BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BERMAIN JUDI Bagian 2


__ADS_3

Setelah mengetaui bahwa anggota tubuhnya mau di jual, pria itu atau suami Bu Linda terlihat pucat dan tubuhnya gemetar karena ketakutan.


"Ka~Kalian berdua, kalian bercandakan?apa kalian benar - benar ingin menjual anggota tubuhku?"


Tanya Pria itu, dimana Reyna dengan santai lansung menjawab..


"Tentu saja, kamu pikir hanya kamu saja yang di perlakukan seperti itu? Jangan bodoh, di tempat ini sudah ada banyak orang yang bernasib sama sepertimu.-


-Selain itu, tempat ini adalah tempat yang ilegal yang bahkan tidak di ketuai oleh pemerintah setempat, jadi apapun yang terjadi di sini tidak akan di ketuai oleh dunia luar."


Seolah tidak bisa lagi menahan rasa takutnya, Pria itu jatuh berlutut ke lantai dan Ia terlihat pasrah.


"~ini pasti bohong, apa aku benar - benar akan mati disini? Tidak aku tidak ingin Mati....Linda, tolong aku."


Aku merasa tidak senang mendengar ucapannya dan tanpa pikir panjang aku lansung menendang wajahnya, hingga membuat ia terhempas dan terbaring di lantai.


Melihat hal itu, semua orang kaget, bahkan Reyna sampai berdiri dari tempat duduknya dan melihat ke arahku dengan ekspresi marah.


Karena barang yang seharusnya ia jual malah aku rusaki sedikit.


"Bocah, apa - apaan yang kau lakukan itu?"


"Maaf, aku hilang kendali barusan."


"Hilang kendali? Jangan bercanda, Kau pikir kami akan biarkan kau merusak barang kami?"


"Makanya aku bilang maaf."


Meskipun aku berkata seperti itu tetapi Reyna tetap terlihat marah, jadi Aku mencoba mengabaikannya dan berahli ke topik sebelumnya.


"Dari pada itu, bisa kita mulai permainannya?"


Di saat aku mengatakan itu Reyna terlihat sangat marah. Namun Meski begitu ia juga tau bahwa tidak ada gunanya ribut denganku sekarang, jadi ia pun kembali duduk.


"Cih, Dasar anak nakal."


Setelah melihat Reyna sudah tenang, aku juga pergi duduk di kursi paling ujung kemudian memanggil Brid.


"Brid."


"Ada apa?"


"Ini, tolong pergi tukar."


Ucapku sambil menyerahkan semua uangku kepada Brid. Brid mengambil uang itu dan menjawab.


"Aku mengerti."


Setelah itu ia buru - buru pergi ke tempat penukaran, untuk menukar semua uang ku ke chip. Setelah ia menukarnya, ia kembali ke tempatku dan memberikan semua chip itu padaku.


"Ini."


"Makasih."


Balasku, lalu setelah itu aku melihat Reyna dan Genus kemudian berkata..


"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai bermain."


___________________________________


_______________________________


Di Game pertama aku pertaruhkan sebagian Chipku sedangkan sebagian lagi ku simpan. Tetapi hanya dalam beberapa menit saja aku kalah telak.


Orang - orang di sekitar yang melihat itu lansung menertawaiku, tanpa kecuali Reyna yang mencoba meledekku.


"Ara - Ara nak, bukankah kamu terlalu buruk dalam bermain judi? Bagaimana kalau kau tukar saja kembali chipmu yang tersisa dengan uang dan pergi beli susu. Dengan begitu kamu bisa lebih cepat besar dan kembali lagi ke sini bermain."

__ADS_1


Mendengar hal itu orang - orang sekitar makin tertawa terbahak - bahak, bahkan di antara mereka ada yang sampai mendekatiku dan mencoba ikutan meledekku.


"Itu benar Nak, lagi pula ini terlalu cepat bagimu berada di sini. sebaiknya kamu pulang saja dan pergi tidur, aku yakin mami mu pasti sangat khawatir denganmu."


