BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
ADU DOMBA


__ADS_3

Setelah beberapa menit aku mencabut 7 kuku Luis, tak lama kemudian Luis pun kehilangan kesadaran, dimana tangannya sudah Di penuhi oleh darah yang terus menetes ke tanah.


"Astaga, tidak ku sangkah ia selemah ini, padahalkan aku baru mencabut 7 kukunya. Benarkan?"


Tanyaku sambil berahli ke arah Felik dan Erina, dimana mereka berdua terlihat sangat terkejut, karena tiba - tiba di tanya seperti itu.


"Eh,..anu itu...aku." Erina


"Ada apa, aku tidak dengar."


"Y~yah kau benar, dia sangat lemah."


Ucap Lansung Felik.


"Hahaha baguslah kau bilang begitu."


Ucapku sambil mencoba berdiri kemudian mengalihkan pandanganku ke arah Bulan dan bertanya...


"Bulan, kau membawa perban yang ku suruh kan?"


"Y-yah, aku bawah."


"Bagus, kalau gitu cepat pergi tutupi Lukanya."


Ucapku sambil menunjuk Luis, dimana membuat Bulan sedikit terkejut.


"Eh Apa tidak masalah?"


"Yah, lagi pula aku tidak ingin membiarkan dia mati begitu saja. aku belum puas menyiksa dia jadi,..cepat tutupi lukanya."


"Ba-Baik, aku mengerti."


Sambil mengucapkan itu, Bulan lansung mengeluarkan perban Dari dalam Tasnya, kemudian ia pergi ke belakang Luis dan mulai menutupi semua lukanya. Mulai dari kukunya yang di cabut sampai pergelangan tangannya yang terluka.


Dan di saat Bulan melakukan itu, aku berahli ke arah Felik dan Erina kemudian aku berjongkok di hadapan mereka dan berkata...


"Baiklah, sekarang giliran kalian,...pertama - tama aku ingin bertanya padamu."


Ucapku sambil menunjuk Felik.


"Kau,....apa kau tau, kenapa dia(Luis) menggunakan Cara seperti ini untuk mengangguku?"


Tanyaku sambil memperlihatkan pesan Apk Chatting Grup, seperti yang ku lakukan tadi kepada Luis, dimana membuat Felik lansung terlihat sangat Gugup.


"A-Anu itu,...yah aku tau."


"Benarkah? Kalau gitu cepat beritaukan semuanya padaku."


Pada saat aku mengatakan itu, Felik mulai memberitaukan semuanya kepadaku.


Dimana ia mengatakan alasan kenapa Luis menggunakan Cara seperti ini, itu karena Setelah kejadian itu, ia di paksa oleh ayahnya untuk pergi menemui orang tua Leon atau lebih tepatnya orang tuaku yang sekarang, dimana ia Di suruh bersujud dan minta maaf atas perbuatannya.


Tentu saja, Awalnya ayah dan ibu tidak mau terima permintaan maaf mereka semudah itu, karena bagaimanapun juga Luka yang Luis dan teman - temannya berikan kepada Leon sangatlah parah, Di tambah lagi saat itu Leon juga masih di rawat di Ruang ICU sehingga membuat kedua orang tuanya Sangat marah. Sampai - sampai saat itu Ibu mau membawa masalah ini ke pengadilan.

__ADS_1


Sayangnya, sebelum ibu melapor ke pengadilan, entah kenapa tiba - tiba ia berhenti melakukan itu.


Meskipun Felik tidak tau alasannya, tetapi ia tau satu hal kenapa Luis menggunakan Cara seperti ini untuk mengangguku, yaitu karena perjanjian yang di usulkan oleh Ayah Luis kepada ayahku.


Yang Dimana mereka berdua membuat perjanjian, Agar anak - anak itu atau mereka tidak akan menganggu, memukul atau membuliku lagi.


Meskipun aku tidak tau kenapa Orang itu(Ayah) mau menerima perjanjian tersebut, tetapi ini sudah menjawab semua pertanyaan Kenapa waktu itu Felik tidak mau memukulku meski aku memprovokasi dia saat pertama kali bertemu dengannya.


Begitu juga dengan Luis, alasan ia menggunakan Cara ini, itu karena di lihat dari manapun ia memang tidak melanggar perjanjian yang di buat oleh orang tua kami.


Meskipun memang benar ia masih mengangguku karena menyuruh para berandalan itu menargetkan diriku. Tetapi selama pesan yang ia buat tidak di lihat oleh pihak ketiga atau keluargaku, bisa di bilang ia masih aman.


Inilah sebabnya, kenapa semua pesan yang ia buat di Grup itu lansung ia hapus, karena ia takut jika keluargaku tau atau melihat pesan itu. Maka otomatis perjanjian yang ayahnya Buat dengan ayahku akan di langgar.


Meskipun aku tidak tau Hukuman apa yang Luis dan teman -temannya terima jika perjanjian tersebut di langgar. Tetapi aku senang karena sudah meng ScreenShot pesan ia saat itu.


Pikirku sambil tersenyum. Erina yang lihat itu lansung bertanya..


"Le-Leon kau kenapa senyum - senyum begitu?"


"Tidak, bukan apa - apa."


Ucap dengan tenang sambil berahli ke arah Felik dan berkata...


