
Setelah Brid dan yang lainnya berhasil mengalahkan Helikopter itu.
Di waktu bersamaan di negara terbesar dunia, tepatnya di pengunungan bersalju.
Di sana terdapat sebuah Mansion. Dimana salah satu Ruangan mansion itu, terlihat seorang pria sedang duduk sambil mengerjakan beberapa dokumen yang ada di atas meja.
Pria itu tidak lain adalah Andry Alexei Seorang Jendral sekaligus salah satu Petinggi PBB yang mengatasi Fenomena Lubang Dimensi.
Ketika Alexei sedang mengerjakan Beberapa dokumen di atas meja. Tiba - tiba terdengar suara ketukan dari arah Pintu.
TOK!!..TOK!!..TOK!!...
Mendengar itu Alexei lansung berhenti bekerja dan melihat ke arah Pintu.
"Masuklah."
Setelah ia mengucapakan itu, Pintu tersebut perlahan terbuka dan memperlihatkan seorang pria berumur sekitar 54 tahun.
ia memiliki kumis rapi dan mempunyai rambut berwarna putih, sambil memakai kacamata lingkaran di mata kirinya.
ia mengenakan setelan jas dengan sangat rapi di atas tubuh langsingnya, sambil meluruskan punggungnya saat melihat ke arah Alexei.
Pria itu tidak lain adalah Pelayan dekat Alexei bernama Arda Gennadius.
Pada saat Gennadius mendekati Alexei ia lansung menunduk dan berkata..
"Maaf sudah mengganggu Waktu anda tuan."
"Itu tidak apa - apa, yang lebih penting apa kau punya urusan denganku?"
Tanya Alexei, yang lagi mengerjakan Dokumen di atas meja. Setelah itu Gennadius menjawab.
"Yah, beberapa waktu yang lalu, kami mendapatkan Laporan. Kalau Salah satu Fasilitas Penelitihan Monster (FPM) sedang di serang."
Mendengar hal itu, sentak membuat Alexei berhenti bergerak dan matanya melebar.
Setelah itu ia melihat ke arah Gennadius dan bertanya..
"FPM mana yang di serang?"
"FPM, Dari negara Xxxxx."
Mendengar itu, Alexei lansung mengerutkan dahinya setelah itu, ia bertanya lagi...
"Apa kau tau Kelompok mana yang menyerang?"
"Tidak, menurut Laporan mereka belum tau identitas si penyerang. Bahkan Semua Rekaman di sana mengalami Gangguan saat penyerangan terjadi."
Jawab Gennadius dengan serius.
"Hmm, bagaimana dengan Rekaman Satelit, apa kalian mendapatkan sesuatu?" tanya Alexei
"Tidak, itu sama saja Tuan."
Mendengar hal itu, Alexei lansung menyipitkan matanya dengan tajam sambil berkata...
"Boleh aku lihat Rekamannya?"
"Baik."
Jawab Gennadius sambil menyerahkan sebuah flashdisk ke Alexei. Setelah Alexei mengambil flashdisk tersebut, ia lansung memasangnya ke Laptop dan Memperlihatkan sebuah Rekaman Video.
Dimana Sebuah Mobil sedang melaju dan mencoba Keluar dari pangkalan, lewat Lubang yang terdapat di benteng.
namun, ketika Mobil itu sudah keluar dari pangkalan. Tiba - tiba Rekaman itu mengalami gangguan dan lansung mati.
Melihat hal itu, Alexei lansung menatap Rekaman itu dengan tajam.
Sebab di lihat dari manapun, ini bukan hanya Gangguan biasa melainkan ini Seperti Rekaman Satelit tiba - tiba di matikan secara otomatis. Itu berarti...
"Gennadius, jangan bilang Rekaman Satelit ini Di HACK?"
"Yah, anda Benar Tuan."
Jawab Gennadius dengan tegas.
Mendengar itu, Alexei lansung bersandar di kursinya sambil melihat ke atas langit - langit dan berpikir...
(Rekaman Satelit di Hack yah. Tapi siapa yang melakukan ini?)
Ketika Alexei terus bertanya - tanya, ia terlihat kesusahan untuk mendapatkan jawabannya.
