BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PROSES REINKARNASI


__ADS_3

Ketika aku sedang duduk di kasur, tiba - tiba ada sebuah ketukan dari pintu kamarku.


TOK!...TOK!....TOK!...


Saat aku melihat ke arah sana, disitu terlihat Rina. Salah satu pelayan rumah ini sedang membuka pintu dan mencoba masuk ke dalam.


Namun, saat ia melihat aku duduk, ia lansung melebarkan mata karena terkejut.


"Tu-Tuan muda, anda sudah sadar?"


"Eh, yah, aku baru saja sadar."


"Begitu, Syukurlah."


Sambil mengucapkan itu, wajahnya terlihat senang. Bahkan aku bisa lihat


Kalau ia menggosok air matanya yang sedang mau menetes.


Meskipun aku senang karena ia khawatir denganku. Namun aku tidak tahan jika melihat wanita Cantik menangis di hadapanku.


sehingga aku mencoba untuk membantunya,...namun,...


..ketika aku memikirkan itu, perlahan Rina berjalan ke arahku, sambil membawa sebuah baskon kecil yang isinya Air untuk mengompres kepalaku.


sesampainnya ia di sana, ia lansung menyimpang baskon tersebut di dekat kasur dan melihat ke arahku.


"Kalau begitu,..Tuan muda tolong tunggu sebentar, aku akan memanggil keluarga anda."


"Eh, yah,..tidak usah buru - buru."


"baik, Aku mengerti."


Setelah Rina menjawab, ia lansung berjalan keluar dari kamar sambil menutup pintunya kembali.


Di sisi lain, Ketika Rina sudah keluar dari kamar, untuk sementara aku melihat ke arah Pintu terus.


Namun setelah beberapa saat kemudian, aku mulai bertanya sesuatu ke PIX tanpa melihat ke arahnya.


"PIX, boleh aku tanya satu hal."


[Apa itu Master?]


"Saat kau Reinkarnasikan aku ke tubuh ini, kau tidak memilihnya dengan sembarangan kan?"


[Ma-Master, apa yang anda kata-!!]


Kan, ingin ucap PIX. Namun sebelum ia mengucapkan itu, tiba - tiba ia lansung berhenti saat melihat tatapanku sedang memancarkan cahaya.


[.......!!]


Setelah beberapa detik PIX terdiam, tak lama kemudian ia mulai menjawabnya.


[I-Iya, seperti yang anda katakan. Saat aku Reinkarnasikan Master, sebetulnya aku tidak memilih Tubuh ini tanpa sebab. Melainkan aku memilih tubuh ini karena adanya sebuah Proses.]


"Sebuah Proses kah,...jangan bilang Proses itu adalah PENGHUBUNG DARAH."


Saat aku mengatakan itu dengan nada tajam, Mata PIX terlihat lansung melebar karena terkejut.


[Ma-Master,..sudah ku duga anda menyadarinya, yah?]


"Yah" jawabku dengan santai.


Meskipun ini hanya perkiraanku saja, namun tidak ku sangkah bakalan benar.


Sebab, saat aku masih di rawat di rumah sakit, aku sering bertanya - tanya, bagaiman cara PIX memindahkan Rohku ke tubuh ini.


Karena, tidak Mungkin PIX memindahkan Rohku ke tubuh ini tanpa adanya sebuah Penghubung antara aku dengan anak ini.


itulah sebabnya saat itu aku terus bertanya - tanya. tetapi, karena aku tidak mengetaui jawabannya, Sehingga aku lansung menyerah.


Namun, Setelah aku mengingat ingatan itu, akhirnya aku jadi tau kalau Penghubung antara aku dengan Bocah ini tidak lain adalah Darah yang aku donorkan saat itu.


meskipun perkiraanku hanya 50 : 50, tapi syukurlah ini benar.


Ketika aku memikirkan itu, perlahan Bibirku melengkun seperti bulan sabit. Sambil tatapanku terlihat memancarkan cahaya di balik bayangan.


PIX yang melihat itu lansung merasa merinding dan mencoba bertanya.


[Ma-Master, sepertinya kau terlihat senang?]


"Heh, tentu saja aku senang,...karena..."


"..SEMUA PERTANYAAN YANG KU PIKIRKAN DULU, SATU - PERSATU MULAI TERJAWAB."


Ucapku lansung, sambil melirik ke arah PIX dengan tatapan Tajam.

__ADS_1


______________________________________________________________________


Di ruang tamu, selain Fira yang terlihat bersenang - senang bermain dengan bonekannya.


semua orang yang duduk di sana terlihat khawatir dan diam saja. Tanpa kecuali ayah, yang biasanya terlihat tenang.


