
Setelah Selena mengetaui bahwa dirinya berada di dalam koper ia mulai menjadi sedikit tenang.
"Begitu, aku ingat sekarang. Jadi sekarang aku berada di dalam koper kan?"
"Benar."
Jawabku, namun tak berhenti sampai di situ Selena bertanya lagi padaku.
"Apa Brid bersamamu?"
"Tidak, ia baru saja pergi membereskan barang - barangnya di sana bersama dengan Kak Rangga dan Ayah."
"Kak Rangga? Ayah? Dirman sepertinya kau sudah terbiasa memanggil mereka seperti itu ya."
"Itu bukan urusanmu. Apa lagi Selena sudah ku bilang panggil aku Leon."
"Baiklah - baiklah aku minta maaf."
Balas Selena, seolah ia tau aku sedang marah. Dan karena Selena tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi jadi ia mencoba mengganti topik pembicaraan.
"Omong - omong Leon bisa tidak kamu keluarkan aku dari sini."
"Hah buat apa aku mengeluarkanmu dari situ?"
"Yaa kamu tau sendirikan di sini sangat sempit dan panas apa lagi aku tidak tahanan berada di dalam sini. Jadi tolong keluarkan aku dari sini."
"Maaf tapi aku tidak mau."
Selena sontak kaget mendengar itu dan bertanya..
"Kenapa?"
"Kau masih ingatkan apa yang sudah kau lakukan tadi pagi?-
-Saat itu kau seenaknya melarikan diri tanpa menjelaskannya terlebih dulu pada gadis itu(Kak Siska). Berkat itu aku jadi dapat tamparan keras darinya. Kau pikir aku akan diam saja?..tentu saja tidak.-
-Mulai sekarang aku akan balas, apa yang telah kau lakukan padaku tadi pagi, jadi sebaiknya kau persiapkan saja dirimu."
Selena menjadi pucat dan ia merasa panik.
"Tu-Tunggu dulu Leon, tolong dengarkan, ada alasan kenapa aku melarikan diri saat itu."
"Maaf aku tidak butuh alasanmu, yang ku butuhkan saat ini hanya menghukum mu agar kau tidak melakukan hal itu lagi."
Tiba - tiba Selena merasa bahwa koper yang ia tempati terangkat.
"Le~Leon apa yang sedang kau lakukan?"
"Hmm aku hanya sedang menggantung koper ini."
Saat ini aku(Leon) berada di dalam Gudang dan sedang menggantung koper yang di tempati Selena. seperti samsak tinju.
"Baiklah, apa kau sudah siap? Mari kita mulai."
"Tu-Tunggu Leon apa yang kau lakukan? henti-!!"
Sebelum Selena selesai bicara, aku lansung memutar koper itu sekencang - kencangnya hingga membuat Selena merasa sangat pusing di dalam sana.
"LEOOOOON HENTIKAAAAN! AKU PUSING, AKU MERASA INGIN MUNTAH."
"Hahaha bukankah hukuman ini lebih baik dari pada kau di jadikan samsak tinju?"
"TIDAK, LEBIH BAIK AKU DI JADIKAN SAMSAK TINJU DARI PADA DI BIKIN PUSING SEPERTI INI."
"Benarkah? Aku senang mendengarnya. Kalau begitu terima ini."
"TIDAK, LEON TOLONG HENTIKAN, AKU BENAR - BENAR AKAN MUNTAAAAAH!!"
____________________________________
__ADS_1
________________________________
>Beberapa saat kemudian.
Setelah Brid memasukkan semua barangnya ke dalam bagasi mobil. Ia melihat sekitar untuk mencari keberadaanku(Leon). Namun karena aku belum kembali jadi ia mendekati Rangga.
"Sepertinya semuanya sudah selesai, makasih sudah membantuku." ucap Brid.
"Itu tak apa. yang lebih penting apa Selena tidak ikut denganmu?"
"Dia ikut, dia akan menyusul nanti."
"Begitu."
Sementara Brid sedang asik bicara dengan Rangga. dari jauh Brid melihat aku sudah kembali sambil menyeret koper yang isinya Selena di dalam.
"Oh Leon kau sudah kembali. Bagaimana apa kau sudah bicara dengannya(Selena)?"
"Yah ini."
Aku menyerahkan Koper itu pada Brid. Dimana ketika Brid mengambilnya ia seperti mencium bau amis.
Meski begitu Brid tidak terlalu mempedulikan hal itu dan lansung membawanya masuk ke dalam mobil. Dimana ia menaruknya di kursi paling belakang.
Setelah Brid menaruk koper itu, Brid kembali ke tempat kami semua dan mulai mencoba berpamitan..
