
"Jendral Alexei apa mungkin anda belum beritau mereka soal orang itu(Dirman)?"
Tanya Vincent. Awalnya Alexei terkejut, Namun sesaat kemudian ia kembali tenang dan dengan singkat menjawab.
"Belum."
Vincent tak berhenti, ia mencoba mengajukan pertanyaan lagi.
"Kenapa, bukankah Anda tau sendiri jika kita tidak memberitahu mereka maka mereka akan terus mencoba membunuh kami berdua?"
"Tentu saja aku tau itu. Tapi maaf aku rasa ini belum saatnya memberitahu mereka. Karena jika kita beritahu mereka maka ada kemungkinan mereka tidak akan mau lagi membantu kita untuk mengembalikkan Lubang Abnormal yang terjadi di dunia ini.-
-Aku yakin kamu seharusnya menyadari hal ini kan?"
Tentu saja Vincent sadar. Ia sudah dengar bahwa wanita ini(Carla) adalah orang yang tidak peduli sama sekali dengan situasi dunia saat ini, yang ia pedulikan cuma satu hal yaitu Dirman. Ketua KSP sebelumnya.
Jadi jika mereka sampai memberitahu Carla soal orang itu(Dirman) masih hidup maka kemungkinan besar Carla tidak akan mau lagi membantu mereka untuk mengembalikan lubang Abnormal melainkan ia akan gunakan seluruh waktunya untuk mencari keberadaan Dirman yang dimana hal itu pastinya membuat mereka semua sangat kerepotan. Karena itulah Alexei tidak mau memberitahunya.
Setidaknya Vincent tau bahwa Alexei ingin menghindari hal itu.
"Hmm Aku mengerti. Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang? Lagi pula di lihat dari tatapan mereka Sepertinya mereka tidak punya niat untuk berhenti."
Vincent mengalihkan pandangannya ke arah Carla, dimana ia masih mengarahkan pistolnya ke kepala Sherlie.
Alexei juga tidak ingin melihat hal ini terus berlanjut jadi ia mencoba membujuk Carla agar bisa menurunkan senjatanya.
"Carla, aku tau kamu tidak bisa menahan amarahmu tapi untuk sekarang bisa tidak kamu turunkan dulu senjata mu. Lagi pula masih ada hal penting yang harus di bicarakan di sini."
"Hal penting? Maaf saja tapi aku tidak tertarik dengan itu." Balas Carla.
"OH MESKIPUN INI ADA HUBUNGANNYA DENGAN DIRMAN."
Mendengar hal itu sontak membuat Mata Carla langsung melebar karena terkejut. Lalu ia arahkan pistolnya ke Alexei.
"Apa maksudmu?" Tanya Carla.
"Sama seperti yang aku katakan. Pembicaraan ini ada hubungannya dengan Dirman, jadi aku harap kau segera menurunkan senjata mu itu."
Seolah tidak menyerah, Carla mencoba menantang Alexei dengan mengarahkan pistolnya kembali ke Sherlie.
"Bagaimana kalau aku tidak mau."
Alexei sadar bahwa tidak ada gunanya membujuk Carla jadi ia mencoba meminta Amaliya menggunakan kekuatannya untuk menghentikan Carla.
"Amaliya, tolong lakukan."
__ADS_1
Amaliya dengan kuat menganggukkan kepalanya. Lalu setelah itu Amaliya berdiri dan mengulurkan tangannya ke depan atau lebih tepatnya ke tempat Carla.
"Bekulah."
Amaliya mengatakan itu dengan nada tenang. Lalu sesaat kemudian Garis - garis bercahaya yang tadinya sudah hilang muncul lagi di wajah Amaliya di ikuti dengan pistol Carla yang secara perlahan mulai membeku.
Tidak hanya itu saja tangan Carla juga mulai ikutan membeku namun meski begitu Carla tidak panik sama sekali, ia tetap terlihat sangat tenang sambil sorot matanya melirik Amaliya dengan tajam.
"Hey nama mu Amaliya kan? Apa kamu memiliki keluarga yang kamu sayangi di rumah?"
Tiba - tiba di tanya seperti itu membuat Amaliya kebingungan dan bertanya balik.
"Hah! Apa maksudmu? Kenapa tiba - tiba kau menanyakan itu padaku?'
"Tidak usah tanya balik cepat jawab saja, apa kamu memiliki keluarga yang kamu sayangi atau tidak?"
Untuk sementara Amaliya diam saja. Namun tak berselang lama ia pun memutuskan untuk menjawab..
"Yah, aku punya dua orang, ibu dan adikku yang masih berumur 5 tahun."
"Hmm jadi kamu punya adik ya. Kalau begitu aku sarankan sebaiknya kamu pulang saja ke rumahmu dan tidak perlu ikut campur dengan urusan kami, jika tidak maka kau akan tau sendiri akibatnya."
