BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KETEGANGAN ANTARA AYAH DAN RANGGA


__ADS_3

Setelah ayah mengambil Hp tersebut, ia lansung menyadari bahwa Hp ini bukanlah milik Rangga, melainkan Milik orang lain.


"Rangga, ini bukan Hpmu kan? Hp siapa ini?"


"Hp ini milik salah satu dari mereka yang aku hajar waktu itu."


"Yang kamu hajar? Maksudmu anak - anak itu?"


"Yah."


Jawab Rangga dengan Tenang, Kemudian ia menambahkan lagi...


"Waktu itu, saat aku menyerang anak itu(si rambut merah) ke tembok, tanpa sengaja Hp ia terjatuh.-


-Setelah aku selesai menghajar temannya yang lain, aku mencoba mengambil Hp itu dan melihat isinya, yang di dalamnya terdapat pesan dari...."


Ketika Rangga ingin memberitaukan sesuatu, tiba - tiba ia berhenti bicara dan memiliki tatapan yang sangat tajam, dimana tatapannya seperti ingin membunuh seseorang.


Menyadari itu, ayah lansung memanggil Rangga dan bertanya....


"Ada apa Rangga, kau kelihatan marah begitu?"


"Tidak,...bukan apa - apa. Hanya saja aku ingin ayah lihat saja isi pesan dari Chatting Grup di Hp itu."


"Memang apa isinya?"


"Ayah akan tau sendiri nanti."


Setelah Rangga mengucapkan itu tanpa menunggu lama Ayah lansung mengaktifkan Hp tersebut, kemudian ia masuk ke salah satu Apk Chatting Grup yang dimana apk tersebut memperlihatkan beberapa Pesan dari anak -anak berandalan yang mencoba menyerang atau menargetkan leon.


Terlebih lagi, meskipun ada beberapa pesan yang terlihat sudah di hapus, tetapi ia bisa memperkirahkan bahwa pesan tersebut kemungkinan alasan kenapa Leon bisa di targetkan seperti ini.


"Ra~Rangga, pesan - pesan ini...jangan bilang."


"Yah, seperti yang ayah pikiran, tanpa kita sadari mungkin saja Selama Ini Leon sudah sering di serang.-


-terlebih lagi, jiia kita mengikuti alur pembicaraan dari mulai Pesan yang di hapus sampai pesan yang di bawah, AKU YAKIN ORANG ITU YANG SERING ANAK - ANAK BERANDALAN SEBUTKAN ADALAH DIA."


Di saat Rangga mengucapkan itu dengan tajam, Sebuah gambar anak - anak yang pernah membuli Leon lansung muncul di dalam pikiran ayah.


Dimana Gambar tersebut membuat ekspresi Ayah tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.


Melihat itu, Rangga lansung mengalihkan pandangannya ke arah tangga, tempat dimana Leon tadi berjalan, kemudian ia berkata....


"Ayah, apa kau masih ingat, ketika aku mendapatkan kabar, bahwa Leon masuk ke rumah sakit karena ia di keroyok sama anak yang sering membulinya.-


-saat itu, jujur saja aku sangat marah, bahkan aku ingin cepat pulang dan mencari mereka untuk memberi mereka pelajaran-....TIDAK, LEBIH TEPATNYA AKU INGIN MEMBUNUH MEREKA."


Ucap Rangga dengan tenang namun tajam, dimana membuat ayah yang saat itu melamun lansung sadar dan menatap Rangga dengan Serius. Kemudian Rangga melanjutkan lagi..


"Namun, saat itu kau melarangku, dan bilang kau sudah buat perjanjian dengan orang tua mereka, yang dimana mereka tidak akan lagi menganggu atau membulinya Leon.-


-Awalnya aku tidak suka dengan tindakan yang ayah ambil itu. Namun setelah aku pulang dan memperhatikan kehidupan Leon selama ini, aku merasa senang karena ayah sudah mengambil tindakan yang benar, sayangnya...."


Sesaat Rangga berhenti ia mengalihkan pandangannya ke arah ayah, dimana tatapannya terlihat sangat - sangat marah dan berkata...


"SETELAH AKU LIHAT PESAN ITU, APA AYAH TAU APA YANG AKU PIKIRKAN SAAT INI? APA AYAH TAU APA YANG KU RASAKAN SAAT INI?"


Tanya Rangga, dimana ia benar - benar mengeluarkan niat membunuhnya, bahkan ayah yang merasakan itu terlihat meneteskan keringat dingin dan tidak bisa mengatakan apapun.


"........"

__ADS_1


Menyadari itu, perlahan Rangga mencoba menghela nafasnya "haaa.." untuk menghilangkan niat membunuhnya. Setelah itu ia mengambil Hp tersebut dari tangan ayah dan berkata...


"Apapun itu. Yang jelas aku sudah tidak bisa lagi memaafkan mereka."


"Apa kau ingin pergi membunuh mereka?"


Di saat ayah menanyakan itu, dengan santai Rangga menjawab...


"Memang apa lagi."


Sambil mengucapkan itu Rangga lansung berbalik dan mencoba meninggalkan tempat ini.


Namun ketika ia baru berjalan beberapa langkah, dari belakang tiba - tiba ayah memanggilnya.


"Rangga, tunggu dulu."


Sesaat Rangga di panggil. Ia lansung berhenti berjalan Dan melihat ke arah belakang dari balik Pundak.


"Ada apa?"


"ingatlah, kau itu sudah punya keluarga. jika kau membunuh mereka, kau tau sendiri apa yang akan terjadi?"