"Omong - omong makasih yah sudah memberitauku, aku sangat senang."


Ucapku sambil tersenyum, dimana membuat Felik lansung merasa lega dan terlihat santai...


"Benarkah? Syukurlah....kalau gitu bisa tidak lepaskan ini sekarang, tanganku sangat sakit."


"A-apa, ta-tapi aku sudah memberitaumu."


"Memang benar kau sudah memberitauku, tapi apa aku pernah bilang, SETELAH KAU MEMBERITAUKU AKU AKAN MELEPASKANMU?...TENTU SAJA TIDAK KAN BODOH!"


Ucapku sambil Seringai, dimana membuat Felik lansung terlihat pucat dan tubuhnya sangat gemetar karena ketakutan.


Namun, tanpa pedulikan itu aku berdiri dan meregangkan kedua tanganku, kemudian aku menengok Felik yang duduk di bawah dan berkata...


"Baiklah, sekarang Giliranmu."


"Tu~Tunggu, apa yang mau kau lakukan?"


Di saat Felik menanyakan itu, aku tidak mempedulikannya dan lansung pergi ke belakangnya. Kemudian aku berjongkok dan menarik salah satu Jari Felik, dimana aku jepit Kukunya menggunakan Tang yang ku genggam dan berkata....


"Apa kau sudah siap FELIK."


"~TIDAK,..~TIDAK,..~TIDAK, AKU MOHON TOLONG HENTIKAN, AKU AKAN LAKUKAN APA SAJA YANG KAU PERINTAHKAN JADI KUMOHON HENTI-!!"


"DIAMLAH."


Sesaat aku memotong perkataannya, aku lansung mencabut Kukunya 'CRACK!!' dimana membuat darahnya lansung Muncret dan mengenai baju dan wajahku, hingga membuat Felik mencoba menjerit kesakitan.


"~~ARGHH-!!"

__ADS_1


Namun, sebelum ia menjerik dengan keras, aku lansung menutup Mulutnya menggunakan Tanganku, kemudian aku dekatkan Bibirku di dekat telingannya dan berbisik..


"Woy, sebaiknya kau diam saja. Apa kau tidak dengar yang ku katakan tadi, jika kau teriak, bisa - bisa kau hanya mengundang Hewan liar kemari.-


-jika itu terjadi, kau tau sendirikan, apa yang akan terjadi denganmu. Jadi berusahalah untuk tetap diam, mengerti?"


Tanyaku sambil melirik matanya, dimana tatapanku terlihat sangat tajam seolah menusuk jantungnya. menyadari itu Felik buru - buru menjawab dengan anggukkan "Um,..Umm" kemudian aku melepaskan tanganku dari mulutnya secara perlahan dan berkata..


"Baguslah kau mengerti. Kalau gitu kita lanjutkan lagi."


Ucapku sambil melihat tangannya, dimana masih tersisa 9 kukunya yang belum di cabut.


"Omong - omong, menurutmu, yang mana paling bagus di cabut duluan, apa kuku jari Tengahmu, Kuku telunjuk, atau kuku jempolmu?"


Tanyaku sambil melihat ke arah Felik, dimana tubuhnya benar - benar terlihat sangat gemetar karena ketakutan. bahkan ia menutup mulutnya dengan rapat, sampai - sampai menggigit Bibirnya hingga berdarah.


Menyadari itu, aku lansung menggaruk kepalaku, kemudian berkata...


"Astaga, maaf - maaf padahal aku menyuruhmu diam, tapi malah aku bertanya hahaha."


Ucapku sambil tertawa sedikit, kemudian aku menatap jari - jarinya dan berkata....


"Karena kau tidak bisa jawab, kalau gitu Erina menurutmu yang mana paling bagus di Cabut duluan?"


Pada saat aku menanyakan itu, Erina terlihat sangat Shock, dimana ia lansung menatapku dengan sangat kesal dan berkata..


"Ka-Kau, apa kau bodoh? Mana mungkin aku bisa pilih."


"Memang kenapa? Apa kau tidak mau?"


"TENTU SAJALAH."


Bentak lansung Erina, dimana membuat mataku menyipit dan menatap ia dengan tajam.


Erina yang menyadari itu lansung terlihat ketakutan. Meski begitu ia berusaha untuk menyembunyikannya dan bertanya..


"A~Ada apa? Apa kau marah?"


"Tidak, aku tidak marah sama sekali hanya saja,....jika kau memang tidak mau memilih, kalau gitu biar Kukumu saja yang ku cabut duluan. Setelah itu aku akan suruh Felik yang memilih, bagaimana?"


Tanyaku sambil berahli ke arah Felik, dimana ia seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Le~Leon apa kau serius dengan yang kau katakan barusan?"


Tanya Felik.


"Tentu saja, bagaimana apa kau mau?"


Di saat aku menanyakan itu, Felik tidak menjawab apapun dan hanya diam dan menatap Erina terus.


"......"


Menyadari itu Erina menatap balik dia, dimana membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Namun, di saat mereka saling menatap tanpa mereka sadari, tepat di belakangnya terlihat mataku sedang memancarkan cahaya di balik bayangan, dimana Bibirku seringai sambil berguman..


"BAGUS, SEPERTINYA ADU DOMBA BERHASIL, HEH."


__ADS_2