
Di saat Erina dan Felik saling menatap, mereka seolah sedang mencoba berinteraksi di dalam Pikiran mereka. Dimana mereka berkata...
(Erina...) Felik
(Tu~Tunggu Felik, kau pasti bercandakan? Tidak mungkin kau terima Usulan dia(Leon)?)
(Aku memang tidak ingin menerimannya, tapi......maafkan aku.)
Seolah tau bahwa Felik sudah buat keputusan untuk menerima usulanku, membuat Erina lansung terlihat gemetar dimana wajahnya terlihat suram karena takut di siksa(Kukunya di cabut.)
"TIDAK, TIDAK, TIDAK, AKU TIDAK TERIMA INI, AKU SUDAH MEMBANTUMU DAN KAU MAU MENGHIANATIKU, KAU PASTI BERCANDAKAN?"
"A~Aku....aku, benar - benar minta maaf Erina."
"AKU TIDAK BUTUH MINTA MAAFMU, AKU INGIN KAU CEPAT TOLAK SAJA USULAN DIA(Leon)."
Bentak Erina yang terlihat sangat marah, tetapi....
"Maaf,..aku benar - benar minta maaf Erina, hanya saja aku tidak ingin merasakan itu lagi jadi.."
"..jadi kau ingin melemparnya ke padaku."
Sambung lansung Erina sambil terlihat kesal, dimana ia mengertakkan Giginya dan menatap Felik dengan Sangat marah.
"BERHENTILAH BERCANDA, APA KAU PIKIR AKU TERIMA ITU."
Ucap Erina dengan sangat keras. kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arahku dan berkata...
"LEON, TADI KAU MENYURUHKU UNTUK MEMILIH, KUKU MANANYA YANG PALING BAGUS DI CABUT DULUAN KAN? KALAU GITU AKU PILIH KUKU JEMPOLNYA, BIAR IA TAU RASA."
"Erina kau-!"
Sebelum Felik selesai Bicara, Erina lansung berbalik ke arahnya kemudian menatap ia dengan tajam.
"Ada apa? Apa kau marah? Bukankah kau yang duluan melakukan ini padaku, jadi jangan salahkan aku."
"KA~KAUUU-!!"
Pada saat Felik ingin mengatakan sesuatu, tiba - tiba ia berhenti bicara saat mendengar Suara orang yang lagi tertawa "Pffft!!" Bukan hanya ia Erina pun juga sama.
Saat mereka mencoba mencari sumber ketawa tersebut, tepat di belakangnya terlihat aku yang lagi menahan ketawa, dimana aku seolah sedang menikmati pertengkaran antara mereka berdua.
"Pffffftt!!"
Ketika aku tertawa sekali lagi, Felik lansung mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal..
"Bocah apa yang kau tertawakan?"
Di saat Felik memanggilku Bocah, mataku lansung menyipit dengan tajam, dimana aku berkata...
"KAU BILANG APA, BOCAH."
"Ma-Maaf, maksudku Leon."
__ADS_1
Ucap Felik yang terlihat ketakutan. Kemudian aku menghela nafas dan menatap ia dengan tajam...
"....Bagus, kalau aku dengar lagi kau memanggilku Bocah, aku janji tidak hanya mencabut kukumu, tapi aku akan patahkan 10 jarimu itu, mengerti."
"~~Ba~Baik, aku mengerti."
Balas Felik yang terlihat sangat Pucat, setelah itu aku mengalihkan pandanganku ke arah Erina dan bertanya..
"Erina, barusan kau menyuruhku untuk mencabut Kuku jempol dia(Felik) kan?"
"Y-Yah."
"Begitu,....kalau gitu sayang sekali, karena aku sudah tidak bisa melakukan itu."
Mendengar apa yang ku ucapkan membuat Erina terlihat sangat terkejut.
"Eh memang kenapa?"
"Kau tanya kenapa? Bukankah sudah jelas, kau yang pertama kali menolak usulanku, jadi buat apa aku menerima itu sekarang.-
-lagi pula, saat ini yang aku usulkan bukan kau tetapi dia(Felik) jadi..SEBAIKNYA KAU BERSIAP SAJA DI SITU."
Ucapku dengan nada tajam, dimana membuat Erina lansung terlihat Pucat dan tubuhnya gemetar karena ketakutan..
"~~tidak,..Tidak,...TIDAAAAK!! AKU TIDAK TERIMA INI,..LEON, AKU MOHON TOLONG BERI AKU SATU KESEMPATAN LAGI."
"Hah, kesempatan? Apa kau bego, siapa juga yang mau memberimu kesempatan. Lagi pula saat ini aku mau bertanya ke dia(Felik), jadi sebaiknya kau diam saja di situ."
Ucapku sambil melirik ia dengan tajam, seolah sedang memperingatinya. Namun karena Rasa takut yang Erina Rasakan semakin kuat, sehingga ia tidak bisa lagi mengontrol dirinya dan mulai memberontak dengan Gila.
