
ketika aku bersandar di tembok, aku melihat tiga orang yang dari tadi terus mengikuti.
mereka bertiga sangat muda dan masih mengenakan seragam SMA. meskipun salah satu Gadis di sana memakai jaket untuk menutupi Seragamnya. namun aku tau kalau ia juga mengenakan Seragam SMA.
[Master]
saat aku memperhatikan mereka yang diam saja saat melihatku. tiba - tiba PIX memanggilku.
(ada apa?)
[Master, mereka bertiga ini, Sepertinya Orang - Orang yang pernah membuli Leon.]
mendengar apa yang di katakan PIX, membuatku lansung melebarkan mata karena terkejut.
(eh, kau...apa kau yakin?)
[ya, tidak salah lagi, merekalah yang pernah Membuli Leon dan membuatnya masuk rumah sakit.]
saat mendengar apa yang dikatakan PIX, sebuah detakan yang keras terjadi di jantungku, sambil wajahku tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh Bayangan.
(BEGITU,...JADI MEREKA YA.)
Sambil memikirkan itu, aku melirik ke arah mereka lagi dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"OI, KENAPA KALIAN DIAM SAJA DI SITU BRENGSET, AKU TANYA KENAPA KALIAN MENGIKUTIKU"
saat aku bertanya sekali lagi ke mereka, satu - satunya Pria yang ada di sana lansung terlihat marah dan mencoba Memukulku.
"BOCAH SIALAN, BERANINYA KAU BILANG SEPERTI ITU."
saat pria itu baru saja mau melayankan sebuah pukulan tepat di wajahku. dengan cepat ia lansung di hentikan oleh salah satu gadis yang tak mengenakan jaket.
"Felik apa yang kau lakukan?"
"Erina, jauhkan tanganmu dari situ, aku ingin menghajar Bajingan ini!"
"hentikan itu, apa kau tidak ingat yang di katakan Luis."
"~aku tau itu,...tapi..."
meskipun Felik terlihat kesal, namun ia tetap menjauhkan tangannya dari hadapanku.
"SIALAN.."
saat Erina melihat Felik sudah tenang kembali, ia lansung melihat ke arahku.
"Leon."
"umm?"
ketika aku melihat Gadis yang bernama Erina. aku memperhatikan ia mempunyai Rambut pendek berwarna Merah sambil di sisir ke arah belakang. dimana ia memakai bandol agar menahan Rambutnya tidak maju ke depan.
"ada apa? apa kau butuh sesuatu dariku?"
"tidak, bukan apa - apa kok. hanya saja, saat kami melihatmu, kami ingin menyapamu saja."
"Menyapaku?"
"ya,..tunggu dulu. Leon, jangan Bilang Kau melupakan kami?"
Ketika Erina mengatakan Itu, Ia menatap mataku dengan sangat serius.
bukan hanya ia saja, bahkan Felik dan gadis yang mengenakan Jaket pun ikut juga menatapku dengan serius.
melihat tatapan mereka. perlahan Bibirku berbentuk seperti Bulan sabit. sambil mencoba Pura - Pura tidak tau apapun.
"maafkan aku, aku tidak bisa mengingat kalian."
mendengar apa yang aku katakan Membuat mereka bertiga lansung melebarkan matanya karena terkejut.
(Se- Sepertinya, ia benar - benar hilang ingatan.)
ucap Erina di dalam Pikirannya, setelah itu ia melanjut kan lagi.
"Jujur saja kami dengar Rumor kalau kau sedang Hilang Ingatan, tapi tidak ku sangkah ternyata itu benar."
"yaa, memang benar aku saat ini hilang ingatan. tapi, bukan berarti Ingatanku hilang sepenuhnya."
"Eh, apa maksudmu Leon?"
__ADS_1
ketika Gadis yang mengenakan jaket mencoba bertanya. dengan santai aku menjawabnya.
"maksudku, aku masih mengingat beberapa hal. contohnya nama keluargaku dan nama Orang - orang yang dekat denganku. yaa mungkin alasan aku tidak ingat kalian, itu karena kalian tidak terlalu penting untuk ku ingat."
ketika aku mengatakan itu dengan nada mengejek, selain para gadis, Felik lansung terlihat marah.
(BOCAH INI, AKU INGIN MEMBUNUHNYA!)
saat Erina melihat ekspresi Felik sangat marah, ia mencoba menenangkannya dengan megenggam pundaknya.
"Erina."
"sebaiknya kau tahan saja emosimu itu terlebih dahulu."
"tapi, Bocah ini."
"aku tau itu, tapi, jika kau memukulnya, kau tau sendiri apa yang akan terjadi pada kita."
mendengar apa yang dikatakan Erina, membuat Felik tenang kembali. setelah itu Erina melihat ke arahku.
"Leon, aku tanya sekali lagi, apa kau benar - benar tidak Ingat kami."
"yaa, seperti yang aku katakan, mungkin kalian tidak terlalu pantas untuk ku ingat."
((DASAR BOCAH SIALAN.))
Ucap Erina dan Felik secara bersamaan.
setelah itu, Erina mencoba menenangkan dirinya kembali, sambil melihat ke arahku.
"haaa sudahlah, kalau begitu kami pergi dulu."
Sambil mengucapkan itu, Erina dan dua lainnya mulai berjalan sambil meninggalkan tempat ini.
namun, ketika mereka baru saja berjalan beberapa langkah. tiba - tiba aku memanggilnya dari belakang.
"Oi, tunggu sebentar."