Sebab, untuk MengHack Sistem Satelit, itu bukanlah suatu hal yang mudah.
Bahkan dari yang Alexei tau, hanya ada beberapa orang yang Bisa melakukan itu, dan salah satunya adalah Carla. Ketua dari Kelompok Serigala Pemburu.
(Namun, Carla saat ini adalah sekutu kami yang mengatasi Lubang Dimensi. Jadi tidak Mungkin ia.)
Pikir Alexei.
Namun, Karena ia tetap tidak bisa menemukan Jawabannya, sehingga ia akhirnya menyerah dan berkata...
"Haaa..sudalah, lupakan saja soal itu, yang lebih penting.."
Sambil mengucapkan itu, Alexei melihat ke arah Gennadius dan bertanya...
"Gennadius, Apa kau Tau tujuan mereka?"
"Yah, menurut Laporan yang aku dapat, Tujuan mereka ada dua tuan. Yang pertama, Dokumen yang ada di ruang Laboratorium, sedangkan yang kedua KOPER PELATINUM."
Mendengar jawaban Gennadius membuat Alexei lansung kaget dan berdiri dari tempat duduknya.
Setelah itu ia memukul mejanya dengan keras, dimana tatapannya terlihat sangat marah.
"KOPER PLATINUM KAU BILANG, JANGAN BILANG MEREKA BERHASIL MENGAMBILNYA."
"Itu benar tuan."
__ADS_1
Jawab Gennadius dengan Tegas.
Di sisi lain, Alexei yang dengar itu lansung mengertakkan Giginya dan berkata...
"GENNADIUS. SURUH CEPAT INTELEJEN KITA CARI TAU IDENTITAS MEREKA DAN AMBIL BALIK KOPER ITU."
"Aku sudah melakukannya Tuan."
Jawab lansung Gennadius.
"Benarkah?"
"Yah, beberapa saat yang lalu, aku sudah menyuruh beberapa Tim untuk menyelidikinya, dan kami mendapatkan titik terang, siapa Si penyerang itu."
"Oh, Boleh aku tau?"
Saat Alexei bertanya, ia menyipitkan matanya dengan Serius. Gennadius yang melihat itu, dengan tegas menjawab..
"YAH, KEMUNGKINAN BESAR SI PENYERANG ADALAH KELOMPOK DARI GREGORI."
"Gre-Gregori, maksudmu Orang itu?"
"Benar."
jawab Gennadius dengan serius. Setelah itu Ia lanjutkan lagi.
"Menurut Laporan Prajurit yang selamat, Saat bertarung dengan Salah Satu dari mereka-
-Prajurit itu mengatakan Kalau orang itu Memiliki tinggi sekitar XxxCm dan mempunyai kekuatan yang super kuat.
Bahkan Prajurit itu berkata ia hanya bisa pasrah saja saat menghadapi orang itu-
-dan saat kami menyilidiki orang yang punya tinggi badan dan kekuatan seperti itu, satu - satunya jawaban yang kami temukan adalah.."
"GREGORI."
Sambung lansung Alexei.
"Yah."
Jawab Gennadius secara Singkat.
Setelah itu, untuk sementara Alexei terus berpikir. Namun beberapa detik kemudian ia melihat ke arah Gennadius dan berkata..
"Baiklah, untuk saat ini aku ingin kau gerakkan Intelejen Elite kita, dan Cari tau keberadaan Kelompok Gregori. Mengerti?"
"Baik,..tapi, setelah kita temukan, apa yang harus kita lakukan?"
Saat Gennadius bertanya, dengan tegas Alexei menjawab.
"Kita tangkap mereka hidup - hidup."
Mendengar itu, Gennadius lansung terlihat terkejut dan bertanya..
"Eh, Apa kita tidak membunuhnya."
"Tidak, kita tidak akan membunuhnya, karena kemungkinan besar ia juga hanya di suruh oleh Seseorang untuk mengambil Koper itu, (Lagi pula mereka Tentara Bayaran) jadi, tujuan kita adalah mencari tau, siapa orang yang ada di belakangnya."
Mendengar itu, untuk sementara Gennadius menatap Alexei dengan Ekspresi tercengan.
Namun setelah itu ia berkata...
