
>Beberapa menit sebelumnya.
Saat ini Selena terus berlari mengelilingi Amaliya sambil menghindari setiap serangan yang di lancarkan Amaliya.
Duri es tak henti - hentinya meluncur ke arah Selena sampai - sampai Selena tidak punya waktu untuk istirahat.
"Sial ini sangat menyebalkan."
Pergerakan Selena juga sangat terbatas di karenakan Rantai es yang masih melilit kakinya sehingga Selena hanya bisa bergerak di sekitar Amaliya saja.
Rantai ini juga menjadi alasan kenapa Selena tidak bisa teleportasi karena jika ia teleportasi maka Amaliya akan ikut juga bersamanya.
(Meski begitu, aku tidak bisa terus bergerak seperti ini. cepat atau lambat aku pasti akan lelah dan kalah.-
-Aku harus mencari kesempatan untuk menyerangnya.)
Selagi Selena terus menghindari duri - duri es itu ia juga berusaha mencari celah agar bisa menyerang.
Dan tak lama kemudian ia pun menemukannya.
Dimana duri es yang meluncur ke arahnya mulai sedikit di bandingkan sebelumnya. dari situlah Selena memberanikan dirinya untuk maju ke depan dan menghadapi Amaliya.
Dimana ia lari sik sat untuk menghindari duri es yang tersisa. lalu kemudian menyerang Amaliya.
Amaliya terlihat tenang - tenang saja. itu karena rantai yang melilit kaki Selena masih terhubung dengannya sehingga ketika Amaliya menarik rantai itu maka Selena pasti akan lansung terlempar.
Dan seperti yang Amaliya perkirakan. sesaat ia menarik rantai itu Selena lansung terlempar ke arah samping dan tersungkur ke tanah.
~Ughhh!
"Percuma saja kau menyerang. selama rantai ini melilit kakimu maka kau tidak akan bisa menyerangku."
Bukannya kesal atau marah Selena malah merespon perkataan Amaliya dengan senyuman seringai.
"Heh gadis kecil jangan terlalu senang, lihatlah di bawah kakimu."
Pada saat Amaliya melihat ke arah bawah ia sontak kaget sebab ada granat di dekat kakinya.
Sekejap Granat itu meledak dan asap tebal terkumpul di tempat itu.
Namun ketika asap itu mulai menghilang Amaliya terlihat baik - baik saja. ia berlindung di dalam kubu esnya yang ia buat.
"Sudah ku duga serangan seperti itu tidak akan mempan padamu. kalau begitu bagaimana dengan in-!!"
Selena seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari balik jaket nya namun tiba - tiba ia berhenti saat memperhatikan Pandangan Amaliya terahlikan ke arah lain.
"Woy jangan alihkan pandangan mu, kita ini sedang bertarung."
__ADS_1
Meskipun Selena sudah bilang begitu tetapi Amaliya tetap melihat ke arah lain.
Karena penasaran Selena pun mencoba mengikuti arah pandangannya dan melihat sebuah pedang emas yang sangat besar muncul dari atas langit.
Saking besarnya pedang itu sampai menutupi cahaya matahari.
"~Oi apa aku sedang bermimpi? pedang apa itu? Bagaimana mungkin ada pedang sebesar itu di dunia ini."
Gumam Selena yang takjub sekaligus ngeri melihatnya. Di sisi lain Amaliya terlihat tenang - tenang saja.
(Apa paman Valdo yang melakukan ini?)
Tanya Amaliya di dalam pikirannya, dimana Roh TUPXION nya, yaitu ELSIE lansung menjawab..
[Ya, itu adalah salah satu senjata terkuat milik LIEV. Tidak ku sangka ia akan menggunakannya di sini. Sepertinya ia ingin segera mengakhiri pertarungan ini.]
"Hmm kalau begitu, sepertinya kita juga harus mengakhiri ini."
Amaliya mengucapkan itu sambil melirik Selena dengan tajam.
Selagi Selena masih fokus dengan pedang besar itu. Amaliya membuat sebuah gerakan dimana ia mengalirkan auranya di rantai itu.
Lalu setelah beberapa detik kemudian Amaliya mengepalkan tangannya saat itu juga Selena tiba - tiba merasakan rasa sakit yang amat parah di bagian dalam tubuhnya hingga membuat ia langsung tersungkur ke tanah.
"~Ughhh A~Apa, apa yang sedang terjadi? Seluruh badanku tiba - tiba sakit sekali."
