
ketika Kak Rangga pergi mengejar anak berandalan itu, di waltu bersamaan, tepat di ruang istirahat di tempat parkir, terlihat aku sedang duduk di Sofa Sambil memangku Fira.
Dimana kepalaku yang berdarah, sedang di perban oleh salah satu Security yang ada di sini.
"Baiklah,..dengan begini seharusnya kamu sudah baik - baik saja."
"Oh Makasih pamam."
"Itu tidak masalah, kalau gitu aku permisi dulu. Aku mau pergi mengecek yang lainnya juga."
Setelah si Security mengucapkan itu ia pun lansung pergi dan meninggalkan ruangan ini, dimana hanya menyisahkan aku dan Fira seorang.
"........"
Setelah beberapa menit hanya aku dan Fira di Ruangan ini, tak lama kemudian tiba - tiba terdengar suara seseorang yang lagi berlari masuk ke dalam Ruangan ini, Dimana orang tersebut tidak lain Adalah Kak Rangga.
"Kak Rangga Kau sudah datang."
Ucapku sambil melihat ke arahnya.
"Eh yah,..omong - omong Leon, apa kau sudah tidak apa - apa?"
Tanya Kak Rangga sambil berjalan mendekatiku. Kemudian aku menjawab..
"Yah, aku sudah lebih baik, di bandingkan sebelumnya."
"Begitu Syukurlah"
Ucap Kak Rangga yang terlihat lega, melihat itu Bibirku lansung melengkun dan menatap Kak Rangga dengan senang.
Mengetaui itu Kak Rangga lansung terlihat senang juga, kemudian ia berjalan mengambil Fira dari pangkuanku dan menggendongnya.
Setelah itu ia mencoba melihat - lihat sekitar. Dimana ia tidak menemukan Kak Siska di manapun..
"Omong - omong Leon, dimana Siska?"
Ketika Kak Rangga menanyakan itu, aku dengan tenang menjawab...
"Jika Kak Rangga mencari Kak Siska, ia tadi di bawah oleh para Security untuk di introgasi di ruang sebelah."
"Begitu,...di Ruang sebelah kah."
Bisiknya, kemudian ia melihat ke arahku dan bertanya...
"Leon, bisa tidak kamu jaga lagi Fira sebentar, aku mau pergi ke tempat Siska?"
"Yaa aku tidak masalah."
Jawabku dengan santai.
Kak Rangga yang dengar itu lansung tersenyum dan menyerahkan kembali Fira padaku, kemudian ia keluar dan meninggalkan Ruangan ini.
TAP!!....Tap!!....tap!!...
Di saat suara langkah Kaki Kak Rangga sudah tak terdengar, aku mencoba menengok Fira yang sedang ku pangku, dimana ia terlihat sangat Shock karena di tinggalkan lagi oleh ayahnya yang baru saja datang.
Meskipun aku tak mempedulikan Hal itu. Tetapi jika ia sampai menangis di sini, itu pasti sangat merepotkan, sehingga aku lansung mengelus kepalanya untuk membuatnya tenang.
__ADS_1
"Eon?"
"Namaku Leon, bukan Eon."
Ucapku sambil tersenyum, kemudian aku menambahkan lagi..
"Dari pada itu,,....sambil menunggu Kak Rangga dan Kak Siska kembali, bagaimana kalau kita buka saja mainanmu dan bermain di sini?"
Tanyaku, sambil melihat ke arah mainan yang di belikan tadi oleh Kak Rangga. Dimana membuat Fira yang dengar itu lansung terlihat ceria, sampai - sampai ia loncat - loncat di pangkuanku karena terlalu senang.
"Fira berhentilah Loncat - loncat, jika tidak bisa - bisa kau akan jatuh."
Namun tanpa mendengarkan perkataanku, Fira terus saja loncat - loncat di pangkuanku hingga membuat aku mengerukkan dahiku karena kesal.
"Cih, sudah kuduga, aku benar - benar tidak suka anak kecil."
___________________________________
_______________________________
Setelah beberapa saat aku bermain dengan Fira, tak lama kemudian terlihat Kak Rangga dan Kak Siska mulai memasuki Ruangan ini, dimana mereka berdua lansung menghampiriku.
"Maaf kami lama Leon."
Ucap Kak Rangga.
"Itu tidak masalah, yang lebih penting..."
Sesaat aku berhenti, aku mengalihkan pandanganku ke Arah Kak Siska, dimana ia terlihat sangat cemberut, sampai - sampai ia menjauh sedikit dari Kak Rangga.
Meskipun aku tidak tau alasannya, tetapi Karena aku penasaran sehingga aku mencoba bertanya..
Di saat aku menanyakan itu, ekspresi Kak Rangga Terlihat sangat rumit, dimana ia menjawab...