Alasannya, itu karena satu jam yang lalu, ketika mereka semua sedang Ngobrol di Ruang makan. tiba - tiba Leon. Anak Bungsu keluarga ini terlihat aneh dan Pingsan di ruangan makan.


Meskipun saat itu ayah terlihat bingun, dan tidak mengerti. Namun saat ia sudah menenangkan dirinya. Ia lansung sadar kalau Penyebabnya adalah Rangga.


seolah - olah seperti Leon sedang mencari sesuatu ke Rangga.


Meskipun ayah tidak tau apa itu. Namun ketika Leon mendengar Rangga mengatakan...


PAYUDARA YANG TIDAK BERGOYANG, BUKANLAH PAYUDARA NAMANYA.


Saat itulah ayah melihat kalau Leon Mulai bertingkah aneh.


Ketika ayah Sedang memikirkan itu, tiba - tiba Rangga bertanya padanya.


"Ayah, apa Leon sering seperti ini?"


Saat Rangga bertanya, baik Ibu dan juga Siska lansung mengelankan Kepalannya.


"Tidak, Leon tidak pernah sekalipun bertingkah seperti itu"


jawab ibu, setelah itu di lanjutkan lagi oleh Siska.


"Benar, meskipun aku sering melihat Leon sakit kepala. Tapi aku tidak pernah melihat ia seperti itu."


Ketika melihat ekspresi khawatir Siska, Rani yang sedang duduk di sampingnya mencoba menenangkan ia.


Di sisi lain, Rangga yang mendengar jawaban mereka berdua terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Namun, sesaat ia sedang berpikir, tiba - tiba ia mendangar suara langkah kaki dari tangga.


Dan saat Rangga melihat ke arah sana, ia melihat Rina. Salah satu pelayan Rumah ini sedang berlari menuju ke Ruang Tamu.


Sesampainya ia di sana, ia lansung berdiri tepat di belakang Ibu duduk, Ibu yang melihat itu mencoba bertanya.


"Rina kau kenapa kecapean begitu?"


"Haa,..haa,..Nyo-Nyonya tuan muda,...Tuan Muda sudah sadar."


Mendengar hal itu mereka semua lansung terlihat senang. Namun di satu sisi, ketika ibu mendengarkan hal itu. Ia lansung melompat dari sofa dan lansung berlari terbirik - birik naik ke tangga.


Melihat tingkahnya yang seperti itu, membuat Semua orang yang tadinya terlihat sedih. Lansung Kaku terdiam di sana.


kecuali ayah. ia terlihat bahagia melihat Istrinya kembali Ceria.


___________________________________


_________________________


di kamar Leon. Ketika aku sedang membasuhi tubuhku yang penuh dengan keringat, tiba - tiba ada seseorang yang sedang menobrak Pintuku dengan sangat keras. Hingga membuatku lansung kaget.


"LEON, IBU DENGAR KAU SUDAH SADAR."


(Ibu!)


Saat aku melihat ke arah ibu, tiba - tiba aku Shock. Sebab tepat di depan mataku, aku melihat sih Loli sedang meluncur ke arahku dengan sangat cepat.


hingga ia menyundul wajahku dengan sangat kuat.


BUKK!!


"~~Aghhh!!"


Saat aku terjatuh di kasur, ibu lansung duduk di atasku. namun ketika ia melihat hidunku sedang mengeluarkan darah, ia lansung merasa khawatir.


"LE-LEON KAU BERDARAH, APA KAU BAIK - BAIK SAJA?"


Sambil mengucapkan itu ia terus mengguncang - guncang badanku, hingga membuat aku terlihat kesal.


(Sial, aku sudah tidak tahan lagi, aku akan hajar nih Loli.)


[Master Mohon bersabar. Ia adalah ibumu.]


(DIA BUKAN IBUKU BRENGSEEET!]


Saat aku meneriaki PIX. Aku merasakan ada beberapa Orang yang sedang masuk kedalam kamarku.


Ketika aku melihat ke arah sana, di situ terlihat semua keluarga sedang Melihat ke arah kami dengan Ekspresi tercengan.


Alasannya. Itu karena saat ini ibu sedang duduk di atasku sambil menarik - narik bajuku. Di tambah hidungku saat ini mengeluarkan darah.

__ADS_1


Sehingga dari pandangan mereka. Aku saat ini terlihat seperti sedang di hajar Habis - habisan oleh Ibu.


