BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
INGATAN Bagian 2


__ADS_3

Di saat Dirman, Rangga dan Leon kecil sedang mencoba keluar dari Hotal, aku terus mengikuti mereka dari belakang.


Mulai saat Dirman menghendap - hendap untuk membunuh Musuh, sampai ia meledakkan Beberapa Lorong, agar Menutup jalur yang di lalu musuh.


Sehingga hanya beberapa menit saja ia sudah sampai di Ruangan paling bawah.


"Bagus, bertahanlah Bocah, kita sebentar lagi akan keluar."


"Baik paman."


jawabnya dengan tegas.


Setelah beberapa saat mereka berlari di Lorong. Tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di sebuah Pintu yang bertuliskan tanda EXIT di atasnya.


Dan saat Dirman membuka Pintu itu. Ia berada di Ruang Parkiran bawah tanah. Di mana terdapat banyak sekali Kendaraan yang sedang terparkir.


Namun, tanpa pedulikan itu, ia terus berlari dan menuju ke salah Satu Mobil yang sedang terparkir.


Sesampainya ia di sana, ia lansung membuka Pintu mobilnya dan menyuruh Rangga Kecil untuk masuk.


"Baiklah, naiklah cepat."


"Umm." angguk Rangga.


Setelah Rangga naik, Dirman lansung masuk kedalam mobil dan memberikan Leon Kecil Ke Rangga.


Setelah Rangga memangku adeknya, yang tidak sadarkan diri. Dirman mulai menyalahkan mobilnya dan lansung tancap gas untuk meninggalkan Hotel ini.


Di sisi lain, ketika mobil mereka sudah keluar dari tempat parkiran. di tengah tempat parkiran, di sana aku terlihat sedang berdiri diam sambil menatap mobil mereka pergi.


Setelah beberapa detik aku mereka pergi, tak lama kemudian, tiba - tiba tempat ini lansung berubah lagi.


Dimana yang tadinya aku berdiri di tempat parkiran, sekarang aku berdiri di sebuah Lorong Rumah sakit.


"I-ini, aku di pindahkan lagi?"


saat aku bertanya - tanya dan melihat area sekitar. Aku ingat kalau tempat ini aku pernah melihatnya juga di gambaran tersebut.


Meskipun saat itu aku tidak mengerti kenapa ada gambaran Sebuah Rumah sakit. Namun sekarang aku mengerti kalau Gambaran tersebut adalah saat dimana Leon kecil di rawat di Tempat ini, itu berarti....


Ketika aku melihat sekeliling, aku menemukan Rangga Kecil sedang duduk di dekat Ruang ICU.


Saat aku ingin pergi ke sana, tiba - tiba aku berhenti berjalan. Sebab tepat di samping Rangga, aku melihat seorang Pria yang aku kenal, sedang duduk di sampingnya, sambil mengelus Kepala Rangga yang sedang menangis.


"Ayah."


Benar, ia adalah Bagas, ayahku di kehidupanku saat ini.


Meskipun awalnya aku tidak ingin memanggilnya ayah. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa memanggilnya seperti itu.


"Tapi, kenapa ia ada di sana? Bukankah Rangga pergi dengan diriku yang lain?"


Ketika aku mencari - cari Dirman, aku tidak menemukan ia di manapun. hingga sengatan Listrik mengalir di kepalaku, akhirnya aku tau dimana ia berada.


"Begitu, disitu kau ternyata."


Sambil mengucapkan itu, untuk sementara aku melihat Ke arah mereka berdua. Namun setelah beberapa detik kemudian aku mulai berbalik dan mencoba meninggalkan tempat ini.


Namun. Sesaat aku baru saja mau berjalan tiba - tiba aku kaget dan berhenti.


Sebab, tepat di depan mataku aku melihat 2 gadis kecil sedang berlari ke Ruang ICU.


Salah satu Gadis tersebut tidak lain adalah Sih Loli atau ibuku. Sedangkan yang satunya lagi, ia adalah...


"Kak Siska." bisikku


Benar ia adalah Kak Siska. Meskipun gaya rambutnya agak berbeda di bandingkan dulu. namun, aku tau betul keindahan wajahnya itu.