"Sudah waktunya aku berangkat. Nyonya dan kalian semua makasih sudah menjagaku selama aku tinggal di sini. Aku senang bisa menghabiskan waktuku bersama dengan kalian."
"Kami juga."
Balas Kak Rani, dimana membuat Brid tersenyum.
"Ini tak seberapa tapi tolong terimalah."
Brid memberikan sebuah Bingkisan. Ibu dengan senang hati menerimannya.
"Makasih banyak, padahal kamu tidak perlu melakukan ini, tapi tetap saja terima kasih."
Balas Brid. Lalu setelah itu Brid mengalihkan pandangannya ke arahku dan mendekatiku.
"Dan ini hadiah untukmu Leon."
"Eh aku juga dapat? Yeaaah makasih banyak paman Brid, kau baik sekali."
Aku dengan ceria mengambil koper silver kecil yang di berikan Brid padaku.
"Oh iya, aku mempunyai sesuatu untukmu juga paman Brid."
Brid penasaran dan bertanya..
"Oh benarkah? Apa itu?"
Aku membuka tasku dan mengambil dua kantong besar yang bersikan Bir yang ku beli di super market.
"I-ini...makasih Leon. Padahal aku berpikir untuk membelinya nanti di perjalanan tapi kamu sudah membelikanku, aku senang sekali."
"Syukurlah kalau paman Brid suka."
Balasku dengan ceria.
Lalu sekali lagi Brid menatap kami semua.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."
"Um. Lain kali datanglah lagi ke sini, aku yakin mereka semua pasti akan senang jika kamu ada di sini." Ucap Ibu.
Kami tidak mengatakan apa - apa namun kami semua menganggukkan kepala kami sebagai balasannya.
Brid merasa senang melihat itu dan tersenyum. Lalu Setelah itu ia meninggalkan kami dan berjalan masuk ke dalam Mobilnya. Kemudian di susul oleh Kak Rangga juga.
__ADS_1
"Kalau begitu Ayah, Ibu aku pergi mengantar paman Brid dulu."
"Yah, hati - hatilah di jalan."
Balas Ayah.
Rangga pun masuk ke dalam mobil Brid. Dan tak butuh waktu lama mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat ini.
_____________________________________
________________________________
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah pangkalan, dimana tepat di pendaratan pesawat terdapat sebuah pesawat putih yang di gunakan Brid waktu datang kemari.
"Makasih sudah mengantarku."
Ucap Brid.
"Tidak masalah, aku juga senang anda berkunjung ke tempat kami."
Balas Rangga, kemudian ia menambahkan...
"Aku harap anda dan semua orang di KSP baik - baik saja dan mudah - mudahan kalian semua berhasil membunuh orang itu di pertemuan nanti."
Brid tidak mengatakan apa - apa namun ia tau orang yang di maksud Rangga itu siapa. Ia tidak lain adalah orang yang telah membunuh Dirman, Guru Rangga.
"Um."
Setelah Brid menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas perkataan Rangga. Ia lalu melambaikan tangannya dan mulai mencoba masuk ke dalam pesawat.
"Kalau begitu Rangga, aku pergi dulu." ucap Brid.
"Yah."
Rangga mengangkat satu tangannya sebagai salam perpisahan.
Setelah itu pintu pesawat pun tertutup dan tak berselang lama pesawat itupun mulai terbang dan meninggalkan pangkalan ini.
"Mereka sudah pergi."
Guman Rangga, di iringi dengan senyumannya yang berbentuk seperti bulan sabit.
____________________________________
_________________________________
Sementara itu di dalam pesawat, Brid menurungkan koper besar yang isinya Selena di dalam. Lalu setelah itu ia pergi duduk untuk istirahat karena lelah.
"Haaa aku capek, tidak ku sangka ia(Selena) seberat ini.-
-Omong - omong sejak tadi aku cium bau amis, sudah kuduga itu memang berasal dari koper ini."
Brid penasaran, kenapa bau seperti itu ada di dalam koper. Jadi ia pun membukanya dan ia sontak kaget. Sebab di dalam koper terlihat Selena yang pingsan serta di lumuri oleh muntah.
Pemandangan itu membuat Brid tidak bisa menahan rasa jijiknya sampai pada akhirnya Brid pun ikutan muntah.
Uweeeeeh!!
(Astaga Leon, apa yang sudah kau lakukan padanya.) Pikir Brid.
>Sementara itu di kamar Leon.
"Acooh!"
[Ada apa Master?]
(Sepertinya ada orang yang sedang membicarakanku.)
[Mungkin itu hanya perasaanmu saja.]
__ADS_1
(Yaaa aku harap begitu.)
Balasku.