"Tu-Tunggu Ibu, apa yang kau lakukan?"


Sambil meneriakkkan itu, Siska lansung pergi ke arah Ibu, dan lansung mengangkatnya, seperti layaknya seorang anak.


"Eh?,...Eh?,...Eeeeh, Siska apa yang kau lakukan, turunkan aku?"


Saat Ibu terlihat bingun, Siska tidak pedulikan hal itu, dan terus mengangkat Ibu untuk menjauh dariku.


Setelah Siska menjauhkan Ibu dariku ia lansung menurunkannya di dekat ayah.


"Miki."


Saat ayah memanggil ibu, ibu lansung melihat ke arah Ayah dengan ekspresi senang,.....namun...


"Oh sayang, kau sudah ada di sini."


..Ketika ibu mencoba memeluk ayah, ia lansung di hentikan oleh Tangan ayah.


"Eh, sayang kau kenapa?"


"Miki aku ingin tanya, apa kau yang membuat Leon seperti itu?"


Saat ayah Menunjuk ke arahku. Ibu lansung melihat ke arah sana dan memperhatikan kalau Hidunku saat ini sedang mengeluarkan banyak Darah.


Sehingga membuat ibu menjadi panik dan lansung melihat ke arah ayah.


"~Sa-Sayang kau salah paham. Itu Bukan aku yang lakukan, benarkan Leon?"


saat ibu melihat ke arahku, aku perhatikan kalau ia sedang mengedip - ngedipkan matanya. Seperti ingin mengatakan...


(Leon Please, jangan beritau ayahmu yah.)


Seolah - olah aku bisa dengar apa yang ia pikirkan. Aku lansung menghindari tatapanya.


Mengetaui kalau aku tidak mau membantunya. Ibu lansung terlihat ingin menangis,.....tapi...


(Leooon, tolonglah bantu ibu?)


Ketika aku melihat Matanya yang sedang berkaca - kaca, aku merasakan ada sebuah perasaan aneh di dalam hatiku, seperti ia mengatakan....


TOLONG BANTU DIA


Meskipun aku tidak tau kenapa ini bisa terjadi. Namun aku tau betul kalau perasaan ini bukanlah milikku, melainkan perasaan ini Milik anaknya, yaitu LEON.


(Haa, baiklah aku akan membantu ibumu, kali ini saja.)


Sambil mengucapkan itu didalam pikiran, aku mulai membantu sih Loli.


"Ayah, seperti yang dikatakan ibu, ini cuma salah paham saja."


"Salah paham?" ucap ayah


"Yah, memang yang buat hidungku ini berdarah adalah ibu, tapi itu tidak sengaja."


"Eeeeh, benarkah?" ucap Rangga


Seolah - olah Kak Rangga tidak percaya, dengan apa yang aku katakan, aku mulai menjelaskannya.


"Yah itu benar, saat aku baru mau keluar dari kamar, dari balik pintu tiba - tiba ibu menobraknya dengan keras, sehingga mengenai wajahku. Dan pada Akhirnya..."


((((Kau Berdarah.))))


Ucap semua orang di dalam pikiran mereka.


Meskipun aku ingin menjelaskan kejadiaan yang sebenarnya. Namun karena aku rasa kalau Yang di lakukan ibu tadi adalah sebuah penyerangan, sehingga aku mencari alasan lainnya.


Setelah memikirkan itu, perlahan Airani dan Kak Rangga mencoba mendekatiku. Sesampainya mereka di sana, Kak Rangga lansung menyentuh kepalaku.


"Leon, sepertinya Kondisimu sudah lebih baik."


(Baik dari mananya, Hidungku berdarah begini kau bilang baik.)


Ucapku dengan kesal di dalam pikiran.


meskipun sesaat aku merasa kesal, namun ketika melihat wajah Kak Rangga, aku lansung mengingat lagi, beberapa Ingatan saat aku melatih dia.


Mulai dari Bertahan hidup di kedalam hutan, sampai Cara membuat jebakan dan Strategi Licik untuk menangkap Hewan Liar agar di makan.


meskipun saat itu Ia adalah anak yang cengen. namun, melihat dirinya yang sekarang, membuatku sangat senang.


Saat aku memikirkan itu semua. Di sisi lain Kak Rangga yang melihatku sedang memikirkan sesuatu. Lansung menatapku dengan tajam.


"Leon kau,...apa yang sedang kau pikirkan?"

__ADS_1


"Tidak ada."


jawabku dengan tenang sambil menatap balik dia. Sehingga membuat kami berdua saling menatap satu sama lain.


__ADS_2