Ketika aku memikirkan itu, mereka berdua lansung melewatiku dengan menembus tubuhku.

__ADS_1


Hingga akhirnya sampai ke tempat, dimana Ayah dan Kak Rangga berada.


Saat aku melihat ke belakang dari balik pundak. Aku melihat ayah mencoba menenangkan Ibu dan Kak Siska yang sedang menangis.


Setelah beberapa saat aku melihat mereka, perlahan aku melihat ke arah depan lagi, sambil mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


____________________________________________________________________


Setelah beberapa saat aku berjalan, tak lama kemudian aku melihat ada sebuah pembelokan di depan Lorong.


Saat aku sampai di sana. Aku lansung berhenti dan melihat ke arah pembelokan itu.


Dimana, disitu terlihat Dirman sedang bersandar di tembok sambil menutup kedua matanya.


Meskipun ia terlihat seperti hanya berdiam diri saja di situ. Tapi aku tau betul apa yang ia lakukan saat ini,....yaitu...


"Hah, Dokter bagaimana keadaan anak saja?"


Saat aku menatap Dirman, tiba - tiba aku mendengar suara Ayah, dari jarak yang sangat jauh.


Meskipun tempat Ruang ICU dan tempat saat ini aku berdiri sangatlah jauh. Namun, karena Pendengaranku yang sangat tajam, sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka.


tanpa kecuali diriku yang lain juga.


"Mohon maaf, apa anda keluargannya?"


Saat si Dokter bertanya, ibu yang masih terlihat sedih lansung jawab.


"Be~Benar Dok. Bagaimana keadaan anak kami?"


"Saat ini kami sudah mengatasi semua luka - lukanya. Hanya saja, karena ia terlalu banyak kehilangan darah, sehingga kami belum bisa pastikan, kalau anak anda dalam Kondisi yang baik."


Mendengar hal itu, ibu lansung menangis di pelukan ayah.


Saat ayah mencoba menenangkan Ibu kembali, ia melihat ke arah Dokter dan bertanya.


"Dok, apa anak kami membutuhkan Donor darah?"


"Begitu,...boleh aku tau, Golongan Darah anak kami apa Dok?"


"Golongan darah anak anda...XX."


Saat aku mendengar Golongan Darah Leon kecil, mataku terlihat melebar sedikit.


Sebab, meskipun tidak terlalu jelas aku masih ingat, ketika Leon kecil sedang membutuhkan Darah, Di antara Ibu, ayah, Kak Siska dan juga Kak Rangga. tidak ada satupun dari mereka yang berhasil mendonorkan Darah mereka ke Leon. meskipun di antara mereka ada yang mempunyai Golongan Darah yang sama dengan Leon.


Alasannya itu karena, sebelum mereka mendonorkan darah Mereka, aku yang saat itu mempunyai Golongan darah Yang sama dengan Leon lansung mendonorkan darahku. Sehingga saat itu mereka semua menjadi bertanya - tanya, siapa yang melakukan ini.


namun, meski begitu di antara mereka semua, ada satu orang yang menyadari kalau itu adalah perbuatanku yaitu,....RANGGA.


Ketika aku memikirkan itu, aku perhatikan kalau Dirman sepertinya ingin pergi ke tempat Ruangan Pendonor darah.


melihat hal itu, aku mencoba mengikutinya. namun saat aku baru saja mau berjalan, tiba - tiba aku mendengar suara gema di Tempat ini.


[MASTER, APA ANDA DENGAR,.MASTER.]


Sesaat mendengar suara itu, aku pikir itu adalah PIX. Namun ketika aku mendengar suara itu lagi, aku jadi tau kalau itu bukanlah PIX.


Sebab ketika mendengar nada suarannya, itu tidak sama dengan suara Robot yang sering dikeluarkan PIX. melainkan nada suara ini sangat indah, seolah - olah ia bisa menenangkan pikiranku.


"kau,...BOLEH AKU TAU KAMU SIAPA??"


[suara ini,...MASTER!]


setelah ia mengatakan itu, tiba - tiba ruangan ini berubah lagi menjadi Hitam gelap gulita.


