa hari setelah kejadian itu, aku tidak pernah menemui Bulan. Bahkan aku tidak melakukan pergerakan apapun. Alasannya...
Itu karena, untuk sementara aku ingin mengamati dan Mereda situasinya terlebih dahulu.
Terlebih lagi, aku juga ingin melihat pergerakan Anak - Anak yang ku hajar waktu di bangunan itu.
Dimana Mereka semua terus di tanyai oleh para Polisi apa yang terjadi di sana.
Namun, seperti yang aku perkirahkan mereka semua tidak mengatakan yang sebenarnya dan hanya menjawab asal - asalan.
Alasannya itu karena mereka semua tau, jika mereka mengatakan yang sebenarnya maka bukan hanya mendapatkan luka yang mereka terima dariku.
Melainkan mereka juga akan masuk penjara, karena di dakwa menyerang perencana dan juga menyerang anak di bawah umur.
Terlebih lagi jika berita ini sampai ke telinga anak sekolah lain, otomatis mereka semua pasti akan merasa malu, karena di kalahkan anak kecil, apa lagi seorang diri.
Itulah kenapa mereka semua tetap diam dan tutup mulut.
Adapun juga soal Bulan, alasan aku tidak menemuinya beberapa hari ini, itu karena aku ingin membuat ia merasakan kehidupan nyaman terlebih dahulu, sebelum....
MEMPERLIHATKAN NYA SIKSAAN NERAKA DI DUNIA INI.
Sambil memikirkan itu, aku melihat sinar bulan di malam hari, dimana tatapanku terlihat sangat tenang namun tajam.
PIX yang lihat tatapanku lansung meneteskan keringat dingin dan mencoba bertanya...
[Master, ada apa? Kau sepertinya terlihat ingin membunuh seseorang?]
"Benarkah?"
[Yah.]
Jawab PIX secara singkat. Mendengar itu untuk sementara aku melihat Sinar Bulan di langit malam.
Namun, setelah beberapa detik kemudian aku berdiri dan berkata..
"Yaa Lupakan saja soal itu, yang lebih penting ayo kita masuk, aku harus pergi sekolah besok."
Mendengar itu, PIX lansung berkata..
[Kau benar, lagi pula satu - satunya alasan master pergi ke Sekolah, itu karena ingin melihat Bu Linda kan?]
"Yah."
Jawabku dengan santai, PIX yang dengar itu lansung terlihat jengkel dan berkata..
[Master, seharusnya kau bantah dong itu?]
"Hah, buat apa aku Bantah? Lagi pula itu memang benar."
Jawabku dengan sangat Serius, PIX yang lihat itu, lansung terbata - bata dan berkata...
[Be-Begitu yah.]
setelah itu aku lansung turung dari atap rumah dan pergi ke kamarku untuk tidur.
__ADS_1