"Aku setuju, selain itu tempat ini juga bukan tempat untuk Anak mami sepertimu. Tempatmu hanya ada di pelukan Mami mu untuk minum susu."


"HAHAHAHAHAHAHAHA!!"


"WKWKWKWKWK!!"


Meskipun semua orang sedang menertawaiku serta meledekku tetapi aku tetap bersikap tenang, begitupun dengan Brid yang berdiri di sampingku, Ia seolah - olah tidak peduli sama sekali dengan orang - orang yang menertawaiku.


Alasannya itu karena ia tau, di Game pertama ini aku sengaja membuat diriku kalah agar bisa mencari tau cara permainan mereka.


Dan dari hasil yang aku lihat, aku bisa pastikan bahwa mereka berdua sedang bermain curang dengan menggunakan dua orang di belakangku untuk memberitau mereka kartu apa yang ku miliki.


Caranya, tentu saja dengan menggunkan jari - jari mereka.


Contohnya saja, jika aku punya kartu 4 Sekop maka mereka akan menaikkan jari jempolnya untuk memberitau Reyna dan Genus bahwa ini adalah Kartu Sekop.


lalu kemudian mereka akan menggunakan Jari telunjuk mereka untuk memberitau Reyna dan Genus Angka berapa dari kartu sekop itu.


Dan karena Kartu Sekop ku itu adalah 4 jadi mereka akan menepuk Jari telunjuk mereka sebanyak 4 kali di pergelangan tangan.


Begitupun dengan kartu lainnya, seperti kartu Keriting mereka akan menaikkan jari kelingking nya, Dan jika itu Kartu Hati maka yang mereka naikkan itu adalah jari tengah, adapun Kartu Berlian dimana yang mereka naikkan itu adalah Jari Manis.


Dengan kata lain beginilah hasilnya.....


************************


>♠ Sekop \= Jari Jempol


>♥ Hati \= Jari Tengah


>♦ Berlian \= Jari Manis


>Angka dari Kartu \= Jari Telunjuk


************************


Adapun kartu Joker, aku belum tau, karena di Game Pertama aku tidak dapat.


Namun Dengan menggunakan cara ini maka sudah di pastikan 100% semua Kartu yang ku pegang itu akan di ketaui.


Pertanyaannya bagaimana caranya untuk bisa mengatasi kecurangan ini, caranya gampang, kita hanya perlu mengubah cara pandangan kita untuk melihat kartu tersebut yaitu.....


"Heh."


Tiba - tiba bibirku seringai, dimana membuat PIX terlihat senang dan berkata.


[Master, sepertinya anda sudah mulai serius.]


(Yah, sudah saatnya kita menyerang balik mereka.) Balasku.


Namun sebelum Bandar membagikan Kartunya ke setiap pemain, tiba - tiba aku menurungkan kepalaku ke bawah meja, yang dimana membuat Reyna penasaran dan bertanya...


"Nak, apa yang kau lakukan di bawah Situ?"


"Hah Maaf, bukan apa - apa. Ayo kita lanjutkan saja permainan nya."


Balasku lansung seolah menghindari pertanyaannya. Mendengar hal itu Genus merasa tidak senang dan mencoba memperingatiku.


"Bocah apa kau yakin ingin lanjut bermain? bukankah sebaiknya kau berhenti saja sampai di sini? Nanti jika kau kalah bisa saja kau menangis."


"Pria tua, kau tidak perlu khawatirkan diriku, sebaiknya kau khawatirkan saja dirimu, karena mulai sekarang akan ku pastikan Chipmu itu habis di tanganku."


Aku menantang Genus, tetapi bukannya takut atau marah ia malah terlihat senang sampai - sampai ia tertawa..

__ADS_1


"Hahaha Bocah kau berani juga. Kalau begitu coba tunjukkan padaku jika kau memang bisa menghabisi Chipku."


