BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PERTEMUANKU DENGAN KAK RANGGA


__ADS_3

Setelah beberapa saat Siska melihat Rangga. tak lama kemudian ia lansung duduk di Sofa. sambil menatap mereka bertiga, yaitu Rangga, Airani dan juga anaknya Fira.


ketika Siska menatap mereka bertiga. tiba - tiba Rangga mencoba menanyakan sesuatu.


"Siska, jadi kamu sudah SMA ya?"


"eh, u-umm."


jawab Siska sambil menganggukkan kepalanya. setelah itu Rangga bicara lagi.


"Begitu, jika di ingat - ingat, saat kita meninggalkan Rumah ini, saat itu Siska masih SMP kan?"


ucap Rangga sambil melihat ke arah Airani. setelah itu Airani menjawabnya.


"yah, kau benar. saat itu, Siska masih Kecil, tapi sekarang. Fufufufu, sepertinya ia Sudah jadi Gadis yang sangat cantik."


jawab Airani sambil tersenyum indah melihat Siska.


ketika Siska mendengar dirinya Di puji. ia lansung menundukkan kepalanya sambil tersipu malu.


"i- itu tidak benar kok, aku pikir Kak Rani Lebih Cantik."


"eehh, benarkah Fufufufu."


ucap Airani sambil tersenyum saat melihat Wajah Siska Tersipu malu.


namun, di lain sisi, Ketika Rangga memperhatikan anaknya. Fira sedang menatap terus Siska. ia terlihat senang dan mulai mengelus kepala Fira.


"oi iya, Fira kamu belum tau kan Adikku ini?"


"umm, agit?"


ucap Fira sambil memirinkan kepalanya ke samping.


"Benar adik. ini adalah adikku sekaligus Tante-!!"


sebelum Rangga mengatakan mu, tanpa sadar Siska lansung Menghantamkan sebuah pukulan Tepat di wajah Rangga.


"JANGAN BILANGI AKU TANTE, AKU INI MASIH MUDA BODOOOH!"


BUK!!


"~~Aghhh!"


saat Siska memukul Rangga, semua orang di Ruang ini lansung terkejut. bahkan Istrinya Airani, sampai tercengan melihat hal itu.


"Ara, Ara, Sayang apa kamu tidak apa - apa?"


"~aghh, yaa, aku tidak apa - apa."


ucap Rangga sambil mengosok hidungnya yang merah.


di sisi lain, ketika Siska sadar kalau ia sudah memukul kakaknya, ia lansung mencoba meminta maaf.


"Ka~Kak Rangga. maafkan aku"


"Kau tidak perlu minta maaf. lagi pula aku yang salah tiba - tiba memanggilmu Tan-!!"


sebelum Rangga mengucapkan Tante. ia lansung berhenti sebab ia melihat Siska sedang melotot ke arahnya.


"maafkan aku, aku akan diam."


ucapnya. setelah itu perlahan Rangga menghela nafasnya sambil melihat ke arah Ibunya.


"haaa, omong - omong bu."


"apa?"


"bukankah seharusnya Leon sudah pulang dari tadi? kenapa ia belum juga pulang?"


"hmm kau benar, seharusnya ia sudah dari tadi pulang, tapi kenapa.."


saat ibu bertanya - tanya. perlahan ia melihat ke arah Siska.


"Siska, apa kau tau sesuatu?"


Siska yang mendapatkan pertanyaan itu. dengan santai lansung menjawabnya.


"Bukankah Leon pergi ke Warnet."


"Warnet?"


"yah, ia sering pergi ke sana sama adeknya Putri."


"Adiknya Putri? maksudmu Rusli?"


saat Rangga bertanya. Siska lansung menganggukkan kepalanya.


"umm."


"tapi, apa yang Leon bikin di sana?"


saat Ibu bertanya lagi. Siska lansung menjawabnya


"bukankah sudah jelas. ia pergi main Game."


"Main Game? bukannya itu tidak baik. bagaimana kalau Leon mulai kecanduan game."


"kalau itu jangan tanya aku. tanya saja Orang ini."


ucap Siska sambil menunjuk ke arah Rangga. setelah itu, semua Orang di ruangan ini lansung melihat ke arahnya.


