BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
DI PAKSA


__ADS_3

Keesokan harinya, di ruang kelasku, tepat di depan papan tulis, di sana aku melihat Bu Nara, perawat dari ruang Uks sedang memandang kami semua dengan tatapan sedih.


"Baiklah, anak - anak sekalian, hari ini guru kalian,...Bu Linda tidak hadir lagi, dan juga Guru yang mengajar kalian kemarin, jadi sebagai gantinya, untuk sementara aku yang akan menggantikan mereka dan mengajar kalian."


Salah satu murid perempuan merasa khawatir dengan Bu Linda, karena selama beberapa hari ini ia tidak hadir terus dan ia pun mengangkat tangannya ke atas sambil mencoba bertanya ke Bu Nara.


"Bu, apa terjadi sesuatu pada Bu Linda?"


"Eh....y-yah."


Jawab Bu Nara dengan suara pelang, lalu kemudian ia kembali melihat Gadis itu dan melajutkan lagi...


"Sebetulnya waktu kemarin - kemarin kami belum tau apa yang terjadi pada dia, namun pagi ini pihak sekolah menerima telepon dari Bu Linda bahwa suaminya telah meninggal."


Semua murid sontak merasa sangat terkejut, tanpa kecuali Sara yang duduk bersebelahan dengan bangku ku.


"Apa! Suami Bu Linda meninggal!"


Ucap Sara, dimana Bu Nara lansung membalas.


"Yah, karena itulah setelah aku mengajar kalian hari ini, aku ingin pergi ke sana. Jadi bagi yang mau ikut denganku tolong angkat tangannya ke atas."


Tidak banyak murid yang mengangkat tangannya ke atas. Hanya ada 5 murid dan itu pun semuanya Gadis.


Adapun para Pria, alasan mereka semua tidak ingin ikut itu karena mereka lebih memilih bermain bersama teman mereka setelah pulang sekolah dari pada ikut dengan Bu Nara.


(Yaa itu tidak bisa di pungkiri sih, lagi pula mereka semua masih Bocah.)


[Master, ingat anda juga masih bocah.]


(Heh kalau aku, Hanya tubuhku saja yang bocah sedangkan pikiranku orang dewasa.)


[Anda bilang begitu tapi lihat saja, bahkan anda juga tidak mengangkat tangan ke atas, bukankah anda sama saja dengan mereka?]


(Woy jangan sama kan aku dengan mereka, aku itu punya alasan kenapa melakukan hal ini.)


PIX sedikit penasaran dan bertanya..


[Alasan? Apa?]


(Kau tidak perlu tau.)


Balasku.


Namun yang membuat aku terkejut saat ini adalah Sara. dimana di antara kelima Gadis yang mengangkat tangannya ke atas, Sara adalah salah satunya.


"Tidak ku sangka, ternyata kau ikut juga."


Ucapku sambil melirik Sara, dimana Sara melirikku juga dan membalas.


"Tentu sajalah, mana mungkin aku tidak ikut. Malahan aku terkejut kamu tidak mengangkat tanganmu ke atas, padahal di bandingkan semua Murid yang ada di sini kamulah yang paling dekat dengan Bu Linda."


"Dekat? Aku?"


"Yah, apa kamu tidak sadar?"


Tentu saja aku sadar, namun aku hanya pura - pura saja agar terlihat sedikit bego. lalu kemudian Sara lanjut bertanya..


"Jadi, kenapa kamu tidak mengangkat tanganmu ke atas?"

__ADS_1


"Aku tidak memiliki alasan apapun, aku hanya tidak ingin ikut. Itu saja."


Balasku sambil memalingkan pandanganku ke arah luar jendela, dimana aku mencoba mengakhiri pembicaraan kami.


Namun di sisi lain, Bu Nara yang melihat itu lansung mengerutkan keningnya dan ia terlihat tidak senang.


"Anak itu...."


Bu Nara lansung menghampiriku dan memukul bangku ku dengan cukup keras, yang dimana membuat aku kaget dan buru - buru berbalik melihat ke arahnya.


"Woy apa yang kau lakukan? Kau membuat aku kaget tau."


Bu Nara tidak mempedulikan hal itu dan malah menatapku dengan serius.


"Leon,...Kenapa kamu diam saja di situ?Cepat angkat tanganmu juga ke atas."


"Tidak mau, aku tidak mau ikut."


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa ikut?"


"Tidak ada."


"Kalau begitu, cepat angkat tanganmu ke atas."


"Sudah ku bilang, aku tidak ma-!!"


"CEPAT ANGKAT TANGANMU KE ATAS."