"Yah sebetulnya, waktu kami memberitau semua kejadian ke para Security, kami di suruh untuk melaporkan hal ini pada polisi, karena ini sudah jadi tindakan kejahatan.-
-tapi, jika aku melakukan itu, otomatis kita juga pasti akan mendapatkan masalah/Hukuman, karena bagaimanapun juga meskipun kita membeli diri, namun kita tetap saja melukai mereka. Terlebih lagi luka yang mereka alami sangat parah.-
-itulah sebabnya aku sarangkan Ke para Security itu untuk tetap diam dan tidak memberitaukan siapapun soal masalah ini. Sebab jika tidak, Bisa - bisa kita hanya akan menambahkan masalah."
Ucap Kak Rangga yang terlihat bersalah kepada Kak Siska dan juga denganku, kemudian ia menunduk dan menambahkan...
"APA LAGI, SETELAH INI ADA SESUATU YANG HARUS KU LAKUKAN SECEPAT MUNGKIN."
Ucapnya sambil meremas tangannya dengan erat dan wajahnya terlihat sangat marah.
Melihat itu, aku lansung menyipitkan mataku dengan tajam dan mencoba bertanya..
"Sesuatu yang ingin Kak Rangga lakukan? Apa itu?"
"So-Soal itu.....yah kau taukan, ada laporan yang belum aku selesaikan tadi pagi. Jadi aku ingin cepat - cepat pulang ke rumah untuk mengerjakannya." jawab Kak Rangga dengan panik.
Meskipun Kak Rangga mengatakan itu, tetapi aku merasa, sesuatu yang ingin ia lakukan itu Bukanlah ini, melainkan sesuatu yang lain.
Aku tidak tau apa itu, namun untuk saat ini kita lupakan saja soal itu, dan berahli ke pembicaraan selanjutnya.
"Baiklah, aku sudah mengerti apa yang Kak Rangga katakan.-
__ADS_1
-dengan kata lain, Alasan Kak Siska cemberut begitu, itu karena ia tidak senang Kak Rangga melepaskan mereka(Anak berandalan) begitu saja kan?"
"Yaa bisa di bilang begitu."
Sesaat Kak Rangga mengucapkan itu, dengan cepat Siska melihat ke arahnya dan berkata...
"APANYA BISA DI BILANG BEGITU. ASAL KAU TAU AKU TIDAK CEMBERUT SAMA SEKALI, AKU HANYA TIDAK SUKA KAK RANGGA MELEPASKAN MEREKA, SETELAH APA YANG MEREKA LAKUKAN PADAMU."
Bentak lansung Kak Siska terhadap Kak Rangga sambil menunjuk perban yang terlilit di dahiku. Dimana membuat Kak Rangga yang lihat itu lansung terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun.
"....."
Setelah beberapa detik ia terdiam, perlahan ia mendesah "haaa...!" kemudian ia melihat Kak Siska dan berkata.
"Maafkan aku."
"Sudahlah itu tidak perlu."
Balas lansung Kak Siska dengan cuek dan membuat Kak Rangga terlihat sedih, namun ketika ia kembali seperti semula, ia berahli ke arahku dan bertanya...
"Omong - omong Leon bingkisan apa itu? Aku ingat kita tidak punya begituan?"
Tanya Kak Rangga sambil melihat ke arah Bingkisan yang ada di Sofa, dimana Bingkisan tersebut tidak lain adalah bingkisan yang di berikan padaku oleh Wanita itu.
"Oh ini,....ini hadia yang di berikan si Kakak Cantik, waktu aku membantunya saat berada di dalam lift."
"Membantunya?"
"Yah, Kak Rangga seharusnya sudah tau kan, Kalau mereka(anak Berandalan itu) mengikutiku masuk ke dalam Lift?"
Ketika aku menanyakan itu, Kak Rangga lansung melirik ke arah Kak Siska dan menjawab..
"Yah aku sudah dengar itu dari Siska."
"Nah, saat itu Mereka terus saja menatap Kakak Cantik itu dan membuatnya Ketakutan.-
-Karena aku tidak tahan melihat ia seperti itu, sehingga aku membantunya."
Jawabku sambil bersikap bangga, melihat itu Kak Rangga lansung tersenyum dan berkata..
"Hmm jadi Bingkisan ini adalah tanda terima kasih karena kamu sudah membantunya?"
"Yah begitulah."
Jawabku dengan santai.
Namun, Di saat aku mengucapkan itu, Kak Siska terlihat baru ingat sesuatu dan buru - buru melihat ke arahku dengan serius.
"Le-Leon, kamu bilang membantu Wanita itu? Jangan bilang alasan Mereka(anak - anak itu) menganggumu....."
"Yah, kemungkinan itu karena aku ikut campur saat itu."
Jawabku dengan serius, Kak Siska yang dengar itu lansung melebarkan mata karena terkejut, Kecuali Kak Rangga ia terlihat biasa - biasa saja. Seolah - olah ia tidak percaya dengan apa yang barusan aku katakan.
Namun tanpa mempedulikannya, aku menatap mereka berdua dan berkata...
"Yaa apapun itu,...karena urusan kita di sini sudah selesai, bagaimana kalau Kita Pulang saja?"
__ADS_1
Di saat Aku menanyakan itu Kak Rangga menatapku dengan senyuman dan menjawab...
"Kau benar, ayo kita pulang."