Ucapnya sambil terus berusaha melepas Ikatannya, seperti yang di lakukan Luis tadi. Namun sekeras apapun ia berusaha tetap saja Ikatannya itu tidak mau terlepas, hingga membuat ia makin ketakutan..
"~~TIDAAAAAAK, KENAPA..KENAPA INI TIDAK MAU LEPAS!!..KU MOHON TOLONG LEPASLAH ~HIKSS,..~HIKSS!!"
Ucap Erina dengan isteris dimana Air matanya mulai menetas. Namun karena ia menyadari kalau Ikatannya itu tetap tidak mau terlepas, sehingga ia mencoba mencari bantuan.
Dimana ia mencoba melihat - lihat sekitar, dan mendapati Bulan yang bersandar di dekat pintu masuk, dimana ia sudah mengawasi mereka sejak dari tadi...
"~Be~Benar,...Kau Bulan, aku mohon Tolong Lepaskan Ini, Aku Tidak Ingin merasakan itu(Kuku Ku Di Cabut)."
"......"
"~Bulan, Kenapa Kau Diam Saja, Cepat Lepaskan Ini!!"
"......"
"~~Bulan, kau dengarkan?"
"......"
"~Bulan."
"......"
__ADS_1
"~Woy Bulan."
"......"
Karena Bulan tetap tidak mau menjawab apapun, sehingga membuat Erina lansung mendecatkan lidahnya "Cih!!" dan terlihat sangat marah..
"~~BULAAAAN, AKU BERTANYA PADAMU KENAPA KAU DIAM SAJA TERUS DI SITU. APA KAU TIDAK DENGAR AKU BILANG LEPASKAN INI SEKARANG, DASAR WANITA JA-!!"
'Lang!" ingin ucap Erina, namun sebelum mengucapkan itu, aku lansung menutup mulutnya menggunakan tanganku dari belakang, kemudian aku dekatkan Bibirku di dekat telingannya dan berbisik.
"Woy, apa kau tidak dengar yang ku katakan tadi, aku menyuruhmu untuk tetap diam, apa kau punya telinga?-
-lagi pula, apa - apaan teriak isterismu itu, apa kau sudah gila? Apa kau benar - benar ingin memanggil hewan Liar kemari dan memakan kalian hidup - hidup?-
-meskipun aku tidak masalah soal itu, tetapi aku belum puas menyiksa kalian, jadi lakukan saja itu nanti.-
-jika kau tetap bersikeras ingin melakukan itu, maka..AKAN KU POTONG LIDAHMU ITU SUPAYA KAU DIAM MENGERTI?"
Sesaat aku menanyakan itu, Erina terlihat sangat gemetar karena ketakutan, dimana Wajahnya di penuhi oleh keringat dingin.
"...."
Namun, karena Erina tidak menjawab apapun, sehingga membuat mataku lansung menyipit dengan tajam dan tanpa ragu ku patahkan lansung jari Telunjutnya.
KRIEKKK!!
Dimana membuat Erina mencoba menjerit kesakitan, sayangnya karena Aku menutup mulutnya, sehingga Membuat Suaranya tidak bisa keluar, karena di tutupi oleh tanganku.
"~~Ahmmmm!!...~Ahmmm!!....~Ahmmmm!!"
Di saat Erina mencoba memberontak, sekali lagi aku berbisik di telingannya dimana aku berkata...
"Erina ini yang terakhir kalinya aku katakan jadi dengarlah baik - baik.-
-Berusahalah untuk tetap diam dan tutup mulutmu itu rapat - rapat, jika tidak aku benar - benar akan potong lidahmu itu dan juga...."
Sesaat aku berhenti, aku meremas salah satu jarinya, seolah sedang memperingati dia.
"...kamu mengerti kan?"
Seolah Mengetaui bahwa aku mencoba patahkan salah satu jarinya lagi, Erina lansung terlihat pucat dan buru - buru menjawab dengan anggukkan.
"Um!..um!."
"Bagus."
Ucapku sambil melepas tanganku dari mulutnya.
Di sisi lain Erina yang mulutnya sudah ku lepaskan terlihat masih berusaha mencoba menahan Rasa sakit dari jarinya yang ku patahkan tadi, Dimana ia berkata...
(~UGHHH!!....SIAL,...SIAL,...SIAL, ~INI SAKIT SEKALI...~BOCAH INI SUDAH GILA, AKU SANGAT TAKUT,...APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?)
Seolah menanyakan dirinya sendiri, Erina terlihat sangat pucat dan khawatir akan apa yang menantinya nanti.
__ADS_1
APA ITU KEMATIAN ATAU MUNGKIN PENYIKSAAN TANPA AKHIR.
Meskipun ia tidak tau jawabannya, tetapi ia tau 1 hal yaitu ia sudah tidak bisa meninggalkan tempat ini.