"Hah, ada apa?" ucap Erina
"memang benar aku tidak ingat kalian, tapi, setidaknya kalian bisa memberitauku nama kalian kan?"
ketika aku memikirkan itu, Ekspresi Felik terlihat sangat kesal.
"Hah, kenapa kami harus memberitaukan nama kami?"
"yaa, aku tidak masalah jika kau tidak mau memberitauku. tapi, apa kalian tidak masalah dengan itu."
ucapku sambil tersenyum licik. merasakan niat buruk ku, Erina mencoba bertanya.
"a-apa maksudmu?"
"maksudku, jika aku tidak tau nama kalian itu berarti aku harus memanggil kalian dengan sebutan lain. contohnya Pria itu, aku akan menyebutmu sabagai pria Goblok-!"
"HAH, APA KAU BILANG BRENGSEET!"
Tanpa mempedulikannya, aku mengalihkan pandanganku ke arah Erina.
"-Sedangkan untuk kau, aku akan memanggil-!"
sebelum aku menyelesaikan kata - kataku. dengan cepat Erina mencoba menghentikanku.
"aah, Baiklah, baiklah aku mengerti, kami akan memberitaukan nama kami."
"Baguslah kalau kau mengerti."
setelah itu, mereka mulai memperkenalkan diri mereka, masing - masing.
"Baiklah, pertama - tama aku dulu. namaku Erina, sedangkan Pria di sampingku.."
"namaku Felik, ingat itu baik - baik Bocah!"
"Hah, siapa juga yang ingin ingat namamu Goblok!"
"APA KAU BILANG!!"
Tanpa pedulikan Felik, aku lansung mengalihkan pandanganku ke arah sih Gadis jaket itu.
dimana ia mempunyai Rambut hitam panjang. sambil menutupinya dengan dondo.
__ADS_1
selain itu. ketika aku memperhatikan matanya, kelopak matanya sepertinya sangat hitam. mungkin ia sering begadang atau kurang tidur.
saat aku terus memperhatikannya, ia merasakan tatapanku, dan mulai memperkenalkan dirinya.
"giliranku ya, perkenalkan namaku Bulan, salam kenal."
"o-oh, salam kenal."
sesaat aku merasa gugup, sebab tidak ku sangkah ternyata Gadis ini sangat Sopan dibandinkan mereka berdua.
setelah mereka semua memperkenalkan diri mereka masing - masing, Erina lansung melihat ke arahku.
"baiklah, kami bisa pulang kan sekarang?"
"Tentu saja, cepat pergi sana, us...us!"
saat aku mengusir mereka layaknya seekor hewan. mereka berdua lansung terlihat marah. kecuali Bulan yang tidak mempedulikannya sama sekali.
setelah beberapa detik mereka berdua menatapku dengan tajam.
perlahan mereka berbalik dan mulai berjalan meninggalkan tempat ini.
namun, ketika aku melihat mereka berjalan pergi. sesaat aku melirik ke arah susu Kotak yang aku genggam, dimana isinya sudah tidak ada.
setelah itu. aku lansung melempar susu itu ke kepala Felik.
BUK!!
"~aduh! SIALAN APA YANG KAU LAKUKAN BOCAH!"
"Maaf aku tidak sengaja."
"TIDAK SENGAJA APANYA, JUJUR SAJA KAU SENGAJA KAN?"
"sudah ku bilang aku tidak sengaja, heh!"
ucapku sambil tertawa sedikit.
"KAU BARUSAN TETARWAKAN!"
"Tidak, aku tidak ketawa sama sekali, heh!"
"KAU BENAR - BENAR KETAWA SIALAN!"
Ketika Felik mencoba berjalan maju untuk memukulku, dengan cepat ia lansung di hentikan lagi oleh Erina.
"Felik, hentikan saja itu."
"Tapi, Bocah ini benar - benar membuatku kesal."
"aku tau itu. tapi ingat, alasan kita datang kesini itu untuk apa."
setelah mendengar apa yang di katakan Erina. Felik lansung meremas tangannya dengan erat sambil terlihat sangat kesal.
namun, tanpa pedulikan hal itu, Erina melanjut kan lagi.
"selain itu, aku yakin Luis pasti sedang menunggu kita, jadi tidak perlu pedulikan Bocah itu."
(Luis? apa itu ketua mereka.)
saat aku memikirkan itu, Felik lansung berbalik dan dengan cepat berlari meninggalkan Tempat ini.
ketika Erina melihat Felik pergi. sesaat ia mengalihkan pandangannya ke arahku. sambil melihatku dengan tatapan marah.
"Bocah, bersenang - senanglah selagi kau bisa."
sambil meninggalkan Kata - kata itu, Erina lansung berjalan pergi sambil di ikuti Bulan di belakangnya.
ketika mereka sudah tak terlihat, aku terus menatap ke arah depan, sambil memikirkan apa yang di katakan Erina Barusan.
"BERSENANG - SENANGLAH SELAGI KAU BISA KAH. HEH, SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU."
[oh, dari apa yang Master katakan barusan, itu berarti..]
"yaa, kita akan bergerak setelah kita memasuk kan satu Orang lagi kedalam."
[seorang lagi? buat apa?]
ketika PIX sedang bertanya, perlahan Bibirku melengkun seperti bulan sabit, sambil tatapanku seperti memancarkan sebuah Cahaya di dalam kegelapan.
__ADS_1
"YAA, KAU AKAN TAU SENDIRI NANTI."