Meskipun aku tidak pernah melihat Gambaran ini. Namun yang jelas saat ini aku sedang melayan di tengah kegelapan, tanpa ujung.


"Cih, aku tidak bisa lihat apapun!...selain itu, ini dimana?"

__ADS_1


Saat aku terus bertanya - tanya tempat apa ini. Tiba - tiba dari atas muncul sebuah cahaya yang sangat terang.


Cahaya itu lansung menerangiku di dalam kegelapan.


Meskipun aku belum tau apa yang terjadi sekarang. Namun aku bisa lihat jelas, kalau di tengah cahaya itu, terlihat ada seorang Wanita yang sangat Cantik.


Ia Seperti layaknya seorang dewi yang turung dari atas langit.


Meski aku sudah banyak melihat Wanita di berbagai tempat. Namun aku bisa katakan kalau ia adalah Wanita yang paling Cantik yang pernah aku lihat.


Ketika aku memikirkan itu, Wanita itu terlihat seperti sedang melebarkan tangannya sambil mencoba mendekatiku.


[Master, akhirnya aku menemukanmu.]


Ketika Wanita itu memelukku ia lansung mendekatkan Bibirnya di dekat telingaku. Sambil mulai membisikkan sesuatu.


[Baiklah, Kalau begitu Waktunya kita kembali, Master.]


Setelah ia membisikkan itu, sesaat itu juga aku lansung membuka mataku dan lansung bangun dari tempat tidur.


"~A-Apa - apaan itu barusan."


[Master, anda sudah sadar.]


Saat aku mendengar suara PIX. Perlahan aku melihat ke arah kaos Tanganku. dimana PIX berada.


Setelah aku melihatnya, untuk sementara aku terus menatapnya sambil mengingat Wanita di dalam mimpiku,...namun..


(Seperti yang aku duga, ia benar - benar bukan wanita Itu.)


[Wanita? Siapa yang anda maksud Master?]


"Tidak, bukan apa - apa."


jawabku lansung.


Setelah itu, aku mulai memperhatikan sekeliling dan mengetaui kalau aku saat ini sedang berada di kamarku.


"PIX, sudah berapa lama aku pingsan?"


Saat aku bertanya, dengan Cepat PIX menjawabnya.


[Mungkin sekitar 1 jam lebih.]


"Begitu ya,...omong - omong, dimana semua orang? Apa mereka semua sudah Tidur?"


[Tidak, aku rasa mereka sedang berada di bawah, aku dengar mereka sedang ingin membicarakan sesuatu.]


"Bicara? Jangan bilang..."


[Benar, mereka sedang ingin Membicarakan tentang kondisi anda Master.]


Mendengar hal itu, aku lansung meratap kebawah sambil mengingat kejadiaan di Ruang makan tadi.


Sebab, meskipun aku sudah memutuskan untuk bergerak dengan hati - hati, tapi karena Gara - gara perasaan yang kurasakan Saat itu, sehingga aku menjadi emosional dan tidak pedulikan apa yang akan terjadi nanti.


Walaupun aku sudah tau, kalau saat itu aku tidak boleh menggali lebih dalam lagi. Namun karena Rasa penasaranku, hingga akhirnya menjadi seperti ini.


Ketika aku memikirkan itu, di sisi lain, PIX terus menatap mataku. namun setelah beberapa detik kemudian ia mulai bertanya.


[Master, Apa anda sudah Melihatnya?]


Meskipun PIX mengatakan itu dengan tidak pasti. Namun aku lansung tau, apa yang ia maksud,....yaitu..


"Yah, aku sudah Melihat semua ingatanku." jawabku


Meskipun saat aku berada di dalam mimpi, aku hanya melihat sebagian saja.


Namun saat aku sadar kembali, semua ingatan yang masih ku lupakan saat itu, lansung ku ingat lagi.

__ADS_1


Seolah olah, itu Seperti layaknya sebuah data yang baru saja kuncinya di buka.


Tanpa kecuali salah satu ingatan, kalau Kak Rangga ternyata dulu adalah MURIDKU.


__ADS_2