"Baiklah, aku akan Suruh orang - orangku sekarang, untuk mencari mereka."
"Yah,..hah, dan jangan lupa, Minta Para Petinggi PBB yang lainnya juga untuk mencari meraka. Mengerti?"
Ucap Alexei, setelah itu Gennadius menjawab..."Aku mengerti." dan lansung meninggalkan Ruangan.
Di siai lain, ketika Gennadius sudah keluar dari Ruangan, Alexei duduk kembali di kursinya sambil bersandar ke belakang dan melihat ke atas.
Dimana tatapannya terlihat sangat tenang namun tajam.
"Tidak Kusangkah Koper itu berhasil di Curi." ucapnya, setelah itu ia mendesah "haaa.." dan berguman..
"Yaa, bagaimanapun caranya, kita harus cepat mengambil Koper itu. Sebab-"
"-KOPER ITU TIDAK BOLEH JATUH KE TANGAN YANG SALAH."
Ucap Alexei, sambil tatapannya terlihat memancarkan Cahaya di balik bayangan.
____________________________________
_______________________________
Beberapa hari Setelah Misi mereka selesai.
Saat ini, tepat Di atas langit, terlihat sebuah pesawat Angkut.
Dimana Pesawat itu di tumpangi Oleh Anggota yang menjalankan Misi beberapa hari yang lalu. Yaitu...Brid, Mael, Dux, Selena, Gregori dan yang terakhir Trio Bodoh.
Saat ini Mereka semua sedang tiduran di dalam sana.
Kecuali Brid, Selena dan Gregori. Mereka bertiga sedang duduk berdampingan di dekat jendela. Sambil Ngobrol satu sama lain.
"Oh iyah Brid, sekarang kita menuju ke markas kalian kan?"
Tanya Selena. Setelah itu dengan tenang Brid menjawab..
"Yah, setelah kita sampai, Carla akan membayar kalian."
"Hmm.."
Pada saat Selena terus menatap Brid, Brid merasa terganggu, sehingga ia mencoba bertanya..
"Ada apa?"
"Tidak, bukan apa - apa kok. Hanya saja aku pikir sudah lama aku tidak mengunjungi Markas Kalian. Mungkin sekitar 2 tahun lebih kan?"
__ADS_1
Tanya Selena sambil melihat ke arah Gregori. Gregori yang melihat itu lansung mengangguk. Seolah - olah ia setuju.
Setelah itu Brid berkata...
"Kau benar, saat itu kalian di pekerjakan oleh seseorang untuk menghancurkan markas kami kan?"
Saat Brid bertanya, Dengan Ekspresi rumit Selena menjawab.
"Yah, misi kami saat itu membunuh ketua kalian dan Juga Carla. Tapi, tidak kusangka kami malah masuk ke jebakan Licik ketua kalian, Cih."
Melihat ekspresi kesal Selena. Membuat Brid lansung tertawa sambil berkata..
"Hahaha, kau benar, saat itu kalian berdua tertangkap oleh ketua kami dan..."
Sesaat Brid berhenti ia melirik ke arah Selena, dimana terlihat sebuah Goresan belati tepat di pipinya.
"..Luka itu, kau dapatkan dari ketua kami kan?"
Mendengar hal itu, membuat mata Selena lansung melebar, namun sesaat kemudian ia terlihat sedih dan berkata...
"Yah, gara - gara Luka ini, tidak ada satupun pria yang mau menerimaku."
"Benarkah? Bukankah ada satu Pria yang mau menerimamu?"
"Huh, siapa?"
"Ketua kami."
Mendengar hal itu, membuat urat - urat di dahi Selena lansung terlihat Dan wajahnya sangat Kesal.
"OI, JANGAN SAMAKAN PRIA NORMAL DENGAN KETUA KALIAN. KETUA KALIAN TUH BUKAN PRIA NORMAL, BAHKAN NENEK SEKALIPUN IA PASTI AKAN MENERIMANNYA SELAMA IA WANITA. SIALAN."
Ucap Selena sambil melilit Leher Brid menggunakan tangan.
"~~Ughh, a-aku tau aku salah, jadi bisa lepaskan, ini sakit?"
Ucap Brid, namun tanpa pedulikan itu, Selena malah menambahkan kekuatan Lilitannya hingga membuat Brid susah bernafas.