Amaliya berjalan mendekati Selena, lalu menatap Selena yang sedang menahan rasa sakit di bawah.
"Ka~Kau, apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Amaliya tidak menjawab pertanyaannya melainkan ia melirik rantai es yang masih melilit kaki Selena.
Selena juga melihat ke arah situ dan menyadari bahwa di rantai itu terdapat sebuah jarum es kecil yang menusuk kakinya.
Jarum itu sangat kecil hingga sulit untuk di lihat. Bahkan Selena tidak merasakan kalau kakinya ternyata sedang di tusuk.
(Jarum Es? Sejak kapan ini menusuk kakiku? Aku tidak merasakannya sama sekali.) Pikir Selena.
Bukan hanya itu saja, Selena juga samar - samar merasakan jarum itu seperti sedang memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya.
"Tunggu ini! Jangan bilang...."
"Sepertinya kau sudah menyadari nya."
Amaliya menyeringai dan mulai menjelaskan.
"Seperti yang kau pikirkan, selama kau fokus ke pedang itu aku secara diam - diam telah memasukkan auraku ke dalam tubuhmu lewat rantai dan jarum es itu.-
__ADS_1
-Tentu saja bukan hanya itu saja. selama pertarungan tanpa kamu sadari sebetulnya aku juga telah menyebarkan aura ku di udara sekitar yang dimana aura ku itu sepertinya sudah kau hisap masuk ke dalam tubuhmu."
"Apa! itu berarti..."
"Yah, aku bisa kapan saja mengubah aura ku itu menjadi es dan membekukan bagian dalam tubuhmu.-
-Tentu saja aku juga bisa mengubahnya menjadi jarum es yang akan menusuk - nusuk bagian organ dalam tubuhmu."
"~Ughhh jadi begitu dengan kata lain sejak awal aku sudah di pastikan kalah olehmu."
"Benar sekali."
jawab Amaliya dengan santai namun tegas. lalu kemudian Amaliya menambahkan lagi..
"Kamu mungkin berpikir bahwa kamu bisa mengalahkanku karena aku tidak memiliki pengalaman dalam bertarung.-
-Yaa aku akui, aku memang tidak memiliki pengalaman dalam bertarung tapi kamu lupa satu hal bahwa sekuat apapun Senjata S Gear yang kalian miliki kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan para pengguna TUPXION, sebab kekuatan TUPXION jauh lebih besar dari apa yang kau pikirkan."
Setelah mengatakan itu, Amaliya sekali lagi mengulurkan tangannya ke arah Selena dan berkata...
"Jujur saja aku ingin membunuhmu tapi sayangnya tuan Alexei melarang kami melakukan itu. karena itulah untuk sekarang kau tidurlah dulu."
Sambil mengucapkan itu Amaliya mengepalkan tangannya, yang dimana sesaat itu juga Selena merasakan rasa sakit yang amat parah di bagian dalam tubuhnya hingga ia muntah darah.
~Arghh!
Selana mencoba bangkit tapi ia tidak bisa menggerakkan badannya seolah - olah seluruh otok badannya telah di bekukan.
Bukan hanya itu saja bahkan saluran napas nya pun di sumbat oleh es sehingga ia tidak bisa bernapas.
(~Ughh Sial, aku tidak bisa bernafas.)
Sampai akhirnya pandangan Selena mulai agak kabur. dan tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan di atas tumpukan salju.
Melihat bahwa pertarungan mereka sudah berakhir Amaliya lansung menghela napas nya "~Haaa!" dan mengalihkan pandangannya ke arah pedang besar yang masih terlihat di atas langit.
"Sepertinya Paman Valdo sebentar lagi akan mengakhiri pertarungan nya.-
-Kalau begitu sebaiknya aku segera kembali ke tempat Tuan Alexei. lagi pula masih ada satu orang yang harus di kalahkan."
Sekejap wajah Carla terbayang di dalam pikiran amaliya.
Lalu setelah itu Amaliya mencoba melupakannya dan melihat ke belakang, dimana ia menciptakan satu duri es yang versi besar. panjang nya 5 meter sedangkan lebarnya sekitar 2 meter, di tambah lagi terdapat sebuah pijakan di bagian atasnya.
Amaliya mengikat tubuh Selena dengan rantai esnya dan membawanya naik ke atas pijakan itu. Amaliya menaruh Selena di belakang sedangkan ia berdiri di depan.
Setelah itu Amaliya menjentikkan jarinya. dan saat itu juga Duri es tersebut lansung meluncur ke depan dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1