Amaliya seolah miliki firasat buruk. Amaliya langsung mengertakkan giginya dan terlihat marah.
"Ka~Kau apa yang ingin kau lakukan? Jangan bilang kau mencoba mengincar keluarga ku?"
Bukannya menjawab Carla malah bertanya balik yang dimana hal itu membuat Amaliya tidak senang dan marah sampai - sampai Amaliya langsung menciptakan beberapa duri es yang melayang - layang di udara, dan durinya itu mengarah langsung ke Carla.
"Mael!" Brid.
"Aku tau." Mael.
Seolah tak mau tinggal diam Brid dan Meal lansung bersiap - siap melindungi Carla dari bahaya.
Sedangkan Carla sendiri masih terlihat sangat tenang seolah tidak merasakan adanya bahaya sedikitpun.
"Begitu, jadi apa ini keputusan mu Amaliya? Apa kau benar - benar berniat melawan ku?"
"Yah. Meskipun aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan tetapi aku tidak takut sama sekali denganmu."
"Heh kau sungguh gadis yang berani, kalau begitu.....BRID LAKUKAN."
Sesaat Carla mengatakan itu, dalam sekejap Brid langsung hilang dari tempatnya dan muncul di belakang Amaliya dengan sebuah belati di tangan kanannya.
Sontak saja hal itu membuat Amaliya kaget dan mencoba menjauh dari sana tetapi sayangnya sudah terlambat. Brid lebih dulu melayangkan belatinya ke arah leher Amaliya hingga Amaliya tidak bisa menghindari nya lagi.
__ADS_1
(Gawat! Aku tidak akan sempat menghindarinya!) Pikir Amaliya.
Namun sebelum Belati Brid berhasil mengenai leher Amaliya tiba - tiba muncul sebuah lingkaran sihir tepat di atas mereka. dari dalam lingkaran sihir itu keluar sebuah pedang silver yang mengkilap.
Pedang itu meluncur dengan sangat cepat ke arah Brid layaknya sebuah Anah panah.
"~Sial!!"
Dengan cepat Brid loncat ke arah samping untuk menghindari pedang tersebut.
"~Fuuu itu hampir saja."
Seusai Brid berhasil menghindari Pedang itu, pedang itu lansung tertancap ke lantai hingga akhirnya pedang itu menjadi serpihan cahaya dan menghilang di udara.
Lalu seolah tidak mau berhenti, Brid mencoba menyerang lagi, namun lagi - lagi muncul sebuah lingkaran sihir di atas mereka. Dan kali ini tidak hanya satu tapi ada banyak yang dimana membuat Brid benar - benar merasa sangat terkejut...
"Oi kau pasti bercandakan!"
Terlebih lagi lingkaran sihir itu tidak hanya mengarah ke Brid doang tapi mengarah juga ke Mael dan Carla.
Melihat hal itu Carla langsung mengalihkan pandangannya ke arah Valdo. Dimana saat ini Valdo menatap semua anggota KSP dengan tajam, di iringi dengan beberapa garis bercahaya yang muncul di wajahnya. Sama seperti Amaliya.
Dimana garis itu adalah tanda bahwa ia sedang menggunakan kekuatan TUPXION nya.
(Pedang ya, jadi ini kekuatan TUPXION pak tua itu.)
Berbeda dengan kekuatan Amaliya yang bisa membekukan segalanya dan mengubah udara di sekitarnya menjadi es.
Kekuatan Valdo bisa memanggil segala macam Pedang dari Dimensi lain. Dan tidak hanya satu saja yang bisa ia panggil tapi ada banyak. Di tambah lagi setiap pedang yang ia panggil memiliki kekuatannya masing - masing.
Berkat itu juga Ia berhasil membunuh satu - satunya Naga yang pernah muncul di Negara ini saat lubang Abnormal terjadi.
(Seperti yang di harapkan dari orang yang pernah membunuh naga, ia memang terlihat sangat kuat. Sekarang apa yang harus ku lakukan?)
Sementara Carla memikirkan itu Tiba - tiba suara Noel terdengar di earphone yang terpasang di telinga Carla.
{Master.}
(Un! ada Apa?)
{Aku ingin memberitahu anda bahwa sudah saat anda masuk ke rencana selanjutnya.}
Setelah Noel mengatakan itu Carla melihat ke jam tangannya dimana di situ sudah menunjukkan pukul 15 : 28 yang artinya sebentar lagi jam setengah 4.
Itu adalah waktu dimana sudah saatnya mereka menjalankan rencana yang selanjutnya.
__ADS_1
(Baiklah, kalau begitu Noel mari kita mulai.)
{Siap Master.}