"Rangga, apa kamu yang menyuruh Leon bermain Game?"


"HAH, TENTU SAJA TIDAK. AKU BARU SAJA PULANG."


ketika Rangga mencoba menyangkal, Siska lansung bicara.


"Kak Rangga. coba kau ingat lagi apa yang kau katakan pada Leon, Rusli sama Gadis itu, sebelum tinggal di luar kota."


"Gadis itu? siapa yang kamu maksud?"


"maksudku Lia."


"ohh, maksudmu gadis cengen itu yah,....kalau tidak salah saat itu."


ketika Rangga mulai mengingat kejadian 2 tahun yang lalu, dimana sebelum ia tinggal di luar kota. ia menemui 3 muridnya dan mengatakan..

__ADS_1


"kalian bertiga, ingat ini baik - baik, jangan pernah berhenti melatih Skils yang aku ajarkan pada kalian. jika kalian melatih Skil itu, aku yakin kalian pasti bisa masuk Dunia ESport. atau bahkan bisa menjuarahinya mengerti?"


"BA~Baik Guru, aku mengerti"


ucap Rusli sambil menahan Air matanya. setelah itu, Rangga mangalihkan pandangannya ke arah Gadis Kecil di samping Rusli.


dimana ia saat ini sedang menangis sambil menghisap ingusnya yang terus keluar.


"Lia berhentilah menangis. nanti aku akan kembali kok."


"~~hikss!...hikss!!..ta~tapi, Guru akan lama kembali kan?"


"benar, aku akan lama kembali.'


"~~Uwaaaaaaa!!"


Tiba - tiba Lia menangis dengan sangat keras hingga Rangga lansung menutup kedua telinganya.


setelah itu, terakhir ia mengalihkan pandangannya ke arah Murid ketiganya. yaitu adeknya. Leon.


dimana ia saat ini sedang ngambek dan tidak mau melihat Rangga.


"Leon, apa kamu marah sama kakak?"


"tidak, jika Kak Rangga mau pergi. pergi saja sana. kalau perlu jangan pernah kembali lagi."


mendengar jawaban adeknya. membuat Rangga lansung tersenyum, meskipun ia kelihatan sedih.


setelah Rangga mengingat hal itu semua. ia lansung menutup wajahnya menggunakan Tangan. sambil terlihat malu.


"Tolong Lupakan saja soal itu, aku rasa ingin mati."


melihat tingkah Rangga yang seperti itu, membuat mereka semua lansung tercengan.


sebab mereka semua belum pernah sakalipun melihat Rangga bertindak seperti itu.


"meski begitu. Rangga, bukannya kamu mengajar adikmu dan dua temannya belajar. malah kau mengajari mereka main Game. apa otakmu baik - baik saja." ucap ibu


"sudah kubilang lupakan saja Soal itu."


jawab lansung Rangga sambil terlihat malu. namun Tanpa pedulikan hal itu. Ayah ikutan juga.


"kau benar. bahkan Ia menyuruh mereka bertiga berlatih. supaya bisa masuk atau menjuarai dunia E-Sport. Rangga kamu Pikir dunia E-Sport itu seperti apa. apa Kau masih waras."


"SUDAH KU BILANG LUPAKAN SAJA SOAL ITU."


Rangga lansung teriak sambil menutup seluruh wajahnya yang merah.


melihat hal itu, mereka semua terlihat senang dan tertawa saat mempermainkan Rangga.


namun, ketika mereka semua lagi asik tertawa. tiba - tiba dari Pintu terdengar suara Leon yang sudah pulang.


"aku pulang."


mendengar hal itu. mereka semua lansung terdiam. dan mencoba mendengarkan lagi suara Leon.


"hmm, apa tidak ada Orang,..OI, KAK RANGGA APA KAU SUDAH PULANG!?"


mendengar teriakan Leon. dengan cepat Rangga lansung bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah Pintu.


"umm!"


sesaat Leon melihat ke arah teriakan itu. ia melihat seorang pria muda sedang berlari ke arahnya dan lansung di Peluk dengan erat.