"Tentu saja aku tau itu, tapi ayah tenang saja, lagi pula meskipun aku membunuh mereka aku tidak akan mendapatkan masalah(Hukuman) apapun."


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, apa kau ingin bilang akan menggunakan Cara licik yang sering kau gunakan untuk membungkan mulut orang?"


Tanya ayah dimana ia menatap Rangga dengan tajam, namun tanpa takut sedikitpun Rangga menjawab....


"Jika aku memang menggunakan Cara itu memang kenapa?"


Di saat Rangga bertanya balik, ayah lansung mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal..


"Benar atau tidaknya aku tidak peduli, yang jelas satu - satunya yang ku pikirkan saat ini adalah MEMBUNUH MEREKA."


Ucap Rangga sambil melotot ke ayah. Dimana membuat ayah sentak sedikit kaget. Namun tanpa pedulikan itu Rangga menyipitkan matanya dan melanjutkan lagi....


"Selain itu apa ayah lupa, sejak awal aku ini di besarkan dan di latih bukan dari seorang tentara seperti ayah, melainkan aku di besarkan dan di latih oleh Seorang PENJAHAT YANG PALING DI TAKUTI DI DUNIA."


Ucap Rangga sambil tersenyum seringai, dimana Membuat ayah yang lihat itu lansung menyipitkan matanya dengan Tajam dan meremas tangannya dengan erat.


"......"


Di saat ayah tidak bisa mengatakan apapun lagi, perlahan Rangga kembali melihat ke arah depan, kemudian ia berkata....


"Yaa, karena sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, kalau gitu aku permisi dulu."


Sambil meninggalkan Kata - kata itu Rangga pun lansung berjalan dan keluar dari Rumah, dimana hanya menyisahkan ayah seorang.


"Rangga."


Bisik ayah sambil Menatap Pintu masuk dengan ekspresi Khawatir.


___________________________________


_______________________________


Di waktu bersamaan, ketika Kak Rangga sudah keluar dari Rumah, tepat di dalam kamarku, terlihat aku(Leon) lagi bersantai di kasur, sambil bermain Game di Hp baruku.


"Bagus, Bagus..bunuh yang di atas jangan biarkan ia lolos."


Ketika aku sedang asik main Game, tiba - tiba PIX memanggilku.

__ADS_1


[Master, bukankah ini sudah waktunya anda bergerak, sepertinya Kakakmu sudah pergi.]


"Yah, aku tau, aku selesaiin dulu ni Game."


[Master,..anda benar - benar sudah terligat seperti anak kecil?]


"Diamlah."


Ucapku dengan jengkel.


Setelah beberapa saat aku bermain. Tak lama kemudian, akhirnya aku sudah selesai, dimana aku terlihat sangat kesal karena di kalahkan oleh lawanku.


"Sialan anak itu. Aku suruh ia maju malah ia mundur, saat aku minta bantuan, Eh malah ia pergi ke tempat Lain, sialan aku benar - benar ingin membunuhnya."


[Master tolong tenanglah ini hanyalah permainan, tidak usah semarah itu.]


"Siapa yang marah, aku hanya kesal saja."


[Itu sama saja Master.]


Di saat PIX mengucapkan itu, untuk sesaat aku tidak mengatakan apapun. Namun setelah beberapa detik kemudian aku mendesah dan berkata..


"Haaa... Kau benar juga....yaa sudah Kalau gitu saatnya aku bersiap - siap."


Ucapku sambil turung dari kasur dan menyimpan Hpku di atas laci. Kemudian aku berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaian, dimana aku memakai pakaian Hitam di tutupi oleh jaket Merah.


Setelah aku ganti pakaian, aku kembali mengambil Hpku, dimana aku juga mengambil dua Hp dari anak - anak itu yang ku simpan di dalam laci.


Seusai itu, aku mengaktifkan salah satu Hp anak itu, dan mengirimkan sebuah pesan ke seseorang, dimana Pesan tersebut berisikan sebuah kata - kata dan Foto yang sudah pernah ku screenshot, untuk mengancam Bulan.


"Yosh, seharusnya ini bisa membantu dia."


Ucapku, kemudian aku keluar dan melihat salah satu pesan lagi yang ku kirim tadi pagi, sebelum berangkat ke Mall.


Dimana pesan tersebut, Memperlihatkan sebuah foto antara aku dan Bulan, waktu aku menemuinya saat ia kerja di malam hari.


"......"


Setelah beberapa detik aku tatap Foto itu, tak lama kemudian aku tersenyum dan memasukkan kedua Hp anak - anak itu ke dalam kantong Jaketku.


Sedangkan Hp baruku, aku masukkan ke kantong celanaku.


"Akhirnya selesai juga."


Setelah semua persiapan sudah selesai, aku pun menutup kepalaku menggunakan dondo Jaket, kemudian aku membuka jendela kamarku dan Berjongkok di atas sana.


Dimana Angin segar menerbangkan rambutku dan Awan gelap menutupi cahaya Bulan di atas sana.


[Sepertinya malam ini akan hujan lebat, Master.]


Ucap PIX, kemudian aku membalas.


"Kau benar, sebelum itu terjadi, sebaiknya aku harus cepat menyelesaikan urusanku."


[Umm.]


Jawab PIX dengan anggukkan, setelah itu aku berahli ke arah bawah, dimana saat ini aku berada di lantai dua dan bersiap untuk Loncat.


"Yosh, kalau gitu saatnya kita bergerak."


Sambil mengucapkan itu, tanpa ragu sedikitpun akupun lansung Loncat dan pergi meninggalkan Rumahku.

__ADS_1


__ADS_2