Kali ini suara Bu Nara sangat pelang namun terasa tajam, yang dimana membuat aku secara spontan lansung mengangkat tanganku ke atas.


"Ba-Baik." ucapku.


-Sekarang sudah ada enam Murid yang ikut denganku. Apa masih ada yang mau ikut?"


Bu Nara melihat sekeliling dan memperhatikan tidak ada lagi murid yang mengangkat tangannya ke atas.


"Sepertinya sudah tidak ada. Baiklah,


Bagi murid - murid yang mengangkat tangannya ke atas, kita akan kumpul di depan Gerbang sekolah, sepulang sekolah nanti, mengerti."


"""""Mengerti Bu."""""


Jawab Para Gadis itu secara serentak. Tanpa kecuali Sara dan juga diriku.


(Sial, ini sungguh menyebalkan.)


Pikirku.


Lalu di saat Bu Nara ingin meninggalkan tempatku, ia ingat masih ada satu hal lagi yang ingin ia katakan padaku sehingga ia kembali melihatku.


"Oh iya Leon, ketika sudah waktunya istirahat tolong datanglah ke ruanganku(Uks), ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu."


"Apa?" tanyaku.


"Kau akan tau sendiri nanti."


Setelah mengatakan itu Bu Nara lansung kembali ke depan podium.


"Baiklah, Semuanya keluarkan Buku pelajaran kalian hari ini, kita akan memulai pelajarannya."

__ADS_1


Semua murid lansung mengeluarkan buku pelajaran mereka masing - masing. dan tak lama kemudian pelajaran pun dimulai.


______________________________________


__________________________________


Setelah pelajaran selesai dan sudah waktunya masuk jam istirahat, seperti biasa anak - anak itu(Rusli dan Lia) datang ke kelasku dan mencoba mengajakku ke kanting.


Namun kali ini aku tolak, karena seperti yang kalian tau, aku sedang di panggil oleh Bu Nara ke ruangannya(Uks.)


Sara mengerti hal itu, dan ia pun mencoba meyakinkan Rusli dan Lia juga. Yang pada akhirnya aku pun di biarkan pergi.


Tan lama setelah aku berjalan akhirnya aku sampai di depan pintu ruang Uks. Dimana di saat aku membuka Pintu, aku melihat Bu Nara sedang merawat seorang gadis di dalam sana.


Gadis itu terlihat pucat dan umurnya mungkin setahun lebih tua dari ku, yang artinya ia adalah kakak kelasku.


"Bu Nara."


Aku memanggil Bu Nara, dimana Bu Nara lansung berbalik dan melihat ke arahku.


"Oh Leon kau sudah datang! Duduklah dulu di kasur, aku merawat Gadis ini dulu."


Tanpa banyak tanya aku lansung duduk di salah satu kasur sambil melihat ke arah mereka, dimana aku perhatikan gadis itu sesekali melirikku. Namun di saat tatapan kami saling bertemu ia sontak shock dan buru - buru memalingkan pandangannya ke arah lain.


(Apa - apaan dia itu?) pikirku.


Lalu tak lama setelah Gadis itu di rawat, akhirnya selesai juga, dimana ia saat ini di beri beberapa obat oleh Bu Nara.


"Ini, untuk sekarang kamu pulanglah dulu dan minum Obat - Obat ini lalu istirahat.-


-Soal keadiranmu, kamu tidak usah khawatir, biar aku yang beritau wali kelasmu nanti."


"A~Aku mengerti."


Jawab Gadis itu, lalu kemudian ia berdiri dan berpamitan ke Bu Nara.


"Ma~Makasih Bu sudah merawatku, kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah berpamitan, Gadis itu mulai mencoba berjalan keluar, namun di saat ia melewatiku mata kami sesaat saling bertemu lagi yang dimana membuat Gadis itu sontak kaget dan buru - buru meninggalkan tempat ini.


(Dasar gadis yang aneh.)


Sementara aku memikirkan itu, Bu Nara mendekatiku dan duduk di sampingku.


"Ada apa Leon, kau sejak tadi melihat Gadis itu terus, apa mungkin kamu suka dia?"


"Hah😦! Mana mungkinlah."


"Benarkah? Tapi gadis itu terus saja melirikmu tadi loh, mungkin saja ia suka padamu."


"Ia melirikku bukan karena ia suka padaku tapi ia hanya waspada padaku."


"Waspada?"


"Yah, kemungkinan besar ia tau soal kejadian waktu aku buat keributan dengan Kakak Kelas di kanting, itulah kenapa ia waspada padaku."


"Hmm begitu."


...........

__ADS_1


__ADS_2