"ughh~~~"


"OH LEON. AKU PIKIR KAU MARAH SAMA KAKAK KARENA MENINGGALKAN RUMAH. TIDAK KU SANGKAH KAU SANGAT MERINDUKANKU."


ucap Pria itu, sambil menguatkan lagi pelukannya. sehingga membuat Perutku tambah sakit.


"~~Ughh, o~oi lepaskan ini sa~sakit sekali!"


"LEON. UNTUNGLAH KAMU TIDAK MARAH SAMA KAKAK."


"~Ughhh!!,...sudah ku bilang, LEPASKAN AKU SIALAN!!"


saat aku marah sama Pria di depanku dengan kuat aku melayankan sebuah pukulan tepat di wajahnya. sehingga ia terjatuh dan tergeletak di lantai.


"haaa!!,....haa!!,....haaa!!,...ap-apa - apaan Pria ini."


saat aku bertanya - tanya sambil menatap tajam Pria di depanku. tiba - tiba aku mendengar beberapa suara langkah kaki sedang mengarah ke sini.


ketika aku melihat ke arah sana. aku bisa melihat Kak Siska, dan kedua orang tuaku. di tambah seorang wanita yang megendong anak, sedang menuju ke arah kami.


sesampainya mereka disini. mereka semua lansung terkejut saat melihat pria Yang barusan aku pukul sedang tergeletak di lantai.


"i-ini, apa yang terjadi?"


saat Kak Siska bertanya. dengan kesal aku lansung menjawabnya.


"jangan tanya aku tanya saja pria ini. ia tiba - tiba saja memelukku."


"memelukmu?"


"yah, jika aku tidak memukulnya tadi,bisa - bisa aku bakalan mati."


setelah aku mengatakan itu, mereka semua lansung mengerti apa yang terjadi di sini.


setelah itu, perlahan Wanita yang gendong anak itu berjongkok. sambil mencoba membangunkan Pria itu.


"sayang, apa kau sudah mati?"


"tidak, aku masih hidup."


"begitu, aku pikir kamu sudah mati."


"ugh, seperti biasa, kata - katamu sangat kejam Rani."


"fufufu, terima kasih atas pujianmu sayang aku sangat senang."


ketika aku melihat Obrolan mereka berdua, perlahan aku mengalihkan pandanganku ke arah kedua orang tuaku dan juga Kak Siska.


"omong - omong, siapa Pria ini?"


saat aku bertanya mereka bertiga sesaat terkejut. namun. tak lama kemudian Siska mulai menjawabnya.


"dia,....dia adalah Kak Rangga, Leon."

__ADS_1


"eh, Kak Rangga."


ucapku sambil melihat ke arah pria itu, dimana sedang melambaikan tangannya ke arahku.


"halo, aku kakakmu Leon."


"....."


saat aku tidak mengatakan apapun. perlahan Rangga mulai berdiri sambil membersihkan Kotoran di celananya.


setelah itu ia berjalan ke arahku sambil menatap mataku.


"kau tidak usah khawatir. Aku sudah tau kok Soal ingatanmu yang hilang separuh. jadi aku akan memperkenalkan diriku lagi."


ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arahku.


"perkenalkan namaku Rangga. aku adalah kakak pertamamu Leon."


"yaa, aku sudah tau itu. yang lebih penting bisa kau kenalkan aku dengan wanita itu?"


ucapku sambil melihat ke arah Wanita yang megendong anak.


di sisi lain. PIX yang melihat itu lansung menatapku dengan tatapan jijik.


[Master, saat situasi seperti ini pun. kau masih saja memikirkan wanita.]


(tentu sajalah, lagi pula di pikiranku itu. No 1 adalah wanita.)


[begitu yah,...dasar Playboy brengseet.]


saat PIX mengatakan itu, Rangga mulai memperkenalkan wanita itu.



"baiklah, pertama ia adalah Istriku bernama Airani. sedangkan ini, ia anakku bernama Fira."


ucap Rangga sambil mengelus kepala Anaknya.


setelah Rangga memperkenalkan mereka berdua. untuk sementara aku menatap wanita itu. sambil memikirkan sesuatu.