Setelah ia mengatakan itu, Bandar mulai membagikan Kartunya ke setiap pemain. Dimana kali ini aku tidak melihat kartuku sama sekali ataupun mengambilnya, melainkan aku hanya geser ke tepi meja setelah itu aku dorong kembali ke depan.


Melihat hal itu semua orang menjadi kebingungan dan bertanya - tanya..


"Apa yang bocah itu lakukan?"


"Apa ia tidak mau melihat kartunya?


"Apa mungkin ia sudah menyerah?"


"Mungkin saja, hahaha."


Bukan hanya orang - orang di sekitar saja yang kebingungan, bahkan Reyna pun ikutan juga kebingungan. Dimana ia sangat penasaran dengan apa yang aku lakukan dan bertanya..


"Nak, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak mau main?"


"Hah! Tentu saja aku masih mau main."


"Kalau begitu kenapa kamu tidak mengambil Kartu mu dan malah menyimpannya saja di atas meja? Apa lagi kamu juga belum Lihat kartumu sama sekali."


"Oh kalau itu kau tenang saja, lagi pula aku sudah tau Kartu apa saja yang ku dapat."


Mendengar hal itu sontak membuat Mata Reyna lansung melebar karena terkejut. Lalu ia buru - buru melirik salah satu orang yang berada di belakangku.


Dimana orang itu tidak lain adalah orang yang memberitaukan mereka kartu apa yang ku miliki waktu di Game Pertama.


Genus juga melakukan hal yang sama. Namun sayangnya kali ini berbeda. Dimana Mereka berdua lansung mengelangkan kepalanya, Seolah - olah memberitau Reyna dan Genus bahwa mereka tidak tau sama sekali Kartu apa yang ku pegang.


Tentu itu membuat Reyna dan Genus tidak senang dan mencoba memaksaku.


"Nak, berhentilah bercanda, cepat ambil kartumu." Ucap Reyna.


"Benar, jika kau tidak mengambil kartumu maka kita tidak bisa mulai permainan."


Meskipun mereka berdua mencoba memaksaku tetapi aku tetap tidak mendengarkan mereka dan terus menyimpan Kartuku di atas meja.


"Sudah ku bilang kalian tidak usah khawatir, lagi pula aku juga sudah tau kartu apa saja yang ku dapat, jadi tidak ada masalah. kita bisa mulai permainannya."


Reyna merasa tidak ada gunanya membujukku, jadi ia pun menyerah dan mengikuti apa yang ku mau.


"Haaa baiklah, jika kau bersikeras begitu maka kami tidak akan mengatakan apa - apa lagi. Namun kamu harus ingat bahwa kami sudah memperingatimu, jadi jika kamu nanti kalah jangan menangis."


"Tenang saja, malahan aku khawatir denganmu, bisa saja kamu yang menangis."


Reyna mengerutkan keningnya dan terlihat kesal. Walau begitu ia dengan cepat menenangkan dirinya dan lansung menyuruh bandar untuk memulai permainan.


Kartu pertama di turungkan oleh Genus, kemudian di sambung oleh Reyna, lalu setelah itu Giliranku, dimana aku menurungkan salah satu kartu yang belum ku lihat sama sekali di atas meja.


"Q Sekop."


Aku balik kartu tersebut. Dimana membuat semua orang lansung kaget sebab kartu itu sama persis dengan kartu yang aku sebutkan yaitu...Q Sekop.


"Ka-kau pasti bercandakan?"


Ucap Reyna.


"Bagaimana bisa ia melakukan itu?"


Ucap Genus


"Aku yakin ini hanya kebetulan saja. Di putaran selanjutnya aku yakin ia akan menurungkan kartu yang salah." Balas Reyna


Namun seiring berjalannya permainan semua Kartu yang ku turungkan itu tidak pernah salah sedikitpun, semuanya benar.


Dan pada akhirnya permainan pun berakhir. Dimana Game kedua kali ini di menangkan olehku.

__ADS_1


__ADS_2