BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BU NARA YANG BERSIKAP BAIK


__ADS_3

Setelah aku di bawah keluar oleh Bu Nara, tepat di meja Kanting, di sana Rusli, Lia dan Sara terlihat sangat kebingungan, dimana Sara bertanya - tanya..


"Apa yang baru saja terjadi?"


Lia yang dengar itu lansung menjawab..


"Aku juga tidak tau, tapi, di lihat dari wajah Leon, sepertinya ia memang terlihat sedang sakit."


"Aku juga pikir begitu."


Sambung lansung Rusli yang masih melihat ke arah Pintu, tempat dimana Leon di seret keluar.


Dan di saat mereka bertiga masih melihat ke arah sana, untuk sementara suasana mereka menjadi diam.


"......."


"......."


"......."


Namun beberapa detik kemudian, Tiba - tiba Lia menundukkan kepalanya ke arah bawah dan ekspresinya terlihat sedih. Melihat itu, Sara lansung bertanya..


"Lia, ada apa?"


"Um! Hah maafkan aku, aku hanya sedang berpikir, mungkin saja Leon sakit, itu karena Gara - gara kemarin."


"Kemarin?"


Di saat Sara menanyakan itu, Rusli seperti baru ingat bahwa kemarin Leon meminta bantuannya untuk menyuruh Lia pergi ke belakang sekolah dan menemaninya ke suatu tempat.


"Oh iyah, kalau tidak salah kemarin Leon memintamu untuk menemaninyakan? Kalian pergi kemana kemarin?"


Ketika Rusli menanyakan itu, untuk sementara Lia tidak mengatakan apapun dan hanya terdiam saja.


"....."


Namun beberapa detik kemudian, tiba - tiba ia mendesah dengan kuat "HAAA!!" Dan mengangkat kepalanya untuk melihat mereka berdua dengan serius.


"Anu Sebetulnya, kemarin aku dan Leon pergi....."


Tanpa di dengar oleh orang sekitar, Lia mulai memberitau mereka berdua apa yang Leon lakukan kemarin, dimana ia menghajar habis - habisan para Bocah yang sudah mengganggu mereka kemarin dulu.


Hingga membuat Rusli maupun Sara yang dengar itu lansung terlihat terkejut.


"Li-Lia kau bercandakan? Tidak mungkin Leon bisa mengalahkan mereka semua."


Ucap Rusli, seolah - olah ia tidak percaya dengan apa yang Lia katakan, namun tanpa pedulikan itu, Lia menjawab.


"Yah itu memang sulit di percaya. Tapi itu memang benar, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


Di saat Lia mengatakan itu dengan Wajah serius. Rusli lansung terdiam dan tidak bisa berkata apa - apa.


Sedangkan di sisi lain terlihat Sara sedang menundukkan kepalanya ke arah bawah, dimana ekspresinya tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.


Mengetaui itu, Lia lansung berahli ke arah Sara dan memanggilnya...


"Sara."


Sesaat Sara di panggil ia lansung kembali Sadar dan melihat ke arah Lia.


"Li-Lia, maaf aku tadi melamun."


"Itu tidak apa - apa. Yang lebih penting bagaimana kalau kita makan. Waktu istirahat sepertinya sudah mau berakhir?"


Tanya Lia sambil tersenyum ceria, melihat itu Sara lansung mendengus dan menjawab.


"Kau benar. Kalau begitu ayo kita makan."


__________________________________


_______________________________

__ADS_1


Sementara itu, di waktu bersamaan tepat di ruang Uks terlihat aku sedang duduk di salah satu Kasur yang ada di ruangan ini.


Dimana aku sedang memperhatikan Bu Nara yang lagi mencari Obat.


(Cih, tidak ku sangkah aku berada di ruangan ini lagi.)


Ucapku di dalam Pikiran sambil menatap Bu Nara dengan kesal. Melihat itu PIX lansung berkata...


[Master, tidak usah sekesal itu, lagi pula aku bersenang - senang melihat situasi yang seperti ini.]


(Kau senang, tapi aku tidak.)


Balasku lansung sambil melirik PIX dengan tatapan Jijik. Namun tanpa pedulikan itu PIX lansung berkata..


[Master, tidak usah Bohong begitu, aku tau jauh di dalam hatimu kau pasti sangat bahagia kan?] tanya PIX


(Bahagia apanya, malahan aku sangat ingin meninggalkan tempat ini.)


Di saat aku mengucapkan itu, untuk sementara PIX tidak membalas apapun dan hanya Menatapku dengan tatapan datar.😐


Namun beberapa detik kemudian, tiba - tiba ia menunjukkan senyuman seringai dan berkata...


[Kalau master segitunya tidak ingin mengakuinya, kalau begitu aku akan membantumu.]


(Hah, apa yang ingin kamu laku-!!)


Sebelum aku selesai bicara, tiba - tiba aku merasakan Sebuah sengatan Listrik mengalir di dalam kepalaku, hingga membuat kepalaku terasa Sakit.


"~Aghhhh!!'


Di saat aku merintih kesakitan, Bu Nara lansung berbalik dan melihat ke arahku. dimana aku sedang berlutut di lantai sambil meremas kepalaku yang lagi sakit.


"~~Ugh, Sialan Kau PIX."


Bisikku, dan di waktu bersamaan Bu Nara lansung menghampiriku dan melihatku dengan khawatir.


"Le-Leon, apa kau tidak apa - apa?"


"Y-yah, aku tidak apa - apa."


"Begitu, Apa kamu bisa berdiri?"