(hmm, jadi ini ya istrinya. boleh juga nih anak milih cewet.)


[Master benar. apa lagi lihat tuh ***********. bukankah itu sangat besar.]


(yaaa, kau benar.)


ucapku dengan ekapresi tenang.


setelah itu, Ibu lansung menepuk kedua tangannya untuk mengumpulkan pandangan semua orang.


"Baiklah. karena semuanya sudah berkumpul bagaimana kalau kita bicara di Ruang tamu saja. tidak baik bicara di depan pintu."


saat ibu mengatakan itu. dengan santai Rangga menjawabnya.


"ibu benar juga."


setelah itu mereka semua mulai berjalan ke ruang tamu.


namun, ketika melihat mereka berjalan, tiba - tiba PIX bicara di dalam pikiranku.


[Master, apa benar anak itu yang mereka bilang Kuat?]


(mungkin.)


[tapi, aku tidak melihatnya seperti itu?]


(apa kau pikir begitu?)


PIX yang merasa bingun dengan yang aku katakan mencoba bertanya.


[apa maksudmu?]


(memang benar dari tingkahnya tadi, ia tidak menujukkan seperti seorang tentara yang tangguh. namun, kau masih ingatkan saat aku memukulnya?)


[itu, tentu saja aku masih ingat.]


(nah, saat itu, sebelum aku tau kalau ia adalah kakak ku. aku ingin meretakkan hidungnya. namun, ketika aku mencoba memukul hidungnya. dengan cepat ia mengubah arah pukulanku ke dahinya)


[dahi, tapi dari yang aku lihat tadi. sepertinya ia tidak mendapatkan bekas luka apapun di situ. melainkan aku melihat di pipinya saja yang merah.]


(itu tentu saja. lagi pula pas aku tau, ia sedang mengarahkan pukulanku ke dahinya. aku mencoba mengubah lagi arah pukulanku ke matanya, namun, lagi - lagi ia mengubahnya. sehingga aku mengenai pipinya saja.)


[hmm, apa mungkin itu karena Pukulan Master di ganggu.]


saat PIX mengatakan itu, aku lansung terkejut dan melihat ke arahnya.


(kau, bagaimana kau tau itu.)


[yaa, saat anda memukul orang itu, sebetulnya aku melihat Tanganya yang sedang memeluk master agak bergerak sedikit. meskipun penglihatanku tidak setajam dengan milik master, namun aku bisa melihat kalau saat itu ia sedang mendorong Pundak master ke depan.]


(begitu yah.)


jawabku dengan santai. setelah itu aku lanjutkan lagi.


(kau memang benar. tapi sayangnya ia sebetulnya tidak hanya mendorong pundakku saja saat itu.)


[maksud Master?]


(seperti yang aku katakan, saat itu ia tidak hanya mendorong pundakku saja melainkan ia juga memirinkan kepalanya ke arah samping.)


[hmmm, dengan kata lain, anak itu menggunakan Dua gerakan untuk mengubah pukulan master?]


saat PIX bertanya. aku lansung menjawabnya.


(benar. gerakan pertama ia memiringkan kepalanya ke arah samping agar mengubah arah pukulanku ke pipinya. sedangkan gerakan kedua. ia mendorong pundakku ke depan agar aku cepat mengenai pipinya dan tidak punya waktu untuk mengubah arah pukulanku lagi.)


[eeh,..ja-jadi begitu.]


ucap PIX sambil meneteskan keringat dingin.


setelah melihat ekspresi PIX. perlahan aku melihat ke arah depan, sambil menatap tajam di mana Rangga tadi berjalan.


(Sekarang kamu sudah mengertikan. meskipun tadi ia bertindak bodoh, tapi hanya bertukar beberapa pukulan saja. aku jadi yakin kalau ia adalah orang yang harus ku waspadai. jika tidak....)


sesaat aku berhenti. tatapanku seperti memancarkan cahaya di balik bayangan. setelah itu aku lanjutkan lagi dengan nada Tajam.


"JIKA AKU TIDAK WASPADA...BISA - BISA IDENTITASKU AKAN TERBONGKAR."

__ADS_1


__ADS_2