"~~Aghh, Le~Lepaskan...aku tidak bisa bernafas."
"DASAR PLAYBOY SIALAN, KENAPA KAU MAIN MATI SAJA, AKU BELUM BALAS DENDAM."
Teriak Selena tanpa memperhatikan Brid.
"~~Ughh, a~aku,...apa sudah waktunya aku bertemu ketua."
Ketika Brid membisikkan itu dengan wajah Pucat. Di sisi lain, terlihat Gregori sedang melihat ke luar Jendala dimana awan putih terbentang di hadapannya..
Dan Saat ia melihat awan tersebut, ia mencoba ingat lagi pertarungannya dengan Dirman.
Dimana saat itu meraka saling beradu pukulan Satu sama lain, namun pada saat mereka berdua hampir tumbang, tiba - tiba Dirman Mengambil pasir di tanah dan Melempar ke mata Gregori, hingga membuat Gregori tidak bisa melihat dan lansung di pukuli habis - habisan oleh Dirman.
Hingga membuat Wajah Gregori menjadi bengkat dan lansung Tak sadarkan diri.
Ketika Gregori sudah sadar, ia melihat kalau ia sudah berada di Ruang bawah tanah, dimana kedua tangannya sedang di borgol sambil di gantung menggunakan Rantai.
Terlebih lagi, tepat di depan matanya ia melihat Dirman sedang duduk di kursi sambil melihat dirinya.
Namun, ketika Gregori melihat Dirman, ia terlihat sangat jengkel dan marah, sebab ia tidak terima kalah dengan cara yang seperti itu.
"Aku dengar ketua kelompok ini sangat kuat, tapi kau tidaklah kuat. kau hanyalah seorang pengecut."
Untuk pertama kaliannya, Gregori yang biasanya jarang bicara sekarang banyak Bicara.
Namun, Tanpa pedulikan itu Dirman menjawab...
"MAU PENGECUT ATAU APA, YANG JELAS, AKULAH PEMENANGNYA DAN KAULAH YANG KALAH."
Mendengar nadanya yang tajam dan tatapan seperti seorang mendominasi, membuat Gregori saat itu lansung sadar. Kalau ia bukanlah seorang pengecut ataupun orang kuat.
Melainkan ia hanya Seorang pria yang mencari Kemenangan dengan segala cara, Baik dalam Kekuatan, Rencana maupun kelicikan.
Setelah mengingat itu, tanpa sadar Bibir Gregori lansung tersenyum sambil berkata..
"Aku tidak sabar, melihat markas kalian lagi."
Mendengar suara Gregori, membuat Selena dan Brid lansung berhenti bertengkar. Sambil melihat ke arah Gregor, dimana wajah mereka terlihat terherang - herang.
Sebab, mereka berdua sangat tau bahwa Gregori tidak suka banyak Bicara, apa lagi jika di dekat orang, ia biasanya tidak mau bicara sama sekali.
Namun, ada satu kondisi dimana Gregori biasannya mau bicara di dekat orang. Yaitu, saat ia dalam kondisi Marah atau juga senang.
"Gregori, sepertinya kau terlihat senang hari ini?" tanya Brid
"Benarkah?"
Ucap Gregori sambil memiringkan kepalang kesamping. Setelah itu Selena menjawab.
"Yah, sudah lama aku tidak dengar suaramu."
ucapnya sambil terlihat senang, Melihat hal itu, membuat Gregori lansung tersenyum.
"Begitu."
baik Brid maupun Selena lansung kaget melihat senyumannya, sebab sangat jarang melihat Gregori tersenyum seperti itu.
Hingga membuat Brid maupun Selena lansung terlihat senang juga.
"Yosh kalau begitu, Saat kita sudah sampai aku akan mengajakmu keliling bagaimana?"
Saat Brid bertanya, Untuk sementara Gregori terus melihat ke arahnya. Namun beberapa detik kemudian ia hanya menjawab dengan anggukan..
"Umm."
..hingga membuat Ekspresi Brid dan Selena, yang tadinya terlihat senang lansung berubah jengkel..
""WOY BICARA.""
__ADS_1
Teriak Brid dan Selena secara serentak.