"Yah, aku bisa."


Sambil mengucapkan itu, aku mencoba berdiri, dimana aku di bantu Oleh Bu Nara yang berada di sampingku, kemudian ia membaringkanku di kasur.


Setelah aku di baringkan, aku melihat ke arah Bu Nara dan berkata...


"Makasih sudah membantuku."


"Itu tidak apa - apa, yang lebih penting, Leon untuk sementara, sepertinya kamu benar - benar harus di rawat."


Di saat Bu Nara mengucapakan itu, aku lansung menyadari tujuan PIX menyakiti kepalaku. Yaitu, ia ingin aku tetap berada di ruangan ini bersama dengan Bu Nara. Sehingga ia bisa bersenang - senang.


(Sialan Kau PIX,...Kau Tunggu Saja, Aku Pasti Akan Membalasmu.)


Ucapku di dalam pikiran sambil melirik PIX dengan marah. Namun Bukannya takut PIX malah tersenyum Licik dan berkata..


[Master, Tidak usah marah begitu, lagi pula dengan melakukan ini aku bisa membuat kalian berdua, lebih lama berduaan di ruangan ini, jadi seharusnya anda berterima kasih padaku?]


(MAKASIH APANYA? AKU TIDAK MEMINTAMU MELAKUKAN ITU.)


Bentakku lansung di dalam Pikiran sambil wajahku terlihat sangat jengkel.


Melihat ekspresiku yang seperti itu, membuat Bu Nara bertanya - tanya apa yang aku pikirkan.


"Leon ada apa, Kau membuat wajah seperti itu?"


"Ti-Tidak bukan apa - apa."


Jawabku lansung, kemudian aku mencoba bangun dari kasur, yang membuat Bu Nara lansung terlihat khawatir.

__ADS_1


"Hah Leon, kau tidak boleh bangun dulu, kau harus istirahat."


"Bu Nara, aku sudah tidak apa - apa, aku harus pergi ke kelas."


Di saat aku mengucapakan itu, Dari dalam pikiranku tiba - tiba PIX berkata..


[Master, apa yang kau katakan, aku sudah membuat kalian berdua supaya bisa berduaan lebih lama di sini dan kau mau pergi begitu saja?-


-jangan pikir aku membiarkanmu begitu saja.]


Sesaat PIX mengucapkan itu, Entah kenapa tiba - tiba aku memiliki Firasat Buruk sehingga aku mencoba mengatakan sesuatu.


(Tu~Tunggu dulu PIX, apa yang ingin kau laku-!!)


Namun, Sebelum aku menyelesaikan kata - kataku, sengatan listrik mengalir lagi di dalam kepalaku Hingga membuat aku menjerit kesakitan..


"~~Aghhhhh...!!"


"Leooon."


Ucap Bu Nara sambil menahanku yang hampir terjatuh. Kemudian ia membaringkan aku kembali di kasur.


"~Ughh,..maaf aku menyusahkanmu lagi." ucapku.


"Itu tidak apa - apa."


Balas Bu Nara yang terlihat cemas, kemudian ia menambahkan lagi.


"Yang lebih penting,...Leon, sepertinya kamu benar - benar harus istirahat.-


-karena di lihat dari manapun, kau terlihat tidak baik - baik saja."


Ucapnya sambil menatapku dengan khawatir. Melihat tatapannya itu membuat aku lansung menyadari, kalau ia tidak punya pikiran kotor sama sekali terhadapku di bandingkan sebelumnya.


Sehingga aku lansung melemaskan badanku dan mulai bersantai di kasur.


"Kau benar, Sepertinya aku harus Istirahat."


Ucapku sambil memejamkan kedua mataku. Melihat itu, Bu Nara lansung tersenyum dan pergi mencari Obat yang ku butuhkan.


Di saat aku merasa ia sudah tidak ada di dekatku, aku kembali membuka mataku dan melihat ke arah kaos tanganku, dimana PIX berada.


(PIX,..INI YANG KEDUA KALINYA KAU MENYAKITI KEPALAKU, AKU AKAN INGAT INI.)


Ucapku sambil melotok PIX dengan tajam. Yang membuat PIX lansung meneteskan keringat dingin dan tidak bisa mengatakan apapun.


[.....]


Di saat aku terus melotot PIX, Bu Nara menghampiriku kembali dan menyerahkan beberapa Obat di tangannya.


"Ini minumlah, aku yakin ini akan membuat kondisimu membaik."


Tanpa menjawab apapun, aku lansung mengambil Obat tersebut dan memasukkannya ke dalam Mulut.


Kemudian aku mengambil Air gelas yang di serahkan Bu Nara dan lansung meminumnya.


Glup!!...Glup!!...Glup!!..


Seusai aku meminum Obat tersebut, aku menyerahkan kembali Gelasnya ke Bu Nara dan berkata..


"Makasih."


"Sama - sama, kalau begitu istirahatlah dulu. Jika kamu butuh sesuatu panggil saja aku. Mengerti?"


"....Yah aku mengerti."


Setelah aku mengucapakan itu, Bu Nara lansung tersenyum dan mulai berjalan ke arah mejanya untuk membuat laporan.


Di saat aku memperhatikan Bu Nara, tiba - tiba PIX berkata...


[Sayang sekali yah tidak terjadi apa - apa. padahal aku pikir ia akan menyerang mu seperti waktu itu.]

__ADS_1


(Diamlah sialan.)


Seusai aku mengucakan itu dengan kesal, aku lansung membuang tubuhku di kasur dan mulai beristirahat di sana.


__ADS_2